Pemilu parlemen ke-14 Malaysia yang dimenangkan oleh koalisi oposisi dan kekalahan Koalisi Barisan Nasional cukup mencengangkan banyak kalangan, sehingga pemilu kali ini disebut-sebut sebagai pemilu bersejarah di Malaysia.

Selain kembalinya Mahathir Mohamad, 92 tahun ke kancah politik Malaysia dan keberahasilannya menduduki posisi perdana menteri, pengampunan dan pembebasan Anwar Ibrahim yang sempat menjadi wakil Mahathir hingga tahun 1998 tercatat sebagai peristiwa penting di pemilu kali ini.

Setelah pengumuman kemenangan Aliansi Harapan (Pakatan Harapan/ PH), Anwar Ibrahim datang ke istana Sultan Muhamad V, Yang Dipertuan Agong Malaysia dan mendapat grasi. Sultan Muhamad V setelah berdiskusi dengan dewan hakim yang menangani kasus Anwar Ibrahim akhirnya memberi pengampunan kepada tokoh politik ini. Dengan demikian catatan buruk Anwar Ibrahim pun dibersihkan. Ini artinya ia dapat memainkan peran terkait masa depan Malaysia.

Salah satu jaksa Malaysia mengatakan, "Sebelumnya juga tidak ada bukti kesalahan Anwar Ibrahim, kasus ini sepenuhnya politik."

Anwar Ibrahim dikenal sebagai seorang politikus reformis Malaysia dan setelah memiliki sejumlah friksi dengan Mahathir Mohamad di tahun 1998, ia dicopot dari jabatannya sebagai wakil perdana menteri dan kemudian menghadapi berbagai dakwaan di pengadilan. Akhirnya ia divonis hukuman penjara selama 11 tahun.

Anwar Ibrahim

Meski Pakatan Harapan dengan poros Mahathir berhasil memenangkan pemilu terbaru di Malaysia, namun peran dan posisi Anwar Ibrahim serta Partai Keadilan Rakyat yang ia pimpin tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, Mahathir Mohamad berusaha dengan menghibur Anwar di penjara, menarik simpatinya agar bersedia bergabung dengan dirinya untuk memenangkan pemilu. Dengan demikian peran dan posisi Anwar Ibrahim di masa depan politik Malaysia sangat penting.

Yahya Ismail, pengamat politik di Malaysia mengatakan, "Anwar Ibrahim memiliki banyak pendukung. Rakyat Malaysia juga menghendaki dirinya aktif di parlemen dan kemudian memangku jabatan perdana menteri."

Berdasarkan kesepakatan yang ada antara Pakatan Harapan dan Mahathir Mohamad, rencananya ia akan menjabat perdana menteri selama dua tahun dan setelah Anwar Ibrahim masuk ke parlemen serta meraih syarat yang diperlukan, maka jabatan perdana menteri akan diserahkan kepada Anwar.

Meski Mahathir Mohamad, setelah pengampunan dan pembebasan Anwar Ibrahim, telah mengundangnya untuk bergabung dengan kabinet, namun Anwar memilih untuk bersama keluarganya saat ini dan istrinya, Wan Azizah yang kini menjabat wakil perdana menteri. Mengingat bahwa Anwar Ibrahim sebelumnya bertarung sengit dengan kubu berkuasa yakni Barisan Nasional untuk mereformasi Malaysia, ia menilai kerja sama dengan Mahathir sebagai peluang yang tepat untuk merealisasikan tujuannya tersebut. Sejatinya Anwar Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa kubu oposisi telah bersatu melawan Aliansi UMNO untuk menyingkirkan kubu ini setelah berkuasa selama enam dekade.

Anwar Ibrahim di pemilu tahun 2013 memimpin kubu oposisi melawan Barisan Nasional, namun gagal. Setelah Anwar di penjara kembali, Wan Azizah menggantikan suaminya memimpin Partai Keadilan Rakyat dan kubu oposisi. Dengan demikian Anwar dan keluarganya dengan menerima bekerja sama dengan Mahathir, sejatinya telah memperkokoh aliansi oposisi dan menyeru pendukungnya untuk percaya kepada Mahathir sehingga Pakatan Harapan dapat meraih kemenangan.

Oleh karena itu, dengan kekalahan Barisan Nasional (BN) di pemilu parlemen Malaysia ke-14, dimulai proses reformasi baru di negara ini di mana menurut pandangan berbagai partai di Pakatan Harapan, Anwar Ibrahim menjadi porosnya serta Mahathir Mohamad pun berjanji setelah dua tahun akan mundur dari jabatannya dan menyerahkan posisinya kepada Anwar.

Bridget Welsh, pengamat politik dari Universitas Johns Hopkins mengatakan, "Kembalinya Anwar Ibrahim ke pentas politik dan parlemen Malaysia akan menjadi poros dan dapat menjadi faktor penting bagi perubahan di negara ini."

Anwar Ibrahim

Program pemerintahan Pakatan Harapan untuk membangun kembali Malaysia adalah menindaklanjuti  skandal suap Mantan perdana menteri Najib Tun Razak, menciptakan stabilitas ekonomi, mengurangi hutang luar negeri, menstabilkan nilai mata uang Ringgit, mereformasi mekanisme penarikan investasi asing, merevisi undang-undang anti kecurangan, mencabut undang-undang perpajakan barang dan jasa.

