Salah satu fenomena yang senantiasa mengancam umat manusia sejak awal adalah perang. Sejarah membuktikan bahwa realita ini bahwa tidak ada era dan zaman di sejara umat manusia yang sepi dari kekerasan dan pertumpahan darah akibat peperangan. Namun seiring dengan transformasi dan perkembangan masyarakat, perang, sarana, kualitas dan metodenya mengalami pergeseran.

Salah satu bentuk perang yang marak di beberapa dekade terakhir adalah perang lunak. Sejatinya serangan psikologis dan propaganda yang dilancarkan terhadap kelompok atau masyarakat tertentu serta memiliki perbedaan yang mendasar dengan perang konvensional adalah tidak menggunakan senjata tajam atau militer. Di perang lunak, melalui perencanaan serius dan detail dari propaganda serta metode mempengaruhi opini publik, musuh berusaha mendiktekan ideologi, budaya, politik, emosional, kecenderungan dan perilakunya kepada masyarakat yang menjadi target.

Perang lunak dapat dikategorikan sebagai ancaman paling efektif, murah, berbahaya dan rumit terhadap nilai dan keamanan nasional sebuah bangsa. Hal ini dikarenakan, musuh dengan biaya murah dan menghancurkan perlawanan fisik mampu mencapai ambisinya. Kini kita akan mengkaji dampak perang lunak bagi berbagai masyarakat dan dengan memaparkan berbagai bukti di bidang ini, kita akan mengenal tujuan negara imperialis memanfaatkan metode perang ini.

Fuller, sejarawan dan analis militer Inggris adalah tokoh pertama yang menggulirkan fenomena perang lunak. Untuk pertama kalinya Fuller mengenalkan perang ini dengan sebutan perang psikologis di tahun 1920. Namun saat itu, perang psikologis yang diusung Fuller tidak mendapat perhatian dari petinggi militer dan ilmuwan Inggris serta Amerika Serikat. Pada Januari 1940, sebuah artikel dengan tajuk “Perang Psikologis dan Mekanisme Penggunaannya” dirilis dan untuk pertama kalinya istilah ini masuk di retorika politik Amerika Serikat.

Menurut artikel tersebut, perang psikologis memanfaatkan segala sarana untuk mempengaruhi mental dan perilaku kelompok tertentu dengan tujuan militer tertentu. Di akhir perang dunia kedua, istilah perang psikologis masuk di kamus Webster's. Istilah perang psikologis kemudian menjadi bagian dari kamus politik dan militer.

Di tahun 1950, pasca perang dunia kedua, Presiden Amerika Serikat saat itu, Harry S. Truman meratifiksi proyek “Perang Sejati” guna mempersiapkan perang psikologis di Korea. Proyek tersebut senilai 121 juta dolar dan militer Amerika  untuk membentuk lingkaran perang psikologis sebagai bagian dari unit khusus serta ditempatkan di samping unit perang. Unit perang psikologis ini dibentuk dengan memanfaatkan pengalaman selama perang dunia kedua.

Penggunaan istilah perang psikologis semakin intens setelah Joseph Nye menulis artikel Soft Power di Majalah Foreign Policy di tahun 1990. Menurut pandangan Nye, Amerika Serikat mampu menciptakan perubahan di negara-negara lain dengan mempengaruhi tokoh masyarakat ketimbang melancarkan perang. Di artikel tersebut Nye memaparkan pandangannya terkait perubahan melalui diplomasi umum di samping penggunaan soft power terhadap tokoh masyarakat. Selanjutnya pandangan Nye semakin sempurna dan dijadikan pijakan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dengan istilah pemanfaatan smart power.

Tumbangnya Uni Soviet di tahun 1991 dan berakhirnya perang dingin, semakin membuktikan urgensitas penggunaan soft power di mata pengamat perang Amerika Serikat. Mereka menyadari bahwa dengan biaya murah tanpa intervensi langsung di seluruh negara, Amerika mampu meraih tujuan politik, ekonomi dan budaya. Pasca tumbangnya Uni Soviet, Amerika dengan memanfaatkan perang lunak hingga kini telah berhasil melakukan perubahan rezim di sejumlah negara yang mereka inginkan.

Revolusi warna dan beludru di sejumlah negara blok timur sejatinya contoh nyata dari perang lunak. Amerika dengan memanfaatkan kekuatan lunak berhasil mengubah pemerintahan di negara-negara seperti Polandia, Georgia, Ukraina, Czechoslovakia, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Di negara-negara tersebut, perubahan pemerintahan berhasil dicapai tanpa harus mengobarkan perang dan hanya melalui kekuatan lunak serta propaganda media. Melalui perubahan nilai dan teladan, pengikisan legalitas, gerakan rakyat dan pengobaran instabilitas politik, Amerika berhasil mengubah sistem politik di negara tersebut.

