Perilaku manusia terhadap lingkungan hidup telah dapat dilihat secara nyata sejak manusia belum berperadaban, awal adanya peradaban,dan sampai sekarang pada saat peradaban itu menjadi modern dan semakin canggih setelah didukung oleh ilmu dan teknologi. Ironisnya perilaku manusia terhadap lingkungan hidup tidak semakin arif tetapi sebaliknya.

Kekeringan dan kelaparan berawal dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, penggundulan hutan, erosi tanah yang meluas, dan kurangnya dukungan terhadap bidang pertanian, bencana longsor, banjir, terjadi berbagai ledakan bom, adalah beberapa contoh kelalaian manusia terhadap lingkungan. Sebenarnya kemajuan ilmu dan teknologi diciptakan manusia untuk membantu memecahkan masalah tetapi sebaliknya malapetaka menjadi semakin banyak dan kompleks, oleh karena itu dianjurkan untuk dapat berperilaku menjadi ilmuwan dan alamiah melalui amal yang ilmiah.

Sekecil apapun perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya harus segera diperbuat untuk bumi yang lebih baik, bumi adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga dan diwariskan terhadap anak cucu kita sebagai generasi penerus pembangunan yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. Lingkungan hidup terbagi menjadi tiga yaitu lingkungan alam fisik (tanah,air,udara) dan biologis (tumbuhan - hewan), Lingkungan buatan (sarana prasarana),dan lingkungan manusia (hubungan sesama manusia).

Lingkungan Hidup

Perilaku manusia terhadap lingkungan yang tepat antara lain tidak merusak tanah,tidak menggunakan air secara berlebih,tidak membuang sampah sembarangan.Dalam rangka usaha manusia untuk menjaga lingkungan hidup,telah banyak bermunculan perilaku nyata berupa gerakan-gerakan peduli lingkungan hidup baik bersifat individu,kelompok,swasta,maupun pemerintah. Tapi yang terpenting dari itu semua adalah bentuk konkrit yang harus dilakukan oleh semua pihak dalam berinteraksi dengan lingkungan hidup.

Untuk menyelamatkan lingkungan, banyak upaya yang telah ditempuh manusia. Upaya pelestarian lingkungan ditingkat lokal, nasional, regional dan bahkan internasional sudah tak asing bagi kita. Namun yang paling penting dalam hal ini adalah perbaikan perilaku manusia terhadap lingkungan. Dari sini dibutuhkan sebuah etika dan moral dalam menyikapi lingkungan di sekitar kita.

Etika atau moral secara klasik didefinisikan sebagai hubungan antara dua person atau lebih umum, hubungan antara sesama anggota masyarakat. Namun menurut sejumlah pakar, moral yang mengatur hubungan timbal balik antara manusia dan bumi, antara hewan dan tumbuhan hingga kini belum mendapat perhatian. Menurut mereka sosialisasi etika terhadap hubungan manusia dan lingkungan merupakan peluang revolusi dan urgensitas lingkungan.

Etika merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral. Etika lingkungan hidup dipahami sebagai refleksi kritis atas norma-norma atau nilai moral dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas biotis dan komunitas ekologis.

Etika lingkungan hidup merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan teruwujudnya moral dan upaya untuk mengendalikan alam agar tetap berada pada batas kelestarian. Etika lingkungan hidup juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Dewasa ini, kebutuhan tersebut semakin dirasakan, bahwa kecenderungan manusia terhadap seluruh makhluk hidup harus seimbang dan harus ada perhatian terhadap mekanisme pelestarian populasi non manusia terhadap kerusakan akibat tangan-tangan manusia. Oleh karena itu, dewasa ini etika sebagai sebuah landasan untuk menjawab kekhawatiran manusia terkait lingkungan mendapat perhatian besar.

Lingkungan Hidup

Tak diragukan lagi krisis lingkungan kontemporer lahir dari ideologi materialis, ekspansionis dan hegemonis. Singkatnya, hal ini akibat dilema intelektual dan kebodohan manusia di dunia. Krisis lingkungan juga menunjukkan dengan jelas kekacauan kondisi manusia.

