Rakyat muslim dan revolusioner Iran telah menciptakan heroisme yang membanggakan dalam sejarah Iran. Perang Pertahanan Suci adalah sebuah sejarah perlawanan dan pengorbanan bangsa Iran dalam menghadapi agresi rezim Baath Irak. Para sejarawan dan publik dunia memuji kepahlawanan mereka dalam mempertahankan Republik Islam Iran dari rongrongan musuh.

Salah satu lembaran emas sejarah Iran adalah tanggal 25 Aban, di mana pada hari itu masyarakat menghadapi sebuah ujian yang berat, namun mereka tetap tidak menyerah. Masyarakat Isfahan – kota budaya dan seni Iran – telah mempersembahkan hampir 23 ribu syuhada kepada Revolusi Islam selama berlangsungnya Perlawanan Suci. Namun peristiwa 25 Aban tahun 1361 adalah sebuah kisah yang berbeda.

Pada hari itu, jasad 360 pemuda Isfahan – yang gugur syahid dalam Operasi Muharram untuk membalas agresi rezim Saddam – dimakamkan dalam sebuah upacara yang digelar oleh masyarakat Isfahan. Selang beberapa hari kemudian, 250 pemuda Isfahan juga gugur syahid dalam operasi yang sama dan mereka juga dimakamkan dalam sebuah upacara di kota Isfahan.

Kota Isfahan seharusnya larut dalam duka dan kesedihan setelah kehilangan lebih dari 600 warganya, tapi para pemuda Isfahan justru secara sukarela minta dikirim ke medan perang dan dengan tekad baja mereka ingin membela Republik Islam dari agresi musuh. Setelah peristiwa itu, Imam Khomeini ra mengirim sebuah pesan belasungkawa kepada masyarakat Isfahan dan berkata, "Semoga rahmat Allah Swt tercurahkan kepada semua syuhada, keridhaan dan pengampunan-Nya terlimpahkan kepada arwah para syuhada, di mana mereka telah memilih kedekatan dengan Rabb dan bergegas menuju ke sebuah tempat istimewa di sisi Allah Swt."

"Salam sejahtera atas kalian wahai para ayah dan ibu, istri-istri, anak-anak, dan para keluarga syuhada. Kalian telah menghadiahkan orang-orang terkasih di jalan tujuan terbaik yaitu Islam. Kalian telah memperlihatkan kesabaran dan perlawanan yang luar biasa dalam membela agama Allah Swt. Kalian telah mengingatkan tentang keberanian dan ketahanan para sahabat Imam Husein as kepada masyarakat dunia," tegas Imam Khomeini ra.

Setiap tanggal 25 Aban, rakyat Iran khususnya masyarakat Isfahan menggelar acara khusus untuk mengenang peristiwa heroik itu. Pada tahun ini, mereka melakukan pertemuan dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar), Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada 16 November 2016 di kota Tehran. Rahbar menyampaikan kegembiraan karena telah dipertemukan kembali dengan masyarakat Isfahan, dan menyebut Isfahan sebagai kota budaya dan seni serta kota para syuhada.

"Tanggal 25 Aban sampai akhir bulan Aban, adalah hari-hari yang tidak boleh dilupakan tidak hanya oleh masyarakat Isfahan, tapi oleh negara dan sejarah kita," ujarnya.   

Ayatullah Khamenei menganggap memudarnya semarak peringatan seperti itu dalam sejarah Iran sebagai salah satu dari titik utama serangan musuh. "Di negara-negara Barat, sebuah kisah pengorbanan akan dicatat sebagai aksi heroik dan tidak dibiarkan nama pelakunya dihapus dari buku-buku. Namun, sejarah Revolusi Islam Iran dipenuhi oleh para pahlawan dan gerakan-gerakan besar heroisme dan harus dipelihara dengan baik," tegasnya.

Rahbar lebih lanjut menuturkan bahwa identitas Isfahan adalah kota revolusi, kota agama, kota Wilayah (kepemimpinan ulama), kota pengabdian, kota kerja keras, kota ilmu, dan kota pendidikan sumber daya manusia. "Sumber daya yang besar ini harus dijaga dan tetap mewaspadai skenario-skenario musuh untuk menghancurkan kapasitas tersebut," tambahnya.

Menurut Rahbar, ketundukan pada musuh merupakan pintu untuk semua kesengsaraan bagi sebuah negara. "Kita ingin mengejar puncak kemajuan negara kita dengan berkah agama Islam, kita ingin mengantarkan bangsa Iran ke sebuah titik yang akan menjadi teladan, bukan hanya untuk Dunia Islam dan bangsa-bangsa Muslim, tapi untuk kemanusiaan. Ini adalah sebuah jalan yang panjang dan terjal," tegasnya.

