Revolusi Islam Iran berhasil ketika di kancah internasional, segala bentuk perubahan dan transformasi dalam perimbangan global dan regional terkait dengan salah satu dari dua kutub kekuatan dunia.

Ini berarti setiap gerakan di luar dua kutub tersebut akan divonis gagal. Namun Revolusi Islam dengan esensi anti-imperialisme, bangkit  melawan kekuatan-kekuatan adidaya dan menentang pembagian politik di dua blok Barat dan Timur.

Revolusi Islam Iran tampil dengan memilih jalan baru di panggung internasional. Oleh karena itu, pemerintah Republik Islam Iran mampu mengguncang perimbangan kekuatan di kawasan. Perubahan tersebut bahkan menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa yang berada di bawah hegemoni kekuatan adidaya.

Para analis berpendapat bahwa Revolusi Islam mampu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat Muslim, tertindas dan papa di dunia Islam. Selain itu juga memberikan semangat dan keberanian untuk bangkit berjuang. Pengaruh ini merupakan pesan persatuan di dunia Islam, selain menciptakan kepercayaan diri, juga menumbuhkan semangat perjuangan dan perlawanan anti-kezaliman.

Proses ini telah terbukti dengan kemenangan Revolusi Islam dan pembentukan pemerintah Republik Islam Iran yang bersandarkan pada suara rakyat. Juga telah terbukti bahwa agama Islam mampu memainkan peran determinan di kancah pengambilan keputusan di dunia. Hal ini sekaligus mematahkan pandangan para teoritisian Barat bahwa Islam tidak dapat memainkan peran positif di kancah global.

Pengaruh ini membuat hidupnya perspektif Islam dalam wacana global dan semakin jelas terbukti bahwa Revolusi Islam dapat melibatkan peran agama dalam sistem pengambilan keputusan regional maupun global. Tidakhanya itu, keterlibatan peran agama juga menunjukkan hasil yang jelas.

Pemerintah Republik Islam sebagai pemain pro-aktif dalam berbagai transformasi di lapangan, memainkan peran konstruktif di bidang identifikasi kepentingan kolektif regional pada banyak isu seperti pemberantasan terorisme, perluasan hubungan ekonomi, politik dan budaya, serta dukungan terhadap proses perwujudan stabilitas regional berdasarkan prinsip keamanan kolektif.

Pemerintah Republik Islam Iran juga menawarkan pola baru yang pada hakikatnya sangat dibutuhkan kawasan. Perspektif Iran dalam hal ini adalah pengokokhan multilateralisme dan penafian politik unilateral oleh kekuatan adidaya dunia, serta hak penentuan nasib dan masa depan bangsa-bangsa di tangan mereka sendiri.

Pemerintah Republik Islam Iran sangat menekankan pada prinsip partisipasi dan peran seluruh negara melalui pengokohan lembaga-lembaga regional dan kerjasama berpedoman kebijaksanaan kolektif. Peran ini dapat terwujud melalui partisipasi, kerjasama dan musyawarah negara-negara pada podium internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai lembaga regional dan internasional lain.

Republik Islam Iran berpendapat bahwa agama langit dapat menjadi sumber terbaik dalam memberantas kekerasan dan ekstrimisme. Usulan yang dikemukakan Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada sidang Majelis Umum PBB dua tahun lalu, telah disepakati oleh mayoritas anggota PBB. Usulan tersebut menegaskan kembali peluang dialog antarpemimpin agama untuk mengantisipasi kekerasan dan ekstrimisme. Menurut Republik Islam Iran, jika persahabatan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat dimanfaatkan untuk melawan penyalahgunaan agama dan mazhab, maka cara ini dapat membantu mewujudkan perdamaian di dunia.

Presiden Republik islam Iran, tahun lalu juga mengusulkan pemberantasan terorisme yang menjadi sebuah dokumen internasional, sehingga tidak ada satu pun negara yang dapat memanfaatkan terorisme sebagai sarana untuk mengintervensi urusan negara-negara lain. Untuk mencapai perdamaian dan keamanan global, masyarakat dunia harus saling menghormati keragaman keyakinan dan budaya semua bangsa serta menolak pemanfaatan sepihak, sehingga dengan demikian banyak friksi dan permusuhan dapat diakhiri.  

Pengalaman membuktikan bahwa perubahan positif pandangan semua bangsa terlepas dari etnis, agama maupun budaya, dapat memperkokoh dan mendorong negara-negara berperan lebih aktif di sentra pengambilan keputusan, perluasan kerjasama konstruktif, efektif, multilateral dan efektif  di tingkat regional maupun global.

