Tausiyah Ramadhan Betapa indah jika aktivitas makan dan minum dilakukan dengan aturan sehingga semua yang masuk ke mulut kita dapat terkontrol. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah mengontrol apa yang keluar dari mulut kita yaitu kata-kata. Jika kita berhasil melakukan keduanya dengan baik, berarti kita telah melakukan lompatan besar dalam penghambaan kepada Tuhan.

Pada bagian ke-29 ini kami mengajak anda untuk menyimak cerita singkat tentang "bahaya lisan" sebagai berikut, dikisahkan ada seorang pembantu bekerja kepada seorang tuan. Suatu hari sang tuan berkata kepada pembantunya, hari ini potonglah seekor kambing dan bawakan untukku bagian terbaik dari kambing tersebut.

Pembantu itu kemudian menyembelih seekor kambing dan menyerahkan lidah kambing kepada tuannya. Si tuan berkata, apakah tidak ada bagian tubuh kambing yang lebih baik dari ini ? Pembantu menjawab, tidak. Hari berikutnya kembali si tuan meminta pembantunya memotong seekor kambing dan membawakan bagian tubuhnya yang paling buruk.

Pembantu itu lalu memotong seekor kambing dan kembali membawakan lidah. Tuannya bertanya, saat aku meminta dibawakan bagian terbaik dari tubuh kambing, engkau membawakan aku lidah. Sekarang aku meminta dibawakan bagian yang terburuk, engkau juga membawakanku lidah ? Pembantu menjawab, karena lidah ketika bersih, maka tidak akan ada yang lebih bersih darinya, dan ketika kotor maka tidak akan ada yang lebih kotor darinya.

Lidah adalah salah satu bagian tubuh terpenting manusia yang bisa menjadi sumber munculnya banyak dosa. Oleh karena itu untuk mengendalikannya, pertama kita harus memperbaiki dan melatih diri agar mampu mengontrol anggota badan yang terbilang kecil ini. Dosa-dosa seperti, ghibah, menghina, mencela, berbohong dan menggunjing, semua berasal dari mulut dan merupakan bahaya lisan. Agama mengajarkan agar kata-kata manusia selalu baik dan terpuji sehingga membawa ridha Tuhan.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 83, Allah Swt berfirman, قولوا للنّاس حسناً "…..Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia". Imam Sajjad as mengatakan, kata-kata yang indah menyebabkan turunnya rezeki, membuat seseorang dicintai keluarga, matinya ditunda dan akhirnya bisa membawa orang itu ke surga. Sebaliknya, kata-kata yang sia-sia membuat manusia tergelincir dan menjerumuskannya ke dalam dosa besar.

Di saat mensifati ahli surga, Tuhan menyinggung salah satu ciri utama mereka dan berfirman pada ayat 25-26 Surat Al Waqiah, mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.

Kajian Tafsir

Pada kajian tafsir hari ini, kami akan mengulas tentang pembahasan tafsir ayat ke-2 Surat Al Jumu'ah sebagai berikut,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata".

Pada ayat ini dijelaskan tiga tugas Nabi Muhammad Saw, pertama, membacakan ayat-ayat Tuhan untuk masyarakat dan mengenalkan mereka dengan ayat-ayat ini, kedua, penyucian jiwa dan penyampaian seputar akhlak dan rasa kemanusiaan, dan ketiga adalah pendidikan, yaitu memasukkan semua ini ke dalam jiwa manusia.

Karena sebagian orang begitu jauh dari hakikat kemanusiaan dan tidak mudah mendidiknya, maka pertama, untuk beberapa lama telinga mereka harus dikenalkan dengan firman Tuhan. Lalu masuk ke tahap berikutnya, mensucikan jiwa dan mengajarkan kitab dan hikmah. Oleh karena itu, Tuhan berfirman, Dia adalah Tuhan yang mengirim seorang Rasul ke tengah masyarakat buta huruf Arab dari jenis mereka sendiri untuk membacakan ayat-ayat kitab Tuhan dan membimbing mereka ke jalan kebahagiaan. Sehingga diri mereka dihiasi akhlak mulia dan amal saleh, serta meraih kesempurnaan dan kebahagiaan, juga terbebas dari syirik dan berpegang pada Tauhid.   

