Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi adalah ulama terkenal, sekaligus penyair dan arif terkemuka. Pemikiran dan karyanya yang berbahasa Farsi telah menyebar ke segenap penjuru dunia. Karya-karyanya, terutama berjudul Matsnavi-e maknavi, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. 

Maulavi adalah arif dan penyair terkemuka Persia abad ketujuh hijriah atau abad ketiga belas masehi. Kebanyakan para peneliti mengungkapkan bahwa Maulavi dilahirkan tanggal enam Rabiul Awal 604 Hijriah, atau bertepatan dengan 30 Desember 1207 Masehi di Balkh.

Pada musim gugur tahun 672 Hq atau 1273 M, Maulavi jatuh sakit hingga dokter tidak berdaya untuk mengobatinya. Ulama, penyair, arif sekaligus ilmuwan Iran ini wafat pada 5 Zumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 M di usia 68 tahun.

Matsnawi

Meskipun Maulavi telah lama wafat, tapi kecemerlangannya masih terus bersinar hingga kini. Karya-karya yang ditinggalkannya menjadi magnet yang menyedot banyak kalangan. Para peminat karyanya bukan hanya orang Iran maupun yang berbahasa Farsi, tapi berbagai bangsa dunia melalui terjemahan ke berbagai bahasa.

Terkait hal ini, doktor Abdol Hossein Zerin Koub, berkata, “Keahlian Maulavi dalam berbagai dispilin ilmu dan penguasaanya terhadap al-Quran dan hadis tampak sekali darinya, apalagi dzauq yang tidak tertandingi ketika menjelaskan sesuatu melalui syair dan tamsil dan hikayat  menunjukkan maknanya yang menarik perhatian, dan jawabannya yang dipenuhi dengan berbagai poin penting yang jarang disinggung oleh ulama sebelumnya.”

Selain itu, banyak riset mengenai biografi dan pemikiran Maulavi ditulis oleh para ahli. Salah satunya dilakukan oleh Profesor Annemarie Schimmel. Islamolog Jerman ini mengemukan pandangannya mengenai Maulavi. Schimmel berkata, “Banyak dari ‘ghazaliat divan kabir’,  teks lengkap dan pilihan dari ‘Matsnavi-e Maknavi’ dan ‘Fihi ma Fihi’ hingga kini telah diterjamahkan ke berbagai bahasa dunia dengan beragam narasi yang berpengaruh besar terhadap berbagai agama dan para pemikir dunia, dan sebagian lainnya tenggelam dalam penelitian mengenai pemikiran Maulavi”.

Mohammad Nazir, peneliti Pakistan yang telah menulis komentar dan terjemahan karya-karya Maulavi ke dalam bahasa Arab, Turki, Urdu, Pasthu, Punjabi, Inggris dan Swedia. Saat ini karya Maulavi juga tidak hanya berbentuk kitab, tapi tampil dalam bentuk lebih interaktif seperti cd dan dvd, maupun program komputer. Contohnya tahun lalu, salah satu cd musik best seller di AS mengenai terjemahan ghazaliat Maulavi. Semua ini menunjukkan pengaruh besar Maulavi bahkan hingga menembus dunia modern kini.

Maulavi memiliki berbagai karya terkemuka di antaranya: Makatib, Fihi Ma Fihi dan Majalis Sab’ah dalam bentuk nasr. Di bidang syair, ada Divan Kabir dan Matsnavi-e Maknavi. Selain Makatib yang terdiri dari sebagian surat Maulavi ke seseorang dan tokoh terkemuka di zamannya, para peneliti meyakini Maulavi tidak memiliki karya lain.

Syair Maulavi disusun oleh murid setianya, Hessamuddin Chilbi, dan ia juga membacakan kembali syair yang ditulisnya kepada Maulavi untuk diperiksa. Kitab Fihi Ma Fihi dan Majalis Sab’ah juga dikumpulkan oleh para muridnya. Fihi Ma Fihi adalah kitab yang merupakan catatan dialog Maulavi di berbagai pertemuan dan kelas.

