Salah satu ciri yang membedakan Daesh dari kelompok teroris lainnya adalah pemanfaatan alat propaganda yang ditujukan untuk menarik simpatisan dari seluruh dunia, terutama negara-negara Barat. Pendekatan Daesh ini terlihat lebih dominan dengan hadirnya majalah "Dabiq" dalam bahasa Arab dan Inggris. Mayoritas anggota Daesh fasih berbahasa Arab, sementara kehadiran Dabiq edisi bahasa Inggris tidak begitu efektif di antara anggota Daesh di Irak dan Suriah.

Dabiq adalah nama sebuah desa di dekat kota Aleppo di Suriah Utara dan dekat dengan perbatasan Turki. Alasan pemilihan nama ini mungkin merujuk pada perang antara Dinasti Ottoman di bawah komando Sultan Selim I dan Kerajaan Sultan Qanswah pada tahun 1516 Masehi di desa itu. Dikatakan bahwa desa tersebut merupakan wilayah pertama Syam yang diduduki oleh Dinasti Ottoman.

Edisi pertama majalah Daesh dirilis pada 5 Juli 2014 dan satu bulan setelah jatuhnya kota Mosul. Majalah ini adalah penafsir ideologi dan praktik Daesh, dan alasan pembentukan kelompok ini juga ikut dijabarkan oleh para pendirinya. Tim penulis majalah Dabiq – yang dianggap kalangan intelektual kelompok Daesh – menjelaskan dan membenarkan alasan pembentukan kelompok ini dan aktivitas mereka, dengan bersandar pada sumber sejarah dan agama.

Dukungan sejumlah media atas kejahatan Daesh

Dengan memanfaatkan teknik grafis dan layout, majalah Dabiq benar-benar tampil profesional untuk menjelaskan tujuan dan ambisi mereka. Majalah ini terbit dalam 50 halaman, dengan versi PDF-nya dalam bahasa Inggris dan dengan kualitas profesional. Dalam penulisan dan penyusunan artikel, Dabiq berbeda dari majalah-majalah lain yang sejenis dan kualitasnya lebih bagus dari buletin milik oposisi Suriah.

Konten halaman medsos para teroris Daesh tidak menyinggung penerbitan majalah tersebut, namun diumumkan bahwa Dabiq akan dipublikasikan dalam dua versi cetak dan PDF. Edisi cetak pertama didistribusikan di antara penduduk daerah-daerah yang dikuasai Daesh di Irak, dan versi PDF juga dikirim ke penerima melalui email.

Tema utama volume ketiga Dabiq menyoroti isu migrasi dan menjustifikasi alasan melakukan hijrah ke wilayah yang diduduki Daesh dengan motif agama. Dalam konteks ini, dengan menganalisa isi artikel tentang hijrah, maka akan terlihat ada semacam paksaan dalam masalah ini. Dalam artikel-artikel Dabiq, Muslim sejati adalah orang yang meninggalkan negara dan tempat tinggalnya untuk membantu agama Allah Swt. Kedudukan mereka dianggap setara dengan muhajirin Mekkah dan sahabat Rasul Saw. Padahal, realitasnya adalah sesuatu yang lain.

Desakan untuk berhijrah benar-benar mencerminkan kebutuhan mendesak Daesh kepada para profesional yang ahli di berbagai bidang seperti, teknik, kedokteran, dan pertanian, karena Daesh bermimpi untuk membentuk sebuah pemerintahan dengan struktur modern, dan mereka melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan itu. Seperti dalam iklan-iklannya, gambar rumah dan mobil mewah ditawarkan sebagai hadiah untuk para ahli yang mau membantu Daesh dan program hijrah mereka.

Dengan cara apapun, Daesh berupaya keras untuk menyempurnakan jajaran tim pakarnya. Majalah Dabiq juga menjawab orang-orang yang enggan berhijrah dan meyakinkan mereka bahwa seseorang harus melarikan diri dari perbudakan dan fokus untuk beribadah tanpa disibukkan dengan urusan materi. Jika menolak hijrah karena rasa takut, Daesh akan menampilkan diri sebagai pelindung para muhajirin ini dan berusaha meyakinkan mereka.

Pusat media Daesh di Mosul

Daesh bahkan menyarankan para simpatisannya untuk menyatakan baiat melalui internet dan media lainnya, jika mereka tidak dapat berhijrah. Daesh menyebut langkah sebagai upaya untuk menakut-nakuti orang-orang kafir. Pembaca majalah tersebut diminta membawa serta ayah, ibu, istri dan anak-anaknya untuk berhijrah ke wilayah yang dirampas Daesh.

