Hari kedatangan Imam Khomeini dari Paris ke Iran, pada tanggal 12 Bahman  1357 HS (1 Februari 1979) hingga kemenangan revolusi Islam pada 22 Bahman 1357 HS (11 Februari 1979) diperingati sebagai Hari Sepuluh Fajar Kemenangan (Dahe Fajr). Di kesempatan ini kami akan membahas dampak dan pengaruh Revolusi Islam terhadap rasa percaya diri nasional di hati rakyat Iran dan pencapaian kemajuan ilmiah sebagai landasan pembangunan berkelanjutan.

Para pakar saat menjelaskan akar pembentukan Revolusi Islam di Iran, menilai salah satu faktor munculnya revolusi di Iran adalah reaksi rakyat atas penghinaan sejarah mereka oleh pemimpin despotik dan sponsor asingnya. Rakyat meyakini bahwa bangsa Iran benar-benar dilecehkan selama era pemerintahan rezim Shah Pahlevi. Oleh karena itu, rakyat menyambut seruan Imam Khomeini yang menyerukan independensi dan kepercayaan nasional. Dengan demikian terbentuklah Revolusi Islam.

Menurut pandangan ini, Revolusi Islam hasil dari keyakinan dan keimanan terhadap rasa percaya diri nasional dan selama bertahun-tahun kemudian, revolusi ini memainkan peran signifikan bagi pengokohan rasa percaya diri bangsa Iran. Jika kita menyimak pidato Bapak pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, kita akan menyaksikan pengulangan beliau akan pentingnya penguatan rasa percaya diri.

Imam Khomeini

Misalnya, Imam Khomeini di satu kesempatan saat berbicara mengenai patologi kinerja rezim Shah Pahlevi mengatakan, "Yang terpenting adalah rakyat Iran menyadari bahwa mereka mampu untuk bekerja. Selama ini, kerap didiktekan bahwa rakyat Iran bukan apa-apa dan segala sesuatu harus didatangkan dari luar, dari Eropa atau dari Amerika. Hal ini membuat otak bangsa Iran tidak bekerja dan mereka juga tidak membiarkannya bekerja..."

Imam Khomeini lebih lanjut mengatakan, "....Rakyat Iran tidak kalah dengan orang lain. Bahkan kemampuan mereka lebih tinggi. Tapi mereka tidak dibiarkan menunjukkan potensinya. Potensi ini harus dimanfaatkan dan digali serta pemerintah dan bangsa ini harus menekankan mereka yang memiliki potensi mampu menunjukkan inovasinya sehingga Insya Allah Iran mampu membuat segala sesuatu dan independen."

Setelah hampir empat dekade dari kemenangan Revolusi Islam, wacana kepercayaan nasional dan kembali ke diri sendiri yang selama tahun-tahun pertama revolusi digulirkan oleh pemimpin dan cendikiawan revolusioner menjadi salah satu prinsip atau karakteristik budaya rakyat Iran. Dewasa ini menurut perspektif rakyat Iran, independensi bukan sekedar nilai dan tujuan ideal yang tidak terjangkau, tapi hasilnya dapat dirasakan oleh bangsa Iran serta dampaknya dapat disaksikan di seluruh kehidupan bangsa ini.

Salah satu bidang yang menjadi bukti nyata dari independensi dan rasa percaya diri ini adalah bidang ilmiah. Revolusi Islam menjawab salah satu tuntutan bersejarah rakyat Iran, yakni meraih pembangunan dan kemajuan. Perealisasian hal ini sebuah keniscayaan dengan bersandar pada sains dan pengetahuan di bawah rasa kepercayaan diri pemuda dan ilmuwan Iran.

Imam Khomeini sebagai bapak pendiri Republik Islam Iran senantiasa menekankan pengembangan sains dan pengetahuan nasional sebagai salah satu tujuan utama revolusi dan hal ini pun telah dilakukan. Imam Khomeini meyakini untuk menggapai seluruh tujuan revolusi khususnya merealisasikan independensi politik, ekonomi dan ideologi hanya dapat dilakukan dengan mempersenjatai masyarakat dengan ilmu dan pengetahuan.

Salah satu dimensi pengembangan ilmu dan pengetahuan di Iran selama beberapa tahun pasca kemenangan Revolusi Islam adalah upaya menghapus buta huruf di tengah masyarakat. Oleh karena itu, hanya dalam tempo satu tahun setelah kemenangan Revolusi Islam, Imam Khomeini dalam sebuah instruksinya pada 7 Dey 1358 HS (28 Desember 1979) menginstruksikan pembentukan Gerakan Pemberantasan Buta Huruf.

Imam Khomeini

Dalam pesannya Imam Khomeini mengatakan,"Sangat memalukan di sebuah negara yang menjadi kelahiran ilmu pengetahuan dan peradaban serta di bawah naungan Islam yang mewajibkan menuntut ilmu, sejumlah warganya tidak memiliki pengetahuan menulis dan membaca (buta huruf). Dalam program jangka panjang, budaya ketergantungan di negara kita harus berubah menjadi budaya independen dan berdikari. Seluruh warga buta huruf harus belajar dan mereka yang berpendidikan harus bangkit dan mengajari saudara-saudaranya."

