Tausiyah Ramadhan Sebagian besar manusia yang menyimpang dari jalan kebenaran dikarenakan dua alasan, dosa-dosa yang dilakukannya, atau sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya. Keduanya mengakibatkan seseorang tersesat, kecuali cahaya taubat memancar dari hatinya. Alasan mengapa seseorang tidak boleh menunda-nunda taubat dan harus segara meninggalkan dosa, adalah karena kerap kali manusia terjerumus ke lembah dosa yang mustahil ia bisa keluar darinya.

Salah satu berkah spiritual bulan suci Ramadhan adalah kedekatan dan keakraban (Uns) dengan Al Quran terutama di malam-malam Lailatul Qadr, karena di malam-malam itu sangat dianjurkan untuk membaca ayat-ayat Quran dan mendalaminya. Dalam doa hari ke-23 Ramadhan kita berdoa, "Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu surga dan tutuplah bagiku pintu-pintu neraka, dan berilah taufik kepadaku untuk bisa membaca Al Quran yang mendatangkan ketenangan di hati orang-orang Mukmin."

Karena hakikat Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di bulan Ramadhan dan di malam Lailatul Qadr, maka terjalin hubungan spesial antara Al Quran dan Ramadhan, sampai-sampai Ramadhan dijuluki sebagai Musim Semi Al Quran. Artinya, sebagaimana kita saksikan di Musim Semi, alam semesta kembali hidup, para pecinta Al Quran di bulan Ramadhan semakin akrab dengan Al Quran dan dengan membaca, mempelajari dan memahaminya, hati mereka juga kembali hidup.

Di bulan Ramadhan, kita berusaha mewujudkan sifat bersahabat dengan Al Quran dalam diri dan menjalin hubungan erat dengan kitab suci ini. Karena Al Quran adalah kitab sempurna untuk membangun diri manusia dan berisi seluruh program untuk mencapai kebahagiaan. Al Quran adalah firman Tuhan dan mengamalkannya, pasti membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ketika kita mengenal Al Quran dan menyadari keagungan Tuhan yang menurunkannya serta memahami isinya, lalu dengan cinta kita menjalin hubungan pemikiran dan praktik dengannya, maka kita dapat mengaku akrab (Uns) dengan Al Quran.

Uns awalnya berarti menyesuaikan diri dan bersahabat, seperti hubungan seorang anak dengan dada ibunya. Arif sejati adalah orang yang memiliki hubungan akrab dengan Tuhan dan firman-Nya seperti anak kecil tersebut. Makna hakiki "Uns" tidak lain adalah keakraban yang bercampur dengan cinta dan kebergantungan abadi yang menghubungkan dan memperkokoh hubungan seorang manusia dengan yang dicintainya. Keakraban dan keintiman semacam ini dengan Tuhan dan firman-Nya, merupakan ciri khas wali-wali Tuhan.

Di dalam kitab Nahjul Balaghah, banyak diulas tentang pengenalan Al Quran dan menjalankan perintah-perintahnya serta penekanan atasnya. Sebagai contoh, Imam Ali bin Abi Thalib as pada khutbah ke-193 berkata, "Orang-orang yang menjaga diri adalah mereka yang menghitung Al Quran dan membacanya dengan pemahaman, dan ia menjadikannya penyembuh derita diri. Setiap kali ia sampai pada sebuah ayat yang di dalamnya berisi motivasi, maka ia akan memperhatikannya dengan sepenuh hati. Jiwa dan segenap dirinya dipusatkan pada ayat itu dan ia selalu menjadikannya petunjuk, dan setiap kali ia sampai pada sebuah ayat yang mengabarkan ketakutan, maka ia akan membuka hatinya untuk mendengar ayat tersebut."

Hal ini menunjukkan bahwa ayat-ayat Al Quran harus selalu ada di dalam hati setiap Mukmin dan menjadi faktor perubahan pikiran, praktik dan meningkatkan iman. Jika tidak, maka Al Quran bagi kita akan menjadi sebuah kitab yang tidak bermanfaat. Setiap orang bisa memanfaatkan secara benar cahaya Al Quran, ketika ia ingin menjauhkan diri dari dosa dan terhindar dari kebodohan, syirik, kezaliman dan kemunafikan.