Dengan pandangan tersebut, Republik Islam Iran berupaya mengubah ancaman  yang ada menjadi peluang kerjasama dan interaksi di tingkat regional maupun global, dengan menawarkan berbagai mekanisme dan usulan konstruktif. Dalam hal ini, Republik Islam juga senantiasa mendorong negara-negara meningkatkan kerjasama serta memperkokoh stabilitas dan keamanan kolektif. Karena dengan keamanan kolektif tersebut, negara-negara dapat memiliki peluang untuk berkembang, maju dan mempersempit jurang antara kaya dan miskin.

Pada hakikatnya, slogan dan kinerja Republik Islam Iran menekankan hubungan adil dan saling menghormati hak bangsa-bangsa serta interaksi konstruktif di dunia. Kerjasama berlandaskan prinsip tersebut dapat mengantisipasi munculnya berbagai masalah dan tantangan global termasuk kemiskinan, terorisme dan ekstrimisme.

Tidak diragukan lagi bahwa dalam munculnya berbagai gejolak ini, fenomena imperialisme juga memiliki dampak destruktif besar pada struktur politik dan sosial negara-negara kawasan, khususnya negara-negara di pesisir Teluk Persia. Intervensi imperialis bersamaan dengan munculnya dua kutub kekuatan dan juga Perang Dingin, membuat lahirnya banyak negara baru dan terciptanya batasan-batasan politik antarnegara.

Perubahan tersebut mempengaruhi atmosfer hubungan negara-negara regional bahkan hingga isu-isu internal. Konstelasi bergejolak tersebut pada akhirnya melahirkan peperangan dan konflik di kawasan. Dengan demikian, kehadiran jangka panjang imperialisme di kawasan, berdampakdestruktif terhadap struktur politik, ekonomi, sosial dan budaya. 

Dalam perjalanan sejarah ini, keragaman bangsa dan etnis, melemahnya pluralisme dan yang paling penting ketidakjelasan konsep perdamaian, keamanan dan ancaman, membuat strategi kolektif keamanan ini tidak pernah terdefinisikan. Sementara itu, propaganda bohong oleh kekuatan adidaya dunia dan rezim Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran, juga membantu meningkatkan Iranphobia serta menciptakan ketidakpercayaan dan prasangka buruk banyak negara pesisir Teluk Persia terhadap Republik Islam.

Akumulasi faktor-faktor tersebut di Timur Tengah menyebabkan penghamburan sumber energi melimpah kawasan yang menguntungkan pihak asing dan semakin mendorong intervensi kekuatan-kekuatan adidaya. Intervensi dan juga kehadiran pihak asing di Timur Tengah juga membuat langkah-langkah keamanan kolektif tidak terwujud. Oleh karena itu, salah satu mekanisme penting dalam hal ini adalah politik detente serta reduksi dan pada akhirnya diakhirinya atmosfer negatif tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam pidatonya pada sidang Foum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, juga menekankan masalah ini dan mengatakan, “Seluruh bangsa memiliki sisi kolektif dalam agama, sejarah, budaya dan nilai-nilai. Dan sisi kolektif ini membuka peluang bagi kita semua untuk saling bekerjasama menghadapi tantangan yang sangat serius di kawasan kita dan salah satu tantangannya adalah ekestrimisme.”

Faktanya, ekstrimisme bukan ancaman untuk satu bangsa saja. Bahkan tidak dapat dibendung di satu wilayah saja. Karena masalah ini adalah tantangan yang sedang dihadapi seluruh dunia. Berbagai peristiwa terbaru ancaman terorisme dan ekstrimisme telah meluas mulai dari San Bernardino hingga Paris, Madrid, Moskow, Islamabad, hingga Istanbul. Bahkan ekstrimisme dan terorisme telah menyusup hingga Australia, Kanada dan negara-negara lain. Ancaman ini membahayakan semua negara di kawasan dan dunia. Zarif berpendapat bahwa jika kita dapat menyelesaikan masalah nuklir yang telah berlangsung selama 12 tahun melalui perundingan, maka tidak ada alasan kita juga tidak mampu menyelesaikan perbedaan sepele di kawasan kami.

Menurut pendapat para pengamat, jika keselarasan berdasarkan pada prinsip detente dan upaya pengokohan rasa saling percaya, maka akan tercipta tahap baru hubungan di kawasan termasuk di pesisir Teluk Persia. Dengan demikian bentrokan, perang dan tensi akan dapat dihindari, bahkan seluruh kepentingan sah semua negara di kawasan ini juga terlindungi dari imperialisme kekuatan asing.

Feb 12, 2016 20:23 Asia/Jakarta
Komentar