Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi adalah ulama terkenal, sekaligus penyair dan arif terkemuka. Pemikiran dan karyanya yang berbahasa Farsi telah menyebar ke segenap penjuru dunia. Karya-karyanya, terutama berjudul Matsnavi-e maknavi, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. 

Iranolog terkemuka Prancis, Henry Mosses pada acara akhir masa jabatannya di Universitas Sorbonne menuturkan, “Aku habiskan hidupku untuk menekuni sastra Persia supaya bisa mengenalkan kepada Anda para profesor dan intelektual dunia mengenai sastra yang menarik ini seperti apa. Tidak ada jalan lain kecuali melakukan perbandingan. Bisa dikatakan, sastra Farsi berdasarkan empat pilar utama yaitu: Ferdows, Saadi, Hafez dan Maulavi.”

Menurut Iranolog Prancis ini, “Ferdows setara dengan Homer Yunani, bahkan lebih baik darinya. Saadi, mengingatkan kita kepada Filsuf Prancis, Anatole France. Hafez bisa dibandingkan dengan Goethe Jerman. Ia juga merasa menjadi murid Hafez dan menghidupkan pandangannya di dunia.Tapi Maulavi, tidak ada tokoh di dunia (Barat) yang mirip dengannya. Ia tunggal dan akan tetap satu. Ia bukan hanya seorang penyair, tapi lebih dari itu seorang sosiolog, bahkan psikolog sempurna yang mengenal dengan baik esensi manusia dan Tuhan. Dengan mengenalnya, mengenali diri dan Tuhan.”

Maulavi

Jalaluddin Muhammad Balkhi yang dikenal dengan Maulavi adalah arif dan penyair terkemuka Persia abad ketujuh hijriah atau abad ketiga belas masehi.Kebanyakan para peneliti mengungkapkan bahwa Maulavi dilahirkan tanggal enam Rabiul Awal 604 Hijriah atau bertepatan dengan 30 Desember 1207 Masehi di Balkh.

Rumi dilahirkan di tengah keluarga terpandang Balkh. Ayahnya, Bahauddin seorang khatib terkemuka, sekaligus guru terpandang, yang masuk jajaran ulama, teolog dan arif besar di zamannya. Saking terkenalnya, disebut sebagai Sultan Ulama. Maulavi dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu dan rumah yang senantiasa berzikir menyebut nama Allah swt.

Ayahnya sendiri mendidik Maulavi sejak kecil dan mengenalkannya dengan berbagai ilmu pengetahuan Islam, termasuk irfan dan tasawuf. Oleh karena itu, Maulavi sejak kecil memiliki ketertarikan yang besar terhadap irfan, dan ia besar dalam atmosfir demikian.

Ketika itu, Maulavi berada dalam bimbingan arif terkemuka Balkh, Sayid Burhanuddin Turmuzi, yang termasuk murid ayahnya. Gurunya ini memberikan pengaruh besar dalam hidup Maulavi sejak kecil, bahkan hingga menjadi ulama di Konya, dengan  ilmu irfan, teologi dan berbagai keilmuan Islam lainnya.

Ketika Maulavi masih kanak-kanak hingga remaja, Khorasan dan Transoxiana yang membentang dari Balkh hingga Samarkand, dan Khawarizmi hingga Nishabur, berada di bawah pemerintahan Sultan Mohammad Khawarizm Shah. Ketika itu, Balkh merupakan salah satu dari empat kota besar dan penting Khorasan, selain Marv dan Herat serta Nisabur, yang merupakan pusat studi Islam penting di zaman itu, yang memiliki masjid dan sekolah.

Di zaman itu, khutbah dan hadis sangat berkembang, dan kota Balkh dikenal sebagai “Qubah al-Islam”, karena banyaknya sekolah dan ulama. Tapi kemudian kota itu hancur akibat agresi Moghul.

Maulavi yang berusia 13 tahun menjadi saksi meningkatnya ancaman agresi Moghul terhadap kawasan Asia Tengah. Kondisi tersebut diperparah dengan pembunuhan beberapa pengusaha Moghul oleh Khawarizm Shah. Menghadapi situasi yang memburuk, Bahauddin memutuskan untuk meninggalkan Balkh. Bersama keluarganya, beliau bergerak menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji melalui Baghdad. Sebagian peneliti menyebutkan perjalanan tersebut disertai oleh beberapa pengikutnya. 

