Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi dilahirkan di kota Ghazni tahun 464 Hijriah. Penyair sekaligus arif besar Iran ini wafat pada 11 Saban 525 Hijriah, yang bertepatan dengan 8 Mei 1131 Masehi, di kota yang sama dengan tempat kelahirannya.Ghazni saat itu menjadi bagian dari wilayah Iran, dan kini termasuk kota di Afghanistan.

Para kritikus sastra menilai para penyair yang berhasil adalah mereka yang memasukan warna baru dalam isi dan format syair. Ketika melihat puisi Sanai dan membandingkan dengan karya sejamannya, kita bisa mengetahui bahwa ia satu-satunya orang yang berhasil melakukan terobosan baru dalam struktur tradisional syair Farsi, terutama kasidah dan ghazal. Sanai berhasil memasukan pengalaman asketis dan sebagian besar pemikiran sufistiknya dalam bentuk syair yang menawan.

Sebelum Sanai, penulisan pengalaman sufistik selama abad kedua hingga kelima hijriah (abad kedelapan hingga sebelas masehi) dalam bentuk buku seperti Risalah Qaisariyah dan Ihya Ulumuddin.Tapi, Sanai melakukan terobosan dengan memasukan pengalaman sufistik dalam struktur puisi Farsi.Oleh karena itu, kebanyakan peneliti berkeyakinan bahwa karya Sinai di bidang ini merupakan titik awal sekaligus puncak kesempurnaannya.  

Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi

To ban man va man poyan har ja-ye to ra Joyan

Eiy Sam-e nikuroyan cheh vasal ast in

Dar vasl to aql va jan chun man shodeh sargandan

Eiy wahm ze to heiran akhar che jamal ast in

[daku bersamamu kemana pun kau melangkah

wahai pelita kebaikan yang bergerak, inilah akhir manunggaling

dalam kesatuan aku dan kau, akal dan diriku merana

duhai imaji, apa yang tidak lebih indah dari ini]

Doktor Safeie Kadkani, peneliti sekaligus penyair kontemporer menjelaskan pengaruh Sanai dan kedudukan syairnya dalam sastra sufistik. Ia berkata, “Gerakan sufistik yang dimulai Sanai memasuki syair Farsi dan mempengaruhi terbentuknya ghazal langit Hafez setelah mengalami perubahan dalam bagian isinya. Syair Sanai memadukan dua dimensi yaitu dimensi bumi dan langit. Sisi ilahiyah dan penghambaan dengan penggambaran yang memadukan alam Malik dan Malakut menunjukkan bahwa Sanai adalah penyair paling melangit dalam sejarah syair Farsi.”

Gambaran yang ditampilkan dalam syair  Sanai merupakan pengalaman spiritual seorang sufi sekaligus filsuf asketis. Dalam pandangan sufistik Sanai segala sesuatu di seluruh kehidupan dunia ini bergerak dan dinamis. Tampaknya, untuk mengkaji karakteristik pandangan Sanai perlu membandingkan dengan karya para penyair sebelumnya dan sejaman dengannya.

Doktor Safeie Kadkani dalam bukunya berjudul “Tajianeh-haye Suluk” mengkaji syair dan pemikiran Sanai. Penyair dan peneliti sastra Farsi ini menuturkan, “Atmosfir ghazal sebelum Sanai, bahkan di zamannya senyap, dan tidak ada gerakan dan kehidupan yang bergelora,”.

Sanai memberikan spirit baru dalam ghazal. Ia melakukan terobosan baru dalam ghazal dengan memasukan kekuatan sufistik dan bahasa yang harmonis. Oleh karena itu, bisa dipastikan seluruh buku penyair besar seperti Maulawi dipengaruhi oleh metode Sanai.

Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi

Sejak era Sanai dan generasi selanjutnya, syair bermuatan irfan menjadi muatan paling besar dalam sastra Farsi, bahkan dinobatkan sebagai terobosan Sanai, terutama kasidah dan ghazalnya. Sanai menjelaskan masalah tersebut dalam karyanya, terutama di buku Hadiqah al-Haqiqah. Para kritikus sastra menilai karya Sanai tidak keluar dari pemikiran sufistiknya. Oleh karena itu, warna puisinya bercorak asketis, sufistik, bahkan filosofis.

Sanai merupakan orang yang pertama kali melontarkan pemikiran manusia sempurna atau insan kamil dalam syair Farsi. Dengan menjadikan tiga prinsip yaitu Tuhan, manusia dan alam semesta, Sanai menawarkan pandangan dunia sufistik yang sistematis dalam bentuk kasidah dan ghazal di buku Hadiqah al-Haqiqah. Pandangan dunia ini tampak jelas dan mencapai puncaknya dalam karya Attar dan Maulawi. Setelah Maulawi tidak ada penambahan baru.

Syair Sanai meskipun berwarna sufistik, tapi tidak statis hanya berputar mengenai nasehat agama saja, tapi juga sebagian besar mengenai moralitas dan sosial. Sanai mengkhawatirkan dirinya terjerembab dalam kubangan lumpur dosa sosial yang kotor ketika itu. Karakter kritik sosialnya hidup dan optimistis yang tidak hanya dibatasi sejarah zamannya saja.

In che gharn ast inkeh dar khoband bidaran hameh

Wa in che dur ast inkeh sarmastand hoshyaran hameh

[kapan tiba saatnya orang-orang yang tertidur bangun semua

Lama nian  menanti pemabuk waspada semua]

Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi

Para kritikus sastra menilai syair Sanai kuat dan indah. Selain itu, puisi Sanai bertengger di deretan awal syair sosial-politik berbahasa Farsi. Bahkan karya Sanai menempati posisi penting dalam sejarah sastra klasik Farsi.Meskipun warna syair Sanai bersifat konfrontatif dan agresif, tapi tampil dalam bentuk yang menawan melalui pilihan diksi kuat dan ritmenya yang harmonis dan indah.

Karya puisinya mengkritik keras kehidupan gemerlap istana dan penderitaan yang dirasakan rakyat jelata. Ia juga mendendangkan puisi tentang kehidupan sederhana dan sufistik Nabi Saw dan para maksum serta sahabatnya. Puisi Sanai juga menjelaskan tentang keutamaan mengingat kematian, evaluasi diri, dan kejuhudan serta keutamaan meninggalkan kemilau dunia.

Kecuali Ferdows dan Nasir Khusraw, Sanai adalah penyair pertama yang menempatkan pemikiran sufistik dan filosofis dalam sejarah syair Farsi dan mempengaruhi para penyair setelahnya.

Tags

Apr 06, 2018 14:59 Asia/Jakarta
Komentar