KTT Bumi digelar di Brazil pada permulaan tahun 1992. Di KTT ini, dibahas isu perusakan lapisan ozon dan perubahan iklim. Pertemuan ini kemudian ditindaklanjuti di sidang Majelis Umum PBB tahun 2000 dan dihasilkan deklarasi milenium. Berdasarkan deklarasi ini, pemimpin 189 negara dunia mengagendakan pencapaian delapan butir deklarasi hingga tahun 2015 dan salah satu butir tersebut adalah menjamin kelestarian lingkungan hidup.

Para kepala negara berkomitmen mengerahkan segenap upayanya untuk melestarikan lingkungan hidup dan mencantumkan prinsip pembangunan berkelanjutan di kebijakan serta agenda kerjanya. Mereka juga berjanji mencegah perusakan sumber alam. Cita-cita ini memiliki tujuan penting, di antaranya menegah musnahnya sumber alam, perhatian terhadap penurunan perikanan, erosi tanah, perubahan iklim dan penurunan gas rumah kaca. Ini merupakan faktor terpenting bagi pembangunan setiap negara dan menjadi tujuan utama yang disepakati para pemimpin dunia.

Dengan tercapainya kesepakatan dan komitmen negara-negara dunia di tahun 2000, bukti yang ada di tahun 2015 menunjukkan bahwa belum tercapai kemajuan yang cukup untuk membalik kerusakan sumber alam dan lingkungan hidup. Berdasarkan laporan yang ada, ragam flora dan fauna masih tetap mengalami kemusnahan dengan cepat. Iklim masih terus berubah dan ancaman seperti kenaikan permukaan laut, bencana kekeringan dan banjir terus mengancam kehidupan manusia.

Turunnya curah hujan memicu bencana kekeringan. Kekeringan di tahun 2014 sampai pada tahap para pengamat memprediksikan selama beberapa tahun kedepan, minimnya air dan persaingan ketat bagi ketahanan pangan dan energi akan membuat para pemimpin negara dunia mengalami kesulitan serius. Selain itu, berbagai negara juga bakal mengalami kendala lain seperti penyebaran wabah menular akibat perubahan iklim dan keterbatasan sumber pangan.

lingkungan hidup

Isu pemanasan global dan perubahan iklim dapat menimbulkan dampak beragam. Fenomena ini termasuk ancaman utama bagi kehidupam manusia dan makhluk lainnya. Pemanasan Global (Global Warming) memberikan dampak atau akibat yang sangat luas dan memengaruhi kehidupan di bumi baik itu hewan, tumbuhan, dan manusia.

Dampak pemanasan global dapat terjadi karena berbagai penyebab-penyebab dari tingkahlaku manusia memanfaatkan segala sumber daya alam, dan tidak mengenal batas serta kesehatan Bumi ini. Pemanasan Global sudah lama dan telah terjadi, dilihat dari gejala-gejala yang ditimbulkan ini dapat dilihat dari berbagai perubahan-perubahan yang tidak biasa, yang sebelumnya telah ketahui. Namun dari Dampak Pemanasan Global hal tersebut menjadi berubah dan sulit diprediksi.

Di antara dampak pemanasan global adalah perubahan iklim. Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya, jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim terbatas hingga regional tertentu atau dapat terjadi di seluruh wilayah Bumi.

Dalam penggunaannya saat ini, khususnya pada kebijakan lingkungan, perubahan iklim merujuk pada perubahan iklim modern. Perubahan ini dapat dikelompokkan sebagai perubahan iklim antropogenik atau lebih umumnya dikenal sebagai pemanasan global atau pemanasan global antropogenik.

Meningkatnya suhu permukaan Bumi dalam kurun waktu satu abad terakhir telah mengubah cuaca dan iklim diberbagai wilayah Bumi, terutama di daerah Kutub Utara. Dampak Pemanasan Global terhadap perubahan iklim adalah sebagai berikut: Gunung-gunung es akan mencair, dan akan lebih sedikit es yang terapung di laut. Di Daerah subtropis, bagian pegunungan yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta salju akan lebih cepat mencair.

Dampak lainnya adalah air tanah akan lebih cepat menguap sehingga beberapa daerah menjadi lebih kering dari pada sebelumnya. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem; terjadi hujan ekstrem atau kekeringan ekstrem di berbagai wilayah . Angin akan bertiup lebih kencang dengan pola berbeda sehingga akan terbentuk angin puting beliung. Curah hujan akan meningkat dan badai akan sering terjadi.

