Kemajuan sarana komunikasi dan jaringan informasi memungkinkan kelompok-kelompok teroris seperti Daesh, memviralkan pesan mereka dengan menggunakan berbagai platform media, termasuk Twitter, Facebook dan YouTube, dan menjangkau khalayak global. Twitter bisa dianggap salah satu media andalan Daesh. Kelompok ini mengirim tweetnya terlebih dahulu dalam bahasa Inggris, dan kemudian pada skala yang kecil dalam bahasa Arab.

Daesh sangat gencar menyebarkan informasi lewat akunnya dan ketika akun tersebut diblokir, mereka akan segera membuat akun baru. Ini berarti bahwa tim propaganda Daesh memiliki banyak akun di Twitter dengan nama yang hampir mirip, dan ketika satu akun diblokir, mereka dengan cepat mengaktifkan akun lain.

Untuk merekrut pemuda Eropa, Daesh mencoba mengesankan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah kekuasaannya memiliki kualitas hidup yang baik. Dalam konteks ini, seri video John Cantlie dengan judul "Lend Me Your Ears" diproduksi dengan maksud untuk memperlihatkan kehidupan normal masyarakat di daerah 'kekhalifahan' Daesh. Kelompok ini merilis video-video pendek yang menunjukkan para teroris Daesh sedang membagi-bagikan es krim dan coklat kepada anak-anak atau mengunjungi orang-orang yang terluka dan para manula di rumah sakit.

Medsos yang digunakan Daesh

Penggunaan ruang virtual telah memungkinkan Daesh menyediakan platform untuk mempresentasikan garis umum kebijakan mereka ke simpatisannya di Eropa serta meningkatkan interaksi dan kontak online melalui pertemuan maya dan pembagian informasi di luar hirarki resmi.

Tidak seperti film-film lain yang dirilis oleh kelompok-kelompok teroris lain, film propaganda garapan Daesh tidak hanya memiliki sutradara, tapi juga memanfaatkan teknik khusus seperti pengambilan gambar dari udara dan penggunaan aplikasi Adobe After Effects. Ini adalah sinyal dari investasi serius kelompok teroris ini di bidang propaganda.

Misalnya, sebuah film berjudul "Although the Unbelievers Dislike It" yang bercerita tentang sejarah pemenggalan oleh teroris Daesh, yang diputar untuk para tawanan mereka di Suriah. Selain itu, pembuatan film pendek tentang teknik eksekusi dengan subtitle bahasa Inggris, menunjukkan bahwa usaha Daesh untuk merekrut anggota dari negara lain sangat serius.

Kelompok teroris ini meluncurkan sebuah propaganda media yang disebut "Zura Foundation" di berbagai jejaring sosial untuk merekrut wanita dari negara-negara Eropa. Dalam program ini, gadis-gadis Eropa dirayu untuk bergabung dengan Daesh dengan maksud mendukung gagasan-gagasan kelompok ini. Penyebaran foto-foto keluarga Daesh yang sedang bersukacita dan publikasi kisah wanita-wanita Daesh di Twitter, adalah trik lain mereka untuk merekrut gadis-gadis Eropa.

Fatwa jihad nikah yang dikeluarkan oleh ulama Wahabi Sheikh Mohammad Al Arifi, termasuk alat propaganda Daesh untuk merekrut wanita menjadi anggota kelompok teroris ini. Publikasi majalah khusus wanita yang berjudul "Al Shamikha" dan penyebaran pengaruh di jaringan sosial Tumblr – yang populer di kalangan wanita – termasuk metode Daesh untuk lebih memengaruhi kaum hawa.

Daesh menyebarkan propaganda bahwa perempuan di bawah kekhalifahan mereka mampu membawa senjata dan membela diri, dengan cara membentuk brigade militer Al Khansa serta menerbitkan gambar dan video tentara perempuan Daesh di jejaring sosial.

Jihad Nikah

Dengan memproduksi video horor tentang kejahatan mereka dan adegan menyerang berbagai wilayah di Suriah dan Irak, Daesh ingin menunjukkan kemampuan militer dan politiknya kepada publik serta mendorong para ekstrimis untuk beremigrasi dan tinggal di wilayah yang diklaim sebagai kekhalifahan Daesh. Contoh dari tindakan brutal Daesh ini adalah melempar korban dari ketinggian, mengurung mereka di kerangkeng, dan menyeret korbannya ke kandang binatang buas. Para sandera juga dibenamkan ke air atau dibakar hidup-hidup, seperti yang dilakukan terhadap pilot Yordania.

