Salah satu keindahan bulan Ramadan adalah kehadiran dalam acara-acara khutbah atau siraman rohani. Al-Quran sebagai kitab nasehat dan bimbingan yang diturunkan Allah Swt untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ruh manusia dan juga untuk membantu manusia menggapai keutamaan akhlak, sangat menekankan nasehat dan pengingatan sebagai sarana efektif untuk menggembleng jiwa manusia. Hal itu banyak disebutkan dalam ayat-ayat al-Quran.

Menurut al-Quran, manusia sepanjang hidupnya selalu memerlukan nasehat dan imbauan.  Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara tua dan muda. Acara-acara khutbah dan nasehat merupakan kesempatan berharga untuk mengubah kondisi spiritual manusia.

 

Allah Swt dalam ayat 55 surat Dzariyat memerintahkan Rasulullah untuk selalu mengingatkan dan menasehati orang-orang mukmin, karena peringatan mendatangkan keuntungan bagi manusia. Rasulullah Saw selain menggunakan cara tersebut dalam membimbing masyarakat; juga mendorong umat Islam untuk saling mengingatkan.

 

Kepada masyarakat Rasulullah Saw bersabda, “Ketahuilah! Acara-acara para ulama adalah sebuah kebun di antara banyak kebun di sorga, manfaatkanlah karena rahmat dan ampunan, dilimpahkan seperti hujan pada acara-acara tersebut. Para pendosa yang duduk di dalamnya akan bangkit sedangkan mereka telah diampuni dan selama bersama mereka, para malaikat akan memohonkan ampunan bagi mereka. Allah Swt juga akan menatap mereka serta mengampuni para ulama, murid, penonton dan orang-orang yang mencintai mereka.

 

Kehadiran dalam acara-acara keagamaan pada bulan Ramadan akan mengenalkan maarif Islam dan juga mengingatkan kembali nasehat dan ucapan para maksumin dan pemimpin agama sebagai sentuhan penting dalam melanjutkan hidup sementara menghindari acara-acara tersebut akan menjauhkan manusia dari maarif ilahi dan nilai-nilai luhur akhlak.

 

Kehadiran para ulama dalam berbagai acara di bulan ini merupakan kesempatan baik untuk menimba makrifat dan wawasan agama terkait perintah dan hukum-hukum Islam. Selain itu hendaknya partisipasi dalam acara-acara tersebut terus dilanjutkan sepanjang tahun.

 

Al-Quran adalah kitab samawi dan suci umat Muslim yang penuh dengan imbauan, peringatan dan nasehat berharga. Selain menghadiri acara-acara khutbah dan siraman rohani, umat Islam pada bulan ini juga berusaha membaca satu juz al-Quran setiap hari, dan dengan perenungan ayat-ayat al-Quran, seorang Muslim dapat meresapi nasehat dan imbauan al-Quran. Telaah kisah-kisah al-Quran dan juga nasib para pemuja dunia, para raja-raja zalim, serta perjalanan hidup para nabi, merupakan pelajaran berharga yang akan menerangi jalan kehidupan manusia. Tidak hanya itu, pembacaan al-Quran secara harian juga akan memupuk kebiasaan untuk membacanya secara rutin sepanjang tahun.

 

Salah satu pesan utama puasa, adalah manajemen dan pencegahan berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Diriwayatkan, Imam Ali as berkata, “Janganlah kalian berlebih-lebihan makan, karena ini akan menjauhkan dari  israf dan akan membuat badan lebih sehat dan membantu lebih tekun beribadah.

 

Makan dan minum secukupnya akan menambah kekuatan dan kemampuan manusia untuk beribadah. Juga menghindari dari  kemalas-malasan akibat makan terlalu banyak serta melenyapkan kekerasan hati, kegelapan batin. Akan tetapi yang lebih penting adalah pemupukan pikiran dan kesejukan hati. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Orang yang menjaga perutnya lapar pemikirannya akan terpupuk.” Dan ketika pemikiran manusia dibimbing di jalan yang benar, maka makrifat ilahi akan seperti cahaya yang akan menerangi hatinya.