Musuh, ujar Ayatullah Khamenei, tidak ingin Islam mencapai sebuah keagungan dan kedigdayaan yang seperti itu. Musuh Syiah juga tidak ingin itu terjadi. Oleh karena itu, mereka bersekongkol untuk menyusun konspirasi dan melakukan kegiatan. Kita tidak boleh lalai terhadap konspirasi mereka.

Rahbar menuturkan bahwa kebutuhan utama negara saat ini adalah membela prinsip-prinsip revolusi. Beliau kembali merekomendasikan para pemuda untuk mempelajari pidato dan surat wasiat Imam Khomeini ra. Rahbar menjelaskan, "Arahan Imam Khomeini ra dan surat wasiat beliau merupakan pondasi dan pilar-pilar revolusi. Sosok yang telah membuat dunia terguncang ini menjelma dalam surat-surat wasiatnya dan kita tidak dapat menafsirkan sosok tersebut dengan cara apapun yang bertentangan dengan apa yang benar-benar ada dan terjadi."

Rahbar menegaskan bahwa membela prinsip-prinsip revolusi tidak atas dasar fanatisme dan kebodohan, tapi satu-satunya jalan untuk mengejar ketertinggalan akibat despotisme berabad-abad adalah dengan meneruskan jalan revolusi. Menurutnya, salah satu kebutuhan mendesak Iran di masa sekarang adalah masalah ekonomi dan pentingnya kebijakan ekonomi resistensi.

"Ekonomi resistensi adalah sebuah program ekonomi yang berkembang dari dalam dan mengurangi ketergantungan kita kepada pihak lain serta meningkatkan ketahanan negara terhadap goyangan-goyangan asing. Inilah yang dimaksud dengan ekonomi resistensi. Ekonomi resistensi adalah satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah ekonomi Iran dan negara harus berpijak pada potensi internal dan kapasitas sumber daya manusia dalam negeri ketimbang mengandalkan kekuatan-kekuatan asing," jelasnya.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyoroti hasil pemilu presiden di Amerika Serikat. Beliau menegaskan bahwa kemenangan Donald Trump dalam pilpres AS tidak akan memberikan dampak berbeda bagi Iran, dan menyebut AS tetap sama saja di bawah presiden dari Partai Republik maupun Partai Demokrat. Dua-duanya sama-sama memiliki catatan permusuhan terhadap Republik Islam Iran.

"Kami tidak memiliki penilaian terhadap pilpres ini, karena Amerika tetaplah Amerika yang sama. Selama 37 tahun terakhir, kedua partai yang berkuasa di AS tidak memberikan kebaikan bagi kita dan kejahatan mereka terus diarahkan kepada kita. Kita tidak meratap juga tidak merayakannya, karena tidak ada perbedaannya bagi kami. Kita tidak punya kekhawatiran. Syukurlah, kita siap menghadapi setiap insiden yang mungkin terjadi," tandas Rahbar.

Hari ini, lanjutnya, Iran sangat membutuhkan wawasan politik dan para elit harus menggagalkan konspirasi musuh dengan mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan program ekonomi resistensi untuk membuka jalan kemajuan ilmiah serta memelihara persatuan dan solidaritas nasional. Ayatullah Khamenei menerangkan bahwa ketika politik, ekonomi, budaya dan mental para elit dan pejabat senior kuat, maka tidak akan ada bahaya yang mengancam negara.

"Makna dari wawasan politik adalah Anda menyadari bahwa Anda di hadapan siapa dan bagaimana orang itu berpikir tentang Anda dan jika Anda menutup mata, maka Anda pasti akan terkena pukulan," ujarnya.

Rahbar mengatakan, rakyat Iran terutama para pemuda harus melanjutkan semangat revolusioner, sebab masalah utama negara bukan soal isu-isu yang diperdebatkan dan kontroversial, tapi menjaga semangat dan orientasi revolusi. Beliau kembali meminta para pejabat negara untuk fokus pada kapasitas dalam negeri dan mengambil langkah-langkah serius guna meraih kemajuan ekonomi. "Musuh telah memusatkan perhatian kepada perekonomian, karena mereka berpikir ekonomi adalah titik lemah kita," pungkasnya.

Di bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei menilai ujian Ilahi sebagai sebuah latihan supaya manusia mengetahui tentang titik kekuatan dan kelemahan. Dengan begitu, mereka akan terdorong untuk mengubah titik kelemahan dengan kekuatan. Ayatullah Khamenei optimis bahwa masa depan Iran akan jauh lebih baik dibandingkan sekarang dan dengan rahmat dan pertolongan Allah Swt, bangsa Iran akan mengatasi semua masalah dan menorehkan kemajuan.

Nov 24, 2016 15:03 Asia/Jakarta
Komentar