Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi adalah ulama terkenal, sekaligus penyair dan arif terkemuka. Kebanyakan para peneliti mengungkapkan bahwa Maulavi dilahirkan tanggal enam Rabiul Awal 604 Hijriah, atau bertepatan dengan 30 Desember 1207 Masehi di Balkh. Pada musim gugur tahun 672 Hq atau 1273 M, Maulavi jatuh sakit hingga dokter tidak berdaya untuk mengobatinya. Ulama, penyair, sekaligus sufi besar Iran ini wafat pada 5 Zumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 M di usia 68 tahun.

Maulavi memiliki berbagai karya terkemuka di antaranya: Makatib, Fihi Ma Fihi dan Majalis Sab’ah dalam bentuk nasr. Di bidang syair, ada Divan Kabir dan Matsnavi-e Maknavi. Dari berbagai karya Maulavi, Matsnavi-e Maknavi memiliki kedudukan khusus, Sebab setelah berlalu lebih dari 800 tahun lalu hingga kini masih menjadi buku yang memancarkan cahayanya di bidang budaya dan sastra Farsi di dunia. Matsnavi-e Maknawi terdiri dari 25 ribu bait syair yang dimulai dengan Ney Nameh atau cerita ratapan seruling.

 

Kisah yang disajikan Maulavi dalam Matsnavi-e Maknavi memiliki berbagai dimensi di antaranya: imajinasi, metafora, simbol, cinta, sufistik, moralitas dan hikmah. Para peneliti mengkategorikan kisah Matsnavi terdiri dari empat jenis: kisah sufistik, kisah hikmah, kisah qurani dan kisah metaforis.

 

Tampaknya, kebanyakan isi dalam Matsnavi berbentuk kisah sufistik. Di seluruh kisahnya itu, Maulavi lebih mementingkan tujuan dari pada formatnya. Oleh karena itu, ia tidak terlalu memperhatikan jenis metodenya. Maulavi secara khusus memfokuskan kepada lapisan tersembunyi dari kisah dan konsepsi irfani di dalamnya.

 

Kisah dalam Matsnavi terdapat dua unsur penting, spirit dan materinya. Materi kisah dalam Matsnavi bisa dilihat, sedangkan spiritnya tersembunyi sehingga perlu digali maknanya dan tidak mudah dipahami begitu saja. Salah satu contohnya kita lihat dalam bait syair maulavi berikut ini:

 

Gar begoyam shameh zan naghmeh-ha

Jan ha sar be zanand az dakhmeh-ha

Gous ra nazdik kon kan dur nist

Lik naghl an beh to dastor nist

 

[betapa indah melodi ini

Ruh pun hidup dari kuburnya

Dekatkan telinga, betapa dekatnya

Tapi, ini bukan perintah untukmu]

 

Maulavi dalam karyanya senantiasa mengajak audiens untuk mencari sesuatu yang perlu disingkap dalam setiap kisah. Dengan cara khasnya yang berbeda dengan penyair lain, Maulavi mengungkapkan berbagai metafora sebagai cara menyampaikan pelajaran kepada audiennya.

 

Sebagian kisah Matsnavi memiliki aspek hikmah dan pengajaran. Dalam kisah tersebut, maksud utama adalah penyampaian hikmah dan pelajaran berharga. Di bagian ini, Maulavi begitu jelas berbicara tentang poin-poin pesan yang ingin disampaikannya.

 

Melalui penuturan kisah, Maulavi menjelaskan ajaran moralnya. Sebagaimana dalam bagian keempat tentang hikayat “Pengkhutbah dan Doa Orang Zalim”, Maulavi mengungkapkan sebuah nilai moral penting. Maulavi mengisahkan tentang seorang pengkhutbah yang naik mimbar dan berdoa kepada Tuhan supaya para penyamun dan perampok diberikan keselamatan, dan membukakan rahmat serta hidayah.

 

Pengkhutbah naik ke atas mimbar dan mengangkat tangannya seraya berdoa, “Tuhan rahmatilah orang-orang yang rusak dan lalim”. Setelah berdoa, ada orang yang bertanya, “Mengapa engkau berdoa seperti itu ?” Ia menjawab, “Sebab aku melihat banyak kebaikan dari orang-orang ini. Saking seringnya mereka berbuat keburukan kepadaku, keburukan itu justru membimbingku menuju ke arah kebaikan.

