Tujuan dan target Amerika Serikat melawan Iran bukan rahasia lagi. Rakyat Iran telah mengenal watak permusuhan Amerika Serikat dan oleh karena itu bangsa Iran tidak pernah mempercayai Amerika. Pada setiap kesempatan, Amerika Serikat selalu berusaha menjegal perkembangan dan kemajuan Iran. Klaim-klaim ambigu dan infaktual terkait program nuklir Iran juga berdasarkan tujuan tersebut.

Tanpa bukti Amerika Serikat menuding Iran memproduksi senjata pemusnah massal. Namun menyusul tercapainya kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), status sipil program nuklir Iran telah terbukti dan skenario jahat Amerika Serikat dalam hal ini juga berakhir. Namun apakah ini berarti berakhirnya permusuhan Amerika Serikat?

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pasca penandatanganan JCPOA , menyatakan, “... setelah dua tahun perundingan, Amerika Serikat bersama mitra-mitra internasionalnya telah mencapai tujuan yang tidak dapat tercapai selama puluhan tahun permusuhan.” Pernyataan Obama itu dengan jelas menunjukkan niat Amerika yang sebenarnya . Obama menilai JCPOA sebagai kesepakatan nuklir komprehensif dan jangka panjang guna mencegah Iran menggapai senjata pemusnah massal. Statemen Obama tersebut menjelaskan berlanjutnya politik Iranphobia.

Kenyataannya, Amerika Serikat benar-benar menolak munculnya peran Iran di kancah regional maupun internasional, karena jika demikian, maka Washington juga terpaksa menerima Republik Islam sebagai sebuah kekuatan regional. Namun Amerika Serikat tidak bisa mengelak dari fakta bahwa Iran memainkan peran penting di Afghanistan, Irak dan kawasan. Sebagai contoh, Obama dalam wawancaranya dengan New York Times, pasca penandatanganan JCPOA, pada Juni 2015, juga menyinggung masalah ini.

Obama mengatakan,”Iran harus bersama dengan Arab Saudi, Turki dan Rusia, menjadi bagian dari solusi krisis Suriah.” Dia juga berbicara tentang pemberantasan ISIS dan mengatakan bahwa meski Amerika Serikat tidak dapat bekerjasama secara langsung dengan Iran, namun kesepakatan nuklir ini mampu memperjelas prospek kerjasama dalam hal ini.

Pada bagian lain pernyataannya, Obama memaparkan pandangan negatifnya terhadap Iran. Menyinggung buku memoar Richard Nixon, mantan presiden AS terkait perundingan nuklir dengan Uni Soviet, Obama menjelaskan pandangannya terkait perundingan nuklir dengan Iran dan mengatakan, “...Ronald Reagan dan lain-lain, berunding dengan Uni Soviet tentang kesepakatan persenjataan dan kemudian dengan pihak-pihak lain. Kita sekarang pada pemerintahan ini (Iran) harus mengenal orang-orang yang memiliki pandangan dan kenangan sejarah tersendiri dan kemungkinan kita akan berusaha untuk menjalin kontak dengan mereka.”

Richard Nixon dalam bukunya menjelaskan cara dan teknik yang digunakan Amerika Serikat untuk meruntuhkan Uni Soviet dari dalam melalui perundingan. Menurut Obama, “Perundingan kami dengan Uni Soviet pada akhirnya menguntungkan Amerika Serikat dan Iran juga akan melihat hasil yang sama; perundingan ini akan membuat Amerika Serikat dan Israel lebih aman.”

Pernyataan Obama itu mensinyalir berbagai makar dan rencana yang telah disusun Amerika Serikat selama bertahun-tahun untuk mencapai tujuannya melalui penyusupan di Iran dan pada akhirnya penggulingan pemerintah Republik Islam Iran secara lunak. Para pejabat Amerika Serikat setiap tahun, pasca kemenangan Revolusi Islam menunjukkan sikap suprematif ketika berhadapan dengan Iran. Selama satu dekade terakhir, AS memberlakukan berbagai macam sanksi dengan alasan infaktual kekhawatiran atas program nuklir. Washington mengklaim sanksinya dan yang ditetapkan Uni Eropa terhadap Iran adalah keputusan tepat demi mengamankan dunia. Sementara untuk klaimnya itu, Amerika Serikat dan kroninya tidak memiliki bukti kongkret apapun.

Sekarang dengan pelaksanaan JCPOA, akhirnya agitasi tersebut berhenti setelah berlangsung selama 12 tahun. Meski demikian, ini sama sekali tidak berarti perubahan sikap konfrontatif dan tidak konstruktif Amerika Serikat terhadap Iran. Sebagaimana Amerika Serikat saat ini gencar menyerukan kekhawatiran soal program rudal Iran. Sehari pasca pelaksanaan JCPOA, Washington memberlakukan sanksi baru non-nuklir terkait program rudal Republik Islam Iran.

