Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei bertemu dengan ribuan warga kota Qom pada hari Selasa, 19 Desember 2017, dan memuji gerakan epik, penuh semangat, tepat waktu dan koheren masyarakat, seraya menjelaskan berbagai dimensi dan konspirasi multi-lapis musuh untuk menunggangi tuntutan sah rakyat.

Kunjungan beliau ke kota Qom dilakukan setiap tahun pada peringatan pemberontakan rakyat Qom pada tanggal 9 Dey 1356 HS, yang oleh para analis dinilai sebagai percikan awal revolusi rakyat Iran dan runtuhnya rezim Shah.

Pada 9 Dey, warga kota Qom turun ke jalan-jalan untuk memprotes penerbitan artikel yang menghina di koran "Ettelaat". Meski demonstrasi berlangsung damai, namun aparat keamanan rezim Shah mereaksinya dengan peluru tajam. Penulis artikel tersebut secara eksplisit menilai tidak berjilbab adalah sebuah kebajikan dan menyebut hijab, kuno dan reaksioner seraya menghina Imam Khomeini. Dia juga menilai peringatan 15 Khordad, sebagai sebuah makar penjajahan merah dan hitam.

Dalam demonstrasi tersebut, setidaknya enam warga gugur syahid dan puluhan lainnya terluka. Setelah peristiwa tersebut, dimulailah pemberontakan rakyat di seluruh negeri dan berujung pada kemenangan Revolusi Islam di Iran dalam waktu satu tahun.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menilai Qom sebagai kota pionir dan penuh harapan serta memiliki masyarakat yang progresif dimana selama perjuangan revolusi, khususnya pada tanggal 9 Dey 1356 HS, lebih dahulu bangkit sebelum kota-kota lain dan mempersembahkan para syuhada. Status pionir itu sampai hari ini masih dipertahankan oleh masyarakat kota Qom.

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Seruan bangsa tercinta kita... perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan tidak tunduk di bawah tekanan kekuatan arogan, dan hari ini, telah 40 tahun berlalu sejak revolusi, bangsa kita mengikuti logika yang sama, jalan yang sama, serta tujuan yang sama."

Menyinggung gelombang kerusuhan terbaru di sejumlah kota di Iran, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa kehadiran rakyat yang tepat waktu dan determinan melawan makar yang ingin digulirkan musuh terhadap Republik Islam, menjadi bukti baik dalam hal ini.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Menyinggung pengakuan pejabat AS soal upaya mereka menghancurkan Revolusi Islam dari dalam, Rahbar mengatakan, "Mereka menghabiskan miliaran dolar ... selama bertahun-tahun menciptakan jaringan, melatih antek-antek. Untuk memenuhi pengeluarannya, merujuk pada pemerintah kaya di Teluk Persia untuk mendaur sampah-sampah buron dari Iran, dan memasukkan mereka kembali ke kancah... melalui ribuan jaringan virtual, puluhan saluran televisi ... membombardir bangsa ini dengan kebohongan, fitnah dan isu, dengan harapan mengubah pemikiran masyarakat, khususnya para remaja... namun mereka tidak berhasil, dan dari generasi muda yang sama tampil sosok seperti Syahid Hujaji!”

Syahid Hujaji adalah seorang pemuda Iran berusia 25 tahun yang berada di Suriah untuk bertempur dengan para teroris Takfiri Daesh dan gugur syahid dibunuh para teroris setelah beberapa hari ditawan. Ketegarannya ketika meneguk cawan syahadah telah terukir abadi dalam sejarah.

Ayatullah Khamenei menyebut adanya segitiga aktif yang berkontribusi pada penciptaan gelombang kerusuhan terbaru. Pada puncak segitiga itu terdapat Amerika Serikat dan Zionis yang ingin mengeksploitasi kondisi ekonomi Iran, untuk memulai kerusuhan dari kota-kota kecil hingga ke pusat. Sudut kedua dari segitiga tersebut adalah pembiaya gerakan itu yaitu negara-negara kaya di kawasan Teluk Persia. Sementara sisi ketiganya adalah para pion mereka yang melaksanakan makar tersebut yaitu para anasir Organisasi Munafikin Khalq (MKO).

Media-media kelompok munafik mengakui bahwa mereka berhubungan dengan Amerika dalam menciptakan gelombang kerusuhan itu dan membentuk dua markas komando di sekitar Iran, untuk mengendalikan jejaring sosial dan mengelola kerusuhan oleh Amerika Serikat dan Israel, hingga berujung pada penggulingan pemerintah Republik Islam.

Terkait kemarahan Amerika Serikat terhadap bangsa Muslim dan revolusioner Iran, Rahbar mengatakan, "Amerika geram... karena gerakan besar ini gagal. Sekarang para pejabat Amerika mulai melantur! Presiden AS mengatakan pemerintah Iran takut pada rakyatnya. Tidak! Pemerintah Iran ... diciptakan oleh rakyat ini ... mengapa harus takut? Jika bukan karena rakyat ini, pemerintah pun tidak ada; bahwa selama 40 tahun pemerintahan ini berdiri melawan Anda, juga karena bantuan rakyat ini; adalah rakyat yang membantu pemerintah berdiri melawan Anda. Dia [Presiden AS] berkata bahwa pemerintah Iran takut pada kekuatan Amerika. Jika kami takut pada Anda, bagaimana Anda terusir dari Iran pada dekade 50-an dan mengusir Anda dari kawasan pada dekade 90-an?"

