Yaman di tahun 2017 menyaksikan berbagai transformasi penting, terutama tiga peristiwa besar dan berpengaruh, yaitu berlanjutnya serangan jet-jet tempur Arab Saudi, tewasnya Ali Abdullah Saleh dan meningkatnya kemampuan rudal dan kekuatan Yaman dalam melawan tentara Saudi dan Uni Emirat Arab.

Jet-jet tempur Saudi selama tahun 2017 setiap hari membombardir rakyat Yaman. Menurut data resmi PBB, akibat serangan tersebut lebih dari 8.800 warga Yaman tewas dan lebih dari 51.000 lainnya terluka. Warga sipil Yaman, baik perempuan, laki-laki, anak-anak maupun dewasa merupakan korban terbesar serangan bom jet-jet tempur Saudi di tahun 2017.

Selain membombardir wilayah Yaman, sepanjang tahun 2017, pemerintah Riyadh juga melanjutkan blokade Yaman dari segala penjuru. Dampak terbesar blokade itu adalah tersebarnya wabah penyakit dan kelaparan di Yaman. Wabah penyakit dan kelangkaan makanan, sejak tahun lalu telah berubah menjadi senjata perang Saudi melawan rakyat Yaman.

Laporan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, OCHA yang dipublikasikan pada 7 Desember 2017 menyebutkan, lebih dari 22 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan lebih dari 17 juta lainnya mengalami gizi buruk, 400 ribu di antaranya meninggal dunia karena kelaparan.

Sementara menurut data Badan Kesehatan Dunia, WHO yang dirilis pada 24 Desember 2017, lebih dari satu juta warga Yaman terserang penyakit mematikan dan wabah berbahaya, dan lebih dari 2.300 lainnya meninggal karena penyakit tersebut.

Wabah penyakit dan kelaparan merupakan salah satu dampak mematikan serangan Saudi ke Yaman. Kondisi ini menggambarkan pemandangan mengerikan krisis kemanusiaan di negara itu, khususnya anak-anak tak bersalah sebagai lapisan masyarakat sipil yang paling rentan.

Surat kabar Inggris, The Independent pada 15 November 2017 menulis, lebih dari 50 ribu anak Yaman terancam wabah penyakit, dan tujuh juta warga Yaman terancam bahaya kelaparan. Perang sekitar tiga tahun yang dilancarkan Saudi terhadap Yaman dan blokade total atas negara itu yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, adalah faktor terpenting yang menyebabkan terciptanya kondisi semacam ini di Yaman.

Meritxell Relano, perwakilan Dana Anak PBB, UNICEF di Yaman pada 24 Desember 2017 mengumumkan, tahun 2017 adalah tahun terburuk bagi anak-anak Yaman dan hanya dalam waktu 20 hari di awal bulan Desember 2017, 42 anak Yaman tewas dan 38 lainnya terluka.

Kondisi kemanusiaan yang mengenaskan di Yaman mendorong sejumlah tokoh dunia termasuk Antonio Guterres, Sekjen PBB dan beberapa organisasi internasional seperti WHO, UNICEF dan lembaga-lembaga pembela hak asasi manusia regional, memperingatkan bencana kemanusiaan di Yaman.

Anak Yaman

Mereka menyebut krisis Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir di dunia. Salah satu transformasi terpenting lain di Yaman selama tahun 2017 adalah tewasnya Ali Abdullah Saleh, diktator Yaman yang berkuasa selama 34 tahun di negara itu.

Abdullah Saleh berkuasa sejak tahun 1978 hingga Februari 2012, namun pada peristiwa kebangkitan Arab kedua, Abdullah Saleh juga menjadi sasaran kebangkitan rakyat Yaman, bahkan dalam insiden ledakan Juni 2011 ia nyaris tewas.

Kala itu nyawa Abdullah Saleh diselamatkan oleh pemerintah Saudi, karena Riyadh tahu meski ia sudah lengser namun tetap bisa digunakan sebagai pion. Saudi menganggap Abdullah Saleh bisa digunakan di masa-masa darurat untuk menjaga kepentingannya.

Perhitungan Riyadh terkait Abdullah Saleh ini ternyata tepat, pasalnya mantan Presiden Yaman itu pada awal Desember 2017, berusaha melancarkan kudeta terhadap Ansarullah di Sanaa, atas perintah Saudi. Kudeta itu dimulai dengan menyulut perang saudara di Sanaa, namun kudeta itu gagal dan justru menewaskan Ali Abdullah sendiri.

Kematian Ali Abdullah Saleh dari satu sisi merupakan berakhirnya satu lagi boneka Saudi di Yaman yang sempat berkuasa selama 34 tahun di negara itu. Di sisi lain, kematian Abdullah Saleh juga berarti lepasnya salah satu pion paling berpengaruh Saudi di Yaman.

