Sejarah Islam mencatat, Allah swt menurunkan surat al-Insan kepada Nabi Muhammad Saw pada tanggal 25 Dzulhijah. Mayoritas ulama Sunni dan seluruh ulama Syiah berkeyakinan bahwa surat Al-Insan yang juga dikenal dengan surat "Hal Ata" atau "Dahr" mengenai Ahlul Bait Rasullullah Saw dan peristiwa yang berkaitan dengan keluarga agung ini.

Dalam surat tersebut, Ahlul Bait Rasulullah Saw disebut sebagai model keluarga yang memiliki kedudukan tertinggi di tengah umat manusia. Oleh karena itu, Ahlul Bait menjadi model keluarga di Iran, dan tanggal 25 Dzulhijah dijadikan sebagai hari nasional keluarga di negara ini.

Asbabul nuzul surat al-Insan dimulai dengan cerita kondisi Imam Hasan dan Imam Husein yang sedang sakit. Ketika itu, banyak orang yang datang untuk menjenguk keduanya, termasuk Nabi Muhammad Saw yang ingin melihat kondisi kedua cucunya yang masih kecil.

Rasulullah Saw mengusulkan agar kedua orang tuanya bernazar demi kesehatan Imam Hasan dan Husein. Akhirnya, Imam Ali dan Sayidah Fatimah bersama pelayannya Fidhah bernazar untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut demi kesembuhan keduanya.

Keesokan harinya, Imam Hasan dan Husein sembuh dari sakitnya. Imam Ali kemudian meminjam gandum dan Fiddhah membuat lima potong roti dan ketiganya berpuasa. Ketika tiba waktu berbuka, seorang peminta-minta mengetuk pintu rumah dan meminta makanan. Karena tidak ada makanan lain selain beberapa potong roti di rumah, mereka memberikan roti itu kepada pengemis itu dan hanya berbuka dengan air.

Mereka berpuasa di hari kedua dengan perut kosong. Imam Ali kembali meminjam gandum untuk dibuat roti lalu berbuka dengannya. Tapi ketika tiba waktu berbuka, giliran seorang anak yatim yang mengetuk rumah dan meminta bantuan. Kali ini juga keluarga Imam Ali harus merelakan roti untuk berbuka puasa diberikan kepada anak yatim itu.

Hari ketiga mereka berpuasa dalam kondisi perut kosong belum diisi apapun selama dua hari. Kejadian hari pertama dan kedua terulang kembali di hari ketiga. Ketika akan berbuka puasa, ada orang lain yang membutuhkan bantuan mengetuk pintu rumah mereka.

Setelah mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu itu adalah seorang hamba sahaya yang tertawan oleh pemiliknya yang kaya raya, keluarga Imam Ali untuk ketiga kalinya harus merelakan roti untuk berbuka puasanya diberikan kepada budak itu.

Pada hari keempat Nabi Muhammad Saw mendatangi rumah Ali untuk mengetahui apa yang terjadi. Beliau melihat keluarga Ali dalam kondisi lemah. Setelah bertanya apa yang terjadi dan ketika mereka menjelaskan apa yang terjadi, beliau segera mengangkat tangannya dan berdoa, "Wahai Zat yang segera pertolongannya! Ya Allah, anak-anak Muhammad, Nabi-Mu terlihat lemah akibat lapar. Ya Allah, Bantulah mereka ..."

Ketika itu, malaikat Jibril datang dan berkata, "Wahai Muhammad! Terimalah ucapan selamat dari Allah!" Nabi Muhammad Saw berkata, "Apa itu?" Malaikat Jibril kemudian membacakan surat al-Insan dan berkata, "Surat itu diturunkan untuk Ali dan keluarganya yang suci,".

Imam Khomeini menjelaskan tentang keutamaan keluarga teladan ini. Sebuah rumah sederhana, tanpa kemewahan di dalamnya yang diisi oleh lima orang anggota, Tapi rumah ini dipenuhi dengan pancaran spiritualitas yang bersinar terang. Dimensi pendidikan dari keluarga ini sangat tinggi dan agung yang bisa menjadi model bagi umat Islam.