Pemanasan global berdampak pada pertanian. Banyak produk pertanian, terutama di negara berkembang, yang bergantung pada musim dan iklim. Dampak perubahan iklim akibat pemanasan global terhadap ketahanan pangan, antara lain sebagai berikut: Kekeringan di wilayah pertanian yang mengakibatkan tanaman pertanian rusak. Banjir di wilayah pertanian akan merendam tanaman pertanian yang mengakibatkan gagal panen. Kerawanan pangan akan meningkat di wilayah yang rawan bencana kering dan banjir. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan hama dan penyakit yang meningkat populasinya akibat perubahan iklim.

lingkungan hidup

Dampak pemanasan global menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Dampak pemanasan global terhadap kesehatan manusia adalah sebagai berikut:  Meningkatnya kasus alergi dan penyakit pernapasan karena udara yang lebih hangat memperbanyak polutan, seperti spora jamur dan serbuk sari tumbuhan. Meluasnya penyebaran penyakit. Sebagai contoh, DBD dan malaria adalah penyakit tropis yang saat ini telah menyebar ke daerah subtropis. Penyebabnya adalah suhu di udara subtropis yang saat ini menjadi lebih hangat sehingga patogen dapat berkembang biak di daerah subtropis.

Proses seperti ini kian meningkatkan kekhawatiran banyak negara dan organisasi internasional. Ban Ki moon, mantan sekjen PBB di konferensi dunia perubahan iklim yang digelar Oktober 2015 di Tiquipaya, Bolivia mengisyaratkan realita ini dan menandaskan, "Dunia harus segera menemukan solusi untuk melawan dampak perubahan iklim, karena musim hujan dan dingin semakin tidak produktif dan musim kering semakin merebak serta suhu panas di bumi pun semakin tidak dapat ditahan. Perubahan iklim ini merupakan peringatan dari bumi."

Ia kemudian mengingatkan komitmen seluruh negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan menyebut penanggulangan perubahan iklim sangat penting. Menurutnya melestarikan bumi sebagai isu paling penting dewasa ini dan upaya tersebut harus dicantumkan di agenda kerja setiap negara.

Berbangai upaya telah dilakukan untuk menangani isu perubahan iklim. Salah satunya adalah konferensi perubahan iklim Paris. Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2015 , disebut juga dengan COP 21 atau CMP 21, telah diadakan di Paris sejak 30 November sampai 12 Desember 2015. Konferensi ini merupakan konferensi tahunan ke 21 anggota UNFCCC sejak UNFCCC berdiri pada tahun 1992, dan konferensi ke 11 sejak Konferensi Protokol Kyoto 1997.

Konferensi ini menghasilkan Persetujuan Paris yang diadopsi secara aklamasi oleh negara anggota. Persetujuan ini akan mengikat secara hukum jika setidaknya 55 negara yang mewakili 55 persen emisi gas rumah kaca global tahunan meratifikasi Persetujuan Paris atau mendaftarkan diri di New York dari 22 April 2016 hingga 21 April 2017. Diharapkan persetujuan ini dapat berlaku efektif 2020.

Kesepakatan Paris

Harapan utama dari COP21 adalah membatasi pemanasan global hingga maksimum 2 derajat Celcius hingga tahun 2100, meskipun dalam piagam persetujuan Paris tertulis target utamanya adalah maksimum 1.5 derajat Celcius. Berdasarkan analisis pakar, target 1.5 derajat Celcius dapat dicapai jika antara tahun 2030 hingga 2050 tidak ada emisi gas rumah kaca.

Sebelum konferensi dimulai, 146 negara anggota mempresentasikan draf negara masing-masing mengenai kontribusi mereka terhadap iklim. Dari berbagai presentasi, sempat diperkirakan bahwa pembatasan pemanasan global hanya bisa mencapai maksimum 2.7 derajat Celcius pada tahun 2100. Salah satu indikator pesimisme terbesar adalah komitmen Uni Eropa yang hanya menargetkan penurunan emisi hingga 40 persen pada tahun 2030 terhadap emisi 1990.

Meski konferensi perubahan iklim Paris ini mampu menarik opini publik dunia terkait isu lingkungan hidup, namun masih harus dilihat apakah negara-negara industri maju akan bersedia mengabaikan kepentingan pribadinya dan bersedia membantu negara-negara sedang berkembang untuk merealisasikan tujuan dari konferensi ini serta seluruh perjanjian internasional lainnya?

Mereka yang berpikir akan keselamatan dan kesehatan dirinya dan generasi mendatang, memahami bahwa hak untuk memanfaatkan lingkungan bukan hanya hak masyarakat dunia saat ini, tapi juga hak generasi mendatang. Para pendukung HAM juga mengakui hak lingkungan sebagai hak independen dan diakui secara resmi. Hak hidup dengan standar baik juga merupakan kebutuhan manusia saat ini dan juga generasi mendatang.

Mar 18, 2018 15:49 Asia/Jakarta
Komentar