Disebutkan dalam sejarah bahwa setelah Rasulullah Saw, menyampaikan khutbah terkenal Sya’baniyah, Imam Ali as berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah! Apa amal terbaik pada bulan ini?”

Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu al-Hasan! Amalan terbaik pada bulan ini, menjauhi yang diharamkan oleh Allah Swt.” Setelah itu Rasulullah Saw menangis. Imam Ali as kembali bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa kau menangis?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Ali aku menangis karena mereka akan melanggar kehormatanmu di bulan ini. Sepertinya aku melihat kau sedang shalat untuk Tuhanmu, orang paling celaka pertama dan terakhir … berdiri dan memukul [dengan pedang] di tengah kepalamu dan tempat sujudmu, darah mengucur dari kepalamu.

 

Hari ke-20 bulan Ramadan, bertepatan dengan malam kesyahidan sosok agung yang posisi dan hubungannya dengan Allah Swt, dan keutamaan akhlaknya seperti adab, etika, kezuhudan, keberanian, ibadah dan lain-lainnya, sedemikian tinggi sehingga diakui oleh kawan maupun lawan. Imam Ali as adalah satu-satunya orang di mana malaikat Jibril mengucapkan ungkapan pada perang Uhud:

لاسیف الا ذوالفقار و لافتی الا علی

“Tiada pemberani seperti Ali dan tiada pedang seperti Duzlfiqar.”

 

Dia adalah lelaki pertama di Jazirah Arab yang memeluk agama Islam dan shalat bersama Rasulullah Saw. Dia satu-satunya orang yang menjalin ikatan persaudaraan dan ukhuwah dengan Nabi Muhammad Saw dan beliau berkata: “Wahai Ali! Kau adalah saudaraku di dunia dan akhirat.” Ali adalah satu-satunya manusia yang Rasulullah Saw bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barang siapa yang menginginkan ilmu, maka hendaknya dia melalui pintunya.

 

Dia adalah satu-satunya orang yang disinggung Rasulullah Saw dengan mengatakan, “Hak Ali atas umat, sama seperti hak seorang  ayah kepada putranya.” Ali adalah satu-satunya orang yang berkorban pada Lailatul Mabit, malam ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dan tidur menggantikan Nabi Muhammad Saw.

 

Al-Quran tentang Imam Ali as menyebutkan, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Q.S. al-Baqarah, 207). Ali adalah satu-satunya orang yang  oleh Rasulullah Saw pintu rumahnya dibuka menuju Masjid Nabi. Dia adalah manusia yang diakui keagungannya oleh musuh-musuh. Selain itu, Ali bin Abi Thalib as adalah ayah syahid, suami syahid, saudara syahid, dan dia sendiri juga gugur syahid pada malam terbaik dalam satu tahun.

 

Imam Ali as dalam wasiat beliau menyebutkan, “Ini adalah yang diwasiatkan Ali putra Abu Thalib: dia bersaksi terhadap keesaan Allah Swt dan bersaksi bahwa Muhammad [Saw] adalah hamba dan nabi-Nya. Allah Swt mengutusnya untuk mengutamakan agama-Nya  di atas agama-agama lain. Sesungguhnya shalat, ibadah, kehidupan dan usia, adalah milik Allah Swt. Tidak ada sekutu untuk-Nya, aku menerima ini dan termasuk di antara orang-orang yang menyerahkan diri… putraku, bagi kalian saling hubungan, kedermawanan dan kebaikan. Hindari saling kemunafikan, pemutusan hubungan, kemarahan dan perpecahan. Saling membantulah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan. Utamakanlah ketakwaan karena azab Allah teramat pedih.

 

Rasulullah Saw dalam satu bagian khutbah Sya’baniyah, yang disampaikan memperingati ketibaan bulan Ramadan mengatakan, “Wahai masyarakat! Sesungguhnya pintu-pintu sorga terbuka di bulan ini. Maka  mintalah dari Tuhan kalian agar tidak menutupnya (pintu-pintu sorga itu) untuk kalian. Dan juga pintu-pintu neraka tertutup, maka mintalah dari Tuhan kalian agar tidak membukanya bagi kalian. Juga para setan terbelenggu dan terikat, maka mintalah dari Tuhan kalian agar tidak membuatnya menguasai kalian.

