Pada acara sebelumnya, kita sudah mengupas biografi intelektual Nasir Khusraw, penyair sekaligus filsuf terkemuka Iran abad kelima Hijriah. Beberapa tahun di penghujung akhir hayatnya, ia menuju Yamghan, Badakhsan untuk menyendiri di kaki gunung. Di sana, Nasir Khusraw hidup seorang diri dan terus berkarya dengan menulis buku.

Kebanyakan karyanya ditulis selama lima belas tahun tinggal di pegunungan Badakhsan. Nasir Khusraw meninggalkan karya monumental yang masih bisa kita nikmati hingga kini. Di antara karyanya antara lain: Safar Nameh, Khan Ikhwan, Gashayesh Rahai, Jami al-Hikmatain, Zad a-Musafirin, dan Wajh Din.

Nasir Khusraw adalah seorang lelaki yang menjaga martabat dirinya, bahagia, dan rendah hati. Ia tidak pernah menyerah menghadapi berbagai masalah yang merintangi sepanjang perjalanan hidupnya. Penyair Iran itu juga mengajak masyarakat untuk menyucikan diri, dan menjaga akhlak, serta menjauhi riya dan meninggalkan suap.

Nasir Khusraw berkeyakinan bahwa masyarakat yang terpelihara tidak akan terwujud, kecuali dengan meningkatkan peran agama di dalamnya. Pandangannya mengenai masalah tersebut yang dituangkan dalam berbagai syair disertai dalil ayat suci al-Quran.

al-Quran

Metode Nasir Khusraw ini menjadi contoh nyata dari mazhab  syair yang terkemuka, yang salah satunya adalah "mazhab syair Khorasan". Para penyair seperti Rodaki, Ferdows dan lainnya dikenal sebagai tokoh mazhab Khorasan.Tapi ada perbedaan mendasar antara mereka dengan Nasir Khusraw yang keluar dari kebiasaan umum para penyair.

Nasir Khusraw tidak mengikuti selera bahasa kebanyakan para penyair di zamannya. Namun ia memilih diksi yang filosofis untuk menjelakan pandangannya terhadap sebuah masalah yang ia kemukakan dalam bentuk syair. Tampaknya, ia menggunakan syair sebagai kritik sosial terhadap perkembangan zaman ketika itu, termasuk kritiknya terhadap para ulama di masanya.

Selain itu, Nasir Khusraw menempatkan syair sebagai sarana nasehat kepada masyarakat. Meskipun dalam berbagai karyanya ia mendeskripsikan alam semesta dengan berbagai keindahannya, tapi hal ini dilakukan untuk tujuan lain sebagai nasehat agama, maupun memuliakan ilmu dan akal.

Kasidah yang didendangkan Nasir Khusraw biasanya panjang, kuat dan teratur. Karyanya dengan jelas menunjukkan bahwa dirinya sebagai sosok penyair yang intelek, independen, berpikir bebas dengan berbagai ilham dan imaji puitisnya.

Salah satu yang khas dari karya Nasir Khusraw adalah tidak adanya pujian, kecuali pujian terhadap Tuhan Pencipta alam semesta. Nasir Khusraw juga sangat menjunjung tinggi kemulian Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait dalam syairnya. Ia juga menunjukkan ketidakperduliannya terhadap dunia, terutama harta dan kekuasaan.

Ritme syairnya berkekuatan tinggi, kuat, berat, bertenaga dan agung. Karya-karyanya lahir dari perjalanan hidupnya yang penuh rintangan dan berliku-liku. Nada kasidahnya terkadang diawali dengan deskripsi menawan tentang alam semesta dan mengakhirinya dengan dialog agama dan filsafat dengan diksi kuat dan megah.

Bahasanya bersih dan kuat, serta berpijak dari diksi klasik bahasa Dari yang dipilihnya secara teliti. Kombinasi diksi yang menawan tapi kuat dan pemikiran filosofisnya yang dalam melahirkan bait-bait syair pilihan. Latar sosial ketika puisi-puisi Nasir Khusraw lahir menjelaskan situasi bahasa Farsi yang sedang menghadapi "penyakit keilmuan" pencarian padanan kata yang tepat dari bahasa Arab, termasuk dalam dunia sastra.

bahasa Farsi

Menghadapi situasi dan kondisi demikian, Nasir Khusraw tampil dengan warna puisinya yang khas mengisi kekosongan tersebut. Oleh karena itu, terobosan yang dilakukannya menempatkan karya-karya puisi Nasir Khusraw di jajaran penyair Farsi yang konsisten dengan dengan terma-terma Farsi klasik. Melimpahnya diksi Farsi sebagai padanan terma Arab menjadikan karya-karya Nasir Khusraw sebagai kajian menarik bahkan hingga kini.

