Salam atasmu wahai Kadzim, mata air keimanan dan takwa, salam atasmu wahai khazanah kebijaksanaan dan ketabahan, salam atas pewaris para Nabi dan itrah suci Rasulullah Saw.

Menjelang tibanya hari kelahiran Imam Musa Kadzim as, kota Kadzimain, dipadati para pecinta Ahlul Bait as dari dalam dan luar Irak. Kadzimain di malam kelahiran Imam Musa Kadzim, tenggelam dalam kegembiraan dan kebahagiaan.

Suasana kota ini berbeda di malam ini dan para pecinta Ahlul Bait as merayakan wiladah Imam Kadzim dengan menghias kota dan menggelar berbagai macam acara. Makam Suci Imam Kadzim dan Imam Jawad juga begitu ramai dipadati pengunjung.

Wiladah Imam Kazhim as

Orang-orang membagikan kue dan saling mengucapkan selamat atas kelahiran Imam Kadzim. Para pecinta Ahlul Bait as di seluruh penjuru dunia turut merayakan hari berbahagia ini.

Abu Al Hassan Musa bin Jafar as adalah Imam Ketujuh Muslim Syiah. Beliau dilahirkan di sebuah rumah yang terletak antara kota Mekah dan Madinah pada tanggal 20 Dzul Hijjah tahun 128 Hijriah. Karena sangat zuhud dan sangat tekun beribadah, beliau dijuluki Abdu Salih dan karena kebijaksanaan dan kesabarannya ia dikenal sebagai Kadzim.

Pasca kesyahidan Imam Jafar Shadiq as pada tahun 148 H, Imam Musa Kadzim menerima tugas keimamahan. Masa kepemimpinan Imam Kadzim berlangsung hingga tahun 183 H. Selama masa keimamahannya, Imam Kadzim hidup sezaman dengan beberapa khalifah yaitu Mansyur Dawaniqi, Mahdi, Hadi dan Harun Al Rashid.

Imam Musa Kadzim sejak masa kanak-kanak sudah berada di bawah pendidikan sang ayah yang merupakan pendiri sekolah Jafari dan ia menyerap seluruh pengetahuan dan ajaran murni Islam dari sumbernya langsung.

Imam Shadiq terkait ilmu dan pengetahuan putranya mengatakan, putraku Musa sampai pada tingkat kesiapan pengetahuan yang jika seluruh isi Al Quran ditanyakan kepadanya, dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilikinya, ia akan memberikan jawaban memuaskan.

Kala Imam Kadzim masih remaja, suatu hari di salah satu lorong kota Madinah, seorang Muslim Syiah yang terkenal kasar dan hanya memperhatikan sisi materi dan fisik semata, bernama Isa Shalqan, melihat Imam Kadzim dan berkata kepada beliau, hai anak laki-laki, kau tahu apa yang ayahmu lakukan terhadap kami ? suatu hari ia memerintahkan kami untuk melakukan satu pekerjaan dan di hari yang lain melarang kami melakukannya.

Imam Kadzim menjawab, ciptaan Tuhan terbagi tiga, kelompok pertama adalah Mukminin hakiki yang memiliki iman yang kokoh. Kelompok kedua adalah orang kafir yang tersesat dan bersikeras dengan kekafirannya. Sementara kelompok ketiga adalah orang-orang yang meski berada di dalam golongan Mukmin, namun cahaya iman di hati mereka sudah padam dan keimanan mereka palsu.

Imam Kadzim secara tidak langsung memasukkan Isa ke dalam kelompok ketiga. Lalu Isa berkata, setelah perbincangan pendek dengan Musa bin Jafar, aku langsung menemui Imam Jafar Shadiq, ayahnya dan aku ceritakan semua yang dikatakan Musa bin Jafar kepadaku. Imam Shadiq berkata, putrakku Musa dididik dan dibesarkan dari mata air kenabian.

Wiladah Imam Kazhim as

Imam Kadzim adalah manifestasi seluruh kebaikan. Oleh karena itu ia mendapat tempat di hati seluruh kalangan masyarakat, kaum Muslim dan bahkan non-Muslim. Sebagian orang terpana karena ibadah Imam Kadzim, sebagian karena kesabaran dan ketabahan serta sifat pemurah beliau, sebagian karena diselesaikan masalahnya oleh Imam Kadzim. Bagaimanapun caranya, hati setiap orang tertuju kepada Imam Kadzim dan dalam istilah Ibn Hajar, orang mulia itu adalah Imam Al Qulub.

