Pada seri sebelumnya, kita katakan bahwa media-media Daesh memiliki ciri khas dan kerumitan sendiri. Media mereka sekilas menawarkan perpaduan yang sangat unik dari yang umumnya ditampilkan oleh sebuah media global dan situs pribadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa alasan utama efektivitas media-media visual Daesh adalah karena menawarkan sesuatu yang melampaui suara dan gambar.

Media yang sarat dengan operasi militer, telah mengubah strateginya dan berfokus pada perlawanan, serangan atau pujian terhadap perilaku bengis yang mereka lalukan. Untuk bertahan hidup, Daesh mengadopsi strategi media yang relatif baru sebagai tanggapan atas penurunan kekuatan Daesh dan mereka mulai menekankan dua hal. Pertama, menanamkan ideologi kepada generasi muda, terutama anak-anak dan remaja. Dan kedua, mengajarkan bagaimana melanjutkan teror dan menyebarkan ketakutan sebagai senjata terhebat terorisme.

Dalam sebuah contoh tentang pendidikan anak-anak dan remaja, Daesh merilis sebuah video di mana seorang kakek membesarkan anak yatim piatu di rumahnya dan secara bersamaan mengajarkan pendidikan ideologi dan militer kepada anak itu. Uniknya, materi yang disiapkan untuk mengajari anak-anak Daesh adalah menyembelih domba, belajar menembak, mengendarai mobil, mendengarkan kata-kata orang yang berjenggot putih, tentu saja, poin yang sangat kontras adalah mereka juga diajak bermain di taman yang dihadiri oleh para gadis tanpa jilbab.

Kejahatan Daesh

Dalam video-video baru yang disebarkan Daesh, para teroris rata-rata dipersenjatai dengan pistol Colt. Sebelumnya, mereka tidak menampilkan senjata dalam videonya karena ingin mengesankan situasi aman di daerah-daerah yang didudukinya. Pada 14 Oktober 2014, menurut akun Twitter yang berafiliasi dengan Daesh, seorang wanita dengan nama Ahlam al-Nasr telah menikah di kantor pengadilan Raqqa, Suriah dengan Abu Usama al-Gharib, seorang teroris kelahiran Wina yang dekat dengan pentolan kelompok tersebut.

Media sosial Daesh jarang membuat pengumuman pernikahan anggotanya, tapi al-Nasr dan al-Gharib adalah sebuah pasangan yang sangat penting di kalangan Daesh. Al-Gharib adalah seorang propagandis veteran, awalnya dia bekerja untuk Al Qaeda dan kemudian bergabung dengan Daesh. Sedangkan pengantin wanita adalah selebriti sastra yang masyhur dan lebih dikenal sebagai "Penyair Kelompok Daesh."

Buku pertamanya yang berjudul "The Blaze of Truth" diterbitkan secara online musim panas lalu dan mendapat sambutan luas di antara jaringan teroris. "The Blaze of Truth" terdiri dari 107 puisi dalam bahasa Arab tentang teroris, ratapan untuk mereka yang tewas, nyanyian kemenangan, dan puisi-puisi pendek. Hampir semua puisi al-Nasr ditulis dalam bentuk monorhyme yaitu sajak tunggal di mana setiap baris memiliki sajak yang identik dan menggunakan bahasa Arab klasik.

Ahlam al-Nasr langsung menjadi penyair istana dan seorang propagandis resmi untuk Daesh. Dia telah menulis puisi untuk memuji Abu Bakr al-Baghdadi, dan juga menulis esai 30 halaman yang membela keputusan pimpinan Daesh untuk membakar hidup-hidup pilot Yordania, Moaz al-Kasasbeh.

Selama dua dekade terakhir, selain al-Nasr, banyak anggota Daesh, Al Qaeda, dan gerakan teroris lainnya mengarang sejumlah besar puisi, dan kemudian menyebarkan secara online di jaringan sosial dengan akun-akun palsu dan dengan menggunakan mirror sites dan proxy sehingga bisa diakses oleh semua orang.

Medsos yang digunakan Daesh

 

Di situs-situs radikal, para teroris membuka forum diskusi puisi untuk membahas peristiwa terbaru, menggelar kompetisi di antara penyair dan berusaha untuk saling mengalahkan. Tidak hanya itu, mereka juga menerbitkan kumpulan file untuk menjelaskan tentang nilai sastra puisi-puisinya.

Namun, apa persoalan aslinya sehingga membuat puisi-puisi ini menjadi alat media Daesh? Apakah tulisan-tulisan ini dan para pengarangnya, hanya mengikuti semangat sastra dan dunia misterius yang dikombinasikan dengan imajinasi mereka, atau mereka memang mengemban tugas untuk menulis puisi sebagai salah satu lengan media teroris?

