Tausiyah Ramadhan Menjelang tibanya hari raya Idul Fitri, dari kedalaman hati, dengan ikhlas kita doakan saudara-saudara Muslim kita yang saat ini berada di tengah bencana peperangan dan fitnah di seluruh penjuru dunia. Kita sampaikan solidaritas dan kesiapan kita untuk membantu mereka yang tertindas. Kita memohon kepada Tuhan agar kedamaian dan ketenteraman kembali pulih di negara mereka dan masa depan yang indah menyambut umat Islam dimanapun berada.

Hari dan malam-malam bulan suci Ramadhan satu persatu sudah kita lewati. Sekarang kita sampai pada hari terakhir dan beberapa jam ke depan, bulan suci ini akan mengucapkan salam perpisahan kepada kita. Bulan Ramadhan yang menghubungkan penduduk bumi ke langit dengan doa dan tobat, sekarang hendak bergegas pergi.

Sudah tiba waktunya untuk berpisah dengan jamuan Tuhan yang selama 30 hari penuh menghiasi hari-hari kita dengan wewangian maknawi, sehingga kita selalu merindukan tibanya kembali bulan suci ini. Kita tidak pernah tahu apakah tahun depan masih diberi kesempatan untuk bisa kembali menikmati saat-saat indah seperti ini atau tidak.

Bulan Ramadhan menyadarkan kita bahwa kita sangat membutuhkan keberadaan momen-momen spiritual semacam ini dalam kehidupan. Bulan Ramadhan adalah peringatan yang diberikan kepada kita untuk lebih memperhatikan nilai-nilai akhlak dan spiritualitas. Dengan Ramadhan kita jadi paham, hidup di bawah naungan iman, spiritualitas dan terhubung dengan Tuhan, begitu manis.

Di madrasah Ramadhan, kita disadarkan untuk melihat kembali perilaku baik dan buruk kita. Melakukan perbuatan baik, melaksanakan shalat, berdoa, berinfak, menghiasi diri dengan sifat terpuji dan menjauhi sifat buruk, masing-masing adalah perantara bagi kita untuk mendekati Tuhan. Semua perilaku itu dilatih selama bulan Ramadhan. Hal terpenting adalah, sejauh mana kita bisa mempertahankan prestasi-prestasi positif yang berhasil dicapai di bulan ini, sepanjang kehidupan kita.

Sungguh disayangkan, di bulan Ramadhan tahun ini sebagian Muslimin dunia harus mengalami peristiwa-peristiwa pahit dan menyedihkan. Umat Islam dunia menyambut Idul Fitri di saat rakyat Afghanistan terus menghadapi serangan-serangan mengerikan teroris. Muslim Syiah Arab Saudi di Qatif terus menjadi korban kekerasan penguasa negara itu.

Rakyat tertindas Yaman berada di bawah amukan bom dan rudal rezim Al Saud. Muslimin Irak dan Suriah mempertaruhkan nyawa membela tanah air untuk mengusir sisa-sisa teroris Daesh. Palestina dan Bahrain terus kehilangan tunas-tunas mudanya dalam membela tanah air dan memperjuangan cita-citanya.

Di akhir bulan Ramadhan ini, kami mengutip salah satu penggalan doa indah Imam Sajjad as dengan harapan mendapat ampunan dari Allah Swt, sebagai berikut, kami ucapkan perpisahan dengan Ramadhan, perpisahan yang besar dan sulit dan kepergiannya membuat kami sedih. Salam untukmu wahai bulan teragung Tuhan, salam untukmu wahai sahabat yang hati-hati kami penuh kasih dan lembut di sisimu dan dosa-dosa kami dikurangi karenamu.

Salam untukmu wahai waktu-waktu paling berharga yang menemani dan membantu kami. Salam untukmu wahai yang masuk kepada kami dengan kebaikan dan berkah. Ya Allah sampaikanlah umur kami ke Ramadhan berikutnya dan cukupkanlah waktu kami ke bulan suci itu. Bantulah kami agar bisa melakukan ibadah kepada-Mu.

Kajian Tafsir

Pada pertemuan terakhir ini, kami mengajak anda untuk membahas tafsir ayat 25-30 Surat Al Fajr sebagai berikut,

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ ﴿٢٥﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ ﴿٢٦﴾ يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

"Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku."