Tragisnya, majalah Dabiq juga menampilkan artikel untuk membenarkan aksi penjarahan, pembunuhan, dan pertumpahan darah atas nama agama. Misalnya, edisi keempat majalah tersebut membenarkan penjarahan harta milik orang Muslim, dan yang lebih buruk lagi, perkara ini dihubungkan dengan Rasulullah Saw dan diperkenalkan sebagai harta yang paling dicintai dan paling bersih.

Majalah Dabiq juga membenarkan perbudakan perempuan dan gadis-gadis Yazidi. Mereka dianggap kafir dan kemudian dijelaskan alasan syar'i untuk menjadikan mereka sebagai budak. Di artikel lain, penulis menjelaskan perbudakan orang kafir sejalan dengan syariah, dan orang yang menentang ini adalah murtad. Dabiq juga memuat artikel untuk menjustifikasi pembunuhan lawan-lawannya karena melanggar kesepakatan, tanpa menyebutkan kasus-kasus pelanggaran yang dimaksud.

Di sebagian besar tulisan ini, pembunuhan lawan-lawannya dijustifikasi dengan dalil agama dan yang lebih buruk lagi, mereka membuat cerita-cerita israiliyat tentang Nabi Muhammad Saw, tanpa didukung oleh dalil yang valid. Pasca jatuhnya kota simbolis Dabiq di Suriah, Daesh segera menerbitkan sebuah majalah baru bernama Rumiyah. Gambar juru bicara Daesh, Abu Muhammad al-Adnani – yang tewas dalam sebuah serangan udara – menghiasi sampul edisi pertama majalah tersebut.

Kelompok teroris Daesh menyatakan, majalah Rumiyah berusaha untuk menjadi simbol baru bagi anasir-anasir Daesh Eropa dan akan diterbitkan dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris, Arab, Perancis, Turki, Jerman, Pashto, Turkestan, dan Indonesia. Meski tampil dengan nama baru dan beragam bahasa, kebohongan Daesh seputar agama Islam, moralitas dan kemanusiaan, tetap mendominasi majalah Rumiyah dan tidak ada bedanya dengan Dabiq.

Beberapa edisi majalah Rumiyah sebagian besar fokus pada operasi teror Daesh di negara-negara Eropa. Daesh secara implisit mengajarkan metode dan teknik untuk melakukan aksi teror dengan pisau (seperti operasi teroris di London), dan juga menggilas pejalan kaki dengan mobil (seperti operasi di Berlin, Nice-Perancis dan Stockholm) kepada para pembacanya.

Mazin Zaki, seorang pakar media Mesir, percaya bahwa setelah Dabiq tutup, Daesh merasa perlu untuk menyelamatkan dirinya dari dilema Dabiq dengan menerbitkan majalah baru dengan nama baru. Rumiyah adalah majalah baru yang berusaha meminimalkan aspek penting jatuhnya Dabiq melalui wawancara dengan para juru bicara Daesh dan menuntut balas dendam terhadap orang-orang kafir Barat.

Medsos yang digunakan Daesh

Yahya Mohammad Ali, seorang analis strategis Mesir juga mengatakan, "Daesh melalui saluran media seperti Rumiyah, melancarkan propaganda terhadap orang-orang Barat. Daesh yakin bahwa "Lone Wolf" atau serigala tunggal akan membaca majalah ini."

Bagi orang-orang yang bukan anggota Daesh, majalah Rumiyah berusaha menebarkan ketakutan di kalangan masyarakat dan menciptakan konflik internal di negara-negara yang berpartisipasi dalam koalisi internasional anti-Daesh. Dalam sebuah artikel dengan judul "Just Terror Tactics” Daesh mengajarkan teknik teror dan cara membunuh orang-orang secara individu.

Majalah ini fokus untuk membangun komunikasi dengan mereka yang disebut "Lone Wolf" yang mudah terprovokasi di seluruh dunia, dan pelatihan ini ditujukan kepada orang-orang tersebut, yang tinggal sendirian dalam situasi saat ini. Semua bukti ini menunjukkan bahwa Daesh telah meningkatkan upayanya untuk melakukan operasi teror di seluruh dunia, setelah runtuhnya struktur militer Daesh.

Dengan kata lain, Daesh mulai meniru gaya operasi Al Qaeda yang menekankan gagasan untuk melawan orang-orang kafir dan membunuh mereka, ketimbang memikirkan konsep kekhalifahan, yang memerlukan wilayah geografi sebagai pusat pemerintahan.

Daesh sebelumnya telah memperkenalkan strategi "Lone Wolf" untuk dijalankan oleh anggotanya dari Barat, setelah mereka kembali ke negara asalnya. Strategi ini benar-benar spontanitas dan bergerak secara individu.

Mar 04, 2018 14:28 Asia/Jakarta
Komentar