 

Imam Ali as meriwayatkan dari Rasulullah Saw dan berkata bahwa Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan Mi’raj bertanya, “Ya Allah! Apa manfaat dari  puasa?” Allah Swt  berfirman, “Puasa menciptakan hikmah, dan hikmah menciptakan makrifat dan pengenalan, adapun marifat  menghasilkan keyakinan dan kepercayaan.

 

Ayatullah Mirza Malaki Tabrizi, seorang ulama kontemporer fiqih, akhlak dan irfan Islam, dalam buku terkenalnya Muraqebat menjelaskan mengapa Allah Swt memilih lapar untuk menjamu tamu-tamu-Nya di bulan Ramadan ini. Beliau menulis, “Sedikit makan dan lapar di bulan Ramadan adalah kesempatan baik untuk menyejukkan hati; karena kenyang akan menambah gas dari lambung ke otak dan mencegah manusia menjelajahi pemikiran dan perenungan spiritualitas. Padahal dalam kondisi lapar dan sedikit makan, akan mempersiapkan hati manusia untuk menerima makrifat. Dalam lapar, ada  cahaya yang dapat dirasakan.”

 

Puasa dan malam-malamnya sedang bergulir. Dan sekarang Ramadan telah sampai pada dua pertiga mendekati akhir. Betapa baik jika dalam kesempatan yang tersisa ini, kita tidak tidak menyia-nyiakan waktu dan segera memperbarui janji kita dengan Allah Swt, bertaubat, dan menaati seluruh perintah-Nya. Ayatullah Khamenei dalam hal ini mengatakan, “Kita perlu untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya pada jam-jam ini, pada hari-hari dan malam-malamnya yang penuh berkah ini.  Dengan memperkokoh hubungan batin kita dengan alam spiritual, dengan alam ghaib, dengan kerendahan hati, dengan kekhusuan di hadapan Allah Swt, dan dengan memperkokoh hubungan kesetiaan kita dengan Ahlul bait. Ini adalah pokok semua pekerjaan baik yang dapat dilakukan oleh seorang manusia mukmin di jalan benar.”

 

Tentang urgensi suci Ramadan, filsuf dan mufasir besar Ayatullah Jawadi Amoli mengatakan, "Bulan Ramadan adalah bulan jamuan Tuhan. Pada bulan ini manusia menjadi tamu Allah swt. Dalam jamuan tersebut, selain rezeki lahiriah yang dianugerahkan Tuhan, manusia dikaruniai rezeki lain. Salah satu yang terpenting dari hidangan langit yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah pengenalan terhadap Al-Quran dan Ahlul Bait as. Menurut Rasulullah saw, al-Quran tidak terpisahkan dari itrah, maka di bulan ini kita harus mengambil manfaat dari keduanya. Al-Quran disebut sebagai hablullah atau tali Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di satu sisi al-Quran berada di tangan Tuhan dan di sisi lain berada di tangan manusia, maka peganglah erat-erat. Ini bukan tali yang akan putus jika ditarik oleh enam atau tujuh milyar manusia. Inilah tali yang sangat kuat, yang memenuhi seluruh keperluan manusia. Barang siapa yang bertanya dan memiliki keperluan, maka AlQuran akan menjawabnya. Al-Quran adalah kitab kehidupan. Sebuah ajaran praktis dari Allah swt bagi pembangunan manusia yang di samping mengatur dan memajukan urusan kehidupan materinya, manusia juga dapat memberikan warna ilahi kepada hal tersebut. Agar manusia membangun kehidupannya berdasarkan fitrah dan keinginan Allah. Al-Quran membimbing kita di jalan yang paling kokoh. Optimalkan kapasitas mu menjadi tamu kitab ini. Untuk itu bacalah dan tingkatkanlah. Jangan kalian menjual diri kalian dengan harga yang murah."

 

Bulan Ramadan senantiasa mengingatkan keikhlasan dan ketulusan niat hamba Allah. Ali bin Abi Thalib as adalah manusia sempurna yang syahid di bulan Ramadan. Di akhir nasehat kepada putranya, Imam Ali as menyampaikan beberapa poin penting dan penuh makna. Salah satu di antaranya adalah perhatian terhadap al-Quran dan mengamalkan ajarannya. Imam Ali as berkata, "Allah, Allah, tentang al-Quran jangan sampai orang lain mendahului kalian mengamalkan al-Quran."

Tags

Jun 30, 2016 13:00 Asia/Jakarta
Komentar