Rahbar pada Rabu pagi (18/10/2017) dalam pertemuan dengan ratusan elit muda, menilai para pemuda berprestasi sebagai harapan masa depan cerah bagi Iran.

Menyinggung pemutusan ketergantungan Iran secara penuh dari Amerika Serikat, Rahbar menekankan, musuh dengan memonitor perkembangan dan aktivitas Republik Islam, benar-benar geram dan khawatir atas berubahnya Iran dari sebuah negara dependen dan terbelakang, menjadi negara berpengaruh, bermanfaat, serta memiliki kekuatan politik, pertahanan dan ilmiah.

Rahbar menyinggung permusuhan rezim Amerika Serikat terhadap bangsa Iran sejak awal kemenangan Revolusi Islam dan menambahkan, pada masa-masa itu, masalah energi bukan atau rudal dan pengaruh regional Iran belum mengemuka, akan tetapi AS telah memahami bahwa kemenangan Revolusi Islam akan membuat Iran keluar dari negara yang patuh dan menguntungkan bagi Amerika Serikat.

Rahbar dalam hal ini menyampaikan tujuh pesan penting untuk masyarakat, pejabat serta aktivis politik dan media, tentang kondisi terbaru terkait kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), kekalahan AS di hadapan bangsa Iran, menghindari langkah keliru di hadapan makar dan tipu daya Amerika Serikat, pengokohan elemen kekuatan Iran, ketidakpedulian terhadap dikte musuh, peningkatan kekuatan pertahanan, pembahasan soal perilaku Eropa dan penindaklanjutan serius ekonomi muqawama (resistensi) berserta prinsip-prinsipnya.

Sebelumnya, dalam pidato di kota Mashhad pada tahun baru kalender Persia, Rahbar menyebutkan salah satu tujuan strategis musuh bangsa Iran adalah peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran dan upaya menciptakan keputusasaan di antara masyarakat. Adapun di hadapan para pejabat negara, Rahbar menegaskan, sekarang telah terbentuk front besar musuh yang keji di hadapan pemerintah Islam (Iran) yang tujuan mereka semua adalah kehancuran atau pengeroposan dari dalam Republik Islam.

Bangsa Iran sejak kemenangan Revolusi Islam telah melalui berbagai makar dan ancaman Amerika Serikat. Makar-makar tersebut ditujuan untuk merusak bangsa Iran. Langkah pertama Barat dimulai dengan memberlakukan sanksi Iran pada masa pemerintahan perdana menteri Doktor Mohammad Mosaddeq dan dalam proses kudeta AS-Inggris pada 1953. Tujuan AS dan Inggris waktu itu adalah mencegah proses nasionalisasi minyak Iran.

Nasionalisasi minyak Iran sangat mengkhawatirkan kedua negara tersebut karena akan membatasi intervensi dan pengaruh mereka di Iran serta bertentangan dengan kepentingan imperialisme mereka. Oleh karena itu, Amerika Serikat dan Inggris dalam sebuah makar kolektif berusaha menggunakan sarana sanksi dan tekanan ekonomi terhadap Iran mengingat satu-satunya sumber pendapatan Iran adalah dari penjualan minyak. Mereka berharap proses nasionalisasi Iran dapat dicegah melalui sanksi tersebut.

Oleh sebab itu, Rahbar berulangkali menekankan pentingnya pemanfaatan pengalaman dan pelajaran di masa lalu dalam mewujudkan tujuan ekonomi muqawama serta menggapainya sebagai tujuan strategis dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Jelas bahwa melalui jalur ini akan sulit dan susah, akan tetapi meski dengan segala macam kesulitan itu, telah dicapai berbagai program besar dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi itu masih cukup jauh dari kondisi ideal. Iran selama tiga dekade lalu telah melalui pengalaman perang yang dipaksakan selama delapan tahun, blokade ekonomi, sanksi dan tekanan ekonomi. Sekarang dengan bersandar pada pengalaman tersebut, Iran bergerak di jalan ekonomi muqawama.

Itu merupakan poin penting yang berulangkali ditekankan dalam pidato Rahbar, dan kali ini beliau menekankan pentingnya perenungan dalam masalah faktor utama permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran serta mematahkannya. JCPOA juga pada hakikatnya dijadikan kedok bagi Amerika Serikat untuk menggulirkan politik permusuhannya terhadap Iran.