Pada saat yang sama, kematian Abdullah Saleh menunjukkan keunggulan Ansarullah di Yaman, karena dalam waktu kurang dari 48 jam berhasil menghentikan pengkhianatan Abdullah Saleh dan gerak cepat Ansarullah ini mengejutkan rezim Al Saud dan para pengamat politik internasional.

Tewasnya Abdullah Saleh membuktikan bahwa diktator tidak pernah bisa dipercaya komitmennya. Sebelum melancarkan kudeta, Abdullah Saleh pada tahun 2015 bersekutu dengan Ansarullah untuk menghadapi Saudi dan koalisi pimpinannya. Kudeta Abdullah Saleh terhadap Ansarullah dilakukan dengan iming-iming kembalinya ia atau putranya, Ahmad ke tampuk kekuasaan Yaman.

Masalah lain juga terbukti, yaitu bahwa para diktator tidak pernah memikirkan kepentingan nasional atau rakyat negaranya, prioritas utama bagi mereka adalah kepentingan pribadi.

Dengan tewasnya Ali Abdullah Saleh, sekarang Saudi punya dalih kuat untuk meningkatkan serangan terhadap Yaman. Terbukti, hanya dalam waktu 10 hari, lebih dari 250 warga Yaman termasuk lebih dari 20 anak-anak tewas akibat serangan jet-jet tempur Saudi dan UEA.

Ali Abdullah Saleh

Peristiwa lain yang mewarnai transformasi Yaman di tahun 2017 adalah peningkatan kekuatan rudal militer dan pasukan rakyat Yaman. Selama tahun 2017, militer dan komite rakyat Yaman beberapa kali menyerang sejumlah provinsi perbatasan Saudi dengan Yaman.

Puncak peningkatan kekuatan rudal Yaman tampak pada serangan rudal ke bandara internasional Riyadh, pusat pembangkit nuklir Barakah milik UEA dan Istana Yamamah di Riyadh, Saudi.

Peningkatan kekuatan rudal militer dan pasukan rakyat Yaman selain telah mengubah konstelasi perang di negara itu, juga menunjukkan strategi baru militer dan komite rakyat Yaman.

Dalam strategi baru itu, pusat-pusat ekonomi dan instansi pemerintah Saudi dan UEA menjadi sasaran serangan. Rusaknya pusat-pusat ekonomi dapat menambah beban biaya perang Saudi dan UEA, juga memperparah krisis ekonomi kedua negara itu yang telah dihadapinya sejak beberapa tahun terakhir.

Sayid Reza Sadr Al Hosseini, seorang pakar Timur Tengah percaya bahwa serangan rudal Yaman ke Riyadh dan Abu Dhabi membawa pesan bahwa rakyat tertindas Yaman mampu membela diri dan dengan cara itu mereka mengatakan, Saudi dan UEA jangan pernah mencampuri urusan dalam negeri kami.

Rudal yang diluncurkan militer dan pasukan rakyat Yaman ke Istana Yamamah di Riyadh pada 19 Desember 2017 tepat di hari ke-1.000 perang Yaman, selain mengejutkan rezim Al Saud dan Al Nahyan, juga dapat menjadi pertanda meningkatnya ancaman Yaman terhadap Riyadh dan Abu Dhabi di tahun 2018.

Selama tahun 2017, tidak pernah terjadi perundingan politik di antara kelompok-kelompok Yaman bahkan sehari, dan tidak ada upaya PBB atau perwakilannya di Yaman untuk memulai kembali perundingan damai yang terhenti sejak Agustus 2016.

Alasan utama kebuntuan politik di Yaman karena realitas di lapangan dan di arena politik negara ini tidak pernah dipandang serius oleh lawan-lawan Ansarullah di dalam maupun luar negeri.

Ditambah berlanjutnya penegasan mereka atas isi resolusi 2216 Dewan Keamanan PBB. Berdasarkan resolusi itu, Ansarullah harus meletakkan senjata, keluar dari wilayah-wilayah yang dikuasai dan menyerahkan wilayah-wilayah itu kepada pemerintahan terguling Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Padahal, Mansour Hadi sendiri menghabiskan sebagian besar waktunya di tahun 2017, di luar Yaman yaitu di Riyadh. Dengan demikian, berlanjutnya agresi militer ke Yaman selain akan meningkatkan bencana kemanusiaan di Yaman, juga mempersulit Saudi untuk keluar dari kubangan krisis di negara ini.

Rudal Yaman

 

Jan 06, 2018 11:15 Asia/Jakarta
Komentar