Para analis umumnya mengabaikan tulisan-tulisan ini dan sekarang mereka juga tidak memperhatikannya. Menurut mereka, puisi-puisi ini adalah produk teroris dan merupakan hasil dari pertempuran dan operasi teror Daesh, dan hanya mencoba mengganggu pikiran yang tak ada habisnya. Tapi ini adalah sebuah kesalahan. Tidak mungkin memahami terorisme Daesh dan Al Qaeda dan semisalnya tanpa mempelajari budaya, adat istiadat, pikiran dan bahkan hobi mereka.

Kepercayaan dan budaya ini tampil dalam sejumlah bentuk, termasuk lagu-lagu mars atau video dokumenter, dan bahkan kabar terbaru tentang mereka. Dan, tidak seperti video pemenggalan kepala dan pembakaran, yang umumnya dibuat untuk konsumsi asing, puisi memberi sebuah ruang kepada gerakan teroris untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Dalam puisi mereka, kehidupan di tengah situasi yang sulit dan tidak biasa dianggap sebagai fantasi "kehidupan jihad" dan tidak ada kesulitan atau kesusahan yang diucapkan.

Di sisi lain, seperti dokumen-dokumen tentang kebiadaban dan brutalitas Daesh, pandangan yang dituangkan dalam puisi penyair Daesh ini sama sekali tidak mengenal belas kasihan dan berdarah-darah. Dalam puisinya, orang-orang Syiah dianggap non-Muslim, beberapa kekuatan dan rival-rival mereka diancam dengan serangan, dan tidak ada pilihan lain kecuali penggulingan.

Mungkin aneh rasanya membayangkan betapa banyak dari teroris yang secara brutal membunuh orang lain, sempat menyisihkan waktunya untuk menyusun bait-bait puisi dan sajak, kemudian melantukan dan membuat video tentangnya. Tapi ini adalah indikasi yang jelas tentang penekanan Daesh pada daya tarik media visual bagi manusia modern. Sebenarnya, mereka ingin menampilkan dirinya sebagai pelaku budaya yang mengakar dalam tradisi Arab dan bahkan Islam. Mereka mencoba mengalahkan rasa takut akan tidak adanya orisinalitas di antara bangsa Arab dan Muslim.

Bernard Haykel, profesor Studi Timur Dekat di Princeton University dalam sebuah artikel menulis, "Bagi Daesh, puisi adalah semacam manifestasi. Kekhilafan Daesh belum diakui oleh negara manapun. Selama beberapa tahun ini, mereka berpetualang di dunia fiksi dengan batas-batas yang berfluktuasi dan ingin menghidupkan kembali kejayaan masa lalu. Daesh menampilkan budaya romantis dalam puisi mereka. Mereka menjanjikan petualangan dan mengklaim bahwa misteri heroisme abad pertengahan masih ada. Tapi sebenarnya, mereka telah meninggalkan kebangsaannya dan ingin menciptakan sebuah identitas baru untuk diri mereka sendiri."

"Daesh ingin meyakinkan dirinya bahwa identitas ini sebenarnya bukan barang baru, tapi sudah ada sejak dulu. Para teroris Daesh memperkenalkan diri mereka sebagai satu-satunya Muslim sejati, meskipun mereka tampaknya berperang dengan musuh fiktif, dan tujuan mereka adalah untuk mempromosikan sebuah geografi politik baru. Memang, sentralitas kebijakan Daesh adalah untuk melawan pemerintah-pemerintah nasionalis dan berpijak pada militansi," kata Profesor Haykel.

Kejahatan Daesh

Dengan begitu, kita menyaksikan bahwa kelompok teroris Daesh, selain membunuh ribuan orang serta menghancurkan puluhan kota dan desa, juga telah meracuni pikiran dan jiwa manusia selama bertahun-tahun serta melakukan genosida di wilayah yang luas dengan latar belakang budaya kuno. Mereka menyandingkan puisi romantis tentang negeri dongeng dengan insentif keuangan untuk menarik pemuda, yang termarjinalkan dalam budaya Eropa dan kemudian mengubahnya menjadi bom bunuh diri dan operasi teror Daesh.

Banyak pemuda Eraopa yang bergabung dengan Daesh, berasal dari kelas menengah masyarakat Eropa dan punya kehidupan ekonomi yang baik. Jadi, pasti ada alasan lain selain insentif keuangan untuk bergabung dengan Daesh. Untuk alasan ini, Daesh menawarkan sesuatu sebagai pengganti dari kehidupan materi dan keamanan ekonomi. Apa yang ditawarkan Daesh kepada pemuda Muslim di Eropa adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh demokrasi liberal, dengan penekanan pada pengenalan diri dan kesejahteraan.

Pada dasarnya, ini adalah usaha untuk mencapai sebuah konsep yang lebih besar dari kehidupan, yang mendorong pemuda Eropa bergabung dengan Daesh. Para pemuda Eropa sebenarnya ingin mengimbangi rasa frustrasi dari liberalisme dan humanisme yang menguasai Barat, namun mereka tidak sadar bahwa mereka telah jatuh ke sebuah lubang dan terperosok ke dasar sumur yang digali oleh Daesh untuk mereka.

Mar 06, 2018 10:49 Asia/Jakarta
Komentar