Maulavi

Dalam perjalanan tersebut, Bahauddin dan keluarganya menyempatkan diri untuk mengunjungi Fariduddin Athar, arif terkemuka di Nisabur. Ketika itu, Athar menyaksikan potensi besar Maulavi yang masih belia, dan memberikan buku Asrar Nameh kepadanya.

Perjalanan panjang dari Balk ke Nisabur, Baghdad, Syam hingga Hijaz menyebabkan Maulavi tidak memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah. Meski demikian, Maulavi tetap belajar dengan menuntut ilmu dari ayahnya yang juga seorang ulama terkemuka. Selain ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir dan irfan, Maulavi juga mempelajari sastra Farsi dan Arab. Ketika tiba di kota besar seperti Aleppo dan Baghdad, ia belajar kepada para ulama terkemuka di zaman itu.

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Bahauddin dan keluarganya tiba di Anatolia Pusat di tahun 617 Hijriah atau pertengahan 1220 Masehi. Setibanya di Anatolia pusat, mereka tinggal beberapa waktu di Larandeh saat ini disebut sebagai Karaman, kemudian menuju Konya.

Di Konya, Bahauddin mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang saat itu kebanyakan berbahasa Farsi. Di sana Maulavi mengembangkan pelajaran fiqh, tafsir al-Quran dan kisah para Nabi bersama syair Farsi dan Arab. Setelah ayahnya wafat di tahun 628 Hijriah atau 1331 Masehi, Maulavi menggantikan ayahnya memberikan khutbah dan nasehat kepada masyarakat. Sejak itu Maulavi menerima banyak murid dari berbagai lapisan masyarakat.

Ketika itu, Maulavi masih berusia 24 tahun. Selain menyampaikan khutbah, ceramah dan nasehat kepada masyarakat, ia juga melakukan kajian terhadap berbagai ilmu pengetahun yang berkembang saat itu. Dengan bantuan gurunya ketika masih kecil, yaitu Sayid Burhanuddin Turmuzi yang telah menjadi ulama terkemuka, akhirnya Maulavi bisa menuntut ilmu aqli dan naqli di Aleppo, Damaskus dan Baghdad kepada para ulama terkemuka di bidang sastra, tafsir, hadis, fiqih dan kalam.

Setelah melewati tujuh tahun, Maulavi menjadi seorang ulama sekaligus arif terkemuka. Setiap ceramah dan pelajarannya senantiasa dipenuhi banyak orang, karena menarik dan berisi. Kemampuannya bertutur dan keindahannya dalam bersyair membuat Maulavi muda disukai banyak orang.

Terkait hal ini, doktor Abdol Hossein Zerin Koub, peneliti terkemuka dalam bukunya, “Tahapan-tahapan bertemu Tuhan” menjelaskan biografi Jalaluddin Mohammad Maulavi, terutama karakteristiknya dalam khutbah dan ceramah.

Maulavi

Peneliti sastra Persia ini berkata, “Keahlian Maulavi dalam berbagai dispilin ilmu dan penguasaanya terhadap al-Quran dan hadis tampak sekali darinya, apalagi dzauq yang tidak tertandingi ketika menjelaskan sesuatu melalui syair dan tamsil dan hikayat  menunjukkan maknanya yang menarik perhatian, dan jawabannya yang dipenuhi dengan berbagai poin penting yang jarang disinggung oleh ulama sebelumnya.”

Menurut Zerin Koub, “Contoh dari majelis seperti itu adalah rangkaian buku Majelis Sabah.... Ceramah di setiap kelas yang diisinya memiliki daya tarik tersendiri. Ketika mengisi ceramah, para pelajar berbondong-bondong mendatangi kelasnya. Setelah selesai mengisi pelajaran mereka mengiringinya. Setiap ceramahnya selalu dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat. Misalnya, seorang pemuda seperti Hessamuddin Chilbi, orang tua buta huruf tapi semangat belajar, hingga ilmuwan seperti Salahuddin Zerkoub Qunavi juga ikut hadir,”.

Tags

Mei 14, 2018 15:32 Asia/Jakarta
Komentar