Seiring kemenangan revolusi Islam dan terputusnya tangan imperialisme global di Iran, konspirasi dan fitnah terhadap bangsa Iran mengalir semakin deras. Dalam situasi demikian, Imam Khomeini menginstruksikan pembentukan Basij pada lima Azar 1358 Hs. Momentum ini diperingati setiap tahun di Iran. Tahun ini sebagaimana tahun-tahun sebelumya, peringatan pendirian Basij diisi dengan pertemuan pemimpin besar Revolusi Islam Iran dengan ribuan Basiji yang datang dari berbagai penjuru Iran.

Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei mengungkapkan rasa gembira dalam pertemuan dengan para Basiji yang berlangsung di Tehran. Rahbar di awal  pidatonya menyinggung keagungan dan urgensi pawai akbar Arbain Imam Husein.

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya mengungkapkan sebanyak dua juta orang dari Iran yang pergi ke karbala untuk memperingati Arbain. Kondisi tersebut berlangsung tanpa propaganda media, di saat situasi keamanan Irak masih belum pulih. Ancaman keamanan pun masih terus mengintai di berbagai wilayah Irak.

Menurut Rahbar, kehadiran para peziarah ke Karbala dalam pawai akbar Arbain tahun ini menunjukkan kehadiran “Tangan Kuasa Tuhan”. Terkait hal ini, Ayatullah Khamenei berkata, “Ini adalah fenomena ilahi. Inilah yang menandakan jalan ini adalah jalan cinta; tapi bukan cinta buta, cinta yang disertai dengan kesadaran; seperti cinta aulia Allah. Cinta ini senantiasa bersama kesadaran; ketahuilah, pahamilah, dan inilah daya tariknya,”.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei mengapresiasi secara positif dan menyampaikan terima kasih atas sambutan rakyat Irak selaku tuan rumah yang sangat baik memperlakukan jutaaan tamunya yang datang untuk menziarahi Imam Husein.

Selain itu, Rahbar juga menyinggung rakyat Iran sebagai contoh lain dari fenomena keagungan kuasa Tuhan ini. Beliau menjelaskan, Sekitar satu setengah tahun di penghujung perjuangan melawan rezim Pahlevi, secara sangat mengejutkan terbentuk solidaritas kuat seluruh lapisan masyarakat Iran yang membuahkan partisipasi luas rakyat, dan ketika itulah Imam Khomeini yakin atas kemenangan Revolusi, sebab tanda-tanda pertolongan ilahi telah terlihat nyata dalam bentuk partisipasi luas rakyat Iran.

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan para komandan dan anggota Basij, mengajak untuk bersyukur dalam bentuk syukur lisan dan amal, dengan menjaga tetap berlanjutnya pertolongan ilahi. Rahbar menilai pengabdian bangsa Iran di berbagai bidang sebagai contoh nyata dari syukur amali yang menyebabkan revolusi Iran tetap bertahan, dan kian hari semakin kuat, tidak seperti revolusi lainnya.

Mengenai terselenggaranya pawai akbar Arbain dengan partisipasi luas yang harus disyukuri, Rahbar mengingatkan pentingnya menjaga kondisi spiritual dan nilai-nilai konstruktif seperti kasih sayang, ketabahan dan perjuangan menghadapi berbagai kesulitam demi mecapai tujuan agung, sebagai bentuk syukur amali atas karunia besar ini.

Selain itu, Ayatullah Khamenei juga menyinggung contoh lain dari syukur amali dalam peringatan Arbain tahun ini, yaitu perhatian dan komitmen yang tinggi dari para petugas dan pejabat terkait dalam mengatasi masalah yang menimpa para peziarah Arbain. Pada saat yang sama, musuh melancarkan propaganda untuk menyembunyikan realitas gerakan agung ini.

“Di dunia saat ini ada upaya pihak-pihak yang ingin menyembunyikan pancaran cahaya yang benderang. Mereka berupaya supaya [cahaya] itu tidak terlihat maupun menyelewengkannya,” ujar Ayatullah Khamenei.

Di bagian statemennya, Rahbar menilai Basij sebagai salah satu fenomena menakjubkan di era Revolusi Islam yang dibentuk pertama kali oleh Imam Khomeini berkat pertolongan ilahi, sehingga nasib Revolusi Islam ini selamanya berada di tangan para pemuda.

