Khawaja Abu Yakub Yusuf bin Hassan dilahirkan tahun 440 HQ atau 1049 M di desa  Būzanjird, yang terletak di sekitar kota Hamadan. Desa kelahirannya sebelum agresi Moghul cukup makmur, tapi kemudian porak-poranda. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia meninggalkan Hamadan menuju Baghdad di usia 18 tahun. Khawaja Yusuf menuntut ilmu di Madrasah Nizamiyah di bawah asuhan Sheikh Abu Ishaq yang menjadi pemimpin sekolah tersebut.

Meskipun masih berusia muda dibandingkan sesama pelajar lainnya, tapi Khawaja Yusuf Hamadani telah menunjukkan kecemerlangannya di kelas. Ketika itu, Baghdad menjadi arena debat antarpara faqih dari berbagai mazhab, terutama antara mazhab Hanbali dan Syafei.

Atmosfir yang kondusif tersebut menyebabkan Khawaja tumbuh menjadi ulama yang dibekali dengan berbagai pemikiran yang beragam, sehingga membuatnya terbuka, sekaligus tampil sebagai ulama yang relatif melawan arus tapi diterima publik. Di usia 65 tahun, Khawaja Yusuf Hamadani menjadi tokoh matang dan didaulat sebagai sufi besar Baghdad. Ia pun mengajar dan menyampaikan ceramah di madrasah Nizamiyah.

Madrasah Nizamiyah.

Selain Baghdad, Khawaja Yusuf mengunjungi berbagai kota untuk belajar kepada para ulama terkemuka di Isfahan, Semnan, dan Khorasan. Di sana, beliau bertemu dengan para ulama dan sufi besar seperti sheikh Abu Abdillah Juwaini, Sheikh Hassan Semnani, dam Sheikh Abu Ali Farmidi. Nama tokoh terakhir inilah yang mengenalkan Khawaja Yusuf dengan tasawuf.

Tidak hanya itu, Khawaja Yusuf juga mengunjungi Samarkand, Bukhara, Marv dan Herat untuk mengajar dan mendidik murid-muridnya. Selama beberapa waktu ia berada di Marv untuk mendidik murid-muridnya yang melakukan riyadhah di khaneghah. Ibnu Khalikan mendeskripsikan Khaneghah yang diasuh Khawaja Yusuf luar biasa.

Sejarawan Iran, Sam’ani menjadi orang pertama yang mengumpulkan dokumentasi klasik secara lengkap tentang Khawaja Yusuf Hamadani. Sam’ani pertama kali bertemu dengan Khawaja Yusuf di Khaneghah Marv. Selain itu, Sinai, penyair terkemuka Iran, termasuk murid-murid Khawaja Yusuf. Setelah menyusun buku Matsnavi “Hadiqah al-Haqiqah”, Sinai menjadi murid Khawaja Yusuf di Marv.

Khawaja Yusuf Hamadani menghabiskan beberapa waktu di akhir kehidupannya di Marv dan Herat. Beliau wafat di tahun 535 HQ atau 1141 M. Ketika itu,  Khawaja Yusuf Hamadani tengah dalam perjalanan dari Herat menuju Marv untuk memenuhi undangan warga Marv. Beliau meninggal dunia di daerah Badgis yang terletak di kota Bamiyan, dan di sana pula dikebumikan.Tapi kemudian, salah seorang pengikutnya bernama Ibnu Najjar membawanya ke Marv, dan kembali memakamkan beliau di kota itu. Saat ini pemakamannya menjadi salah satu tempat ziarah di daerah Biram Ali, yang terletak 30 kilometer utara Marv, dan saat ini dikenal dengan nama tempat ziarah Khawaja Yusuf Hamadani.

Khawaja Yusuf menentukan empat orang dari murid khususnya sebagai khalifah untuk membimbing orang-orang yang hendak menjalani tarikat. Setelah kematiannya, keempat orang itulah yang membimbing mereka menempuh jalan sufistik. Khawaja Yusuf bersama salah seorang muridnya Abdul Khaliq Gajadwani menjadi salah satu pendiri tarikat sufi.

Kemudian tarikat ini disempurnakan oleh Baha-ud-Din menjadi tarikat Naqshabandiyah yang terkenal mendunia hingga kini. Sejatinya, Khawaja Yusuf meletakan fondasi berdirinya tarikat Naqshabandiyah, terutama tersebar di Asia Tengah, transoxiana, Afghanistan, Turki, India, Irak, Iran, Afrika Utara, bahkan hingga kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia.

