Awhad Muhammad bin Ali Anvari Abuvardi termasuk penyair terkemuka Iran abad keenam Hijriah, atau abad kedua belas Masehi. Tahun rinci kelahirannya tidak banyak dibicarakan oleh para sejarawan.Tapi yang jelas, ia hidup di masa dinasti Seljuk di era Sultan Sanjar.

Anvari lahir dari keluarga pecinta sastra dan penyair di zamannya. Masa kecil hingga remaja dilalui dengan menuntut ilmu dasar. Kemudian, ia mempelajari berbagai disiplin ilmu dari musik sampai astronomi, hingga disebut sebagai hakim. Dengan bekal pendidikan yang tinggi dan dukungan keluarganya, ia menjadi penyair istana sesuai dengan minatnya di bidang itu.

 

Anvari termasuk ilmuwan terkemuka di zamannya. Syairnya dipenuhi berbagai pengetahuan yang telah ia peroleh di berbagai bidang seperti logika, musik, astronomi, matematika dan filsafat. Berbagai sumber menunjukkan pengaruh berbagai ilmu dan filsafat dalam karya-karyanya. Salah satu buktinya, pujian dari Zahiruddin Nasr Muhammad Aufi dalam bukunya “Lubab al-Albab”.

 

Anvari meyakini pandangan-pandangan Ibnu Sina yang sebagian ditulis dengan karya tulisannya sendiri. Selain itu, ia juga menulis syarah kitab al-Isyarat wa al-Tanbihat karya Ibnu Sina dengan judul al-Basyarah fi Syarh al-Isyarat.

Image Caption

 

Sejak masih menuntut ilmu di bidang sastra, Anvari telah menunjukkan potensinya yang besar di bidang syair. Di usia muda ia telah menjadi penyair istana. Para kritikus karyanya mengungkapkan sebagian besar hidup Anvari dipergunakan untuk mengabdi kepada Sultan Sanjar.

 

Sebagian sumber menyebutkan selama 30 tahun Anvari menjadi penyair sultan Sanjar hingga akhir hayatnya di Balkh, Afghanistan. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Sultan Ahmad Khadariviah.

 

Berkaitan dengan mazhab yang dianut Anvari, sebagian peneliti menyebutnya penganut mazhab Syiah. Tapi sebagian lain memandangnya sebagai penganut Sunni, terutama karena karya-karyanya banyak memuji khalifah Rasyidin, selain Rasulullah Saw dan Imam Ali.Tampaknya, pengaruh istana juga besar dalam kehidupan Anvari, termasuk mempengaruhi karya karya penyair terkemuka Iran itu.

 

Para sejarawan menjelaskan bagaimana Anvari menjadi penyair istana dan ketertarikannya yang besar terhadap dunia sastra. Ketika masih menuntut ilmu, ia menyaksikan para penyair terkemuka di sekolah, yang membuatnya bertekad menjadi penyair.

 

Anvari tahu dirinya memiliki bakat sebagai penyair terkemuka. Pada saat memiliki kesempatan di usia muda, ia pun mendendangkan syair di kalangan istana. Ia mendendangkan syair mengenai pujian terhadap sultan Sanjar sekitar tiga dekade. Tidak hanya itu, ia juga mendampingi Sultan Sanjar dalam berbagai perjalanan.

 

Gharan Kaukab atau fenomena dekatnya bintang merupakan peristiwa terpenting dalam kehidupan Anvari. Ketika itu ia menjadi astronom sultan Sanjar. Pada 29 Jumadil Akhir 582 Hijriah, ia memprediksi terjadinya gharan kaukab. Anvari memperdiksi akan terjadi peristiwa besar. Tapi tidak terjadi sesuatu ketika itu.

 

Peristiwa tersebut menyebabkan Anvari mendapatkan kritikan keras di kalangan istana, termasuk dari para penyair di zaman itu. Ketika menjawab kritik Sultan Sanjar, Anvari menjawab bahwa kemunculan gharan kaukab bersifat gradual.

