Awhad Muhammad bin Ali Anvari Abuvardi termasuk penyair terkemuka Iran abad keenam Hijriah, atau abad kedua belas Masehi. Tahun rinci kelahirannya tidak banyak dibicarakan oleh para sejarawan.Tapi yang jelas, ia hidup di masa perintahan Seljuk di era Sultan Sanjar.

Anvari lahir dari keluarga pecinta sastra dan penyair di zamannya. Masa kecil hingga remaja dilalui dengan menuntut ilmu dasar. Kemudian, ia mempelajari berbagai disiplin ilmu dari musik sampai astronomi, hingga disebut sebagai hakim. Dengan bekal pendidikan yang tinggi dan dukungan keluarganya, ia menjadi penyair istana sesuai dengan minatnya di bidang itu.

Sebagian besar hidup Anvari dipergunakan untuk mengabdi kepada Sultan Sanjar.

Selama 30 tahun Anvari menjadi penyair sultan Sanjar hingga akhir hayatnya di Balkh, Afghanistan. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Sultan Ahmad Khadariviah.

Republik Islam Iran

Anvari merupakan salah seorang penyair terkemuka di zamannya. Ia hidup di era Kasidah Sara. Ketika itu, Kasidah Sara merupakan metode yang paling banyak dipergunakan oleh para penyair, termasuk Anvari. Anvari menghasilkan 14.700 bait syair yang berbentuk kasidah, ghazal, ghataat dan rubaiyat.

Terkait hal ini, doktor Shafeie Kadkani berkata, “Dengan melihat  Divan syair Anvari, kita bisa mengetahui kontradiksi internal penyair. Rangkaian syair [Anvari] berisi tentang kezuhudan, tapi juga mengenai kekikiran dan penimbunan harta. Terkadang berbicara tentang idealisme tapi juga anti-idealisme. Adakalanya tentang rasa bangga tapi juga kebencian.”

Isi syair Anvari berbagai macam dari pujian hingga kecaman, nasehat juga kritik sosial maupun tamsil. Doktor Jafar Mahjub menuturkan, “Sebelum Saadi, Anvari yang merupakan guru besar ghazal sara Farsi, berhasil menjadikan ghazal lebiy sempurna dan lembut. Ia menjadi penyair pertama yang mempopulerkan ghazal sara dalam divannya”.

Selain dikenal sebagai penyair, Anvari juga memiliki kecenderungan terhadap filsafat, bahkan menilainya lebih utama dari syair, dan syairnya bagian dari filsafat. Mengenai masalah ini, peneliti sastra Farsi, Doktor Asghar Dadbah berkata, “Meskipun Anvari penyair seperti Plato, tapi Platonis termasuk kategori penyair madinah fadhilah”.

Anvari bersandar pada hikmah dalam syairnya. Dalam pandangan Anvari kedudukan syair menciptakan kecenderungan seni. Untuk menjelaskan kedudukan syair, pertama adalah melakukan klasifikasi kemudian menilai pujian dan celaan serta ghazal sebagai produk dari haus kuasa dan kemarahan dan kekikiran.

Anvari tidak menjelaskan tentang syair hakiki, tapi sebaliknya menyampaikan syair batil dengan menjadikan pujian sebagai bagian dari itu. Pandangan Anvari terhadap syair dari perspektif estetika. Menurut keyakinan Anvari, syair hakiki tidak boleh mengambil isi dari syair penyair lain, dan syairnya harus lahir dari dirinya sendiri.

Republik Islam Iran

Kritikus sastra Farsi menilai gaya syair Anvari bercorak khorasan dan Irak. Mohammad Jafar Mahjub berkeyakinan bahwa Anvari menyempurnakan model syair Abul Faraj Ravani yang menegaskan corak syair Irak.

Gaya Anvari dalam syairnya terdiri dari tiga ranah bahasa, formasi imaji dan penciptaan isi. Ikatan bahasa percakapan sehari-hari dengan bahasa yang fasih, terutama dalam ghazal merupakan karakteristik gaya syair Anvari. Menurut keyakinan profesor Forouzanfar, gaya syair ini disempurnakan setelah seratus tahun kemudian dalam bentuk yang terbaik oleh Saadi Shirazi.

Terkait hal ini, doktor Shafeie Kadkani berkata, “Pola bahasa Anvari merupakan bentuk bahasa Farsi yang paling natural sekaligus menyempurnakan tambahan berlebihan yang ada dalam ranah resmi yaitu kasidah, dengan poros natural serta bersahabat yaitu ghataat dan ghazalnya.”

Salah satu karakteristik penting gaya syair Anvari adalah penciptaan metafora-metafora baru, yang melahirkan makna-makna yang tajam dan unggul. Penggambaran yang dilakukan Anvari sangat singkat, yaitu dengan menyusun sejumlah gambar. Karakteristik ini juga yang menjadikan syairnya indah.

Penggambaran Anvari tersebut termasuk baru di kalangan para penyair sezamannya, bahkan para pendahulunya sekalipun. Sebab ia menyajikan unsur-unsur imaji yang berasal dari para penyair sebelumnya, kemudian disampaikan dalam format baru.

Anvari memanfatkan perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang di zamannya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap syair Anvari memiliki kaitan erat dengan ilmu pengetahuan dan berkembang di zamannya.

Para kritikus sastra farsi klasik menempatkan Anvari bersanding dengan Ferdows dan Nezami sebagai tiga nabi syair Farsi. Para penulis sejarah sastra memuji karakteristik syair Anvari. Anvari sendiri melakukan kritik terhadap syair bahasa dan pemikiran para penyair lain seperti Sanai, Adib Sabir dan lainnya.

Tapi pandangan tersebut ditolak kritikus sastra modern, setelah terjadi perubahan dalam parameter kritik sastra. Anvari tidak lagi disebut sebagai tiga atau lima nabi syair Farsi. Meski demikian, seluruh kritikus syair Farsi mengakui kesederhanaan, kejelasan, dan kejernihan bahasa Anvari, yang terbebas dari segala penambahan yang tidak perlu dan berlebihan.

Republik Islam Iran

Terkait masalah ini, Shafeie Kadkani berkata, “Penguasaan Anvari terhadap syair pujian dan maknanya menyebabkan sangat kecil diksi ditempatkan secara tidak akurat, dan kebanyakan dari kasidahnya mempersembahkan kefasihan yang baru.”

Kebanyakan kritikus syair modern menilai Anvari sebagai pelopor di zamannya dalam meletakkan tiang syair Farsi. Ia juga dinilai memiliki keterampilan dalam menghasilkan berbagai jenis makna dan isi syair. Menurut keyakinan seorang kritikus, Anvari juga menjadi pionir dalam syair humor, celaan dan ghazal. Anvari dalam buku syairnya menampilkan kondisi buruk di zamannya.

Selain itu, syair Anvari juga dipenuhi kritik dan celaan terhadap teolog, hakim, penguasa Turk dan Ghaznavid, tanpa kekhawatiran sedikitpun. Menurut Anvari sendiri, dia menyerang mereka dengan syairnya.

Anvari dengan ketajaman bahasanya menyuarakan penderitaan masyarakat. Sebagian syair Anvari menyuarakan penderitaan dan protes masyarakat yang berada dalam tekanan penguasa korup dan lalim.

Tags

Mei 03, 2018 13:47 Asia/Jakarta
Komentar