Tausiyah Ramadhan Pada bagian ke-26 ini kami akan mengajak anda membahas sekilas tentang kehidupan Luqman Hakim yang namanya diabadikan di salah satu surat Al Quran. Luqman adalah seorang budak hitam yang lahir di Sudan. Ia dikenal memiliki hati yang bersih, pemikiran yang terang dan iman yang kuat. Di masa mudanya, Luqman adalah seorang budak, namun ia dikenal luas di tengah masyarakat karena kejeniusan dan hikmahnya.

Luqman hidup semasa dengan Nabi Daud as. Ia sangat mencintai Tuhan, sebaliknya Tuhanpun sangat mencintainya. Oleh karena itu Tuhan menganugerahinya hikmah. Luqman tidak pernah mengkhianati amanah Tuhan dan tidak menggunakan mulutnya untuk berkata-kata buruk. Kebanyakan waktunya digunakan untuk berdiam diri dan merenungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Ia tidak pernah sombong karena kesuksesan dan tidak pernah bersedih karena kegagalannya. Luqman berkawan dengan banyak ulama dan ahli fikih sehingga ia mencapai derajat kebijaksanaan dan hikmah yang sedemikian tinggi. Ketika tuannya mengetahui itu, ia langsung membebaskan Luqman. Tuannya berkata, Luqman bukan seorang budak, ia adalah seorang pemuda bebas dan bijak.  

Di dalam sejarah tercatat, setelah Luqman memperoleh kemasyhuran, suatu hari dalam sebuah peristiwa ia ditawan segerombolan perampok dan dibawa ke sebuah kota. Di kota itu tidak ada seorangpun yang mengenal Luqman, namun berita tentangnya sudah sampai ke telinga warga kota itu. Seperti para tawanan lainnya, Luqman kemudian dijual kepada salah satu orang kaya kota. Setelah membeli Luqman, orang kaya itu menyuruh Luqman melakukan pekerjaan-pekerjaan berat.

Meski diperintah melakukan pekerjaan berat, Luqman tidak pernah menyangkalnya, bahkan ia bekerja lebih baik di banding yang lain. Orang kaya itu akhirnya sedikit demi sedikit mulai menyadari kerja keras dan kelembutan hati Luqman, sehingga di matanya Luqman menjadi terpandang, tapi tetap tidak mengenalnya.  Suatu hari beberapa tetangga Luqman datang ke kota itu dan mereka mengenali Luqman. Kepada orang kaya yang menjadi tuan Luqman, mereka memberitahukan bahwa budaknya itu adalah seorang yang bijaksana.

Orang kaya itu akhirnya mengetahui identitas Luqman dan malu. Ia meminta maaf kepada Luqman dan memberikan harta yang banyak kepadanya, lalu membebaskannya. Ia berkata, mengapa engkau tidak memberitahuku siapa dirimu sebenarnya sejak awal ? Luqman menjawab, karena aku tahu pada saatnya nilai diriku akan diketahui.

Jika pekerjaanku berat, itu akan membuatku semakin memahami nilai kesehatan dan di kotaku aku akan memperlakukan bawahanku lebih baik dan menolong fakir miskin. Saya menanggung semua kesulitan, tapi saya mendapatkan pelajaran. Saya dibawa ke kota anda dan tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, tapi sekarang saya punya beberapa teman disini yang menganggap saya orang baik. Jika sejak awal saya memberitahukan kepada anda siapa sebenarnya diri saya, maka semua manfaat ini tidak akan pernah ada. Saya bersyukur kepada Tuhan dan akan kembali ke kota saya dengan rasa bangga.

Orang kaya itu berkata, luar biasa, karena anda memiliki hati yang terang, seterang matahari maka kata-kata anda seperti kata-kata para nabi dan orang-orang terpilih. Dalam salah satu nasihat kepada putranya, Luqman berkata, putraku, dunia adalah sebuah lautan yang banyak orang tewas tenggelam di dalamnya. Karena itu, engkau harus membuat kapalmu sendiri dari iman dan layarnya dari tawakal, dan engkau harus menyimpan bekalmu yaitu ketakwaan pada Tuhan, di kapal itu. Jika engkau selamat dari lautan ini, maka itu adalah berkat rahmat Tuhan, dan jika engkau tenggelam, itu karena dosa-dosamu sendiri.

