Hari ini, Jumat tanggal 17 Maret 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 18 Jumadil Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Isfand 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Baitul Maqdis Dikuasai Pasukan Muslim

 

1381 tahun yang lalu, tanggal 17 Maret tahun 636, menyusul kekalahan tentara Romawi, akhirnya Baitul Maqdis berhasil dikuasai oleh pasukan muslim.

 

Perang pertama kaum Muslimin melawan tentara Roma dimulai pada masa Khalifah Umar Bin Khatab. Saat itu, pasukan Roma mengalami kekalahan dan bagian Palestina selatan direbut kaum Muslimin. Kemudian, imperium Romawi mengirimkan sejumlah besar tentara ke Palestina namun kembali mengalami kekalahan. Bahkan, wilayah Damaskus juga berhasil direbut kaum Muslimin. Sejak itu, Palestina dan Damaskus menjadi bagian dari wilayah imperium Islam.

 

Sejak tahun 1097, kaum Kristen memulai perang Salib dan berusaha merebut Baitul Maqdis. Kota ini berkali-kali berpindah tangan dari kaum Muslim dan kaum Kristen, sampai akhirnya tahun 1250, Salahudin Al-Ayyubi merebut Palestina dan sejak itu terus berada di tangan kaum Muslimin. Pada masa PD I, Palestina dijajah Inggris dan sejak tahun 1948, kawasan ini dijajah oleh Rezim Zionis.

 

Iran Memanfaatkan Telegrap Pertama  Kali

 

159 tahun yang lalu, tanggal 27 Isfand 1236 HS, untuk pertama kalinya Iran menggunakan telegrap.

 

Surat kabar Vaqae Ettefaqie bernomor 372 pada hari itu memberitakan peristiwa penting di Iran. Pada hari ini telegrap berhasil dipasang di madrasah Darul Funoun beserta kabelnya. Setelah itu kabel telegrap dipasang dari istana kerajaan hingga taman Lalehzar dan setelah itu sejumlah daerah lain memiliki sambungan telegrap.

 

Penting untuk diketahui bahwa telegrap yang ada di Iran lebih menguntungkan Inggris, ketimbang rakyat Iran. Karena dengan menyambungkan jalur komunikasi antara India dan Eropa, bukan hanya Inggris dapat dengan mudah memiliki akses ke negara-negara jajahannya, tapi adanya telegrap di Iran dan pengutusan agen-agen Inggris ke negara ini, mereka berusaha memperluas pengaruhnya di Iran.

 

Syeikh Murtadha Anshari Wafat

 

157 tahun yang lalu, tanggal 18 Jumadil Tsani 1281 HQ, Syeikh Murtadha Anshari, seorang ahli fikih, pemikir, dan ulama besar dunia Islam, meninggal dunia di Najaf, Irak dalam usia 67 tahun dan dikuburkan di komplek makam suci Imam Ali as.

 

Syeikh Murtadha Anshari dilahirkan pada 1214 Hq di kota Dezful di selatan Iran dan merupakan keturunan Jabir bin Abdullah al-Anshari, sahabat Rasulullah Saw. Beliau sejak berusia 18 tahun telah pergi ke Karbala untuk menuntur ilmu. Setelah itu beliau pergi ke Najaf al-Asyraf dan belajar kepada Syeikh Musa Kasyif al-Ghitha.

 

Syeikh Anshari sempat kembali ke Iran dan di Kashan belajar kepada Mulla Ahmad Naraqi. Pada usia 35 tahun, beliau pergi lagi ke Najaf dan mulai mengajar dan menulis di sana. Beliau berhasil mendidik ratusan murid mujtahid seperti Mirza Shirazi, Syeikh Ja’far Syustari, Mirza Rashti, Sayid Hossein Kouh Kamareh-i, Akhond Khorasani dan lain-lain.

 

Syaikh Anshari meninggalkan berbagai karya tulis, di antaranya “ar-Rasail” dan “al-Makasib al-Muharramah”.

 

Shah Naseruddin Serahkan SDA Iran Kepada Inggris

 

149 tahun yang lalu, tanggal 18 Jumadil Tsani 1289 HQ, Shah Naserudin dari Dinasti Qajar Iran, menyerahkan hak eksplorasi sumber daya alam Iran kepada Baron Julius Duruitir, seorang tokoh kolonialis Inggris.

 

Hak ini meliputi pengalian bahan tambang, pengambilan hasil hutan, dan pembangunan berbagai fasilitas transportasi dan telekominikasi di seluruh penjuru Iran, seperti rel kereta api, kantor pos, bank, dan saluran telegraf demi kepentingan Inggris.

 

Rakyat Iran dengan dipimpin para ulama menentang pemberian hak istimewa kepada penjajah ini. Shah kemudian membatalkan pemberian hak eksplorasi sumber daya alam ini. Namun, Shah memberikan hak untuk mendirikan Bank Shahanshahi dan hak menerbitkan uang kertas di Iran selama 60 tahun kepada Reuters.

 

Ayatullah Mohammad Mozaffari Qazvini Wafat

 

15 tahun yang lalu, tanggal 27 Isfand 1380 HS, Ayatullah Haj Sheikh Mohammad Mozaffari Qazvini meninggal dunia dalam usia 76 tahun dan dikuburkan di komplek makam Imam Zadeh Hossein, Qazvin.

 

Ayatullah Mohammad Mozaffari Qazvini lahir pada 1304 HS di kota Qazvin. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya dan pada usia 26 tahun pergi ke Qom untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Selama di Qom, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Boroujerdi dan Sayid Shehab ad-Din Marashi Najafi.

 

Setelah mendapatkan sejumlah ijazah dari guru-gurunya, Ayatullah Mozaffari pada 1352 HS kembali ke kota Qazvin dan aktif mengajar dan berdakwah kepada masyarakat. Beliau menjadi ulama rujukan di kota Qazvin dan banyak mendidik murid. Selain itu, beliau juga meninggalkan banyak karya tulis seperti Idhah al-Hujjah sebagai syarah al-Urwah dalam 8 jilid, Filsafat hukum, Islam, Soal dan Jawab dalam 2 jilid, Thabaqat ar-Rijal dalam 16 jilid dan lain-lain.

Mar 17, 2017 10:44 Asia/Jakarta
Komentar