Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi adalah ulama terkenal, sekaligus penyair dan arif terkemuka. Kebanyakan para peneliti mengungkapkan bahwa Maulavi dilahirkan tanggal enam Rabiul Awal 604 Hijriah, atau bertepatan dengan 30 Desember 1207 Masehi di Balkh. Pada musim gugur tahun 672 Hq atau 1273 M, Maulavi jatuh sakit hingga dokter tidak berdaya untuk mengobatinya. Ulama, penyair, sekaligus sufi besar Iran ini wafat pada 5 Zumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 M di usia 68 tahun.

Dari berbagai karya Maulavi, Matsnavi-e Maknavi memiliki kedudukan khusus, sebab setelah berlalu lebih dari 800 tahun lalu hingga kini masih menjadi buku yang memancarkan cahayanya di bidang budaya dan sastra Farsi di dunia. Matsnavi-e Maknavi adalah sebuah kitab yang berisi berbagai pelajaran berharga dan penting mengenai petuah sufistik yang disajikan dalam bentuk syair yang menawan.

Barangkali banyak yang bertanya, mengapa Maulavi menjadi Maulavi yang terkenal hingga kini meski sudah meninggal ratusan tahun silam ? Karakter apa yang membuatnya memancar di tengah gulungan ombak samudera kehidupan yang pasang surut. Hampir delapan ratus tahun berlalu dari kehidupan Maulavi. Tapi hingga kini pemikirannya masih tetap hidup dan lestari.

Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi

Maulavi pernah memprediksi masa depan karyanya yang mendunia. Suatu hari, Maulavi berada di sebuah ruangan bersama temannya. Ia melihat temannya menjadikan buku Matsnavi-e Maknavi itu sebagai sandaran. Lalu Maulavi menegurnya, seraya berkata, “Tahukan engkau, buku ini bukan untuk sandaran punggungmu. Buku ini akan mendunia.”

Para peneliti karya Maulavi berkeyakinan bahwa faktor utama kelestarian karya Maulavi karena pertemuannya dengan Shams Tabrizi. Sebagian peneliti berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan dalam diri Maulavi akibat setelah pertemuannya dengan Shams Tabrizi. Sebelum bertemu Shams, Maulavi seperti Ghazali. Abu Hamid Muhammad Ghazali termasuk ulama besar di bidang fiqih, dan teologi. Dalam usia yang relatif muda, Ghazali menghasilkan berbagai karya besar yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam.

Maulavi sendiri menyebut dirinya termasuk pengikut pemikiran Ghazali sebelum bertemu dengan Shams. Dengan tekun, Maulavi mengkaji karya-karya Ghazali.Tapi setelah pertemuan dengan Shams Tabrizi, terjadi revolusi dalam dirinya. Dalam karyanya, Fihi Ma Fihi, Maulavi menyebut pertemuan tersebut yang disebutnya sebagai “Pertemuan Cinta”. Sejak pertemuan itu, sebuah spirit baru lahir dari diri Maulavi, sehingga melahirkan karya monumental seperti Matsnavi-e Maknavi.

Maulavi sendiri menyebut dirinya sebagai “Ahli ibadah yang terhormat” sebelum pertemuan dengan Shams Tabrizi. Maulavi adalah seorang ulama terkemuka yang dihormati masyarakat. Tapi setelah bertemu dengan Shams ia menjadi sufi yang dikenal dengan ajaran cintanya. Maulavi sendiri menuturkan dalam bait-bait syairnya:

Zahed bodam taraneh goyam kardi

Sar fetneh bezam va bodeh khoyam kardi

Sajadeh neshin ba vaghari bodam

Bozicheh  kodakan koyam kardi

 

[dahulu akulah zahid, kau dendangkan itu

Puncak fitnah, anggur menjadi madu olehmu

Ahli ibadah di sejadah dahulu

permainan anak-anak, kau sebut itu]

Tindakan utama yang dilakukan Shams Tabrizi terhadap Maulavi adalah melepaskan keterikatan dan mencerabut akarnya. Dalam pandangan Shams, Maulavi seperti seekor elang yang bergantung kepada sayap dan bulunya. Shams datang memutus ketergantungan itu. Shams melepaskan Maulavi dari ketergantungan keluarga, membaca buku, status sosial, mengajar dan memimpin masyarakat. Maulavi dipisahkan dari para murid dan teman-temannya menjadi seorang “manusia yang baru lahir” dengan spirit baru.

Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi

Salah satu karakteristik utama syair Maulavi adalah kebaruannya.Perkataan Maulavi selalu menarik bagi orang yang mendengarkan maupun membaca karyanya. Aspek kebaruan syair Maulavi menjadi magnet yang menyedot berbagai kalangan. Maulavi mencurahkan waktunya untuk mengembangkan keahlian bahasanya. Tidak heran jika ia juga disebut sebagai “eid” atau “hari raya”.

Kita simak petikan syair Maulavi sebagai berikut:

Baz amadam chon eid nou, to ghofl zendan beshekanam

Vin charh mardomkhar ra changgal-o dandan beshekanam

[datang laksana tahun baru tuk buka pintu penjara

putuskan rantai pemangsa manusia]

Eid atau tahun baru adalah hari ketika manusia menyambut hari pertama di tahun baru. Biasanya orang-orang mengenakan pakaian baru. Semerbak kebaruan menyebar ke mana-mana. Demikian juga dengan syair Maulavi yang menghembuskan kebaruan dalam bait-bait syairnya.

Maulavi berupaya melepaskan “ikatan zaman” dalam syairnya sehingga tampak selalu baru, bahkan ketika kita nikmati saat ini. Ia menceburkan dirinya di samudera yang tidak terbatas. Di sana, Maulavi menemui kerang yang berisi mutiara yang didulang menjadi bait-bait syair penuh makna.

Salah satu kunci utama dalam pemikiran sufistik Maulavi adalah cinta. Dua hal penting yang diajarkan dalam  pemikiran Maulavi. Pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah iman. Imam adalah makanan yang mengenyangkan diri. Jika mengkonsumsinya, maka tidak akan pernah lapar terhadap gemilau dunia. Demikian juga dengan cinta.

Buku Matsnawi Ma'nawi karya Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi

Terkait hal ini, doktor Zerin Koub, peneliti sastra Persia mengungkapkan, “Seluruh Matsnavi dari awal hingga akhir inovasi Maulavi. Dengan mengingat Tuhan dengan lagu cinta, seorang arif mencari Tuhan dalam api gairah rindu dan rintihan lara,”.

Shams mengajarkan kepada Maulavi supaya menjadi seperti elang yang terbang bebas. Ia menawarkan sebuah transaksi yang di dalamnya tidak ada harapan untuk menang dan eksis. Tapi Maulavi menerima resiko itu. Ia percaya cinta tidak mengenal untung rugi. Yang ada hanya ketulusan untuk mencintai dengan sebersih-bersihnya. Inilah yang diharapkan Shams dari Maulavi.

Sham mengajarkan kepada Maulavi bahwa mencintai adalah memberi, tanpa mengharapkan balasan. Cinta butuh pengabdian dan bukti. Shams memberikan satu kunci kepada Maulavi. Dengan kunci inilah Maulavi membuka seluruh pintu. Kunci cinta inilah yang menjadikan Maulavi sebagai Maulavi.

Tags

Aug 02, 2018 19:14 Asia/Jakarta
Komentar