 

Para ilmuwan setelahnya menjelaskan tentang prediksi Anvari yang berkaitan dengan kemunculan Genghis Khan, yang menyebabkan dunia berada di bawah pengaruhnya. Menurut keyakinan para ilmuwan setelah Anvari, prediksi Anvari sesuai dengan kehancuran Khorasan akibat agresi yang dilakukan dinasti Moghul.

Image Caption

 

Anvari merupakan salah seorang penyair terkemuka di zamannya. Saking besarnya pengaruh Anvar dalam syair Persia, ia dijuluki sebagai “Tiga Nabi Syair Farsi”. Untuk mengkaji masalah tersebut harus digali faktornya dari kehidupan Anvari sendiri ketika itu.

 

Anvari hidup di era Kasidah Sara. Tampaknya, pujian orang-orang, terutama para penyair setelah Anvari bertumpu pada kasidah sara tersebut. Sebab ketika itu kasidah Sara merupakan metode yang paling banyak dipergunakan oleh para penyair, termasuk Anvari. Sebab kebutuhan hidup materi mereka juga dipenuhi oleh istana dan mereka pun hidup di lingkungan istana bersama raja dan para pembesar kerajaan.

 

Dengan mengkaji karya-karya kasidah di era Anvari kita bisa mengetahui situasi di masa itu dan karakteristiknya.Terkait hal ini, peneliti sastra Persia, Doktor Zerin Koub menuturkan, “Dalam kasidah para penyanjung, pujiannya melewati batas dan semua kelebihan serta keutamaannya seperti kebaikan, keberaniaan dan kemenangan dijelaskan dengan bahasa yang berlebihan dan fiksinya yang kebanyakan disampaikan dalam bentuk kiasan maupun terang-terangan yang dibuatnya dan menjadi penghubung,”.

 

Anvari merupakan penyair yang tumbuh besar di era kasidah. Ia memanfaatkan seluruh warisan orang tuanya untuk kebahagian hidupnya, termasuk bakatnya di bidang sastra, hingga ia menjadi penyair terkemuka di zamannya.

 

Tampaknya, syair Anvari hanya digemari oleh kalangan tertentu saja. Puisi Anvari menjadi perhatian khusus para ahli sastra dan orang-orang yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk puisi.

 

Sebaliknya, Anvari tidak memiliki kedudukan khusus di kalangan masyarakat awam. Selain kasidah, Anvari juga memiliki karya puisi dalam bentuk ghataat, rubaiyat dan ghazaliyat. Dalam pandangan para ahli sastra, Anvari melakukan terobosan besar di bidang Balaghah. Oleh karena itu, ia sering disebut sebagai inovator sastra.

 

Salah satu karakteristik puisi Anvari adalah kekuatan deskripsinya dalam bentuk dialog, yang tidak dilakukan oleh pendahulunya, bahkan di zamannya sendiri.Terkait hal ini, Doktor Zerin Koub berkata, “Bahasa puisi Anvari adalah bahasa paling sederhana dan tanpa polesan di zamannya. Seorang yang bisa disandingkan dengannya hanya Saadi yang lahir satu abad setelahnya. Tapi di zamannya tidak ada yang sebanding dan para penyair sebelumnya juga tidak ada yang senatural dan sederhana seperti itu. Anvari memiliki keluasan bahasanya; dari bahasa awam hingga bahasa para intelektual, dari bahasa klasik hingga bahasa kontemporer di zamannya,”.

 

Divan syair Anvari dalam pandangan para peneliti dan kritikus sastra merupakan sumber terpenting bahasa syair abad keenam, sekaligus parameter untuk mengkaji nilai-nilai dan kelas sosial serta bagaimana dinamikanya sampai akhir abad keenam hijriah Qamariah hingga kini oleh para peneliti.(IRIB Indonesia/PH)

 

 

 

 

Tags

Apr 27, 2018 03:02 Asia/Jakarta
Komentar