 

Sebagian ahli tafsir dan ulama akhlak berpendapat bahwa maksud dari terbukanya pintu-pintu sorga pada bulan Ramadan adalah bahwa Allah Swt mengampuni hamba-Nya dengan berbagai alasan dan Dia menjanjikan sorga sebagai pahala amal-amalan seperti puasa, shalat, shalat nafilah, membaca  al-Quran, sedekah, silaturahmi dan… Juga menyelamatkan hamba dari api neraka dengan berbagai alasan.

 

Namun harus diperhatikan bahwa sorga dan neraka tidak lain adalah manifestasi perilaku manusia. Azab dan kepedihan neraka jahannam juga tidak lain adalah imbalan dari perilaku buruk manusia. Nikmat-nikmat sorga pada hakikatnya adalah inti dari amal saleh manusia. Oleh karena itu, sorga dan neraka tidak pernah terlepas dari perilaku manusia. Manusia yang tidak melepaskan diri dari ketaatan dan penghambaan, maka dirinya adalah sorga dan jika terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka dirinya sendiri adalah neraka.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menyelesaikan urusan seorang yatim, maka Allah Swt akan menyelesaikan urusannya di hari kiamat.” Mengasihi anak yatim merupakan amal yang diwajibkan dalam Islam dan agar setiap Muslim berusaha  melaksanakannya. Yatim adalah seseorang yang secara lahiriyah tidak punya pelindung, dan hanya Allah Swt yang menjadi pelindungnya, di mana Allah Swt menghormati hak-haknya dan menekankan belas kasih kepada yatim. Dalam hal ini, perilaku Imam Ali as terhadap anak-anak yatim merupakan teladan bagi masyarakat Muslim. Beliau mengatakan, “Ya Allah! Ya Allah! Tentang anak-anak yatim, jangan sampai mereka terkadang kenyang dan terkadang lapar dan hak-hak mereka ternistakan.

 

Dalam sebuah perjalanan, Imam Ali as melintasi rumah seorang perempuan miskin yang anak-anaknya menangis karena lapar. Sang ibu menyibukkan mereka dengan berbagai hal, kemudian memenuhi panci dengan air dan menyalakan api, sehingga itu dijadikan alasan agar anak-anaknya tertidur. Menyaksikan peristiwa itu, Imam Ali as bersama Qanbar segera pulang ke rumah dan mengambil kurma, serta memikul sekantung gandum, beras dan minyak, kemudian bergegas menuju rumah perempuan itu.

 

Setibanya di rumah perempuan itu, Imam Ali as meminta ijin masuk kemudian memasukkan beras dan sedikit minyak ke dalam panci untuk menyiapkan makanan. Kemudian beliau membangunan anak-anak perempuan itu serta menyuap mereka sampai kenyang. Kemudian untuk menghibur anak-anak perempuan itu beliau merangkak dan menaikkan mereka di atas punggungnya. Mereka tertawa riang. Setelah bermain, Imam Ali as menidurkan mereka dan meninggalkan rumah itu.

 

Qanbar bertanya, “Wahai junjunganku! Hari ini aku melihat dua hal darimu yang aku mengerti sebab dari salah satunya namun aku tidak mengerti sebab yang kedua. Pertama, kau sendiri yang membawa makanan itu di pundakmu dan tidak mengijinkanku membawanya, pasti karena besarnya pahala, akan tetapi aku tidak memahami kau merangkak dan menaikkan mereka (anak-anak itu) ke atas punggungmu.” Imam Ali as menjawab, “Ketika aku melihat anak-anak itu, aku menyadari mereka sedang menangis karena lapar, dan debu-debu keyatiman menyelimuti mereka, aku ingin ketika aku keluar mereka kenyang dan juga debu-debu keyatiman dan ketiadaan ayah telah terhapus dari wajah-wajah mereka.

Jun 26, 2016 10:30 Asia/Jakarta
Komentar