Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada 22 Agustus lalu bertemu dengan ribuan warga dari berbagai provinsi Iran di kota Tehran. Dalam pertemuan itu, Rahbar berbicara tentang kondisi ekonomi dan mata pencaharian masyarakat, kelakuan buruk Amerika Serikat, serta pentingnya persatuan antara rakyat dan pemerintah.

Di awal pidatonya, Ayatullah Khamenei berbicara tentang keutamaan bulan Dzulhijjah sebagai bulan untuk berdoa, bertawassul, dan bersimpuh di hadapan Allah Swt. Menurutnya, iman dan tawakkal akan menumbuhkan optimisme, rasa percaya diri, dan sikap tangguh. "Rakyat Iran dengan keimanan ini sudah 40 tahun bangkit melawan kekuatan-kekuatan arogan dunia dan kemampuan ini harus terus ditingkatkan," ujarnya.

Mengenai masalah ekonomi, mata pencaharian, dan kenaikan harga barang yang telah membuat masyarakat tertekan, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Sebagian besar pakar ekonomi dan banyak pejabat sepakat bahwa pemicu semua masalah ini bukan sanksi, tetapi karena masalah internal, mismanagemen, dan salah urus. Jika kinerja lebih baik, lebih efisien, lebih cepat, dan lebih tegas, maka sanksi tidak akan banyak berpengaruh dan ia bisa dilawan." Rahbar juga mendesak penindakan tegas terhadap para perusak pasar valuta asing dan koin emas yang telah mendevaluasi nilai mata uang real Iran.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Menurutnya, musuh telah bersiap untuk memanfaatkan kesempatan yang muncul karena kesalahan dan mismanagemen ini. "Karena berbagai alasan, musuh kita yang kejam dan berbahaya tidaklah sedikit. Mereka sudah sigap seperti lalat yang bersiap hinggap di atas luka dan dengan memanfaatkan masalah yang muncul akibat kesalahan sebagian orang, mereka ingin mengkampanyekan ketidakefisienan sistem negara dan kebuntuan di Iran sehingga masyarakat pesimis," jelasnya.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menekankan, "Di negara ini, tidak ada istilah jalan buntu, karena permasalahan negara sudah diketahui dan juga ada solusi untuk semua persoalan itu, hanya saja para pejabat perlu bekerja lebih keras lagi. Para pemuda dan tenaga ahli memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah. Masalah ekonomi Iran punya jalan keluar, dan tidak seperti yang dikampanyekan oleh musuh dan beberapa pengikut mereka bahwa negara sudah membentur jalan buntu dan tidak ada jalan lain kecuali berlindung ke Syaitan Besar."

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menuturkan sikap para pejabat AS semakin kurang ajar dan sangat lancang dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Rahbar, para pejabat AS sebelum ini juga tidak menjaga etika diplomatik dalam membuat pernyataan, namun rezim AS saat ini berbicara dengan dunia secara tidak sopan, kurang ajar, dan tidak beretika; seakan rasa malu benar-benar telah hilang dari mereka.

Arab Saudi, lanjutnya, telah melakukan dua kejahatan di Yaman dalam satu pekan terakhir yaitu; pemboman sebuah rumah sakit dan serangan terhadap bus yang membawa anak-anak Yaman. Rahbar menegaskan, "Betapa besarnya tragedi ini, dunia terguncang, nurani manusia tercabik, negara-negara dunia menyampaikan penyesalan, tapi bagaimana reaksi AS? Alih-alih mengecam kejahatan ini, mereka justru berkata, 'Kami memiliki hubungan strategis dengan Arab Saudi.'"

"Bukankah ini bukti kecorobohan dan tidak punya rasa malu? Sikap mereka juga seperti ini dalam semua kasus, seperti yang dilakukan oleh presiden AS dengan memisahkan setidaknya 2.000 anak usia dua, tiga, dan lima tahun - atau kurang - dari ibu mereka dengan alasan imigran, dan kemudian mereka mengurung anak-anak yang sudah dipisahkan dari ibunya ini. Kejahatan ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tapi mereka melakukannya dan membela perilakunya… mereka tidak merasa malu! Apakah ini benar-benar manusia?" tegas Ayatullah Khamenei.