Seiring dengan mulainya gerakan melek huruf (pemberantasan buta huruf), warga yang asalnya buta huruf mulai memiliki pengetahuan dan masyarakat pun berubah menjadi masyarakat berpendidikan serta mereka dapat mencicipi nikmat menulis dan membaca.

Berdasarkan data yang ada, ketika di tahun 1357 HS, yakni tahun meletusnya Revolusi Islam lebih dari separuh warga Iran berusia di atas enam tahun buta huruf (52 persen) dan mereka yang melek huruf sekitar 48 persen, maka di tahun-tahun pasca kemenangan revolusi angka warga yang melek huruf meningkat menjadi 75 persen. Hanya dalam tempo dua dekade pasca kemenangan revolusi, yakni di tahun 1996, tercatat 80 persen warga Iran mampu membaca dan menulis dan di tahun 2016 angka ini meningkat menjadi 90 persen.

Selain itu, berkah lain dari Revolusi Islam adalah partisipasi luas kaum hawa di berbagai bidang di tengah masyarakat. Salah satu bidang yang menunjukkan peran signifikan perempuan Iran adalah bidang ilmu pengetahuan, pendidikan dan riset. Di tahun-tahun menjelang kemenangan revolusi, tercatat 35 persen perempuan Iran yang berpendidikan. Angka ini pada tahun 1996 meningkat menjadi 75 persen serta pada tahun 2012 menjadi 81 persen.

Menjelang peringatan kemenangan Revolusi Islam yang ke-39 kali ini, perempuan Iran dengan kemampuan dan pendidikan tingginya mampu memainkan peran signifikan di berbagai sektor politik, ekonomi dan sosial. Bahkan di sebagian bidang mereka mampu mengungguli kaum pria.

Berdasarkan data yang ada, pada tahun 1979, kurang dari 50 ribu mahasiswa di Iran adalah perempuan dan angka ini di tahun 1997 meningkat sepuluh kali lipat, yakni mencapai 500 ribu orang. Saat ini, angka tersebut mendekati dua juta. Usaha keras perempuan Iran meraih jenjang pendidikan tinggi membuat jumlah mahasiswi di Iran melebihi mahasiswa (pemuda). Menurut data, saat ini sekitar 56 persen mahasiswa di universitas negeri adalah perempuan.

Meningkatnya kepercayaan diri nasional berujung pada pengokohan kekuatan ilmiah Iran di tingkat dunia. Pasca wafatnya Imam Khomeini proses ini terus berlanjut dan diperkuat di era kepemimpinan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Rahbar menilai salah satu prestasi dan berkah dari kemenangan Revolusi Islam di Iran adalah semakin kuatnya rasa percaya diri dan berkembangnya potensi pemuda seiring dengan hancurnya ketergantungan kepada Barat. Rahbar meyakini bahwa Revolusi Islam mampu mematahkan rantai ketergantungan dan otokrasi pengetahuan dan memperkuat rasa percaya diri di tengah pemuda Iran. Oleh karena itu, dewasa ini di Iran terbuka peluang lebar bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Rahbar mengatakan, "Sebelum revolusi, para pemuda tidak diberi kesempatan untuk berinovasi di bidang sains dan pengetahuan...Namun revolusi berhasil menghidupkan semangat independensi dan percaya diri di tengah masyarakat....Revolusi Islam mampu memberi kemajuan ilmu pengetahuan kepada negara ini. Di periode ini, kemajuan sains dan ilmu pengetahuan kita lebih sulit di banding dengan perkembangan pengetahuan negara ini sepanjang 50 atau 60 tahun ketika dunia mampu meraih kemajuan sains lebih besar."

Selama periode kepemimpinan Ayatullah Khamenei, kebijakan ilmiah nasional dirancang dengan baik sehingga perkembangan ilmiah di Iran bukan saja terhenti, tapi semakin kencang. Menurut laporan ISI, selama 37 tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam (1940-1979), yakni di era Shah Pahlevi kedua, hanya tercatat 2026 artikel ilmiah yang dicatat atau diserahkan ilmuwan Iran di majalah atau konferensi internasional. Sementara kuantitas produk keilmuan di dunia saat itu cukup besar.

Berdasarkan data yang ada, selama periode tersebut lebih dari 8 juta artikel ilmiah tercatat di dunia dan saham Iran hanya dua ribu. Namun pasca kemenangan revolusi, dan mengingat kencangnya laju produk ilmiah, jumlah artikel ilmiah Iran mencapai lebih dari 245 ribu. Kenaikan ini terjadi ketika Iran selama delapan tahun terlibat perang yang dipaksakan dan kondisi bagi aktivitas keilmuan dan riset di negara ini tidak mendukung.

Feb 07, 2018 15:07 Asia/Jakarta
Komentar