Akan tetapi bangsa Iran pada praktiknya menunjukkan bahwa jika sebuah bangsa ingin dan bertekad, maka akan mampu mencapai keberhasilan besar tanpa bergantung pada Amerika Serikat atau kekuatan lain di dunia. Dalam hal ini, ekonomi muqawama (resistensi) merupakan salah satu cara yang efektif dengan memfokuskan pada kapasitas dalam negeri yang akan memperkokoh asas ekonomi negara di hadapan sanksi dan krisis.  

Tujuan Amerika Serikat dalam hal ini adalah membuat masyarakat revolusioner Iran dengan cara mengisolasi Iran di tingkat regional maupun global, serta dengan mendiktekan perspektif kepada masyarakat Iran bahwa pemerintah Islam tidak efektif.

Salah satu cara menghadapi ancaman dan mematahkan peran Amerika Serikat adalah mengenal cara dan tipu muslihat musuh, serta memiliki inisiatif langkah dalam memanfaatkan seluruh kapasitas khususnya di sektor ekonomi. Ayatullah Khamenei telah berulang kali mengingatkan makar ekonomi musuh dan tujuan mereka dalam meningkatkan tekanan dan sanksi. Secara spesifik, beliau menekakan urgensi pengokohan infrastruktur ekonomi dan pentingnya perhatian dalam masalah ini serta langkah-langkah nyatanya. Pada prosesnya, Iran berhasil mencapai kemajuan di berbagai bidang ekonomi dan ilmiah. Keberhasilan Iran tidak dapat dicegah meski dibayang-bayangi tekanan dan sanksi.

Namun berbagai peristiwa yang terjadi harus dianalisa secara faktual dan realistis dan makar-makar itu tidak boleh diangap sepele. Tidak diragukan lagi bahwa kelalaian dalam memperkokoh ekonomi akan membuat bangsa dihadapkan pada berbagai kesulitan dan kerumitan. Menurut Rahbar, prioritas pertama dan segera dalam gerakan penting ini adalah masalah ekonomi berdasarkan asas muqawama (resistensi). Karena ekonomi muqawama dapat menciptakan berbagai peluang di hadapan ancaman musuh.

Dari sudut pandang ini, pidato Rahbar sangat penting karena dua poin strategis berikut ini; pertama menunjukkan cara berpikir dan analisa yang benar dan faktual melihat berbagai peristiwa di masa lalu dan masa depan. Sementara kedua, menunjukkan bahwa identifikasi esensi sebenarnya tujuan Amerika Serikat terkait JCPOA dan berbagai ancaman pasca JCPOA.

Perhatian ini menunjukkan bahwa meski muncul berbagia harapan, akan tetapi kekhawatiran yang ada juga jangan sampai diaggap sepele. Ini semua harus dilalui dengan kesadaran dan kewaspadaan. Beliau menegaskan agar jangan sampai kebodohan Presiden Amerika Serikat, membuat kita lengah di hadapan makar dan propaganda, apalagi menganggapnya remeh. Melainkan harus disikapi secara hati-hati, terperinci, waspada dan kesiapan penuh.

Rahbar menyebut Presiden Amerika Serikat dan para pejabat berkuasa di negara itu, sebagai orang-orang yang menderita keterbelakangan otak, karena tidak memahami transformasi Iran dan kawasan. Beliau mengatakan, mereka ingin para pemuda Iran yang mukmin, revolusioner dan maju, untuk kembali hingga 50 tahun ke belakang. Namun jelas bahwa ini tidak akan pernah terjadi, karena keterbelakangan otak karena tidak mampu memahami fakta. Oleh karena itu mereka keliru melangkah dan selalu kalah di hadapan bangsa Iran.

Bangsa Iran dalam empat tahun terakhir telah membuktikan kepada dunia bahwa mereka tidak gentar di hadapan kekuatan adidaya dunia dan bahkan melawan mereka. Meski dihadapkan pada sanksi dan tekanan ekonomi, Iran tetapi tetap mampu menggapai berbagai keberhasilan di berbagai sektor.

Tags

Oct 22, 2017 10:47 Asia/Jakarta
Komentar