Saad Hariri secara tak terduga pada 4 November 2017 mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan perdana menteri Lebanon. Hariri mengumumkan pengunduran dirinya itu di Riyadh, ibukota Arab Saudi. Sejumlah alasan dan tujuan melatarbelakangi tekanan Saudi atas Saad Hariri untuk mengundurkan diri.

Hanya beberapa hari pasca terpilihnya Michel Aoun sebagai presiden, Saad Hariri, November 2016 diangkat sebagai perdana menteri Lebanon. Setahun setelah menjabat PM Lebanon, Hariri mengundurkan diri, padahal sebagian kalangan menilai kinerja kabinetnya positif, karena berhasil mencapai stabilitas. Di antara prestasi yang diraih kabinet Hariri di Lebanon adalah disahkannya undang-undang pemilu, disahkannya anggaran negara setelah 12 tahun, dibayarnya gaji pegawai serta tunggakan gaji dan penetapan waktu pelaksanaan pemilu parlemen Lebanon pada Mei 2018.

Oleh karena itu, berbeda dengan pengakuan Hariri sendiri dan sebagaimana disampaikan Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah, pada Ahad (5/11) bahwa alasan pengunduran diri Saad Hariri tidak bisa ditemukan di Lebanon, tapi harus dicari di Saudi. Sayid Hassan Nasrullah dalam pidatonya hari Ahad (5/11) menyinggung bersamaannya waktu pengunduran diri Hariri dengan mundurnya sejumlah pangeran Saudi. Nasrullah menegaskan, pengunduran diri Hariri adalah keputusan Saudi dan dilakukan atas dikte Riyadh, bukan atas keputusan dan kehendak Hariri sendiri.

Smadar Perry, jurnalis surat kabar Yediot Ahronot, Ahad (5/11) menulis, pengunduran diri Saad Hariri bagi para pemerhati transformasi kawasan bukan sesuatu yang mengejutkan, pasalnya Menteri Penasehat urusan Teluk Persia, Saudi, Selasa (7/11) di laman Twitternya menulis, Iran harus ditaklukkan dan tidak lama lagi akan terjadi sesuatu.

Realitasnya, hanya para pejabat Saudi yang tidak terkejut dengan pengunduran diri Hariri. Selain itu dipilihnya Riyadh oleh Hariri untuk mengumumkan pengunduran dirinya juga bukan kebetulan, karena Hariri menganggap Saudi layaknya tempat berlindung. Pertanyaannya adalah mengapa Saudi menekan PM Lebanon untuk mengundurkan diri ?

Jawaban pertama pertanyaan ini terkait dengan persaingan Saudi dengan Republik Islam Iran di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, Timur Tengah adalah tempat berkumpulnya tiga kekuatan regional atau dengan kata lain segitiga kekuatan regional ada di kawasan ini yaitu Iran, Saudi dan Turki.

Turki dalam tranformasi Dunia Arab selalu sejalan dengan salah satu dari dua kekuatan regional ini, Iran atau Saudi. Dalam krisis Suriah, pada awalnya Turki berada satu kubu dengan Saudi dan berusaha menggulingkan Bashar Assad. Akan tetapi setahun terakhir, Turki berubah haluan dan menurunkan ketegangannya dengan Iran terkait krisis Suriah. Turki juga mengambil sikap yang sama dengan Iran dalam konflik wilayah Kurdistan dan pemerintah pusat Irak, dan mendukung Baghdad.

Saudi dan Iran saat ini, tak dipungkiri, saling berhadapan-hadapan. Riyadh memutus hubungan diplomatiknya dengan Tehran pada Januari 2016 lalu, dan pandangan umum terkait transformasi Timur Tengah adalah terjadinya perang proxy antara Iran dan Saudi. Di satu sisi, strategi regional terpenting Iran adalah menjaga stabilitas dan keamanan Timur Tengah, serta menolak intervensi kekuatan-kekuatan transregional di kawasan, sementara di sisi lain, strategi utama Saudi adalah membendung pengaruh regional Iran.

Langkah-langkah yang dilakukan Saudi untuk menjalankan strateginya itu adalah dengan menciptakan instabilitas, ketidakamanan dan kekerasan di wilayah-wilayah yang dinilai berada di bawah pengaruh Iran. Riyadh menurut hitung-hitungan militer, mengakui tidak mampu berhadapan langsung dengan Tehran. Dengan demikian, Riyadh menyerang sekutu-sekutu regional Tehran di Timur Tengah. Suriah, Irak, Hizbullah dan Ansarullah, Yaman adalah sekutu regional terpenting Iran di kawasan.

Pertama, Saudi menyerang Suriah, tapi setelah berlalu tujuh tahun pemerintahan Damaskus tak kunjung jatuh, justru teroris yang terus terdesak dan di ambang kehancuran. Kedua, Saudi menyerang Irak lewat tangan kelompok-kelompok teroris dukungannya dan memperkeruh konflik politik dalam negeri di negara itu.

Akan tetapi, fatwa bersejarah Marji Taklid Muslim Syiah Irak, Ayatullah Sistani yang memerintahkan pembentukan pasukan sukarelawan rakyat, ditambah peran unggul Al Hashd Al Shaabi dalam perang melawan terorisme, berakhirnya usia Daesh di Irak setelah tiga tahun semakin pasti. Dukungan rahasia Saudi atas separatisme di wilayah Kurdistan, Irak juga tak membuahkan hasil apapun bagi Riyadh, dan ketiga, Saudi menyerang Yaman sejak Maret 2015.