“Spirit para pemuda kita hari ini adalah spirit para pemuda di awal revolusi; perbedaannya mereka ketika itu berada di pusat revolusi, tapi kini, meskipun situasinya berbeda, namun spirit itu tetap terjaga. Di samping spirit tersebut, para pemuda hari ini memiliki horizon yang lebih luas dari para pemuda di awal revolusi,” tegas Rahbar.

Selain itu, Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi menjaga revolusi Islam yang merupakan tugas semua lapisan masyarakat Iran, terutama generasi muda sebagai motor penggerak perubahan bangsa dan negara.

Rahbar menilai syarat kemenangan gerakan Basij di dalam negeri adalah ketakwaan, dan amal baik. Seorang Basij, tutur Rahbar, adalah orang yang bertakwa secara individu dan sosial, yang menjadikan komitmen dirinya supaya senantiasa mendapatkan pertolongan ilahi.

Rahbar menjelaskan masalah ini dengan mengambil pelajaran dari ayat Al-Quran mengenai kisah Nabi Musa as. dan Firaun. Ketika Nabi Musa dan saudaranya Harun diperintahkan untuk mendatangi Firaun yang saat itu merupakan penguasa Mesir untuk menyampaikan risalah ilahi. Al-Quran surat Thaha ayat 46 menjelaskan, “Allah berfirman: ‘Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".

Al-Quran menjelaskan bagaimana pasukan Firaun mengejar Musa dan munculnya ketakutan Bani Israel. Mereka sangat khawatir pasukan Firaun akan berhasil mengejarnya. Di surat Syuara ayat 62, Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Kemudian Musa membelah laut dan akhirnya mereka selamat dari kejaran pasukan Firaun.

Ayatullah Khamenei menegaskan makna pertolongan ilahi dan bagaimana mempertahankan dan mensyukurinya. Menurut Rahbar, Jika AS yang tidak ada apa-apanya, bahkan sepuluh kali lipat dari kekuatan AS sekalipun, tidak akan bisa mengalahkan kekuatan yang ditolong oleh Allah.

Pemimpin besar Revolusi Islam dalam pidatonya menekankan bahwa gerakan Basij sebagai sebuah gerakan yang bertumpu pada pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan horizon yang luas.

Selain itu, Rahbar menegaskan bahwa Basij tidak berpihak pada salah satu faksi politik tertentu, tapi sebuah kekuatan besar yang mengalir menuju terwujudnya tujuan revolusi dan melayani revolusi. Oleh karena itu, setiap faksi atau orang yang berkhidmat terhadap revolusi, maka termasuk kategori Basij.

Di hadapan para komandan dan anggota Basiji yang sebagian besar para pemuda, Rahbar menyerukan pentingnya gerakan pemikiran dalam perjuangan. Menurut Ayatullah Khamenei, sebagaimana dalam perang fisik yang membutuhkan strategi yang kuat, perang lunak juga memerlukan kekuatan pemikiran yang harus terus diasah.

Di penghujung pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung siakap ingkar janji pemerintah AS terhadap komitmennya sendiri berkaitan dengan JCPOA. Terkait hal ini, Rahbar berkata, “Di sini saya perlu sampaikan bahwa [mereka] melakukan berbagai tindakan, berbagai kecurangan, bukan satu atau dua kali saja. Bahkan yang terbaru adalah perpanjangan sanksi sepuluh tahun. Jika sanksi diperpanjang, tentu saja melanggar JCPOA. Dan ketahuilah, Republik Islam pasti akan membalasnya dengan setimpal,”.

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran mengingatkan bahwa kesepakatan nuklir yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) jangan dibiarkan menjadi sebuah alat musuh untuk melakukan tekanan meski sekalipun terhadap bangsa Iran.

Rahbar menegaskan, Republik Islam dengan bersandar pada kekuatan ilahi dan keyakinan terhadap partisipasi rakyatnya tidak akan pernah takut terhadap kekuatan manapun di dunia. Jika orang mengikuti lemahnya spirit Bani Israel dalam menghadapi musuh dari dekat, maka kita akan mengikuti Nabi Musa dengan mengatakan, Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".

Tags

Dec 06, 2016 11:29 Asia/Jakarta
Komentar