Meski di tahun 1960 ketika krisis lingkungan meletus secara serius, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar beragam konferensi, namun jika peringatan akan kondisi lingkungan hanya dilontarkan di berbagai konferensi, maka upaya mencapai kehidupan yang langgeng tidak akan pernah tercapai. Kesuksesan program pelestarian lingkungan berada di bawah kemampuan dan kreativitas masyarakat di kehidupan mereka.

Oleh karena itu, wacana pertengahan abad ke 20 adalah krisis lingkungan muncul akibat tangan manusia dan tentunya krisis ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan teknologi semata. Tapi harus ada perubahan dalam perilaku manusia. Dengan demikian dibutuhkan ketentuan perilaku dengan didasari etika lingkungan hidup sehingga hubungan antara manusia dan alam dapat dikaji kembali.

Realita ini juga sangat ditekankan oleh Pitirim Sorokin, sosiolog dan filsuf Amerika keturunan Rusia. Terkait kebutuhan masyarakat dunia saat ini terhadap etika lingkunga, Sorokin mengatakan, "Meski ada kemajuan teknologi dan industri, sampai saat ini kita semakin merasa kekurangan moral dan kemanusiaan."

Lingkungan hidup di planet bumi dibagi menjadi tiga kelompok dasar, yaitu lingkungan fisik (physical environment), lingkungan biologis (biological environment) dan lingkungan sosial (social environment). Di zaman modern ini teknologi dianggap mempunyai lingkungannya sendiri yang disebut (teknosfer) yang kemudian dianggap mempunyai peran penting dalam merusak lingkungan fisik.

Untuk mempertahankan eksistensi planet bumi maka manusia memerlukan kekuatan/nilai lain yang disebut ‘etosfer’, yaitu etika atau moral manusia. Etika dan moral bukan ciptaan manusia, sebab ia melekat pada dirinya, menjadi hakikatnya. Sama seperti bumi bukan ciptaan manusia. Ia dikaruniai bumi untuk dikelola dan pengelolaan itu berjalan dengan baik dan bertanggung jawab sebab ia juga dikaruniai etosfer.

Etika adalah hal yang sering dilupakan dalam pembahasan perusakan lingkungan. Pada umumnya pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini cenderung langsung menggunakan fenomena-fenomena yang muncul di permukaan dan kemudian mencari penyebabnya kepada aktivitas yang ada di sekitar fenomena tersebut (misalnya: Logging, Pertambangan, Industri dll) sebagai tersangka dan untuk mendukung kecurigaan tersebut digunakanlah bukti-bukti yang dikatakan ilmiah, walaupun sering terjadi data yang dikemukakan tidak relevan.

Lingkungan Hidup

Pada sisi lain pihak yang dituduh kemudian juga menyodorkan informasi atau data yang bersifat teknis yang menyatakan mereka tidak bersalah, akibatnya konflik yang terjadi semakin panas dan meluas, padahal kalau mereka yang berkonflik memiliki etika yang benar tentang lingkungan hidup maka konflik yang menuju kearah yang meruncing akan dapat dicegah.

Apakah yang menyebabkan etika lingkungan cenderung dilupakan? Pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal yaitu keserakahan yang bersifat ekonomi (materialisme), ketidak tahuan bahwa lingkungan perlu untuk kehidupannya dan kehidupan orang lain serta keselarasan terhadap semua kehidupan dan materi yang ada disekitarnya. Bukankah ini sesuatu yang ironis ?

Lingkungan hidup bukanlah obyek untuk dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, tetapi harus ada suatu kesadaran bahwa antara manusia dan lingkungan terdapat adanya relasi yang kuat dan saling mengikat. Rusaknya lingkungan hidup akan berakibat pada terganggunya kelangsungan hidup manusia. Karena itu setiap kali kita mengeksploitasi sumber daya mineral dari alam yang diciptakan oleh Tuhan, kita harus memperhitungkan dengan seksama manfaat apa yang akan dihasilkannya bagi kemaslahatan manusia. Dengan demikian pemanfaatan ini tetap dalam tujuan transformasi menjadi manusia yang merdeka, cerdas, dan setara satu dan lainnya.

Apr 18, 2018 03:33 Asia/Jakarta
Komentar