Kata Tazkiah berasal dari kata Zaki yang bermakna kesucian. Asas dari tazkiah adalah memperkuat tekad dan memperkokoh kebebasan manusia dari cengkeraman hawa nafsu. Maksud dari tazkiah adalah mensucikan diri manusia dari kekotoran yang ditimbulkan oleh syirik dan keyakinan yang batil serta menyimpang, dan sifat-sifat hewani.

Karena selama diri manusia belum bersih dari kekotoran-kekotoran itu, tidak mungkin ia siap menerima ajaran-ajaran Ilahi, hikmah dan pengetahuan. Sebagaimana juga jika kita tidak menghapus gambar-gambar buruk, maka selamanya kita tidak akan bisa melukis gambar-gambar indah. Karenanya, tazkiah di ayat ini lebih didahulukan dari pengajaran kitab dan hikmah, yaitu pengajaran nilai-nilai luhur Islam.

Hubungan antara tazkiah dan pengajaran tentang kesucian serta keselamatan, layaknya hubungan sebuah mesin dengan mobil, atau bahan bakarnya. Poin penting ayat ini adalah ketika disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw diangkat dari kaum yang buta huruf itu sendiri, hal ini menyebabkan keagungan pengutusannya tampak jelas bagi semua orang.

Sebuah kitab seperti Al Quran yang mengandung isi yang dalam dan luhur, mustahil merupakan ciptaan manusia. Terlebih seorang manusia yang tidak pernah belajar secara formal dan tidak dibesarkan di lingkungan yang akrab dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah sebuah cahaya yang muncul dari tengah kegelapan dan ini adalah mukjizat nyata serta bukti yang jelas tentang kebenaran Rasulullah Saw.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Setiap orang memiliki tingkat daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Mungkin anda salah satu yang tidak mengalami masalah di hari-hari pertama berpuasa di bulan Ramadhan, tapi ketika tiba di penghujung bulan suci ini, anda sulit melanjutkan puasa. Jika hal ini terjadi, mungkin anda mengalami masalah yang ditimbulkan dari menu makanan yang anda konsumsi dan kurangnya vitamin. Untuk mencegah masalah ini, tidak ada salahnya anda mengkonsumsi suplemen selama hari-hari berpuasa di bulan Ramadhan.

Terkadang di pekan terakhir Ramadhan, sebagian orang mengalami lemah tubuh dan terkena flu. Masalah ini bersumber dari melemahnya sistem kekebalan tubuh karena kurang vitamin, seperti vitamin C dan mineral dalam tubuh. Sebagian orang juga tergesa-gesa saat sahur dan memakan makanan sedikit, dan tidak memperhatikan sempurnanya menu makanan mereka.

Pakar gizi mengatakan, orang-orang semacam ini perlu mengkonsumsi multivitamin saat sahur dan berbuka. Tapi multivitamin itu harus berkualitas baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin. Cukup dengan memakan satu atau dua butir multivitamin, seseorang bisa memenuhi kebutuhan vitamin tubuhnya selama Ramadhan.

Akan tetapi berlebihan mengkonsumsi multivitamin juga membahayakan tubuh, karena vitamin yang larut dalam lemak, tidak mudah hilang dan mungkin saja jika vitamin itu dikonsumsi dalam jumlah banyak, akan menyebabkan seseorang pusing, mual dan panglihatannya kabur. Mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama, bisa berpengaruh pada ginjal. Hal terbaik yang harus dilakukan adalah mengkonsumsi multivitamin dan suplemen atas konsultasi pakar gizi dan dokter spesialis sehingga terhindar dari efek samping tersebut.

Kekurangan vitamin B dalam tubuh terutama saat mendekati waktu berbuka bisa menyebabkan seseorang pusing dan sakit kepala. Oleh karena itu dianjurkan untuk mengkonsumsi sumber-sumber makanan yang mengandung vitamin B secara tepat di saat sahur dan berbuka. Saat berpuasa, kita mengalami kekurangan energi. Vitamin B karena berperan dalam metabolisme karbohidrat dan lemak, serta membebaskan energi dalam tubuh, bisa memenuhi kebutuhan energi orang yang berpuasa.

Jun 24, 2017 12:08 Asia/Jakarta
Komentar