Kajian Tafsir

Pada bagian ke-23 ini kami ajak anda untuk membahas tafsir Al Quran, Surat Ar Rum ayat 10 sebagai berikut,

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَن كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّـهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ

"(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Ayat ini menjelaskan bahwa dosa menjauhkan manusia dari Siratal Mustaqim (jalan yang lurus) seperti seorang Muslim yang beriman, tapi karena lalai, ia terjerumus ke dalam dosa dan keluar dari jalan kebenaran. Penyimpangan dari Siratal Mustaqim ini sangat berbahaya. Sekalipun interval penyimpangannya kecil, namun perlahan-lahan akan semakin terbuka dan semakin bergerak maju, maka akan semakin jauh dari Siratal Mustaqim, bahkan sampai pada satu titik pengingkaran atas ayat-ayat Ilahi.

Di dalam riwayat disebutkan, jika seseorang berbuat dosa maka akan muncul noda hitam di hatinya, jika ia bertobat maka noda itu terhapus, tapi jika ia menambah dosanya, noda hitam tersebut semakin pekat di dalam hatinya dan setelah itu ia tidak akan bisa lagi melihat jalan keselamatan.

Tidak sedikit orang yang awalnya berada di jalan kebenaran, tapi perlahan-lahan bergerak ke arah kebatilan. Sebagaimana yang disampaikan Imam Ali as tentang sebilah pedang, "Pedang ini di masa perang kerap menghapus debu permusuhan dari wajah Rasulullah Saw. Pedang ini juga adalah pedang yang digunakan untuk menyerang Ali bin Abi Thalib, Khalifah Muslimin."

Pelajaran penting lain yang dapat kita ambil dari ayat di atas adalah ketika Tuhan berfirman, akibat bagi orang-orang yang menggunakan cara yang buruk dan tidak benar untuk mencapai tujuannya adalah akibat paling buruk. Jika kita memahami dengan benar hal ini, maka kita akan berpikir ulang dalam memahami makna cerdik. Apakah cerdik itu adalah seseorang yang memakan hak orang lain, atau seseorang yang bersedia mengorbankan haknya supaya ia tidak melanggar hak orang lain ?

Mengejek orang lain adalah karakter orang kafir dan orang-orang yang mengingkari para nabi. Oleh karena itu setiap Muslim harus memperhatikan, jika tidak mempercayai sesuatu hal, maka jangan mengejeknya, tapi mencari jawaban yang rasional dan argumentatif. Jika mengakui hal itu benar, maka terimalah, jika tidak tolaklah dengan bahasa dan diksi yang tepat.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Selama berjam-jam tidak makan dan minum di bulan Ramadhan, akan menimbulkan bau mulut. Masalah ini dianggap cukup mengganggu interaksi sosial seseorang yang berpuasa. Rasulullah Saw bersabda, "Bau mulut orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, di sisi Tuhan lebih harum dari bau kesturi."

Beberapa jenis makanan dapat mencegah bau mulut selama berpuasa. Dr. Hairian, dokter gigi Iran menyebut alasan bau mulut adalah sisa-sisa makanan yang ada di sela-sela gigi, merokok, mengkonsumsi beberapa jenis obat dan sejumlah bahan makanan seperti susu.

Ia menuturkan, bau yang keluar dari perut yang lapar merupakan salah satu alasan bau mulut, oleh karena itu ketika kita tidak makan dan minum dalam waktu yang panjang, kadar air dalam tubuh kita berkurang dan produksi air liur dalam mulut kita menurun, sehingga menimbulkan bau mulut. Sebab lain bau mulut karena kita berhenti mengunyah makanan selama puasa. Mengunyah makanan menciptakan kontak antara bahan makanan dengan gigi dan gusi, hal ini mengikis lapisan mikroba di atas gigi dan menghilangkan bau mulut.  

Untuk menghilangkah bau mulut selama puasa, katanya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencegah kerusakan gigi, setelah itu upayakan agar sisa makanan tidak tinggal di sela-sela gigi dan menggosok bagian belakang lidah.

Seorang pakar gizi Iran mengatakan, mengkonsumsi ekstrak daun mint sebelum tidur dan setelah makan sahur, dapat menyembuhkan masalah pencernaan yang ditimbulkan oleh fermentasi bahan makanan dan menyebabkan bau mulut. Lebih dari itu, mengkonsumsi mint, bisa mengobati berbagai masalah pencernaan lain seperti radang usus.  

Mengkonsumsi minuman dan buah segar antara waktu berbuka dan sahur, menghindari penggunaan bumbu yang banyak, mengurangi konsumsi makanan berlemak, kopi, minuman soda, bawang dan rokok selama puasa dapat membantu mencegah kekeringan mulut secara signifikan dan mengurangi bau mulut.

Jun 18, 2017 09:37 Asia/Jakarta
Komentar