Beliau adalah sosok manusia agung yang berbagai keutamaannya telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syiah maupun Sunni. Termasuk di antaranya adalah Ibn Talhah, seorang alim besar Ahlussunnah berkata; "Dia adalah seorang imam yang mulia, agung, sangat mutahajid, serius dalam berusaha, sosok yang dikenal dalam kemuliaan, kehormatan dan ibadahnya, dan sangat berhati-hati dalam menjalankan ketaatan."

Lebih lanjut disebutkan Ibn Talhah, "Dia menghabiskan malam hingga pagi dalam sujud serta melalui siang hari dengan puasa dan bersedekah, dan dia disebut dengan nama Kadzim karena besarnya kesabaran dan ketabahannya di hadapan orang-orang yang menzaliminya.  Dia akan berbuat baik dan kebajikan kepada orang yang berbuat buruk kepadanya. Dia menghadapi orang yang melakukan kejahatan kepadanya dengan maaf dan ampunan. Dia dijuluki Abdus Saleh karena banyaknya beribadah, dan dia dikenal di Irak dengan Bab Al-Hawaij. Karena orang yang dan memohon dari Allah Swt bertawasul kepadanya, pasti terkabulkan. Karamahnya membuat akal terkesima…"

Mari kita kembali menyimak hadis Rasulullah Saw berikut ini, "Sesungguhnya aku tinggalkan dua pusaka untuk kalian, al-Quran dan keturunanku Ahlul Baitku, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat, dan keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di telaga sorga."

Pada hari yang berbahagia ini, alangkah baiknya kita bertawasul kepada Imam Kadzim as serta mengikatkan diri kita dengan al-Quran dan Ahlul Bait as sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah Saw agar kita tidak tersesat.

Namun berpegang teguh kepada keduanya bukan berarti penghormatan atau memuliakan mereka. Itu bukan berarti kita menghormati Al-Quran, menciumnya sebagai tanda penghormatan kemudian meletakkannya di satu sudut ruangan. Berpegang teguh itu berarti mengikut dan mengamalkan perintah Al-Quran dan mempelajari serta menjalankan sirah kehidupan para imam dalam kehidupan kita.

Imam Musa Kadzim as lahir di desa Abwa' di antara Mekah dan Madinah pada pertengahan bulan Dzulhijjah 128 Hijriah. Pada usia 20 tahun, beliau memikul tanggung jawab sebagia imam umat pasca kesyahidan Imam Ja'far As-Sadiq as. Beliau menjalankan tugas sebagai imam umat hingga 35 tahun (148-183 H) dan menjelaskan kepada masyarakat sistem politik dan sosial ideal kepada masyarakat.

Beliau menghidupkan kembali sunnah Rasulullah Saw dan kakek-kakeknya dengan mengumpulkan dan menyampaikan berbagai hadis dan hukum-hukum agama kepada masyarakat. Imam Musa Kadzim as memperkuat struktur kokoh yang telah dibangun oleh ayah beliau dan dalam melaksanakan tugasnya, beliau mempersembahkan harta dan nyawanya di jalan Allah Swt.

Masa kepemimpinan Imam Musa Kadzim as bertepatan dengan kekuasaan sejumlah khalifah Bani Abbasiah. Kejahatan para penguasa Bani Abbasiah mencapai puncaknya pada periode tersebut. Namun Imam Kadzim as tidak berdiam diri di hadapan kezaliman rezim penguasa. Dengan berbagai cara, Imam Musa Kadzim as menunjukkan perlawanan terhadap Bani Abbasiah. Oleh karena itu, sebagian besar masa kepemimpinannya, beliau berada di pengasingan atau penjara. Karena kehadiran Imam dalam masyarakat akan mengancam stabilitas kekuasaan rezim berkuasa.

Sebelumnya, yaitu pada masa kepemimpinan Imam Baqir as dan Imam Sadiq as, pemerintahan Bani Abbasiah tidak stabil dan tidak mampu mengontrol para imam atau sedang dihadapkan pada tantangan besar. Akan tetapi pada masa Imam Kadzim as, pemeritahan Bani Abbasiah telah stabil dan bahkan meluas serta mampu mengontrol ketat masyarakat. Rezim berkuasa juga menunjukkan kezaliman kepada Imam. Namun kezaliman rezim Bani Abbasiah tidak mampu menghalangi Imam Kadzim dalam melaksanakan tugasnya membimbing masyarakat.