Dia berkata "Rakyat Iran lapar dan membutuhkan makanan," [padahal] menurut statistik mereka sendiri, ada 50 juta orang lapar yang membutuhkan roti, lalu mereka berkata, rakyat Iran [lapar]! Rakyat Iran telah hidup terhormat dan bermartabat, insyaallah, berkat pertolongan Allah swt, setiap hari akan menjadi lebih baik, masalah ekonomi mereka juga akan diatasi."

Menyinggung kekhawatiran Trump pada sikap Iran terhadap para demonstran, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Amerika Serikat, yang membunuh delapan ratus warga sipil dalam setahun, dan Inggris seorang hakimnya memvonis penjara 40 tahun kepada seseorang yang mengangkat batu namun tidak sampai melemparnya... Mereka ini yang mengkhawatirkan jangan sampai pada demonstran Iran tertindas?"

Rahbar pada bagian akhir pidatonya tentang gelombang kerusuhan di Iran mengatakan, "Pertama, wahai para penguasa AS! Kali ini, kepala kalian membentur batu, mungkin kalian mengulanginya, kalian juga akan membentur batu lagi. Kedua, kalian telah merugikan kami dalam beberapa hari ini, mungkin kalian akan merugikan kami di masa mendatang, ketahuilah itu tidak dibiarkan tanpa balasan! Ketiga, baik orang yang memimpin di sana [Trump], juga para pejabat pemerintah [AS] maupun orang-orang sekitarnya harus mengetahui! Pertunjukan sinting ini juga tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Republik Islam teguh pada pilar dan prinsipnya, membelanya, membela rakyatnya, membela kepentingannya, serta tidak akan menyerah pada intimidasi dan sejenisnya!"

Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, pada bagian lain, berbicara kepada pejabat pemerintah dan menjelaskan, "Perhatian terhadap peran musuh jangan sampai membuat kita melupakan kelemahan kita ... Kita harus memecahkan masalah dan kelemahan kita ... Membela hak-hak kaum tertindas dan kalangan lemah bangsa ini adalah kewajiban kita semua."

Beliau juga meminta ketiga lembaga negara untuk fokus pada semua masalah di negara dan mengatasinya. Rahbar meminta semua pejabat negara untuk bersatu dan dalam kondisi ketika musuh mengancam negara, berusaha meningkatkan kekuatan pemerintah Islam di berbagai sektor serta melalui segala kesulitan.

Beliau kembali menekankan pentingnya fokus pada produksi dan lapangan kerja, seraya mengatakan, "Jika kita menginginkan pekerjaan, kita perlu memusatkan perhatian pada masalah produksi dan meningkatkan produksi dalam negeri dengan cara yang benar, dengan kebijakan yang tepat.”

Ayatullah Khamenei menujukan pernyataannya kepada rakyat Iran dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran penuh kesadaran mereka dalam membela pemerintah Islam. Beliau menekankan bahwa opini publik adalah salah satu sarana penting kekuatan nasional seraya menegaskan, hari ini salah satu upaya terpenting musuh untuk mengendalikan opini publik adalah menebar kebohongan, dan rakyat harus dapat membedakan antara kebohongan dan fakta, serta tidak mempercayai dan menyebarkan kebohongan tersebut.

Beliau menambahkan, "Terkadang disebutkan bahwa para pejabat tidak bekerja, tidak ada gunanya berusaha, dan masalah yang ada tidak dapat diatasi; itu tidak benar di mana musuh ingin rakyat mempercayainya, karena sebenarnya masalah itu dapat dipecahkan dan para pejabat tinggi negara sedang berusaha menyelesaikannya siang dan malam."

Rahbar menjelaskan bahwa beliau telah menyampaikan peringatan, kritikan dan bahkan saran kepada para pejabat negara, seraya mengatakan, "Saya dengan tulus meyakini demokrasi religius, kita benar-benar menerima demokrasi religius; kita semua menilainya sebagai pemimpin, kita menganggapnya sebagai penanggungjawab, membantunya adalah tugas kita, dengan semua pemerintah demikian, begitu juga dengan pemerintah petahana."

Di akhir pidatonya, Rahbar mengatakan, "Harapan dan pandangan saya ke masa depan negara ini sangat terang. Saya tahu bahwa Allah Swt telah memutuskan untuk mengangkat bangsa ini hingga ke derajat tertinggi dan ketauhilah bahwa insyaallah berkat Islam, berkat pemerintah Islam, bangsa Iran akan mencapai derajat tertinggi, dan ketahuilah bahwa konspirasi musuh, aksi perusakan musuh, serangan musuh, serta pukulan musuh tidak akan berpengaruh, dan dalam arti kata sebenarnya, musuh tidak akan dapat melakukan apapun."

Tags

Jan 18, 2018 14:10 Asia/Jakarta
Komentar