 

Ketika aku hendak memuaskan nafsu berkuasaku di dunia ini, mereka justru menghalangiku dari jalan itu. Mereka juga merampok hartaku, maupun merusak popularitasku dengan kedengkiannya. Hal ini membuatku lebih mensyukuri karunia Tuhan, lebih bersabar dalam kehidupan di dunia ini.

 

Cerita yang disajikan Maulavi dalam Mastnavi-e Maknavi berpijak pada pendidikan manusia dan penyucian diri. Melampaui bentuk ceritanya, berbagai cerita dalam Matsnavi mengungkapkan tentang pemikiran yang tinggi. Sumber utama yang menjadi bahan baku cerita dalam kitab Matsnavi yang melebihi sumber lain adalah al-Quran dan hadist.

Tokoh tekenal Iran

 

Sebagian kritikus dan komentator karya Maulavi menilai kisah-kisah dalam Matsnavi 

Sebagai bentuk tafsir sufistik dan puitis dari al-Quran. Sebab Maulavi sendiri memiliki penguasaan yang tinggi terhadap ilmu-ilmu keislaman, terutama tafsir al-Quran. Maulavi banyak memberikan tafsir terhadap al-Quran dan berbagai kisah dengan penafsirannya sendiri.

 

Kisah qurani menjadi bagian penting dari kisah Matsnavi. Salah satu contoh kisah yang terdapat dalam kitab Matsnavi antara lain: kisah Hud dan Bani Aad, kisah Ahli Saba, kisah Firaun dan Musa. Meskipun demikian, sebagian peneliti karya Maulavi menilai karya-karyanya termasuk jenis kisah alegoris.

 

Kisah alegoris menampilkan dua aspek yaitu dimensi yang dekat dengan skluptur kisah, dan relatif jauh dari intervensi penutur kisah. Sehingga sepintas terkesan audiens diajak mencari makna dengan pemahamannya masing-masing.

 

Sejatinya, dengan cara itu audiens menghadapi dua makna berlapis. Lapisan pertama, makna luar dan permukaan, sedangkan makna kedua adalah makna batin dan menjadi makna utama yang dimaksud oleh Maulavi. Untuk mendapatkan makna kedua ini tidak mudah, karena harus memahami berbagai aspek, bukan hanya bahasa dan sastra saja, tapi berbagai disiplin ilmu, terutama tasawuf yang menjadi inti dari pemikiran Maulavi.

 

Secara umum, para ahli sastra dan penyair terkemuka Persia menggunakan kisah dan metafora untuk menjelaskan dengan baik nilai-nilai moralitas, bahkan aspek filosofis dan sufistik. Demikian juga dengan Maulavi yang menggunakan dalam karya-karyanya, terutama magnum opus-nya, Matsnavi-e Maknavi.

 

Kisah alegoris dalam Matsnavi terdiri dari dua bagian yaitu: fabel atau kisah binatang, dan kisah manusia. Salah satunya, ditampilkan oleh Maulavi dalam kisah tentang burung beo. Menariknya, sebagian besar kisah fabel yang dituturkan Maulavi memiliki kombinasi dengan kisah manusia. Format ini sedikit berbeda dengan  fabel murni seperti Panchatantra atau yang dikenal dengan nama Kalila wa Dimna dalam bahasa Farsi maupun Arab.

 

Salah satu karakteristik kisah Matsnavi yang menjadi terobosan Maulavi dan tidak menjadi perhatian para penyair sebelumnya adalah teknik episode dalam penuturan kisah. Sebelum menyampaikan narasi lengkap sebuah kisah, Maulavi menyinggungnya dalam bentuk bagian-bagian terpisah.

 

 

Terkait hal ini, doktor Zerin Koub menuturkan, “Dengan narasi kisah menjadi beberapa bagian, Maulavi telah mengenalkan isi kepada audiens sehingga sepanjang penuturan kisah pemikirannya bisa dikenali supaya tidak keluar dari bentuk luar kisah tersebut, juga memahami maksud utama kisah, dan intisari maknanya,”.

 

 

Jul 19, 2018 20:01 Asia/Jakarta
Komentar