Dengan demikian perang lunak dan kekuatan lunak mulai masuk di kamus politik dunia sejak tumbangnya Uni Soviet. Sejak itu, definisi perang lunak mulai bermunculan. Perang lunak atau Soft Warfare yang menjadi kebalikan dari Hard Warfare memiliki banyak definisi. John Collins, teoritisi di Akademi Nasional Perang Amerika Serikat menilai perang lunak adalah perang yang memanfaatkan propaganda dan sarana serupa untuk mempengaruhi ideologi musuh.

Doktrin militer Amerika Serikat saat menjelaskan definisi perang lunak menyatakan bahwa perang ini dilancarkan dengan memanfaatkan secara penuh propaganda dan sarana lainnya untuk mempengaruhi ideologi, emosi, kecenderungan dan perilaku musuh, kelompok netral atau sahabat demi kepentingan nasional.

Definisi paling terkenal dari perang lunak disampaikan oleh Joseph Nye. Ia menyebut perang lunak adalah kemampuan menggalang preferensi orang lain. Namun di definisi lebih lengkap, perang lunak dapat disebut sebagai sebuah langkah rumit dan rahasia yang terdiri dari aksi politik, budaya dan intelijen oleh kekuatan besar dunia untuk menciptakan perubahan yang mereka inginkan di negara-negara target. Oleh karena itu, perang syaraf (psikologis), perang putih (white war), perang media, operasi psikologis, subversi lunak, revolusi lunak, revolusi beludru dan revolusi warna, semuanya dapat dikategorikan sebagai perang lunak.

Perang lunak akan menarget pusat gravitasi keamanan lunak setiap negara seperti legalitas pemeritah, persatuan dan integritas nasional, kepercayaan, rekonsiliasi nasional-politik yang menjadi investasi utama sosial. Artinya diupayakan sedapat mungkin tingkat kepuasan rakyat di sebuah masyarakat terhadap kinerja pemerintah menurun drastis. Karena menurunnya kepuasan rakyat dapat memainkan peran sangat penting bagi pengurangan fleksibilitas nasional dan sensitifitas politik.

Perang lunak sejatinya memiilki dua arena pertarungan, pertama hati (emosi) dan kedua otak (pemikiran). Penguasaan hati dan pemikiran merupakan tujuan dari pertarungan lunak. Di perang lunak pelaku berusaha mempengaruhi audiens untuk menyelaraskan kecenderungan dan prioritas lawan dengan pelaku perang lunak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perang lunak adalah aksi tanpa kekerasan yang menarget nilai-nilai sebuah masyarakat dan pada akhirnya berujung pada perubahan teladan perilaku serta menciptakan teladan baru yang kontradiksi dengan pemerintah berkuasa.

Biasanya perang lunak di fase pembentukannya tidak terlalu menarik, namun biasanya metode ini tidak tampak oleh penguasa dan mereka memandang sebagai fenomena biasa. Dengan demikian ancaman lunak terus berkembang secara rahasia dan muncul di sektor-sektor lunak sebuah negara seperti identitas, budaya, legalitas, partisipai politik dan efektifitas. Ketika perang lunak ini semakin berkembang dan berubah menjadi ancaman nyata, maka ancaman tersebut akan sulit untuk dikendalikan karena manajemen kekuatan lunak keamanan nasional sebuah negara sudah rapuh. Salah satu metode paling efektif perang lunak adalah membujuk rakyat untuk tidak mendukung pemerintah.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, di salah satu pidatonya mengisyaratkan realita ini dan menjelaskan, tujuan terpenting dan jalur utama perang lunak terletak pada peran dan angka strategisnya. Dalam pandangan Rahbar, menciptakan keraguan di hati dan pemikiran rakyat, merusak benteng spiritualitas, mengubah poin kuat menjadi titik lemah, mengubah peluang menjadi ancaman, merusak sendi-sendi pemerintah, membuat rakyat saling mencurigai dan mengobarkan friksi di tengah masyarakat, mendiktiken keputusasaan kepada rakyat dan membuat masyarakt lalai terhadap musuh, merupakan tujuan utama perang lunak.

Oleh karena itu, di perang lunak, kekuatan imperialis berusaha mengubah front musuh menjadi teman, karena di kondisi seperti ini mereka tidak lagi memerlukan pengiriman militer atau intervensi langsung untuk mengubah sebuah pemerintahan. Sebaliknya justru rakyat di sebuah negara yang mereka target dengan sendirinya meruntuhkan pemerintah akibat pengaruh perang lunak. Dengan demikian musuh dapat menguasai negara yang mereka tuju dengan biaya murah.

Tags

Feb 01, 2016 15:20 Asia/Jakarta
Komentar