Ilustrasi buku

Peneliti Iran, profesor Saeed Nafisi, yang mengkaji kitab “Risalah Sahabiyah” yang dinisbatkan kepada Abdul Khaliq Gajadwani,  menyebut buku tersebut sebagai karya  klasik paling terkemuka mengenai Khawaja Yusuf. Tapi peneliti lain, seperti Prof. Mohammad Amin Reyahi, yang melakukan riset serius mengenai biografi Khawaja Yusuf Hamadani menilai sejumlah data yang disampaikan dalam buku tersebut tidak selaras dengan faktanya. Menurutnya, satu-satunya karya yang terpercaya mengenai biografi Khawaja Yusuf adalah karyanya sendiri berjudul Rutbat al-Hayat.

Meskipun tidak tebal, tapi kitab Rutbat al-Hayat memuat informasi dan isi yang berbobot. Buku tersebut disusun dalam bentuk soal jawab mengenai kehidupan manusia dan berbagai derajatnya. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kitab Rutbat al-Hayat menunjukkan kematangan isi pembahasan di dalamnya.

Khawaja Yusuf dalam kitab Rutbat al-Hayat menggunakan metode jadal dan burhan. Oleh karena itu, karyanya ini merupakan contoh dari karya tasawuf berbahasa Farsi yang terbilang langka. Menurut Mohammad Amin Reyahi, yang meneliti buku Rutbat Al-Hayat, Khawaja Yusuf adalah deretan arif pertama yang membuka jalan bagi penulisan karya tawasuf berbahasa Farsi. Sebagian analis lain mengungkapkan bahwa Khawaja Yusuf memiliki karya lain yaitu kitab Manazil al-Sairin dan Manazil al-Salikin, tapi naskah kedua buku tersebut tidak sampai ke tangan kita saat ini.

Khawaja Yusuf adalah arif besar yang menulis karyanya secara dialektis dan demonstratif. Para peneliti menilai masalah ini dipengaruhi oleh pola pendidikannya di Baghdad. Sesuai penjelasan sejarawan klasik Iran, Sam’ani yang hidup sezaman dengan Khawaja Yusuf, arif besar ini pernah berguru fiqh dan perbandingan mazhab kepada Abu Ishaq Shirazi. Masalah tersebut juga disinggung sendiri oleh Khawaja Yusuf dalam sejumlah hikayat di kitab Rutbat al-Hayat.

Berbeda dengan sebagian sufi sekaligus ulama yang cenderung fanatik dengan keyakinannya dan sulit menerima perbedaan, Khawaja Yusuf hadir menjadi sufi yang terbuka pemikirannya. Padahal situasi sosial dan intelektual di era Khawaja Yusuf  diwarnai dengan fanatisme yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika politik yang berada di bawah pemerintahan dinasti Ghaznavid dan Seljuk, yang berpegang tehadap satu mazhab fiqh dan kalam tertentu, dan menolak yang lain.

Patung tokoh-tokoh Iran

Dampaknya, para sufi tidak bisa dengan leluasa menyampaikan pandangannya, sebagaimana yang menimpa Bayazid Bastami maupun Hossein Bin Mansur Al-Hallaj, sufi abad ketiga dan keempat hijriah.Tapi, Khawaja Yusuf Hamadani bisa bersinar dalam situasi yang demikian .Oleh karena itu, sejumlah peneliti mengindentikannya dengan Abul Hassan Kharghani, Abu Said Abulkhair dan Baba Tahir Hamadani.

Di kalangan para sufi, kedudukan Khawaja Yusuf Hamadani disejajarkan dengan Imam Muhammad Ghazali, ulama besar abad keenam Hijriah. Keduanya memiliki banyak kedekatan, selain sama-sama pernah berguru kepada Abu Ali Farmidi.

Selain itu, keduanya adalah sufi yang tidak mengundang polemik dengan perkataannya yang sederhana dan mudah dipahami. Meskipun Ghazali lebih terkenal karena karya-karyanya, tapi Khawaja Yusuf Hamadani lebih utama dalam mendidik murid-muridnya, sekaligus meletakan fondasi berdirinya sebuah tarikat sufi terkemuka dengan pengikut yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Aug 09, 2018 10:40 Asia/Jakarta
Komentar