Meski nilai strategis Ansarullah, Yaman bagi Iran dianggap tidak sebesar Hizbullah, Lebanon, akan tetapi Iran tetap dicurigai berada di balik kekuatan Ansarullah. Harus diakui agresi militer atas Yaman yang bertujuan untuk menyingkirkan Ansarullah, juga tidak membuahkan hasil apapun bagi Saudi, tapi malah menjerumuskan negara itu dalam kubangan krisis.

Sekarang, Saudi sedang menjalankan langkah politik regional anti-Irannya yang keempat dengan memusatkan perhatian menyerang Hizbullah, Lebanon. Saudi berusaha menekan Tehran dan mencegahnya meraih keunggulan di kawasan. Di sisi lain, seiring dengan kekalahan Saudi di Suriah, serangan terhadap Hizbullah pun semakin kuat. Thamer Al Sabhan, Menteri Penasehat urusan Teluk Persia Saudi, mengabarkan pembentukan koalisi internasional anti-Hizbullah dan menyebut kelompok perlawanan itu sebagai Hizbusyaithan.

Seperti sebelum-sebelumnya, dalam hal ini, Saudi pun mendapat dukungan rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat. Segitiga Saudi, Israel dan Amerika dalam fase baru taktik politiknya menghadapi Iran, bersama-sama mengeroyok Hizbullah. Pada kenyataannya, dengan memaksa Saad Hariri mundur, Saudi ingin memasukkan PM Lebanon itu ke dalam segitiga ini. Maka tak heran jika Hariri yang sebelumnya melibatkan anggota gerakan 8 Maret afiliasi Hizbullah, dalam kabinetnya, pasca pengumuman pengunduran dirinya, justru menyerang Hizbullah dan Iran.

Alasan kedua mengapa Saudi menekan Saad Hariri untuk mundur, adalah ketikdapuasan Riyadh atas kinerja kabinet Hariri di Lebanon terutama dalam kebijakan regional dan krisis Suriah. Sejak tahun 2013, Lebanon tidak punya duta besar di Suriah dan kedutaan besar negara itu di Damaskus dikelola oleh Kuasa Usaha Lebanon, tapi pada akhir Oktober 2017, Saad Zakhia ditunjuk sebagai Dubes baru Lebanon untuk Suriah. Zakhia tiba di Damaskus, sehari sebelum pengunduran diri Saad Hariri dan sudah memulai aktivitasnya secara resmi.

Dari satu sisi, peristiwa ini berarti pengakuan resmi atas kedaulatan Suriah oleh kabinet Saad Hariri, sementara di sisi lain dapat ditengarai sebagai upaya Lebanon untuk memperkuat hubungan dengan Damaskus. Bahkan, Hussein Al Hajj Hassan, Menteri Industri dan Ghazi Zaiter, Menteri Pertanian Lebanon pada Agustus 2017 bersama puluhan pebisnis Lebanon berkunjung ke Suriah untuk menghadiri pameran internasional Damaskus.

Lebanon sebenarnya menerapkan kebijakan tidak berpihak terkait krisis Suriah dan hubungan negara itu dengan Suriah tidak sepenuhnya terputus, dan tetap terjalin dengan baik. Penunjukkan dubes baru Lebanon untuk Suriah berarti diterimanya syarat baru Suriah yaitu keunggulan pemerintah Damaskus dalam transformasi internal negara itu. Hal ini jelas tidak bisa diterima oleh Saudi.

Dengan memperhatikan ketergantungan akut Saad Hariri terhadap Saudi terutama di bidang ekonomi, Riyadh akhirnya menekan Hariri untuk mengundurkan diri karena tidak puas dengan kinerja pemerintah Lebanon yang tidak sejalan dengan keingingan Riyadh. Sementara Hariri sendiri lebih mementingkan kepentingan pribadinya daripada kepentingan nasional Lebanon dan dengan pengunduran dirinya, secara praktis ia bersedia bermain untuk Saudi.  

Mengingat situasi terkini kawasan dan ketidakpuasan Saudi atas perkembangan yang terjadi, Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah dalam pidatonya tanggal 5 November 2017 secara tegas mengatakan alasan pengunduran diri Saad Hariri harus dicari di Saudi bukan di Lebanon.

Sepertinya manuver terbaru Saudi ini berhubungan langsung dengan statemen Putra Mahkota kerajaan itu terkait upaya melawan Iran. Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi baru-baru ini mengumumkan, apa yang terjadi selama 30 tahun terakhir bukan Saudi. Apa yang terjadi selama 30 tahun terakhir di kawasan bukan Timur Tengah.

Ia menambahkan, pasca kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, masyarakat kawasan ingin mencontoh revolusi itu di berbagai negara, salah satunya di Saudi. Kita tidak tahu bagaimana menghadapinya dan masalah ini menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan sekarang tiba saatnya kita terbebas dari masalah tersebut.

Di era Raja Salman pun, Saudi masih tidak mampu berhadapan langsung dengan Iran dan Riyadh terpaksa menyerang sekutu-sekutu Tehran di Timur Tengah terutama Hizbullah, Lebanon. Tidak diragukan permainan Saudi dilakukan atas perintah Israel dan Amerika, namun bukan saja terbukti gagal, sebagaimana terjadi di Suriah, Irak dan Yaman, bahkan sebaliknya bisa memperkuat Republik Islam Iran.

Nov 14, 2017 12:32 Asia/Jakarta
Komentar