Republik Islam Iran sebagai pemerintahan independen dan penyeru keadilan menetapkan dalam konstitusinya bahwa negara ini menilai mendukung dan membela bangsa tertindas dunia sebagai kewajibannya dan bertekad konsisten memainkan peran tersebut. Di sisi lain, mendukung dan membela hak seluruh manusia khususnya orang tertindas dan lemah dalam perspektif Islam adalah tugas pokok seluruh umat Muslim.

Dukungan Republik Islam Iran terhadap bangsa tertindas Palestina yang dimanifestasikan dalam bentuk penetapan hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan sebagai hari Quds sedunia oleh Pendiri Republik Islam Iran Imam Khomeini telah berubah menjadi arus global. Hal ini menunjukkan salah satu dukungan spiritual, kemanusiaan dan Islami Republik Islam Iran kepada rakyat tertindas dunia.

Imam Khomeini terkait membela bumi Islam dan persatuan umat Muslim mengatakan, "Kita siap membela Islam, negara Islam dan independensi negara-negara Islam."

Imam Khomeini juga mengatakan, "Membela umat Muslim dan mempertahankan negara Islam serta Muslim sebuah keharusan dan kita harus mempersiapkan diri untuk tujuan Ilahi dan membela umat Muslim, khususnya di kondisi ketika putra-putra Palestina dan Lebanon yakni Hizbullah serta Muslim revolusioner yang tanahnya dirampas dan Lebanon berteriak dengan darah mereka "Wahai Umat Muslim di mana kalian". Dengan seluruh kekuatan materi dan spiritual, kita menghadapi Israel dan para agresor serta melawan seluruh pembantaian tersebut serta membela mereka dan kami akan mengidentifikasi pihak yang cenderung berkompromi dengan rezim penjajah al-Quds dan mengenalkannya kepada masyarakat."

Syahid Muthahhari dan Imam Khomeini ra

Shahid Muttahari, cendikiawan Islam terkait tanggung jawab dunia Islam membela hak bangsa tertindas Palestina mengatakan, "Ketika sebuah kelompok tidak pernah berperang dengan kita, namun mereka melakukan sebuah kezaliman nyata terhadap sekelompok lainnya dan kita memiliki kemampuan untuk menyelamatkan kelompok yang tertindas tersebut. Jika kita tidak menyelamatkan mereka, sejatinya kita membantu kezaliman kelompok zalim tersebut."

Terlepas dari sisi Islami, apa sejarah yang dimiliki Palestina? Isu Palestina tidak berkaitan dengan sebuah negara dari negara-negara Islam, tapi berkaitan dengan sebuah bangsa yang dipaksa meninggalkan rumah mereka.

"...Ini adalah Yahudi yang namanya saat ini kalian dengan dan mengklaim bahwa ini (Palestina) adalah bumi dan wilayah mereka. Apakah tujuan mereka hanya ini? ...Apakah mereka tidak memiliki klaim Khaibar yang berada di dekat kota Madinah? Apakah Roosevelt tidak mengusulkan kepada raja Arab Saudi saat itu untuk menjual Khaibar kepada Yahudi? Apakah Yahudi tidak memiliki klaim terkait Irak dan wilayah suci kalian?

Membela hak bangsa tertindas telah dicantumkan di konstitusi Iran. Undang-undang dasar Iran di pendekatan dan agenda kerja kebijakan luar negerinya menetapkan dukungan terhadap bangsa tertindas dunia khususnya umat Muslim. Di antara undang-undang ini adalah pasal 152 konstitusi Republik Islam Iran.

Berdasarkan pasal 154 konstitusi Iran, selain menolak intervensi di urusan internal bangsa lain, ditetapkan dukungan terhadap pejuang kaum tertindas yang melawan kubu arogan dan imperialis di seluruh dunia. Menurut pasal ini, dijelaskan bahwa dukungan terhadap kaum tertindas sebuah masalah ideologi-agama yang sejak awal telah ditetapkan sebagai sebuah prinsip di fikih Islam.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat bertemu dengan ketua dan staf Mahkamah Agung Iran merekomendasikan lembaga ini menindaklanjuti hak ribuan korban terorisme di Iran, mengajukan gugatan terhadap pemerintah yang mendukung dan penyembunyikan pembunuh para korban tersebut dan membela hak tokoh-tokoh Muslim yang terzalimi di seluruh dunia.

Sadeq Larijani

Membela orang terzalimi saat ini merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam Iran merupakan sebuah gerakan serius di tingkat dunia, mulai dari Myanmar hingga Afghanistan dan dari Bahrain dan Arab Saudi hingga Afrika dan Eropa serta Amerika. Gerakan ini adalah gerakan bangsa, gerakan umat Islam, gerakan dengan slogan Islam, gerakan ke arah tujuan Islam serta menunjukkan kebangkitan umat. Bangsa Iran bangga dan puas sebagai pelopor jalan ini.

