Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi dilahirkan di kota Ghazni tahun 464 Hijriah. Penyair sekaligus arif besar Iran ini wafat pada 11 Saban 525 Hijriah, yang bertepatan dengan 8 Mei 1131 Masehi, di kota yang sama dengan tempat kelahirannya. Ketika itu, Ghazni menjadi bagian dari wilayah Iran, dan kini termasuk kota di Afghanistan.

Hadiqah al-Haqiqah merupakan buku irfan pertama yang ditulis dengan tujuan mengajarkan pembahasan Irfan, agama dan moralitas dalam bentuk bait-bait syair yang menawan. Salah satu prinsip dalam metode pengajaran Sanā'ī, berupa ungkapan cerita dan narasi sejarah maupun perdebatan serta dialog para pemuka agama dan sufi, yang ditampilkan dalam format puisi sufistik. Oleh karena itu, karyanya selalu menjadi inspirasi bagi para penyair setelahnya.

Sejumlah peneliti yang mengkaji berbagai karya Sanai, menilai Hakim Sanai Ghaznavi sebagai penemu metafora puisi Farsi. Metode Sanai dalam mendendangkan tamsil dan hikayat  sufistik dan moral selanjutnya dikembangkan hingga mencapai puncaknya di tangan Attar Nisaburi dan Jalaludin Rumi dengan Matsnawinya.

Dalam pandangan Sanai, hikayat dan tamsil hanya sarana untuk menyampaikan dan menjelaskan masalah irfani dan akhlaki. Tujuannya untuk menarik perhatian dengan cerita yang berisi pelajaran penting dari kacamata sufistik. Untuk itu kebanyakan hikayat berbentuk cerita pendek maupun dialog sederhana.

Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi

Cerita yang dijelaskan dalam kitab Hadiqah al-Haqiqah menggunakan teknik narasi pendek supaya menarik pembaca untuk memahami makna di balik cerita itu sebagai pesan utamanya.Tampaknya, Sanai tidak memandang penting dialog panjang maupun menunda penjelasan faktor penyebab sebuah peristiwa.

Kitab Hadiqah al-Haqiqah terdiri dari dua bagian. Pertama, bagian utama dan non-narasi yang meliputi pembukaan, pujian kepada Tuhan atas karunia-Nya, salam dan salawat kepada Rasulullah Saw, lalu menjelaskan pokok permasalahan dari bab syariah, tarikat dan hakikat. Bagian kedua mengenai narasi dalam bentuk hikayat-hikayat yang mandiri dan terpisah-pisah.

Sanai tidak menggunakan kalimat langsung untuk menciptakan ikatan antara hikayat dan tamsil dengan pembahasan utama karyanya. Ia menyampaikan konsep akhlak dan irfan, kemudian memberikan penjelasan tafsirannya dengan diselingi tamsil dan hikayat. Oleh karena itu, hubungan atara hikayat dan pembahasan utama merupakan hubungan makna dan termasuk jenis kategori tambahan.Dihilangkannya tamsil dan hikayat tidak mengurangi makna dari pesan utama yang ingin disampaikan dalam inti pembahasan.

Seluruh hikayat dalam kitab Hadiqah al-Haqiqah berisi tentang cerita-cerita bijak dalam bentuk kisah sederhana maupun tamsil, atau kehidupan para pemuka agama dan sejarah singkatnya yang mengandung pelajar berharga. Sanai terkadang menjelaskan hikayat dengan intonasi serius, tapi di lain waktu dalam karyanya menggunakan humor untuk menjelaskan masalah agama, irfan dan moralitas.

Secara umum kitab Hadiqah al-Haqiqah terdiri dari empat bagian. Pertama puji dan syukur kepada Allah swt. Kedua menjelaskan tentang sifat-sifat buruk. Ketiga tentang keutamaan akhlak mulia dan sifat-sifatnya. Sedangkan keempat tentang komitmen dan kesetiaan serta pengkhianatan dalam kehidupan sosial. Kritik Sanai terhadap kerusakan moral dalam kehidupan masyarakat disampaikan berbentuk bait-bait syair. Ia menjelaskan kehidupan masyarakat di zamannya dari berbagai sudut pandang.

