Kita sudah mengetahui bahwa sektor media Daesh sama pentingnya dengan struktur militer mereka, dan faktanya untuk setiap 40 petempur, satu orang fokus untuk kegiatan media. Sejak kemunculan Daesh dan terutama setelah Juni 2014, semua orang sudah akrab dengan kalimat ini, "Daesh memenggal kepala untuk membuat berita."

Sebagian pakar media percaya, banyak dari tindakan Daesh dengan sendirinya bukanlah tujuan, namun bagaimana menyebarkan berita dan propaganda tentang aksinya adalah misi utama kelompok teroris ini. Sekarang, setelah runtuhnya struktur militer Daesh di Irak dan Suriah dalam beberapa bulan terakhir dan juga pengumuman kekalahan mereka di kedua negara tersebut, nasib media dan sektor propaganda Daesh masih menjadi sebuah persoalan serius.

Saat ini aktivitas media Daesh di kantor berita Amaq menurun drastis. Warisan kekhalifahan Daesh untuk kota-kota Irak dan Suriah hanyalah kehancuran, namun para tentara bayaran al-Baghdadi telah meliput ratusan jam tentang itu dan kadang menyiarkannya melalui Amaq. Tapi, video-video itu berdurasi pendek. Misalnya, mereka hanya merilis sebuah dokumenter berdurasi 12 menit dalam update terbarunya.

Kejahatan Daesh

Pada akhir 2017, Pusat Studi dan Perencanaan al-Bayan Irak telah menerbitkan sebuah penelitian tentang output harian media kelompok teroris Daesh. Laporan tersebut berkaitan dengan periode 22 November 2016 sampai 22 November 2017, dan menunjukkan penurunan bertahap mesin propaganda Daesh selama periode yang dipelajari.

Studi tersebut mencatat media Daesh berangsur-angsur meredup seiring dengan kekalahan cepat mereka di medan perang Irak dan Suriah. Studi al-Bayan menyebutkan, "Sejak runtuhnya kota Raqqa, output harian media Daesh turun dari 29 laporan per hari menjadi hanya 10 item, dan bahkan pada 22 November, kegiatan media Daesh terhenti selama periode 24 jam dan ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Tim peneliti al-Bayan telah melacak dan memantau produksi berita harian Daesh sepanjang tahun lalu. Mereka mencatat output media Daesh mengalami kemunduran total pasca jatuhnya Raqqa pada 17 Oktober, di mana hanya empat item yang dipublikasikan pada 18 Oktober. Ini adalah penurunan terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal jumlah konten harian yang diterbitkan Daesh selama periode penelitian.

Angka terbaru menunjukkan bahwa output harian media Daesh masih jauh di bawah rata-rata selama setahun terakhir. Penurunan tajam ini memperlihatkan bahwa sebagian besar operasi media kelompok ini berbasis di Raqqa dan terganggu ketika kota tersebut direbut dari tangan mereka.

Kajian terhadap semua media Daesh menunjukkan bahwa tren penurunan ini terlihat di semua jenis konten media mereka. Misalnya, jumlah berita yang dipublikasikan oleh kantor berita Amaq turun dari 421 item pada September 2017 menjadi 193 pada Oktober, sementara penghitungan video Amaq jatuh dari 52 item pada bulan September menjadi 11 pada Oktober.

Kurangnya publikasi konten video merupakan sebuah kemunduran besar bagi kelompok tersebut, yang sangat bergantung pada video-video rekaman untuk menyampaikan pesannya. Penurunan aktivitas media juga terlihat dengan tidak adanya atau gangguan publikasi dari dua produk utama media Daesh yaitu; buletin bulanan Rumiyah dan radio al-Bayan.

Majalah Rumiyah dalam bahasa Inggris dan 10 bahasa lainnya diluncurkan pada September 2016. Namun, media ini berhenti beroperasi pada bulan November dan tidak ada edisi lain yang terbit setelah itu. Sementara itu, siaran radio al-Bayan – yang sudah menjadi sektor utama output harian media Daesh sejak April 2015 – mulai terputus-putus sejak jatuhnya Raqqa dan berhenti total pada 25 Oktober.

