Revolusi Islam Iran tengah memasuki usianya yang ke-40. Usia 40 merupakan usia matang seseorang dan hal ini juga dapat diterapkan di Revolusi Islam. Selama 40 tahun ini, Revolusi Islam Iran telah mengalami beragam pasang surut. Salah satu karakteristik permanen konstelasi pasca kemenangan Revolusi Islam adalah permusuhan pemerintah Amerika terhadap revolusi ini.

Untuk mengetahui motif dan sebab permusuhan 40 tahun Amerika terhadap Republik Islam selama empat dekade ini, ada baiknya kita menelisik posisi Iran di kebijakan Washington di Timur Tengah dan dunia sebelum Revolusi Islam.  Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran memiliki posisi istimewa  di kebijakan luar negeri dan keamanan Washington baik di Timur Tengah maupun dunia.

Ketika Iran tergabung di Pakta Baghdad (Organisasi Pakta Sentral CENTO), negara ini berperang sebagai penghubung antara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan kawasan Timur Tengah untuk memblokade Uni Soviet. Oleh karena itu, AS tidak pernah bersedia melepas Iran yang strategis ini. Seluruh upaya Washington pasca perang dunia kedua adalah melanggengkan pengaruhnya di Iran.

Image Caption

Amerika selama proses hegemoninya terhadap Iran tidak pernah komitmen terhadap tolok ukur apapun dan nilai-nilai demokrasi serta moral. Amerika di tahun 1953 melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Mohammad Mosaddegh dan menyimpangkan penetapan demokrasi di Iran. Pasca kudeta 1953 AS-Inggris, pemerintah Gedung Putih mempersiapkan peluang bagi kelanggengan pemerintahan despotik di Iran dengan mengembalikan Mohammad Reza Pahlevi ke Iran.

Savak, salah satu dinas rahasia paling menakutkan dunia dibentuk dengan bantuan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel untuk memadamkan suara para penyeru kebebasan. Amerika berusaha keras mensukseskan undang-undang Kapitulasi (kekebalan hukum) sehingga para penasehat militernya dapat bergerak bebas di Iran. Ribuan penasehat militer Amerika menguasai sektor politik, militer, ekonomi dan budaya Iran. Ketika kemenangan Revolusi Islam, sekitar 30 ribu panasehat militer Amerika aktif di Iran.

Pengalaman perang Amerika di Korea dan Vietnam serta tingginya korban militer Amerika di dua perang ini, membuat Gedung Putih sadar bahwa tugas memajukan kebijakan hegemoninya di kawasan lebih baik diserahkan kepada negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya.

Untuk kawasan Timur Tengah, khususnya Teluk Persia, tugas ini diserahkan kepada Iran. Tehran di Teluk Persia memiliki keunggulan dari negara lain di kawasan mengingat kepemilikan sumber daya alam yang tinggi, populasinya yang cukup besar, posisinya yang strategis, stabil dan kemampuan militer. Saat itu, digulirkan dua doktrin Nixon di kawasan Timur Tengah.

Doktrin Nixon ini menyebutkan, pemerintah Iran dan Arab Saudi merupakan dua pilar utama kebijakan Amerika Serikat. Kedua negara Timur Tengah ini berstatus sebagai penjaga dan memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kevakuman kekuasaan di kawasan Teluk Persia. Amerika dengan memberi bantuan militer dan ekonomi kepada Iran dan Arab Saudi, menjadikan kedua negara ini sebagai alat menjamin keamanan di seluruh kawasan. Kebijakan ini membuat Amerika dapat mengontrol Timur Tengah tanpa harus terlibat langsung di kawasan.

Image Caption

Dalam hal ini, Iran merupakan prioritas utama Amerika dan Arab Saudi berada di posisi kedua. Sehingga bantuan finansial untuk menjamin keamanan Barat di Timur Tengah disalurkan kepada Iran. Menyusul meledaknya pendapatan Iran dari sektor minyak, sesuai dengan doktrin Nixon, Tehran menjadi pembeli terbesar senjata Amerika. Washington pun tak segan-segan menyerahkan F-14 kepada Iran, ketika AS tidak bersedia memberikan jet tempur jenis ini kepada sekutunya yang lain, bahkan Israel juga tidak terkecuali.

Amerika menilai Iran sebagai negara stabil di kawasan Timur Tengah. Dengan demikian kemenangan Revolusi Islam Iran sama halnya dengan gempa yang merusak kebijakan Amerika di Timur Tengah dan dunia. Kemenangan Revolusi Islam dan terlepasnya Iran dari pengaruh Amerika merupakan faktor utama permusuhan Gedung Putih terhadap Republik Islam Iran. Karena pasca kemenangan Revolusi Islam, pengaruh AS di kawasan menurun drastis dan kekalahan kebijakan anti Republik Islam telah memberikan pukulan telak terhadap kebijakan kawasan Amerika Serikat.

