Usia Revolusi Islam Iran mendekati angka 40. 39 tahun lalu, rakyat Iran dengan tekad baja menumbangkan rezim despotik Shah Pahlevi dan mencatat lembaran sejarah baru bagi negara mereka. Revolusi yang dibangun atas dasar nilai-nilai tinggi kemanusiaan dan Islam serta dengan motif Ilahi dan persatuan akhirnya mencapai kemenangan dan hingga kini revolusi ini terus mendapat beragam konspirasi dan ancaman serius.

Karakteristik unggul Revolusi Islam Iran seperti anti despotisme dan imperialis, merealisasikan pemerintahan Ilahi dan menciptakan masyarakat independen dan bebas oleh pemerintah Republik Islam Iran, tidak dapat diterima oleh musuh dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, mereka sangat mendendam Iran Islami.

Meski Revolusi Islam diterjang badai konspirasi dan sabotase musuh, namun dengan kepemimpinan Imam Khomeini di dekade pertama kemenangan Revolusi Islam dan kemudian dilanjutkan oleh Ayatullah Khamenei di dekade kedua dan ketiga, revolusi ini berhasil melewati badai ini. Dan dengan resistensi teguh terhadap setiap represi dan pembatasan, Iran dari hari ke hari terus mencapai ketinggian. Rapor 39 tahun Revolusi Islam membuktikan bahwa indeks kemajuan dan kekuatan Republik Islam senantiasa melonjak dan memiliki masa depan yang gemilang.

Image Caption

Crane Brinton, pakar revolusi dan sejarawan AS-Perancis di bukunya Anatomi Revolusi membahas poin ini bahwa revolusi suatu hari lahir dan suatu hari akan mati. Ia yakin bahwa di empat revolusi, Perancis, Inggris, Amerika dan Rusia ada titik kesamaan tersebut. Menurut pandangan Crane Brinton, di setiap revolusi, setelah kemenangan revolusioner maka dimulai era harapan dan kebahagiaan yang berbeda dengan era sebelum revolusi. Brinton menyebut era tersebut sebagai masa bulan madu revolusi.

Era ini adalah masa tumbangnya pemerintahan sebelumnya dan disusul dengan kemunculan pemerintah baru. Namun masa bulan madu tersebut akan cepat berlalu dan dengan berkuasanya pemerintahan moderat, radikal, konfrontasi dan kontradiksi di tubuh revolusi maka peluang kematian revolusi ini mulai terlihat. Dari perspektif ini, revolusi dinilai sekedar demam masyarakat, yakni sebuah fenomena tidak normal. Oleh karena itu, kondisi harus segera kembali ke arah normal.

Kini banyak yang ingin mengetahui apakah kondisi dan nasib ini juga akan dialami oleh Revolusi Islam Iran. Jika tidak demikian, lantas apa faktor yang membuat Revolusi Islam Iran abadi dan tetap tegar hingga sekarang?

Pastinya setiap empat revolusi besar dunia telah berhasil mengubah masyarakatnya dan bahkan lingkungan di sekitarnya pun mendapat imbas. Tapi banyak pengamat yang meyakini bahwa Revolusi Islam Iran, baik dari sisi kemunculannya atau sisi pengaruh dan keabadiannya, sebuah revolusi yang unik dan setiap hari pengaruh revolusi ini semakin besar.

Pengaruh besar Revolusi Islam bahkan melebar  dan melampaui batas-batas teritorial Iran dan diterima oleh hati dan semangat yang haus kebenaran dan keadilan. Selain itu, pengaruh ini juga membantu dalam pembentukan gerakan rakyat. Imam Khomeini dengan memberi perhatian pada poin penting ini di wasiatnya mengatakan, "Jangan diragukan bahwa Revolusi Islam Iran berbeda dengan revolusi lainnya. Baik dalam proses pembentukannya, metode perjuangannya dan juga motif kebangkitannya."

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Sementara itu, Ayatullah Khamenei menilai faktor keabadian Revolusi Islam adalah kebenaran yang diusung oleh revolusi ini. Rahbar mengatakan, "Retorika revolusi adalah ucapan kebenaran. Ini adalah karakteristik kebenaran. Misalnya kalimat yang baik laksana pohon yang baik (کلمة طیّبة کشجرة طیّبه); ini sebuah pohon yang baik dan sehat serta ditanam dengan baik serta tumbuh di tanah yang subur. Akarnya kokoh dan cabang serta daunnya menjulang ke langit (اصلها ثابت و فرعها فى السّماء). Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim (تؤتى اکلها کلّ حین باذن ربّها). Artinya ini tidak sekali pakai seperti pergerakan di dunia dengan nama revolusi atau kudeta yang mengubah sebuah pemerintahan yang hanya sekali pakai dan dalam waktu yang singkat, kondisi kembali ke sebelum revolusi atau malah lebih buruk lagi. Kebenaran (kalimatul haq) tidak demikian, kalimatul haq akan tetap kekal."

