Tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ribuan orang pelajar dan mahasiswa Iran bertemu dengan pemimpin besar Revolusi Islam, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam momentum peringatan 13 Aban, Hari Nasional Anti-Imperialisme. Rahbar dalam pertemuan tersebut menilai pendudukan sarang spionase AS di Tehran sebagai kiprah penting para pemuda revolusioner.

Tanggal 13 Aban, mengingatkan terjadinya tiga peristiwa penting di tahun yang berbeda dalam lembaran sejarah politik kontemporer Iran. Peristiwa pertama adalah pengasingan Imam Khomeini ke Turki pada 13 Aban tahun 1343 Hs. Peristiwa kedua adalah pembantaian massal pelajar Iran oleh tentara rezim despotik Shah Pahlevi pada 13 Aban 1357 Hs. Peristiwa ketiga adalah pendudukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran oleh mahasiswa revolusioner pada 13 Aban tahun 1358 Hs.

Sebelum kemenangan revolusi Islam Iran, Shah yang didukung AS dan negara-negara Barat melakukan berbagai kejahatan dan pengkhianatan terhadap rakyat Iran. Tidak hanya itu, ia juga melarikan diri ke AS, dengan membawa harta milik rakyat Iran yang disimpan di bank-bank AS. 

Setelah kemenangan Revolusi Islam, AS terus mencari jalan untuk mengembalikan Shah ke Iran, dan menempatkannya kembali sebagai boneka Gedung Putih. Tapi konspirasi tersebut membentur dinding menghadapi kewaspadaan rakyat Iran.

Sebelumnya, AS juga menorehkan lembaran hitam dalam sejarah politik Iran melalui operasi Ajax pada kudeta terhadap perdana menteri Mohammad Mosaddegh di tahun 1332 Hs atau 1953 M. Tidak hanya itu, AS juga mendiktekan kepentingannya dalam undang-undang Iran dengan memaksakan perjanjian Kapitulasi.Berdasarkan perjanjian Kapitulasi, semua pejabat, termasuk penasehat Amerika di semua jabatan baik politik, ekonomi maupun militer memiliki kekebalan politik dan hukum di Iran.

Tapi UU Kapitulasi memicu protes keras rakyat Iran, terutama setelah Imam Khomeini menyampaikan pidato bersejarah yang menjadi pemicu penangkapan beliau di Qom dan pengasingannya ke Turki. Pengasingan Imam Khomenei justru semakin mengobarkan perlawanan rakyat Iran, salah satunya meletus unjuk rasa 13 Aban 1357 Hs yang dilancarkan para pelajar dan mahasiswa di depan Universitas Tehran demi menyuarakan protes terhadap rezim Shah.

Setahun kemudian, para mahasiswa yang menyebut sebagai “Pengikut Garis Imam Khomenei” tepat di hari yang sama, 13 Aban, menduduki kedutaan besar AS di Tehran. Pada aksi yang dilakukan para mahasiswa tersebut, ditemukan sejumlah dokumen penting yang menunjukkan bahwa kedutaan besar AS di Tehran berfungsi sebagai sarang spionase Gedung Putih terhadap pemerintahan Republik Islam yang baru seumur jagung. Kemudian, dokumen rahasia aksi mata-mata AS yang dijalankan kedutaan AS di Tehran diterbitkan dalam bentuk buku 70 jilid buku bernama “Dokumen Spionase”.

Imam Khomenei menyebut aksi para mahasiswa menduduki kedutaan AS sebagai “Revolusi Kedua” Iran. Jimmy Carter yang menjabat sebagai presiden AS ketika itu, melakukan berbagai cara untuk membebaskan tawanan. Bahkan mengeluarkan instruksi aksi militer dengan dijalankannya Operation Eagle Claw, tapi gagal di tengah jalan. Sebelum sampai ke Tehran, pasukan khusus AS yang diangkut dengan helikopter menghadapi badai di daerah Tabas. Akhirnya, AS harus menelan kekalahan pahit.

Kemudian, setelah 444 hari berlalu, AS menerima kondisi Iran dan Tehran membebaskan sandera. Sejak itu, hubungan Iran dan AS terputus secara resmi. Imam Khomeini menilai pemutusan hubungan ini konstruktif.

Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan para pelajar dan mahasiswa mengatakan bahwa penyebutan aksi mahasiswa menduduki kedutaan AS di Tehran sebagai “Revolusi Kedua” oleh Imam Khomeini bukan tanpa alasan, sebab didukung argumentasi logis dan data sejarah. Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa dokumen yang didapatkan dari saran spionase AS ini harus dimasukkan dalam buku pelajaran untuk menyadarkan para remaja dan pemuda.