Revolusi Islam Iran yang berpijak dari nilai-nilai adi luhung ajaran agama Islam memiliki pandangan strategis mengenai berbagai masalah internasional. Hal itu bisa dilihat dari terma-tema yang diusung Iran di arena politik internasional sejak kemenangan Revolusi Islam hingga kini. Salah satunya yang paling menonjol adalah terma "Mustadafin", yang berarti kaum tertindas dan "Mustakbirin" atau kaum arogan. Dua istilah yang terlihat sederhana tapi penuh makna ini memberikan pengaruh tidak kecil terhadap tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai baru di dunia, bahkan menjadi model baru di kancah internasional.

Undang-undang dasar Republik Islam Iran disusun berdasarkan pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan dan transenden. Aturan yang menjadi fondasi bagi Iran dalam berbangsa dan bernegara ini disahkan dalam sebuah  referendum yang melibatkan mayoritas rakyat Iran dan penegasan terhadap prinsip-prinsip pemikiran politik Islam. Pada pembukaan undang-undang dasar Republik Islam Iran disebutkan bahwa "Undang-undang dasar memperhatikan isi Revolusi Islam yang merupakan sebuah gerakan untuk kemenangan seluruh kaum tertindas di dunia melawan kekuatan arogan yang menjadi sarana bagi berlanjutnya revolusi di dalam dan luar negeri".

Senada dengan itu, undang-undang dasar Iran pasal tiga ayat 16 mengungkapkan bahwa pemerintah Republik Islam Iran berkewajiban menyusun kebijakan luar negerinya demi mewujudkan tujuan tersebut berdasarkan parameter Islam, solidaritas persaudaraan umat Islam dan dukungan penuh terhadap kaum tertindas di dunia.

Bapak Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini meyakini bahwa mustadafin terutama umat Islam dunia tidak seharusnya menunggu bantuan kekuatan-kekuatan besar untuk memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan mereka. Beliau menilai jalan pembebasan adalah tawakal kepada Allah Swt, persatuan, resistensi dan perlawanan. Mengenai hal itu, beliau mengatakan, "Mereka yang membayangkan bahwa para pemilik modal dan orang-orang kaya akan tersadar dengan nasihat dan bergabung dengan para pejuang atau membantu mereka adalah perbuatan yang sia-sia saja. Perlawanan dan kesejahteraan, perjuangan dan kemalasan, penuntut dunia dan pencari akhirat adalah dua kategori yang tidak akan pernah bersama-sama.”

Imam Khomeini ra

Di bagian lain, Imam Khomeini berkata, "Kaum tertindas dunia, ...jika tidak bangkit dan tidak saling bergandengan tangan, tidak akan pernah mampu menghapuskan dominasi setan. Kita semua harus bekerja keras mewujudkan persatuan di antara mustadafin dari setiap aliran maupun mazhab yang berbeda.." Senada dengan Imam Khomeini, Ayatullah Khamenei, menyeru Muslimin bersatu. Ia menegaskan, "Saat ini tengah dilakukan upaya-upaya agar umat Islam tidak bersatu dan saling berperang. Upaya-upaya ini semakin meningkat pada saat umat Islam sangat membutuhkan persatuan. Kemungkinan besar, motif dilakukannya upaya-upaya ini adalah mencegah tegaknya kedaulatan bangsa-bangsa Muslim yang semakin dekat untuk segera terwujud.”

Revolusi Islam Iran sejak awal telah memisahkan jalannya dari kekuatan arogan yang zalim. Iran juga menegaskan sikap independennya dan tidak bergantung terhadap Barat maupun Timur. Di arena internasional Iran menyuarakan dengan keras prinsip persamaan dan keadilan serta perlawanan terhadap dominasi kekuatan arogan global.

Revolusi Islam dalam praktiknya dewasa ini menunjukkan bahwa Iran memiliki program strategis dan fundamental untuk membantu mengatasi masalah yang menimpa umat Islam dan para pencari keadilan di dunia. Dengan kata lain, dukungan Iran terhadap perjuangan bangsa-bangsa tertindas di dunia memasuki arena internasional menjadi sebuah gerakan global yang secara langsung mengancam kekuatan arogan global.

Republik Islam Iran dengan jelas tanpa tedeng aling-aling menunjukkan kepada dunia bahwa apa yang disuarakan Barat mengenai demokrasi, kebebasan dan dukungan terhadap hak bangsa-bangsa dunia sekedar slogan belaka demi kepentingan mereka dan tidak melakukan sedikitpun upaya untuk membela bangsa-bangsa yang tertindas. Tapi sebaliknya Iran melakukannya, setidaknya dilihat dari dua karakteristik. Pertama, pengalaman dan kinerja jelas Revolusi Islam dalam membela hak-hak bangsa Iran menjadi sebuah model global dewasa ini. Kedua, partisipasi aktif Iran dalam pertemuan internasional dan mengubah ancaman menjadi peluang untuk membela hak bangsa-bangsa dunia yang kini menjadi perhatian publik internasional.

Tags

Feb 03, 2018 15:11 Asia/Jakarta
Komentar