Imam Kadzim as dalam berbagai kesempatan menyampaikan pidato bak cambuk bagi penguasa zalim. Dalam salah satu surat yang ditulis Imam Kadzim as dari penjara, beliau menulis, "Sebagaimana sehari di antara hari-hari yang berlalu sulit bagiku, sehari dari hari-hari bahagia kalian juga berlalu, sampai pada hari ketika aku dan kamu bertemu di satu tempat. Di sana orang-orang batil akan menyadari kerugian mereka."

Di saat-saat sulit sekalipun, Imam Kadzim as tetap konsisten membimbing umat Islam baik secara langsung maupun melalui para muridnya. Arahan dan bimbingan Imam Kadzim tentu saja sangat berpengaruh bagi masyarakat. Hisham bin Hakam adalah salah satu murid Imam Kazim. Ia banyak meninggalkan karya di berbagai ilmu. Imam kerap memberi nasehat kepada Hisham, salah satunya berkenaan dengan dunia dan akhirat. Beliau berkata, bukan dari kami orang yang rela menjual akhiratnya demi dunia atau sebaliknya.

Pembahasan mengenai hubungan dunia dan akhirat telah menjadi polemik sejak dahulu kala. Menyikapi masalah ini, Imam Kadzim memandang dunia dan akhirat bukan hanya tidak dapat dipisahkan, namun keduanya memiliki hubungan sangat erat. Sebab dunia merupakan kesempatan dan medan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, dunia menjadi arena untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

Menurut Imam Kadzim, sikap berlebih-lebihan dalam masalah dunia dan akhirat berarti seseorang telah keluar dari jalan Ahlul Bait. Dunia akan menjadi hina ketika ia dijadikan sebagai tujuan oleh manusia, dan manusia sangat bergantung dengannya. Ketika itu, dunia berubah menjadi arena yang melalaikan manusia, bukannya tempat untuk mencapai kesempurnaan.

Masyarakat ideal dalam pandangan Ahlul Bait adalah masyarakat yang mampu menyeimbangkan antara akal, emosi, ibadah, agama dan dunia serta tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya.

Di sisi lain, Imam Kadzim menegaskan ajaran agama sebagai dasar bagi aktivitas dunia. Dari sinilah kita saksikan Imam Kadzim memprotes sikap Safwan bin Mahran yang menyewakan unta-untanya kepada Harun al-Rashid, pemimpin zalim untuk pergi haji. Beliau berkata, "Wahai Safwan tindakanmu terpuji kecuali ketika kamu menyewakan untamu kepada Harun al-Rashid."

Sepintas ketika Safwan bertransaksi dengan Harun hanya sekedar masalah ekonomi. Namun dalam pandangan Imam Kadzim, transaksi ekonomi yang dilakukan dengan pemimpin zalim akan merusak kebahagiaan akhirat seseorang. Ini adalah masalah yang senantiasa diperingatkan Imam Kazim dengan sabda beliau, “Wahai manusia! berhati-hatilah, jangan kalian rusak akhiratmu dikarenakan dunia. Artinya jangan kalian tenggelam dalam kenikmatan duniawi sehingga kalian melupakan tujuan utama hidup kalian di dunia ini.”

Berkenaan dengan para penguasa zalim Imam Kadzim berkata: "Barang siapa yang menghendaki mereka tetap hidup, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barang siapa yang termasuk golongan mereka, maka ia akan masuk neraka". Dengan demikian, Imam telah menentukan sikap tegas terhadap pemerintahan Harun al-Rashid, mengharamkan kerja sama dengannya dan melarang para pengikutnya untuk bergantung kepada pemerintahannya.

Imam Kadzim sangat menekankan masalah evaluasi diri. Beliau berkata, “Barang siapa yang mengevaluasi diri dan perbuatannya, maka ia termasuk dari kami [Ahlul Bait]. Jika melakukan perbuatan baik, mintalah taufik dari Allah swt untuk melakukan kebaikan lebih banyak lagi. Tapi, jika melakukan keburukan, maka beristigfarlah dan mohon ampunan dari Allah swt”.

Sep 11, 2017 09:57 Asia/Jakarta
Komentar