Terkait hal ini, Rahbar mengatakan, Aksi para mahasiswa menduduki kedutaan [AS di Tehran] secara sukses sebagai reaksi terhadap semua kejahatan AS; yaitu untuk menjegal gerak AS sebagai adidaya yang tidak tahu malu dan serakah di dalam negeri Iran. Inilah makna revolusi. Adidaya ini terbiasa menguasai 25 hingga 30 tahun sesuai kehendaknya, dan ingin Iran menjadi miliknya dan bagian dirinya; negaranya, pemerintahannya, rajanya, minyaknya, cadangannya, tambangnya, masa depannya dan semua hal tentang Iran menjadi milik mereka. Tapi kini tangannya dihalangi, dan ketika hendak menyerang, para pemuda menjegal serangan itu.

Di bagian lain statemennya, Ayatullah Khamenei mengungkapkan, “Selama 250 tahun sejarah AS, keamanan dalam negerinya dipenuhi dengan mengintervensi negara-negara dunia, dan menguasai berbagai wilayah. Kebijakan ini dijalankan di kawasan Asia Barat dan negara-negara tetangga Iran,”.

Menurut Rahbar, kebijakan interventif yang sama juga diterapkan AS di Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam. Dan, setelah berdiri Republik Islam di Iran, AS berupaya kembali menancapkan cakarnya, namun tidak pernah berhasil. Gerakan perlawanan terhadap AS bukan sebuah pemikiran fanatik maupun jahil, tapi sebaliknya bertumpu pada pemikiran yang rasional. Masalah ini berpijak pada prinsip politik AS yang serakah dan interventif.

Ayatullah Khamenei menilai pihak yang mencibir perlawanan terhadap AS sebagai bentuk pemikiran keliru. Sebab, hingga kini AS dan antek-anteknya berupaya mengubur gerakan revolusioner bangsa-bangsa dunia.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung kondisi dalam negeri AS, terutama debat antara dua capres yang menunjukkan fakta semakin ditinggalkannya nilai-nilai kemanusiaan di negara ini. “Mampus AS adalah kematian bagi diskriminasi, rasisme serta penistaan HAM dan nilai-nilai kemanusiaan,”tegas Rahbar.

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran dalam statemennya menyinggung konspirasi yang sedang dilancarkan AS, salah satunya membenamkan pemikiran keliru di  benak bangsa Iran, yaitu: “Jika kompromi dengan AS, maka masalah dalam negeri bisa diatasi”. Tapi fakta justru menunjukkan sebaliknya. Kompromi dengan AS, tutur Rahbar, bukan hanya gagal menyelesaikan masalah ekonomi, politik, keamanan dan moralitas, tapi sebaliknya justru masalah semakin bertambah besar.

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan pelajar dan mahasiswa Iran baru-baru ini menyampaikan prediksinya mengenai inkonsistensi AS sejak awal perundingan JCPOA hingga kini, dan kini semua orang menyaksikan buktinya. Rahbar menegaskan, kompromi dengan musuh, yang tidak akan meredam permusuhan mereka, hanya bertujuan untuk menciptakan masalah bagi perjalanan bangsa Iran, dan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.

Di bagian pidatonya, Rahbar menyoroti masalah krisis ekonomi, politik dan moralitas di AS. “Kini utang pemerintah AS kira-kira hampir mendekati total produk domestik bruto AS. Ini menunjukkan krisis ekonomi. Apakah negara seperti ini ingin dan bisa membantu ekonomi dalam negeri [Iran]? Mereka hanya ingin menerkam bangsa lain demi memenuhi kebutuhannya sendiri,” ujar Ayatullah Khamenei.

Berkaitan dengan skenario AS di Timur Tengah, pemimpin besar revolusi Islam mengungkapkan kegagalan AS menjalankan peta Timur Tengah besar dengan poros Israel. Rahbar mengatakan, “Kekalahan AS di Suriah, Irak dan Lebanon serta Afrika Utara menunjukkan krisis politik AS. Oleh karena itu, negara dengan tingkat kegagalan dan krisis demikian, tidak bisa menyelesaikan masalah pihak lain.

Setelah menjelaskan kondisi AS di kawasan Timur Tengah, pemimpin besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, “Kita berada di kutub sebaliknya. Laki-laki dan perempuan mukmin Iran bertindak sehingga hari ini bangsa Iran terhormat di Timur Tengah. Di Irak, Suriah dan Lebanon, Yaman, dan negara-negara kawasan Teluk Persia, serta di tempat di manapun kalian lihat, Iran tampil dengan wajah bercahaya,”.

Berkaitan dengan masalah dalam negeri, Rahbar menegaskan bahwa seluruh masalah yang terjadi harus diselesaikan oleh pemuda Iran. Kepada para pemuda beliau berpesan, “Kalian yang saya cintai ! Persiapkan diri untuk menyambut masa depan, Siapkan diri untuk memegang kendali negara ini. Penyelesaian masalah bangsa ini ditentukan oleh tekad baja dan ketangguhan dari dalam bangsa ini!”

Nov 10, 2016 13:25 Asia/Jakarta
Komentar