Sanai menyusun kerangka cerita dengan petikan-petikan peristiwa yang bertumpu pada hubungan sebab dan akibat.Tapi tampaknya, struktur cerita sebagaimana yang dipahami dalam konsep sekarang ini, tidak terlalu diperhatikan secara ketat oleh Sanai, terutama mengenai hikayat dan tamsil parsial dan terpisah yang diceritakan sesuai alur waktu.

Meskipun demikian, kita akan menemukan berbagai terobosannya yang kompleks dalam struktur cerita. Setiap cerita maupun hikayat sesuai dengan struktur narasi yang meliputi tiga bagian yaitu: pengantar, isi cerita, dan penutup atau kesimpulan dari cerita tersebut. Tapi tidak setiap hikayat yang ditampilkan dalam kitab Hadiqah al-Haqiqah memiliki ketiga unsur tersebut, karena pendeknya cerita.

Di kebanyakan hikayat yang dipaparkan dalam kitab Hadiqah al-Haqiqah menjelaskan nama penyair ataupun tokoh agama dengan mengutip dialog dan nama tokohnya, ketika akan memasuki pembahasan sebuah cerita. Di bagian lain, Sanai menjelaskan waktu maupun tempat serta situasi dan kondisi ketika akan memulai memasuki isi cerita dalam bukunya. Sebagai contoh, ketika Sanai bertutur lirih: “Sho-ye khod ra zani bedid dezam” (berjalan seorang wanita murka), atau “Bod dar shahr-e Balkh baghali” (Sebuah toko di kota Balkh).

Di bagian penutup, Sanai menyampaikan jawaban dari sebuah dialog sekaligus pesan irfani maupun petuah moral yang terkandung di dalamnya. Hikayat yang disajikan Sanai berbentuk struktur cerita pendek dan singkat. Dalam beberapa cerita diawali oleh pengantar dan isi pesan dan penutup dalam bentuk syair sekitar tiga bait.

Kuburan Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā'ī Ghaznavi

Misalnya, seseorang bertanya kepada Bahlul, “Apakah engkau ingin aku beri pakaian jenis Yamani?” Bahlul menjawab, “Ya, aku mau, tapi sebagai balasannya aku harus menerima 200 pukulan tongkat. Lalu orang itu kembali bertanya apa penyebabnya. Bahlul menjawab, “Di dunia ini tidak ada yang bisa diraih tanpa kerja keras”.

Tokoh yang disajikan dalam berbagai hikayat oleh Sanai terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Ia tidak memilih jenis kelas masyarakat tertentu saja. Kebanyakan dari mereka adalah tokoh-tokoh anonim yang tidak diketahui latar belakang sebelumnya. Misalnya, Sanai menggunakan nama seorang anak, perempuan, pemuda, orang tua, orang gila, pecinta dan lainnya.

Di bagian lainnya, ia juga menyebut nama-nama tokoh dan raja yang disebutkan peran positifnya. Perhatian Sanai bukan pada tokoh itu, tapi pesan penting dan berharga yang ingin dijelaskan melalui tamsil dan hikayat dalam bukunya. Seluruh tokoh dan figur yang diceritakan oleh Sanai dalam satu bahasa, misalnya tradisi sederhana yang tetap terpelihara dan tidak ada perubahan perilaku di dalamnya.

Pemilihan hikayat yang pendek dan singkat dilakukan Sanai dengan tujuan supaya pesan moral dan irfani yang disampaikannya lebih mudah dipahami.

Kebanyakan hikayat dalam kitab Hadiqah al-Haqiqah menjelaskan dua figur utama yaitu, pahlawan dan musuhnya. Di sisi lain, ia menjelaskan tanggapan seseorang atas sebuah masalah dalam bentuk dialog singkat yang berisi pesan moral, irfani maupun agama.

Tags

Apr 14, 2018 04:51 Asia/Jakarta
Komentar