Amerika Serikat selama tiga dekade terakhir menuding Iran mendukung terorisme dan juga menyoal masalah hak asasi manusia di Republik Islam. Langkah itu dibarengi dengan sanksi dan tekanan anti-Iran. Sikap dan pernyataan anti-Iran para pejabat Amerika Serikat itu hanya memiliki satu makna, bahwa proyek Iranphobia tetap berlanjut dalam agenda kerja pemerintah Amerika Serikat. Pasca pelaksanaan JCPOA pun, Amerika Serikat tetap melanjutkan kebiasaannya berpolitik dengan standar ganda terhadap Iran.

Pada kondisi saat ini, pacsa implementasi JCPOA, kedua pihak memiliki komitmen masing-masing dan harus melaksanakannya. Pada Oktober 2015, hari penandatanganan JCPOA, Presiden Amerika Serikat menginstruksikan seluruh instansi dan lembaga dalam negeri untuk mencabut semua sanksi, akan tetapi pelaksanaannya ditangguhkan pasca pelaksanaan komitmen oleh Iran. Dewan Uni Eropa juga menetapkan ketentuan pencabutan sanksi namun pelaksanaannya juga ditangguhkan. Sekarang kedua pihak telah berada di jalur pelaksanaan JCPOA dan bagian penting dari hal ini telah dimulai dengan pencabutan sanksi.

Yang pasti dalam nuansa baru ini seluruh peluang dan potensi yang ada harus dimanfaatkan akan tetapi pada saat yang sama, semua ancaman potensial juga harus diwaspadai. JCPOA juga sama seperti transaksi politik lain yang membawa peluang dan ancaman. Terbuka banyak peluang di semua sektor ekonomi, politik dan bahkan keamanan untuk Iran, namun ancaman potensialnya juga tidak sedikit. Oleh karena itu, menurut pandangan bangsa Iran yang terpenting adalah sikap-sikap masa lalu dan sekarang Amerika Serikat. Bahwa dalam setiap langkah yang akan diambil, ketidakpercayaan bangsa Iran kepada Amerika Serikat tidak akan pernah meluntur.

Gholamreza Jalali, Ketua Lembaga Pertahanan Pasif Iran, menjelaskan berbagai ancaman pasca implementasi JCPOA dan mengatakan, “Akan terjadi perubahan besar di Iran dalam koridor ancaman-ancaman pasca sanksi, yang pasti itu adalah kinerja baru dari musuh.” Dia menjelaskan, “Dalam literatur Amerika Serikat kita menyaksikan fokus untuk infiltrasi dan perluasan pasca JCPOA, dan ini menuntut analisa baru terkait ancaman.” Menyinggung fokus musuh menyusup ke sektor intelijen dan pengumpulan informasi infrastruktur negara, Jalali menegaskan bahwa sektor-sektor tersebut harus diperhatikan.

Kenyataannya, para penguasa dan pejabat Amerika Serikat sudah terbiasa dengan pelanggaran janji dan intervensi. Oleh karena itu, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, dalam menjawab dua surat Presiden Iran, Hassan Rouhani terkait perundingan nuklir dan pelaksanaan JCPOA, menekankan fakta Amerika Serikat sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya dalam perundingan nuklir. Beliau menegaskan pentingnya pengawasan atas pelaksanaan komitmen dari pihak seberang dan keberhati-hatian agar JCPOA tetap bergulir sesuai jalur yang telah ditetapkan.

Rahbar juga menegaskan bahwa jika terjadi penyimpangan atau pelanggaran kesepakatan dari pihak seberang, maka JCPOA harus dihentikan. Beliau menyinggung nasib perundingan nuklir dan menandaskan, pernyataan sejumlah politisi Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir sepenuhnya menimbulkan prasangka buruk. Ayatullah Khamenei mengimbau pemerintah terus memantau pelaksanaan komitmen pihak seberang. Rahbar juga memperingatkan bahwa untuk mencapai kesepakatan saat ini, banyak hal yang telah dikorbankan.

Sikap dan kebijakan Amerika Serikat secara keseluruhan menunjukkan tidak adanya perubahan positif pada kinerja mereka. Penentangan terhadap kemajuan ilmiah Iran; berlanjutnya tuduhan terhadap Republik Islam dan propaganda bohong serta proyek Iranphobia, merupakan langkah-langkah yang diacu Amerika Serikat sejak tiga dekade terakhir. 37 tahun berlalu sejak kemenangan Revolusi Islam, namun permusuhan dan makar anti-Iran oleh Amerika Serikat tetap berlanjut. Watak AS itu yang tidak dapat dilupakan bangsa Iran dan menjadi landasan segala urusan dengan Negeri Paman Sam itu.

Tags

Feb 11, 2016 19:55 Asia/Jakarta
Komentar