Dalam acara berseri ini akan dibahas tentang analisa perkembangan terbaru di Malaysia. Pada bagian pertama, akan diulas sebab dan alasan kekalahan koalisi Barisan Nasional dalam Pilihan Raya Umum ke-14 di Malaysia.

Koalisi Barisan Nasional untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir, harus menelan kekalahan pahit dari saingannya koalisi oposisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir Mohamad.

Sebelumnya Mahathir Mohamad pernah memimpin Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang mendominasi koalisi Barisan Nasional, selama dua dekade, namun pada tahun 2016 ia keluar karena memprotes maraknya praktik korupsi di tubuh partai itu.

Mahathir kemudian mendirikan partai baru, Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) dan berkoalisi dengan mantan rival politiknya, Anwar Ibrahim untuk melengserkan Perdana Menteri Najib Razak, dengan membentuk koalisi Pakatan Harapan.

Banyak pendapat yang mencoba menjelaskan alasan kekalahan koalisi Barisan Nasional dalam pemilu terbaru Malaysia, mulai dari pribadi Mahathir Mohamad yang menentang kinerja Najib Razak, sampai peran media sosial di arena pemilu negara ini.

Pemilu Malaysia

Alasan pertama dan yang terpenting, bisa dikatakan adalah pribadi dan sosok Mahathir Mohamad yang tetap memiliki pengaruh dan posisi unggul di tengah masyarakat multietnis dan multibahasa seperti Malaysia ini.

Mahathir Mohamad yang merupakan perdana menteri terlama di Malaysia (1981-2003), sejak lengser berusaha membuka ruang kepada para kader yang lebih muda di koalisi Barisan Nasional untuk memimpin sehingga generasi baru Malaysia bisa muncul.

Akan tetapi karena situasi politik dan ekonomi yang dinilai tak kunjung membaik sebagaimana diharapkannya, maka Mahathir terpaksa kembali terjun ke dunia politik dan bersaing dalam pemilu.

Alasan kedua kekalahan telak koalisi Barisan Nasional dalam pemilu terbaru Malaysia adalah terungkapnya kasus korupsi PM Najib Razak, termasuk yang diklaim sebagai sumbangan dana dari Arab Saudi yang ditransfer ke rekening pribadi Najib senilai 10 trilyun rupiah, dan disebut pejabat Riyadh sebagai bantuan untuk pemilu tahun 2013.

Kasus tersebut ternyata berpengaruh besar menurunkan popularitas Najib. Terlebih pasca kemenangan koalisi Pakatan Harapan dalam pemilu Malaysia, Mahathir Mohamad membuka kembali penyelidikan kasus korupsi 1 MDB sehingga berujung dengan pencekalan Najib dan istrinya serta pemanggilannya ke Komisi Anti-Korupsi Malaysia.

Pada saat yang sama, ketidakpuasan rakyat Malaysia atas kedekatan Najib dengan Saudi yang terbukti mendukung kelompok-kelompok teroris dan membunuh warga Yaman, semakin membuat elektabilitasnya anjlok.

Profesor di Departemen Sosiologi Universitas Nasional Singapura, Syed Farid Alatas mengatakan, rakyat Malaysia sangat menentang pengaruh dan propaganda Arab khususnya Arab Saudi di negaranya dan menganggapnya bisa memunculkan ekstremisme.

Faktor ketiga yang menyebabkan koalisi Barisan Nasional kalah dalam pemilu terbaru Malaysia adalah kekhawatiran yang terus muncul atas dominasi etnis-etnis non-Melayu dan terancamnya perasatuan nasional di Malaysia.

Etnis keturunan Cina dan India yang diklaim mendominasi sebagian perekonomian dan perdagangan Malaysia diduga tidak senang dengan kebijakan PM Najib yang ingin meningkatkan partisipasi ekonomi suku Melayu.

Kebijakan berbau rasis itu disinyalir dilakukan Najib untuk menopang dukungan etnis Melayu kepada partainya. Di saat yang sama, warga keturunan Cina, India dan beberapa etnis lain yang sudah hidup selama beberapa generasi di Malaysia, menganggap dirinya warga Malaysia asli dan menuntut hak sosial yang sama dengan warga Melayu.

Dimulainya pemilu Malaysia

Oleh karena itu, terjunnya kembali Mahathir Mohamad ke dalam kontestasi politik dengan slogan persatuan nasional dan keadilan bagi seluruh warga Malaysia, dinilai berhasil menarik dukungan suara etnis non-Melayu dan membuka peluang bagi koalisi Pakatan Harapan untuk memenangkan pemilu parlemen di negara itu.

Mahathir selalu memprotes maraknya praktik korupsi di Malaysia dan ingin membersihkan negara itu dari segala bentuk praktik korupsi. Slogan itu tak pelak menarik perhatian rakyat Malaysia terutama kalangan muda yang terjerat masalah pengangguran dan ketidakadilan.

Salah seorang pengamat politik Inggris, Azzam Tamimi mengatakan, jika Najib Razak sampai diadili, maka informasi yang lebih banyak seputar keterkaitan korupsinya dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, akan terungkap.

Faktor kelima yang menyebabkan kekalahan koalisi Barisan Nasional adalah pemanfaatan optimal Mahathir Mohamad dan koalisinya atas media sosial. Mahathir sadar bahwa penggunaan media sosial dapat menarik dukungan kalangan muda dan oposisi pemerintah.

Berdasarkan data resmi yang dipublikasikan Kementerian Komunikasi dan Multimedia Malaysia, dan beberapa media lain negara itu, pengguna internet di Malaysia tahun 2018 bertambah menjadi 25 juta orang dari total penduduk yang berjumlah 31,19 juta jiwa, berdasarkan sensus tahun 2016.

Data ini menunjukkan bahwa pengaruh internet dan tingkat penggunaan masyarakat Malaysia atas media sosial sangat tinggi. Saat Najib Razak menggunakan fasilitas jaringan televisi nasional yang dikuasainya untuk berdialog dengan warga dan mengajak mereka berpartisipasi dalam pemilu, Mahathir melakukan siaran langsung lewat media sosial dan berbicara dengan konstituennya.

Oleh karena itu, beberapa politisi Malaysia menilai kemenangan Mahathir Mohamad dalam pemilu terbaru negara ini adalah kemenangan media sosial atas media-media audio visual milik koalisi Barisan Nasional. Pasalnya, Najib meski sering tampil di hadapan warga, namun hanya di televisi dan radio nasional resmi, tidak lebih.

Salah seorang jurnalis surat kabar New York Times, Richard C. Paddock menuturkan, warga Malaysia begitu marah dengan kinerja Najib Razak hingga lebih memilih untuk menyingkirkan koalisi Barisan Nasional yang telah berkuasa selama 60 tahun di negara itu.

Pemilu Malaysia

Faktor keenam yang menyebabkan kekalahan Barisan Nasional adalah cara Najib dan pemerintahannya dalam memperlakukan Anwar Ibrahim, salah satu tokoh oposisi Malaysia.

Meskipun Anwar Ibrahim berbeda pandangan dengan Mahathir di akhir masa jabatannya sebagai wakil perdana menteri, namun ia dianggap masih memiliki pengaruh yang cukup besar di Malaysia.

Oleh karena itu, Mahathir Mohamad setelah kemenangannya dalam pemilu, langsung  mengajukan permohonan pengampunan dan pembebasan Anwar Ibrahim dari penjara.

Tags

Jul 05, 2018 18:26 Asia/Jakarta
Komentar