Keluarga dalam budaya Islam merupakan simbol kesucian dan sangat penting bagi pertumbuhan kemanusiaan. Masalah ini juga menegaskan perbedaan perspektif antara pandangan Islam dengan Barat. Sejauh ini, pemikiran Barat sangat menonjolkan individualisme dan mengesampingkan peran penting keluarga sebagai pilar utama masyarakat.

Islam memandang pertumbuhan anak-anak tidak bisa dilepaskan dari peran besar orang tuanya dalam koridor keluarga. Orang tua yang baik akan mempersembahkan anak-anak yang berkualitas bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. 

Peran keluarga di dunia Barat semakin memudar karena besarnya dominasi individualisme. Ironisnya, model tersebut diikuti oleh sebagian masyarakat yang menjadikan dunia barat sebagai modelnya. Akibatnya hubungan antarsesama anggota keluarga dan institusi keluarnya sendiri semakin melemah.

Hubungan bebas laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikahan menghilangkan ikatan yang sebelumnya terjalin antara suami istri dan juga anak-anaknya. Dalam situasi demikian, anak-anak tidak bisa merasakan kehangatan ayah dan ibu, sebagaimana dinikmati dalam keluarga.

Masalah tersebut menimbulkan berbagai dampak sosial bagi pertumbuhan mental anak-anak. Tidak sedikit tindakan kriminal lahir dari orang-orang yang bermasalah dalam keluarga dan tidak mendapatkan kebutuhan mentalnya dari orang tua mereka. Oleh karena itu, peninjauan kembali peran sentral keluarga saat ini sangat penting untuk dilakukan.

Ajaran Islam memulai pembentukan keluarga dengan pernikahan yang merupakan ikatan suci antara laki-laki dan perempuan. Al-Quran dan hadis menegaskan urgensi pernikahan. Rasulullah Saw bersabda, "Kebahagiaan seorang laki-laki adalah memiliki istri yang baik,". Di bagian lain, Nabi Muhammad Saw memberikan nasehat kepada para sahabatnya, "Siapapun yang ingin bertemu dengan Allah swt dalam keadaan suci, maka menikahkah dan temuilah Tuhan,".

Menjaga institusi keluarga merupakan poros utama dalam pendidikan Islam. Sumber ajaran agama Islam banyak memberikan petunjuk dan nasihat penting kepada pasangan suami istri dan anak-anak mengenai pembinaan keluarga yang sakinah.

Urgensi masalah ini dijelaskan dalam berbagai hadis. Misalnya, Rasulullah Saw bersabda, "Memiliki suami bagi seorang perempuan lebih dicintai Allah swt dari pada beriktikaf di masjidku (Nabi)". Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang bekerja keras mencari rezeki halal untuk keluarganya seperti mujahid yang berjihad di jalan Allah swt,".

Dalam budaya Islam, suami dan istri memiliki kewajiban dan haknya masing-masing. Dari sekian hak dan kewajiban tersebut, Islam menegaskan masalah saling-menghormati, pengabdian dan sikap bijak antara suami dan istri.

Suami dianjurkan untuk memperlakukan istrinya dengan baik. Sebaliknya, istri harus menjaga hak dan harga diri keluarga, terutama suami dan anak-anaknya. Dengan demikian, terwujudnya keluarga bahagia tidak hanya kewajiban atau hak dari salah satu pihak saja, tapi meliputi semua pihak, yaitu: suami, istri, bahkan anak-anak. Dari sinilah institusi keluarga dibangun dan dijaga oleh seluruh anggotanya.

Mengenai kewajiban anak-anak, Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada orang tua supaya mengajarkan kepada anak-anaknya agar menghormati orang lain dan berlaku sopan dengan mereka.

Al-Quran surat al-Isra ayat 23 juga menegaskan, "… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Apabila nilai-nilai agung yang diajarkan Islam dijalankan oleh seluruh anggota keluarga, maka keluarga itu akan bahagia, baik dunia dan akhirat. Inilah pesan penting hari keluarga nasional.

Sep 10, 2018 20:18 Asia/Jakarta
Komentar