Ayat-ayat ini dimulai dengan menyinggung kata "nafsul mutmainah". Nafsul Mutmainah adalah jiwa yang mencapai ketenangan karena kecintaan dan mengingat Tuhan dan ridha atas apa yang dikehendaki Tuhan baginya. Pemilik jiwa yang tenang ini menganggap dirinya sebagai seorang hamba yang tidak punya kuasa apapun terhadap dirinya sendiri dan memperlakukan dunia beserta seluruh isinya sebagai mukadimah untuk akhirat.

Pada akhirnya tidak ada satupun kenikmatan dunia yang bisa menyeretnya kepada kekufuran, begitu juga tidak ada satupun kefakiran dan kemiskinan yang bisa membuatnya menjadi orang tidak besyukur dan kufur. Dalam kondisi apapun ia selalu menyembah Tuhan dan tetap melangkah di jalan yang lurus.

Di sini Tuhan mengajak mereka secara langsung untuk kembali kepada-Nya. Sebuah seruan yang bercampur dengan keridhaan dari dua pihak yang tampak dalam firman Tuhan, wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan diridhai-Nya.

Disebut radhiah karena ia menganggap seluruh janji Tuhan untuk memberi pahala kepadanya, sebagai kenyataan bukan hanya sekedar bayangan. Begitu banyak rahmat Tuhan tercurah kepadanya sehingga keridhaannya bercampur dengan kegembiraan. Sementara istilah mardhiah digunakan untuk mensifatinya, karena ia diterima dan diridhai oleh Sang Kekasih.

Hamba semacam ini dengan seluruh sifat dan keberhasilannya, mencapai derajat keridhaan dan kepasrahan total, memahami hakikat penghambaan sepenuhnya dan berada di jajaran hamba-hamba khusus Tuhan dan pasti mendapatkan surga. Tuhan menyampaikan penghormatan kepada hamba itu dengan berfirman, sekarang setelah engkau mencapai kondisi ridha dan kembali kepada-Ku, maka masuklah ke surga-Ku bersama golongan hamba-hamba-Ku.

Kata Ibadi atau hamba-Ku sedemikian tinggi dan agung, sampai-sampai seorang hambar bersedia mengorbankan nyawanya agar dipanggil dengan sebutan ini. Begitu juga kata jannati atau surga-Ku, adalah ungkapan yang setiap hamba berharap untuk tenggelam dalam suka cita dan kebahagiaan di dalamnya.

Khwaja Abdullah Ansari terkait ayat yang menyinggung Nafsul Mutmainah ini mengatakan, berbahagialah di hari ketika sangkar terbuka dan penyanderaan ini berakhir. Hari ketika jalan ahli bumi dipisahkan dari jalan orang-orang yang dekat kepada Tuhan dan setan berbaju manusia diusir. Hari ketika wajah penuh wibawa menunjukkan keindahannya dan musuh terpisah dari sahabat.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Setelah beribadah selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan, Muslimin dunia sampai di hari raya Idul Fitri. Semua orang bersiap merayakan hari berbahagia ini dan menerima tamu di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya menyiapkan beraneka ragam jenis kue. Tradisi ini hampir terjadi di semua negara Muslim. Di hari raya Idul Fitri, setelah melaksanakan shalat ied, masyarakat Muslim melakukan silaturahmi dengan saling mengunjungi rumah orang tua, famili dan sahabat.

Salah satu jenis makanan yang sering dihidangkan pada hari raya Idul Fitri adalah kue manis. Akan tetapi mengkonsumsi terlalu banyak kue manis dapat mengganggu kesehatan. Salah satu gangguan terbesar terlalu banyak memakan kue manis adalah naiknya tekanan darah dan lemak jahat di dalam darah, sehingga pada akhirnya mengganggu kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Kegemukan dan efek samping yang ditimbulkannya merupakan kerugian lain mengkonsumsi kue manis terlalu banyak. Oleh karena itu lebih baik agar di hari raya Idul Fitri kita tidak terlalu banyak mengkonsumsi kue manis atau berbagai jenis makanan manis lainnya.

Di hari raya Idul Fitri dan hari-hari selanjutnya, juga dianjurkan agar tidak mengkonsumsi kacang-kacangan terlalu banyak, terutama yang asin. Bagi orang-orang yang menderita tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan pembuluh darah, hal itu akan sangat membahayakan. Kacang-kacangan jika dikonsumsi secara seimbang dan rendah garam oleh kaum perempuan, anak-anak dan remaja, dapat memenuhi kebutuhan badan akan zat besi dan magnesium.

Tags

Jun 25, 2017 09:26 Asia/Jakarta
Komentar