Pasca kemenangan Revolusi Islam, Amerika gencar melancarkan wacana seperti Islam fundamentalis untuk mengobarkan Iranphobia dan melawan dampak revolusi Islam di kawasan dan dunia. Sementara itu, faktor lain yang mendorong permusuhan AS terhadap Iran adalah komitmen Tehran terhadap nilai-nilai Islam. Richard Nixon, mantan presiden Amerika  mengatakan, "Islam fundamentalis didasarkan pada keyakinan agama, dan daya tariknya berasal dari kepercayaan agama, bukan sekularisme Barat. Bila nilai sekuler tidak mampu bersaing dengan keyakinan agama fundamentalis, dalam konfrontasi peradaban, fakta bahwa negara Amerika adalah negara terkuat dan terkaya dalam sejarah tidaklah cukup."

Lembaga riset Huntington Amerika menyatakan, "Konfrontasi utama umat manusia di masa mendatang antara budaya Islam dan Barat." Brzezinski, mantan penasehat keamanan nasional Jimmy Carter saat Revolusi Islam Iran meraih kemenangan mengatakan, "Kebangkitan Islam fundamentalis di seluruh wilayah dengan jatuhnya Shah dan perebutan Khomeini di Iran telah menciptakan ancaman terus-menerus terhadap kepentingan kita di wilayah di mana kehidupan dunia Barat benar-benar tergantung. Fundamentalisme Islam adalah fenomena yang saat ini mengancam tatanan dan kestabilan masa kini."

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait hal ini mengatakan, "Dewasa ini permusuhan kamp arogan dunia terhadap Iran disebabkan oleh status Islam Tehran. Mereka memusuhi Islam sehingga menekan Republik Islam Iran. Demi Allah! Amerika sangat kesal kepada bangsa Iran karena status Muslim dan komitmen bangsa ini terhadap ajaran murni Nabi Muhammad Saw. Amerika ingin kalian melepas komitmen tersebut."

Salah satu berkah besar Revolusi Islam Iran adalah independensi dan anti imperialis. Noam Chomsky, penulis terkenal AS mengatakan, "Selama Iran tetap independen dan tidak menyerah pada dominasi Amerika, permusuhan dan penantangan Amerika akan terus berlanjut. Menurut Amerika, Republik Islam Iran tidak dapat ditolerir karena Tehran tidak bersedia melepas independensinya."

Noam Chomsky

Martin Indyk, mantan deputi menlu AS untuk Timur Tengah dan dikenal tokoh paling anti Iran, terkait independensi Iran pasca kemenangan Revolusi Islam mengatakan, "Hukuman dan pendisiplinan Revolusi Islam akan menjadi pelajaran bagi negara-negara yang ingin meraih independensi dan lepas dari hegemoni Amerika."

Revolusi Islam bergerak di jalur sains dan kemajuan serta tengah berubah menjadi teladan bagi negara-negara lain. Ayatullah Khamenei terkait hal ini mengatakan, "Permusuhan Amerika dan kubu imperialis lainnya di dunia terhadap pemerintahan Islam (Iran) yang mengibarkan bendera keadilan, karena mereka menyadari ada negara yang berhasil meraih kemajuan dan pertumbuhan sains dan teknologi dengan bersandar pada ajaran Islam. Mereka mengetahui bahwa hal ini akan mereduksi pengaruhnya. Mereka menentang setiap negara yang meraih kemajuan sains dan teknologi di luar koridor dan kekuasaan mereka."

Faktor lain yang memicu permusuhan Amerika terhadap Republik Islam Iran adalah pengaruh Revolusi Islam terhadap kebangkitan rakyat di seluruh dunia dan berubahnya revolusi ini menjadi teladan dalam melawan kekuatan hegemoni serta spirit anti imperalisme Revolusi Islam.

Alexander Haig, mantan menteri pertahanan Amerika ketika Revolusi Islam Iran meraih kemenangan mengatakan, "Menurut Saya, yang lebih berbahaya dan terpenting dari krisis internasional adalah dampak maraknya fundamentalisme Islam yang muncul dari Iran dan kini Irak serta mengancam stabilitas rezim-rezim moderat Arab di kawasan. Jika Iran keluar dari kontrol, maka kepentingan adi daya dunia juga terancam."

Seluruh kekhawatiran pemerintah Amerika dan pakar strategi negara ini fokus pada dampak Revolusi Islam Iran. Republik Islam Iran meraih prestasi besar baik di dalam negeri maupun di tingkat regional. Tidak ada negara yang dapat mengabaikan peran Iran dalam menjamin keamanan dan stabilitas Timur Tengah.

Semakin besar Iran dan pengaruhnya di konstelasi regional dan dunia, maka semakin besar pula permusuhan Amerika terhadap Tehran. Wakil presiden AS sat ini, Mike Pence ketika berkunjung ke Palestina pendudukan secara transparan mengatakan, jika bangsa Iran ingin menjadi sahabat Amerika, hanya mungkin ketika pemerintahan Islam di Iran tumbang.

Tapi realitanya adalah Amerika baik di awal kemenangan Revolusi Islam maupun saat ini tetap gagal menumbangkan Republik Islam. Saat ini kita menyaksikan Amerika kian terkucil dengan kebijakan Presiden Donald Trump dan tidak mampu merusak Revolusi Islam yang memasuki usianya yang ke-40.

Feb 04, 2018 14:58 Asia/Jakarta
Komentar