Kajian Tafsir

Pada kajian tafsir kali ini, kami mengajak anda untuk menyimak pelajaran tafsir ayat ke-4 Surat Al Fath sebagai berikut,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّـهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Ayat ini menyinggung tentang ketenangan batin yang Tuhan berikan kepada hati-hati orang beriman, sehingga keimanan mereka bertambah. Sakinah berarti ketenangan batin yang menyingkirkan seluruh keraguan dan ketakuan dari hati manusia dan meneguhkannya di tengah terpaan gelombang peristiwa dunia. Dalam bahasa Al Quran, sakinah adalah kondisi Ilahi dan bentuk khusus dari ketenangan yang hanya muncul di hati-hati yang bersih. Sakinah menyebabkan kokohnya keimanan dan meningkatkan ketakwaan. Kondisi ini hanya milik orang-orang khusus yang mencapai derajat iman tertentu.

Dalam perjanjian damai Hudaibiyah (tahun keenam Hijriah) Muslimin bergerak ke arah Mekah untuk berziarah tanpa membawa senjata. Di sebuah wilayah yang bernama Hudaibiyah, Nabi Muhammad Saw menerima kabar bahwa kaum Quraisy sudah mengumpulkan banyak orang dan bersumpah akan menghadang Muslimin yang akan masuk ke Mekah. Melihat sikap kaum Quraisy yang berusaha menghalangi masuknya Muslimin ke Mekah dan keinginan mereka untuk berperang, Rasulullah Saw mengusulkan perjanjian damai.

Sebagian pengikut Rasulullah Saw yang merasa berputus asa untuk berziarah ke Mekah, tiba-tiba merasa jiwanya terancam, bahkan sampai meragukan kebenaran janji-janji Nabi Muhammad Saw. Dalam kondisi seperti itu, untuk menciptakan persatuan di tengah Muslimin dan memperkuat semangat mereka, Rasulullah Saw memerintahkan semua untuk berbaiat di bawah sebuah pohon.

Mukminin mentaati perintah Rasulullah Saw ini, saat itu pula Tuhan menurunkan ketenangan di hati mereka sehingga iman mereka bertambah dan semakin sempurna, karena langit, bumi dan segala sesuatu yang ada di antaranya adalah milik Tuhan. Artinya, seluruh sebab yang bekerja di alam ini berada di bawah kendali Tuhan dan merupakan perantara antara Tuhan dan makhluk-Nya, serta mentaati perintah-Nya. Tuhan bisa menciptakan ketenangan batin di hati orang-orang Mukmin dan menambah keimanan mereka.

Khwaja Abdullah Ansari terkait ayat ini mengatakan, sakinah adalah sebuah ketenangan batin yang Allah Swt turunkan kepada hati para kekasih-Nya dan itu dalam dua bentuk, pertama dalam pelayanan dan kedua dalam keyakinan. Tanda-tanda seseorang telah sampai pada sakinah dan ketenangan batin, ia menjadi seorang yang murah hati dan pemaaf.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Selama bulan suci Ramadhan salah satu tradisi baik yang sering dilakukan adalah makan bersama dengan keluarga. Secara fisiologis, makan bersama keluarga termasuk kebiasaan yang sangat penting. Orang-orang yang makan sendiri, selera makannya cenderung rendah. Mereka makan dengan cepat untuk segera melanjutkan pekerjaan. Tapi kebiasaan ini justru menurunkan hasil kerja mereka, karena kelelahan tidak hilang dari dirinya dan mereka tidak menikmati makanannya.

Sementara makan bersama dapat menambah selera makan dan hormon serta enzim dalam mulut menyebabkan makanan dicerna dan diserap lebih baik. Para peneliti di Universitas McGill, Kanada dalam salah satu risetnya menunjukkan bahwa kesehatan para remaja yang secara teratur makan malam bersama keluarga, lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. Waktu-waktu makan bersama keluarga adalah indikator terpercaya untuk mengukur intensitas interaksi sosial di tengah keluarga.

Rasulullah Saw bersabda, duduknya seorang pria di tengah keluarganya, lebih disenangi Tuhan dari i'tikaf di masjidku. Ketika kita makan bersama dan duduk di meja makan, kita akan mengunyah makanan lebih lambat. Hal ini jika dilakukan secara seimbang dan jumlah makanan yang kita makan terkontrol, akan menyebabkan kita kenyang secara sempurna. Bahkan bisa menghilangkan kelelahan dan kita bisa bekerja dengan energi yang lebih besar.

Tags

Jun 21, 2017 10:13 Asia/Jakarta
Komentar