Nasir Khusraw mengkritik para raja dan deretan penguasa serta bangsawan yang menindas rakyat. Ia juga mengkritik para fuqaha dan para penjilat yang mengunakan agama untuk meraih harta dan tahta. Ia juga mengungkapkan pandangan mengenai keutamaan ilmu dan akal. Perhatiannya yang besar terhadap masalah keadilan, cinta dan keindahan alam semesta membuat karya-karyanya menjadi perhatian para sastrawan. Mereka menempatkan karya-karya syair Nasir Khusraw sebagai warisan sastra persia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Pandangan dunia Nasir Khusraw mencerminkan rasionalitas yang kuat. Ia menmpatkan akal sebagai sarana mencapai hakikat. Ismailiah menggunakan filsafat Yunani dan metode filsafat dalam perdebatan dengan lawan-lawannya. Dari sisi ini, banyak peneliti menyamakan rasionalitas Ismiliah seperti Mutazilah. Mereka mengkombinasikan agama, logika, keimanan, filsafat dan menarik metode takwil dan penggungkapan batin dari ayat dan riwayat yang dicari kontekstuliasasi di zamannya. Dalam istilah Nasir Khusraw, "hujah yang logis" adalah pengganti klaim yang dipergunakan sebagai dalil.

Pandangan dunia Ismailiah secara umum menjelaskan pemikiran dan spiritual pejuang sekaligus ilmuwan Iran terhadap dinasti Arab. Dan secara khusus mencerminkan perlawanan kalangan intelektual yang membela masyarakat bawah terhadap kelas elit penguasa Turki dan bangsawan Persia.

Ideologi mazhab yang dibarengi filsafat dan irfan serta keyakinan nasionalis Iran telah menjadi gerakan pemikiran besar di kalangan rakyat Iran dalam menghadapi agresi musuh asing yang merongrong kedaulatannya. Gerakan Ismailiah yang berkembang pesat di Iran pada abad ketiga berhasil menarik para ilmuwan dan sastrawan terkemuka seperti Nasir Khusraw dalam gerbongnya. Gerakan tersebut bertumpu pada pemikiran dan perlawanan.

Karya Nasir Khusraw, terutama dalam syairnya menunjukkan bahwa penyair Iran ini sebagai sosok multidimensi. Setelah dikenal sebagi Hujah Khorasan, ia adalah sosok pemikir besar yang menghasilkan karya sastra dari hasil renungan kontemplatifnya yang dalam. Para kritikus sastra berkeyakinan, jika dikaji lebih dalam, maka karya Nasir Khusraw, terutama Divannya, sangat sejalan dengan penelitian ilmiah.

Nasir Khusraw

Tulisan Nasir Khusraw ini menjadi salah satu contoh bagaimana ketelitiannya dalam menjelaskan situasi dan kondisi yang terjadi secara objektif. Dalam bukunya, penyair Iran ini menceritakan kondisi pertanian, produk hasil bumi, bagaimana sistem pengairan, industri, ilmuwan dan pembesar, ketangguhan bangunan dan pengelolaan kota, hubungan antarpengusaha, keyakinan yang dianut masyarakat, peristiwa-peristiwa penting bersejarah dan karakteristik masyarakat Islam ketika itu.

Di buku Safar Nameh, para peneliti bisa menggali informasi penting mengenai berbagai disiplin ilmu mulai dari tata kota hingga fasilitas di dalamnya, keyakinan masyarakat, dan kondisi kota-kota Islam di abad kelima Hijriah.

Rasionalis teologis sangat kental ditemukan dalam pemilihan diksi syairnya. Misalnya, terma batin sejati yang dimaksud oleh Nasir Khusraw adalah batin yang diperoleh melalui jalan takwil dan penafsiran ayat dan hadis serta tamsil angka dan huruf, sebagaimana yang dipahami dalam ajaran Ismailiah. Jelas kiranya, pemahaman tentang batin ini membawa kita untuk merenung memikirkan seluruh makna yang dijelaskannya dalam syair. Inilah mengapa karya-karya Nasir Khusraw dalam bentuk syair sebagai manifestasi akal yang kritis dan revolusioner. Nasir Khusraw sendiri sebagai contoh dari manusia yang berpikir sekaligus mujahid yang berjuang membela keyakinan yang dipegangnya hingga akhir hayat.

Mar 01, 2018 14:59 Asia/Jakarta
Komentar