Para kritikus dan peneliti Maulavi meyakini kitab Fihi Ma Fihi sangat penting, bahkan kedudukannya sebagai kunci untuk memahami Matsnavi dan Divan Shams. Karena komitmen Maulavi terhadap prinsip syair seperti wazn dan ghafiah ghah, ia tidak mudah untuk menyampaikan pandangannya. Tapi dalam kitab Fihi Ma fihi, Maulavi dengan mudah mengemukakan pemikirannya.

Matsnawi

Kitab Majalis Sab’ah Maulavi di susun dari tujuh majlis Maulavi di tahun-tahun ketika masih menyampaikan khutbah kepada masyarakat. Tapi setelah pertemuannya dengan Shams, terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak itu ia tidak lagi naik mimbar untuk menyampaikan khutbah.

Kitab Majalis sebagai jalan untuk mengetahui pemikiran dan karakteristik Maulavi sebelum mengenal Shams. Matsnavi-e Maknavi dan Divan Kabir yang dikenal dengan sebutan Divan Shams, merupakan kumpulan ghazal dan rubaiyah Maulavi. Dua karya besar ini berbentuk syair yang menawan.

Profesor Abdol Hossein Zerinkoub mengemukakan pandangannya mengenai pemikiran Maulavi. Pakar sastra Persia ini menuturkan, “Maulavi bukan filsuf, bukan juga penyair. Meski demikian dengan seluruh gairah cintanya yang membara ia seorang filsuf juga penyair.Jika penyair mengatakan di dalamnya hanya gairah spiritual, tapi ia menyampaikan pemikiran filsafatnya. Meskipun tidak puas dengan argumentasi dan metode pemikiran mereka, tapi ia mengungkapkan pemikirannya  dengan argumentasi seperti mereka.”

Maulavi dalam syairnya menjelaskan tentang dunia, Tuhan, Ruh, maad (hari akhir) dan pada akhirnya tentang manusia, problematikanya di dunia materi dan musibah dalam perjalanan menuju Tuhan, serta jalan menuju hak dan hakikat.

Menurut keyakinan sebagian peneliti karya Maulavi, “Ia menjelaskan jalan manusia dari mineral menuju tumbuhan, lalu dari tumbuhan menjadi manusia dan malaikat. Batas ikhtiar dan keterbatasan manusia dijelaskan dan menggambarkan jalan menuju fana, yang di dalamnya manusia fana fillah.”

Maulavi dalam menjelaskan berbagai masalah tersebut terkadang memandang dunia sebagaimana para filsuf, tapi acapkali melihat dengan kacata seorang arif, bahkan penyair. Menariknya dari jalan manapun dia berhasil.

Kecenderungan Maulavi terhadap alam dan masyarakat dalam berbagai syairnya menunjukkan manifestasi khusus. Seorang peneliti Maulavi dari India menjelaskan karakteristik dari syair Maulavi, “Ia adalah penyair yang tidak pernah bisa dipisahkan dari masyarakat. Seluruh syairnya dalam bahasa awam. Oleh karena itu dalam terobosannya terdapat kekuatan rahasia yang memberikan spirit. bumi, ladang, tanah, air.... adalah kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari kita, dan ini menjadi unsur utama dalam syairnya.”

Maulavi

Maulavi menilai alam semesta sebagai manfestasi Tuhan, bahkan tidak melihat di seluruh alam semesta ini kecuali Tuhan. Pemikiran ini menunjukkan kedalamannya tentang hak. Apa yang dijelaskan Maulavi dalam syairnya adalah perasaan dan penemuan ketersambungan manusia dengan seluruh bagian dari alam semesta.

Dalam pandangan seorang arif tidak ada yang dilihat di dunia ini kecuali Tuhan. Maulavi mengetahui ikhlas dalam teori dan praktik. Oleh karena itu ia juga menasehati supaya manusia membersihkan niatnya demi Allah swt. Ditegaskanya, selama pandangan manusia dipenuhi debu hawa nafsu, maka tidak akan pernah bersih dan tidak akan bisa mencapai hakikat sebagai mata air kecemerlangan.

Jun 14, 2018 12:44 Asia/Jakarta
Komentar