Agama Islam sangat menekankan sifat bijaksana agar terpatri di dalam diri setiap Muslim. Sifat mulia ini merupakan salah satu sifat yang paling menonjol dalam diri Imam Musa Kadzim. Beliau selalu memaafkan setiap orang yang berbuat buruk dan zalim kepadanya, dan tidak cukup dengan itu, beliau bahkan berbuat baik kepada mereka sehingga sifat buruk serta egoisme terkikis dari dirinya.

Beliau dijuluki Kadzim juga karena dikenal sebagai sosok yang mampu meredam dan mematikan api kemarahan. Kenyataannya, Imam Ketujun Syiah ini adalah gunung kesabaran dan maaf, seringkali beliau membalas perbuatan buruk dan tidak pantas dengan kebaikan. Imam Kadzim bukan hanya menjadi sumber dan mata air sifat ini, bahkan dari sisi nilai ia menganjurkannya kepada keluarga dan putra-putranya sendiri.

Diceritakan, suatu hari Imam Kadzim memanggil semua putra-putranya dan berkata kepada mereka, putra-putraku aku punya pesan untuk kalian yang jika dipatuhi, kalian akan beruntung. Jika seseorang datang kepada kalian dan berkata-kata yang tidak menyenangkan di telinga kanan kalian, lalu meminta maaf di telinga kiri kalian, maka terimalah maafnya.

Sikap yang diambil Imam Kadzim terhadap musuh dan penentangnya adalah sikap yang lembut dan baik. Beliau selalu mengingatkan ayat 34 Surat Fussilat, "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

Imam Kadzim mengajarkan sahabat-sahabatnya bahwa dakwah dan hidayah harus berdasarkan kebenaran sempurna dan berlandaskan kesabaran dan ketabahan, jika tidak maka tidak mungkin kita berhasil menciptakan perubahan dalam diri seseorang dan membuatnya menjadi baik.

Imam Musa Kadzim meneruskan jalan dan metode yang ditempuh sebelumnya oleh ayah beliau, Imam Jafar Shadiq yang memusatkan perhatian pada program pemikiran dan kesadaran akidah serta memerangi keyakinan menyimpang. Dengan argumen yang kuat, Imam Kadzim menunjukkan rapuhnya pondasi pemikiran atheis dan menyadarkan para penganutnya atas kesalahan metode mereka.

Di masa itu, tujuan Imam Kadzim dan para sahabatnya adalah membuktikan hakikat ajaran asli Islam dan membimbing orang-orang tersesat serta menunjukkan aliran pemikiran dan politik Islam.

Wiladah Imam Kazhim as

Beliau berkata, sedikit berbicara tentang hikmah adalah tanda kebesaran. Aku anjurkan agar lebih mengutamakan untuk sedikit bicara karena itu adalah cara yang baik, meringankan dan mengurangi dosa.

Tujuan Imam Kadzim adalah menghias diri para pengikutnya dengan keindahan akal dan kesadaran. Imam Kadzim banyak melakukan diskusi ilmiah dengan ilmuwan dan para pemuka agama lain.

Terkadang murid-murid beliau seperti Hisham bin Hakam, Hisham bin Salim dan Mukmin Taq, yang maju untuk berdebat. Buah dari gerakan yang dilakukan Imam Kadzim adalah tersebarnya pemikiran asli Islam dan Syiah.

Dengan begitu pergerakan Imam Kadzim di bidang pengetahuan tersebar luas di tengah masyarakat Muslim dan sebagian besar dari mereka menerima pemikiran beliau. Di sisi lain, hal ini sangat tidak disukai oleh penguasa. Oleh karena itu dengan segala cara termasuk kekerasan hingga siksaan, mereka ingin melenyapkan Imam Kadzim.

Menurut laporan para petugas kerajaan, Harun Al Rashid menyadari bahwa diam-diam banyak orang mendatangi rumah Imam Kadzim. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi Harun sehingga ia memerintahkan pencekalan yang luar biasa ketat terhadap Imam Kadzim dan para pengikutnya.

Di masanya, Harun Al Rashid banyak melakukan ancaman, pemenjaraan dan pembunuhan terhadap para pengikut Ahlul Bait as. Saat menyadari bahwa dirinya lemah di hadapan Imam Kadzim, Harun memasukkan Imam ke dalam penjara dengan harapan mungkin saja bisa bertransaksi dengan beliau di penjara, serta memaksanya untuk menyerah.

Berulangkali Harun mendatangani penjara Imam Kadzim dan mengancam beliau, namun Imam Kadzim bergeming dan tetap mempertahankan jalan perjuangannya hingga ajal menjemput.

Tags

Sep 01, 2018 14:19 Asia/Jakarta
Komentar