Tampaknya melalui program ini, pemerintahan baru Malaysia fokus dan memperioritaskan programnya untuk memberantas praktek korupsi dan suap serta memulihkan kondisi ekonomi negara ini. Banyak kalangan yang meyakini bahwa sangat berat bagi Anwar Ibrahim bersedia bekerja sama dengan Mahathir Mohamad, pasalnya justru Mahathir yang sebelumnya menjadi sebab berbagai kesulitan dan penderitaan Anwar. Meski demikian mereka bersedia bekerja sama demi menyelamatkan Malaysia.

Phil Robertson, pengamat politik mengatakan, "Keberadaan Anwar Ibrahim di balik jeruji besi berarti menurunnya kepercayaan terhadap sistem keadilan di Malaysia dan meningkatnya percekcokan."

Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar Ibrahim serta wakil Mahathir Mohamad menyatakan, sebagai istri seorang politikus, bukan seorang politikus yang terlibat di kancah politik Malaysia serta mengedepankan kepentingan negara dari kepentingan pribadi, oleh karena itu merujuk pada sosok yang ingin membangun masa depan Malaysia lebih gemilang.

Mayoritas elit politik meyakini bahwa Anwar Ibrahim satu-satunya sosok yang mampu mempererat partai koalisi di pemerintah dan menentukan program mereka. Oleh karena itu, peran dan posisi Anwar Ibrahim dalam membentuk politik Malaysia bukan saja signifikan, tapi juga sangat menentukan. Ia bersama keluarnya dengan cerdas menilai transformasi mendatang untuk meraih kekuasaan sehingga mampu memiliki analisa yang benar terkait kondisi masa depan Malaysia.

Dalam hal ini, hasil pemilu parlemen ke-14 Malaysia adalah buah dari kerja sama politikus generasi tua Malaysia. Dan sepertinya Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim memiliki tanggung jawab yang berat untuk mendidik generasi politikus baru dan menjalankan transformasi politik negara ini sehingga Malaysia tidak akan lagi menderita akibat pemimpin seperti Najib Tun Razak.

Karir politik Anwar Ibrahim sangat panjang dan banyak mengalami pasang surut. Pria kelahiran Bukit Mertajam 10 Agustus 1947 ini telah menjeburkan diri ke kancah politik sejak muda dan pernah menjabat sebagai presiden Persatuan Pelajar Islam Malaysia dari tahun 1968 hingga 1971. Pada tahun 1974 ia sempat dipenjara dipenjara karena memimpin demonstrasi anti kemiskinan dan kelaparan.

Anwar yang dikenal sebegai kritikus pemerintah akhirnya bersedia bergabung dengan UMNO yang diketuai Mahathir saat itu yang menjabat perdana menteri sejak tahun 1981. Setelah bergabung dengan UMNO karir politik Anwar melejit dan setahun kemudian ia diangkat sebagai menteri kebudayaan Malaysia. Setahun berikutnya, Anwar juga diangkat sebagai menteri pertanian sebelum menjabat menteri pendidikan tahun 1986. Saat itu, Anwar sudah disebut-sebut sebagai kandidat wakil perdana menteri. Hal ini karena dalam tradisi Malaysia, posisi menteri pendidikan merupakan jalur ke arah wakil perdana menteri.

Anwar Ibrahim

Prediksi tersebut akhirnya menjadi kenyataan di tahun 1993. Ia dipilih sebagai wakil perdana menteri setelah sebelumnya dikukuhkan sebagai wakil ketua Partai UMNO mengalahkan Tun Ghafar Baba yang diprediksi menggantikan Mahathir Mohamad. Setelah menjabat wakil perdana menteri, hubungan Anwar dengan Mahathir semakin rapat. Bahkan di mata rakyat hubungan keduanya seperti hubungan ayah dan anak. Peluangnya menjadi pemimpin masa depan Malaysia semakin besar ketika ia dilantik sebagai perdana menteri sementara tahun 1997 ketika Mahathir cuti selama dua bulan.

Tapi sayangnya hubungan Anwar dan Mahathir menjadi renggang karena perbedaan pendakat. Selama menjabat sebagai perdana menteri sementara, ia mengambil langkah-langkah radikal untuk mengubah mekanisme pemerintahan yang tidak disukai Mahathir. Salah satunya adalah mekanisme Malaysia menghadapi krisis finansial, yang ternyata kebijakan tersebut ditentang oleh Mahathir. Apalagi kemudian Anwar mengkritik budaya nepotisme dan kronisme di tubuh UMNO.

Selepas Anwar dipecat dari posisi wakil perdana menteri, para pendukungnya membentuk Gerakan Reformasi. Anwar kemudian membentuk barisan menentang Aliansi Barisan Nasional yang memerintah Malaysia. Gerakan yang dipimpin Anwar Ibrahim ini semakin kuat di saat KTT APEC tahun 1998. Wakil presiden Amerika saat itu, Al Gore menyatakan dukungannya terhadap gerakan reformasi yang dipimpin Anwar. Pergerakan Anwar ini kemudian berujung pada pembentukan Partai Keadilan Rakyat.

Tags

Jul 08, 2018 05:59 Asia/Jakarta
Komentar