Akhir Daesh

Layanan streaming online al-Bayan yang kembali pada 11 November hanya menawarkan program rekaman dan ini menunjukkan bahwa Daesh gagal untuk mengembalikan siarannya secara on air. Streaming al-Bayan juga sudah tidak beroperasi sejak 20 November. Hilangnya Raqqa menandai titik terendah untuk operasi media Daesh, dan data menunjukkan bahwa output mulai mengalami penurunan setelah kelompok ini kehilangan kota Mosul, Irak pada 10 Juli. Dari sini terlihat bahwa operasi media Daesh mengandalkan dua basis utama mereka yaitu; Mosul dan Raqqa.

Selain jumlah output yang sangat terbatas, kualitas berita dan program media Daesh juga telah berubah total. Dulu, produksi media mereka mengisahkan tentang kinerja pemerintah dan penyediaan layanan publik dan kehidupan sehari-hari di wilayah yang dikuasai Daesh, serta tingkat kepuasan masyarakat terhadap kelompok teroris tersebut.

Tren ini benar-benar terhenti dalam dua bulan terakhir dan bahkan bisa dikatakan telah menjadi kasus langka. Hal ini, tentu saja, cukup alami dan bisa diprediksi, karena kelompok Daesh kehilangan sebagian besar wilayah yang dikuasainya. Oleh karena itu, pelaksanaan misi propaganda kelompok teroris ini menghadapi hambatan serius dan dampak dari hambatan ini terlihat dalam penurunan output media Daesh dan keragamannya.

Terlepas dari penurunan output yang tampaknya terkait dengan kehilangan wilayah teritorial atau kehancuran akibat serangan militer, secara keseluruhan, tidak ada pola yang jelas terhadap produksi media Daesh selama satu tahun lalu. Kegiatan produksi media Daesh secara bertahap menuju ke arah kesemrawutan. Untuk membuktikan hal ini, kita bisa melihat perilaku media Daesh setelah serangan di Inggris.

Setelah serangan Daesh di Westminster, Manchester dan London Bridge, keseluruhan output media mereka turun 5 sampai 10 item setelah membuat klaim untuk setiap serangan. Ini berbeda sekali dengan propaganda media yang terkoordinasi secara terpusat pada tahun 2015 dan 2016 yang diluncurkan Daesh, menyusul serangan profil tinggi di Barat, seperti serangan Paris pada 13 November 2015 dan pemboman Brussels pada 22 Maret 2016.

Dalam serangan-serangan sebelumnya, kampanye media Daesh menampilkan rangkaian video yang bisa mencapai satu lusin. Namun, kali ini mereka sama sekali tidak mengeluarkan video dan hanya mengandalkan beberapa item berita.

Medsos Daesh

Meski ada penurunan output harian, namun aktivitas media Daesh belum sepenuhnya redup. Memang aktivitas media Daesh mustahil kembali ke tingkat sebelumnya dalam waktu dekat. Akan tetapi, hilangnya wilayah kekuasaan akan mengubah gaya operasi mereka di sektor media dalam jangka panjang dan akan mendorong mereka untuk memperkuat kehadiran online. Ini bukan hanya untuk mengimbangi kerugian teritorial dan untuk mempertahankan pendukungnya, tapi juga untuk menjaga reputasinya di kancah internasional.

Charlie Winter, seorang peneliti di Universitas London, yang telah mempelajari sektor komunikasi Daesh selama beberapa tahun, mengatakan posisi Daesh saat ini hampir seperti ada seseorang yang telah menekan tombol senyap di tengah mereka. Tapi, Winter juga mengingatkan sebuah poin penting bahwa kita saat ini menyaksikan tren baru yang muncul dalam beberapa konten yang diterbitkan, di mana berusaha untuk merawat kesepian para pendukung Daesh demi mendapatkan kembali kekuatan mereka.

Sejarah terorisme juga membenarkan pandangan ini, dan ada kemungkinan kegiatan media Daesh akan lebih masif di masa depan. Sebagai contoh, setelah tahun 2007, Daesh mengalami kekalahan besar, namun kemudian terbagi dalam grup-grup yang lebih kecil dan menyebar di Irak dan terus melakukan kegiatan media melalui internet.

Dari sini, kita bisa memahami tentang kekhawatiran para pakar media dan bahkan beberapa pejabat politik Irak dan Suriah mengenai era pasca Daesh. Kekhawatiran orang-orang yang percaya bahwa perang ideologi dan media dengan Daesh harus terus dikobarkan dengan kekuatan yang lebih besar, dan memberi pencerahan tentang kejadian masa lalu sehingga tidak terulang kembali di masa depan.

Tags

Mar 07, 2018 14:05 Asia/Jakarta
Komentar