Daesh – dengan memperkenalkan dan melaksanakan teknik-teknik baru eksekusi, pemerkosaan, dan perbudakan – bermaksud merekrut angkatan muda dan radikalis. Karena haus akan perhatian, Daesh selalu mencari cara baru dan 'unik' untuk mencapai tujuan jahatnya. Media-media global dengan mempublikasikan aksi-aksi brutal Daesh, tanpa disadari telah melayani tujuan kelompok teroris itu. Publikasi ini cukup membantu misi Daesh dan mereka mencapai apa yang diinginkan selama ini.

Di samping produksi film propaganda tentang kekuatan militer, Daesh juga memperlihatkan kehidupan sejahtera warga Raqqa dan Mosul sehingga mendorong pengangguran muda dari berbagai pelosok untuk hijrah ke wilayah kekuasaan mereka dan bertempur bersama mereka. Daesh memanfaatkan media secara maksimal untuk mempromosikan ideologinya dan merilis film-film tentang kejahatannya. Padahal, fatwa mufti Daesh mengharamkan menonton film atau pergi ke bioskop.

Daesh benar-benar ingin menunjukkan kekuatannya di ranah media dan meluncurkan sebuah unit yang disebut "Media Jihad." Ceritanya dimulai dengan merilis film sandera asal Amerika, Eugene Armstrong di YouTube pada tahun 2004. Walaupun film ini terbilang amatir, tapi setidaknya telah memperjelas arah propaganda kelompok teroris Daesh.

Awalnya, film-film yang digarap Daesh tentang eksekusi para sanderanya, memiliki kualitas yang buruk, namun perubahan kualitatif mulai terlihat pada film "Walau Karihal Musyrikun." Film ini menayangkan eksekusi 13 tentara.

Daesh kemudian merilis sebuah dokumenter panjang berjudul "Flames of War" yang bercerita tentang berbagai sisi pertempuran dengan tentara Irak dan Suriah. Film ini menarik perhatian media-media global karena gambarnya dibuat dengan menggunakan teknologi modern, dan teksnya juga berbahasa Inggris. Film ini ditujukan untuk pemirsa dari negara-negara dan pemerintah yang berpartisipasi dalam koalisi internasional anti-Daesh.

Seiring berjalannya waktu, Daesh mengintensifkan penggunaan kamera dalam pertempuran dan serangannya, dan mencoba mengirim pesan video ke simpatisannya, dan semua video ini disebarkan di media-media sosial. Mereka menjadikan kekejian sebagai adegan utama film-film tersebut dan secara khusus mendokumentasikan operasi pemenggalan di lapangan.

Film-film ini mendokumentasikan operasi militer atau adegan pemenggalan korban, di mana pasukan Daesh digambarkan sedang memasuki daerah jantung musuh. Sudut pengambilan gambar dan pencahayaan dengan menggunakan teknologi baru, merupakan bagian penting dari aktivitas Daesh di bidang propaganda media.

Front al-Nusra

Metode ini telah menginspirasi kelompok-kelompok bersenjata lainnya di Suriah, termasuk Front al-Nusra, dan mereka juga meniru Daesh di bidang tersebut. Para pakar media Daesh menggunakan teknologi berkualitas tinggi untuk memproduksi film-film pendek, salah satunya adalah pembuatan film tentang pemenggalan reporter Amerika, James Foley.

Selain itu, mereka juga memproduksi serial lain dengan judul "Let's Go For Jihad" yang ditujukan kepada pemuda Barat, dan mendorong mereka untuk berhijrah dan bertempur bersama Daesh di Suriah dan Irak. Daesh bahkan membuat sebuah film untuk kalangan tuna rungu, di mana dua teroris menyeru orang-orang Barat untuk bergabung dengan Daesh menggunakan bahasa isyarat. Dalam film "From Who Excused To Those Not Excused' menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk tidak melayani Daesh. Dalam klip lima menit ini, kedua pria tersebut – dua bersaudara yang tuna rungu – bekerja sebagai polisi lalu lintas di kota Mosul, yang berada di bawah kendali Daesh.

Di semua film propaganda mereka, baju berwarna oranye telah menjadi pakaian wajib para sandera Daesh yang akan menjalani eksekusi. Lalu, apa alasan memilih warna ini dan Daesh ingin mengirim pesan kepada siapa?

Surat kabar The Washington Post dalam sebuah laporan menulis, "Warna oranye yang dipilih Daesh untuk para sanderanya, meniru seragam tahanan Guantanamo dan simbol bersama dari gambar para sandera yang akan menjalani eksekusi mati. Pada dasarnya, Daesh memilih warna orange untuk menunjukkan kebencian kepada Amerika Serikat."

Cerita yang terlihat memang seperti itu, namun Amerika sendiri adalah sutradara dari seluruh adegan horor yang diperankan oleh para teroris Daesh.

Tags

Mar 01, 2018 14:43 Asia/Jakarta
Komentar