Dengan menghadirkan citra agama yang efektif sebagai fenomena spiritual yang dinamis, Revolusi Islam dapat mempromosikan peran doktrin dan kepercayaan religius sebagai sumber epistemologi dan panduan bagi kehidupan individu, sosial dan politik serta menjadikan kemampuan agama sebagai bendera spiritual perjuangan melawan hegemoni asing. Melalui kepercayaan terhadap agama dan nilai-nilainya, Revolusi Islam mengenalkan agama sebagai fenomena politik dan unsur budaya.

Hal penting ini semakin kokoh dipromosikan dengan konsep Wilayatul Faqih dan kepemimpinan kokoh Rahbar serta keteguhan pemerintah. Wilayatul Faqih, simbol identitas Islam pemerintah serta penjamin kelanggengan dan keterjagaannya dari ancaman serta penyimpangan potensial. Kepemimpinan cerdas Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei dengan baik menunjukkan peran dan posisi unggul konsep Wilayatul Faqih bagi kelanggengan Revolusi Islam dalam meniti jalannya yang penuh ancaman.

Setelah Imam Khomeini, selama seperempat abad kepemimpinan Ayatullah Khamenei jalan kesempurnaan pemerintah Republik Islam Iran dikelola dengan strategi konstruktif dan langkah-langkah cerdas. Rahbar secara serius menjamin kekuatan nasional di bidang politik dan keamanan serta memperkokoh sendi-sendi pertahanan Iran dan ekonomi muqawama untuk mencegah hegemoni asing serta dengan mendorong perhatian terhadap nilai-nilai revolusi telah menunjukkan dirinya Khomeini lain di sejarah Revolusi Islam. Ayatullah Khamenei berhasil menyingkirkan setiap kendala yang menghadang dan menjinakkan setiap konspirasi serta menambahkan prestasi lain di kinerja Revolusi Islam. Tak hanya itu, Ayatullah Khamenei juga berhasil memadamkan mimpi dan ambisi musuh.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Keselarasan dengan fitrah Ilahi manusia, salah satu faktor lain kelanggengan Revolusi Islam. Menurut Ayatullah Khamenei, "Mengarahkan hati jutaan rakyat pada satu sisi, bukan pekerjaan biasa. Ketika seseorang berbicara dengan fitrah dan atas nama Tuhan, fitrah akan mengarah kepadanya. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (al-Anfal ayat 63)..."

Lebih lanjut Ayatullah Khamenei mengatakan, "...Hanya kekuatan Tuhan yang mampu menggiring seluruh hati ke satu arah, dengan demikian hasilnya seperti ini. Pada tanggal 22 Bahman, warga yang turun ke jalan-jalan, lebih banyak dari tahun sebelumnya. Bukan saja tidak berkurang atau pudar, tapi aksi warga semakin kental dan kuat. Bertolak belakang dengan apa yang ada dalam sifat alam semesta dan berlalunya waktu, ia memadamkan gelombang sosial, namun hakikat yang terbentuk dari fitrah manusia, berlalunya waktu tidak akan memadamkannya, tapi dari hari ke hari akan semakin bersinar."

Dimensi fitrah dan spiritual revolusi, telah menorehkan partisipasi besar warga dan membuat dunia tercengang. Bahkan mereka menilai Revolusi Islam melampaui sekedar seruan untuk bangkit dan banyak pendapat yang bermuculan saat menganalisa partisipasi besar warga Iran di revolusi Islam.

Michel Foucault, filsuf Perancis mengatakan, "Sampai saat ini belum pernah terlihat kehendak kolektif dan saya secara pribadi menganggap kehendak kolektif  seperti Tuhan atau ruh tidak akan pernah muncul. Tapi kita menyaksikan kemunculan kehendak kolektif sebauh bangsa di Tehran dan bahkan di seluruh Iran. Kehendak kolektif yang dalam terori kini sekedar gambaran umum, terealisasi di Iran secara nyata."

Sejatinya Revolusi Islam Iran sebagai revolusi ideologi dan budaya dengan dimensi global, mampu membuat Republik Islam Iran sebagai satu-satunya negara yang mengalami pengalaman sejati demokrasi agama. Patut dicatat bahwa sisi kerakyatan adalah bagian dari Islam dan tidak dapat dipisahkan dari agama ini. Islam diturunkan Tuhan bagi rakyat dan manusia serta untuk membimbing mereka. Oleh karena itu, Islam senantiasa menghendaki kebahagiaan manusia. Agama Islam menilai partisipasi rakyat dalam menjalankan hukum dan membela kehormatannya sebagai sebuah prioritas utama.

Karakteristik ini dengan sendirinya menorehkan persatuan rakyat dan memperkokohnya sehingga langkah mereka semakin mantap dan tak kenal lelah. Tak hanya itu, partisipasi mereka di lapangan pun semakin kuat.

Tags

Feb 12, 2018 15:13 Asia/Jakarta
Komentar