Rahbar menandaskan bahwa para pejabat rezim AS secara lancang berbicara tentang sanksi, perang, dan perundingan dengan Iran. "Selain sanksi, mereka juga berbicara tentang perang dan negosiasi. Tentu saja mereka tidak secara terbuka berbicara tentang perang, tetapi secara tersirat berusaha menakut-nakuti bangsa Iran dengan momok perang," ujarnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran meyakinkan masyarakat bahwa perang tidak akan terjadi, karena kita sama seperti di masa lalu tidak akan pernah memulai perang. Amerika juga tidak akan menghadapi Iran secara militer, karena mereka tahu bahwa ini 100 persen akan merugikan mereka. Republik Islam dan bangsa Iran telah membuktikan bahwa setiap agresi akan direspon dengan pukulan yang lebih besar.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Khamenei kemudian menyinggung kekalahan memalukan AS dalam Operasi Eagle Claw di Gurun Tabas, Iran pada tahun 1980. Menurutnya, Amerika mungkin tidak memahami banyak hal, tetapi mereka mungkin mengerti akan dampak dari invasi ke Iran.

"Saya melarang melakukan perundingan dengan AS. AS tidak pernah setia pada janji-janjinya dalam perundingan, hanya memberikan kata-kata kosong dan tidak pernah mundur dari tujuan yang ingin dicapai dalam perundingan," tukasnya.

Rahbar mengkritik tawaran AS untuk berunding dengan menyatakan, "Dalam masalah negosiasi, mereka memainkan permainan yang buruk. Salah satunya mengatakan, negosiasi dengan prasyarat, yang lain berbicara tentang negosiasi tanpa prasyarat. Izinkan saya menyampaikan kepada masyarakat mengenai ini dalam beberapa kata, 'Tidak akan ada perang, juga tidak akan ada perundingan dengan AS.' Ini adalah inti dari kata yang harus diketahui semua masyarakat Iran. AS sekarang menawarkan perundingan, ini bukan hal baru, ini sudah ada sejak awal revolusi."

Ayatullah Khamenei kemudian menjelaskan kepada masyarakat mengapa Iran memutuskan tidak berunding dengan AS. Rahbar menegaskan, "Mengapa kita tidak akan bernegosiasi? Rumus negosiasi AS adalah demikian; para pejabat AS mengandalkan uang, media, dan kekuasaan, mereka menganggap negosiasi sebagai kesepakatan bisnis. Ketika ingin bernegosiasi dengan sebuah negara, mereka menentukan tujuan utama mereka, dan kemudian mereka tidak akan mundur bahkan selangkah pun dari tujuan-tujuan itu.

"AS menuntut agar pihak lain segera memberikan konsesi, dan jika pihak lain menolak untuk mematuhinya, mereka mulai membuat keributan sehingga pihak lawan menyerah. AS sendiri tidak akan membayar apapun atas konsesi yang mereka terima dari pihak lain. Mereka hanya membuat janji-janji yang kuat untuk mempesona pihak lain dengan janji belaka. Pada tahap akhir, setelah menerima semua keuntungan langsung, AS akan melanggar janji mereka sendiri," ungkap Rahbar.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menambahkan, "Ini adalah metode negosiasi AS. Sekarang apakah kita harus berunding dengan rezim arogan? Kesepakatan nuklir adalah contoh nyata dari ini."

Pada kesempatan itu, Rahbar juga berbicara tentang masalah Suriah dengan mengatakan, "Ada orang bodoh di AS berkata kepada rakyat Iran bahwa pemerintah Anda menghabiskan uang kalian untuk Suriah. Padahal, presiden mereka (Trump) mengakui bahwa AS telah menghabiskan 7 triliun dolar di kawasan, tetapi tidak memperoleh apapun. Kita telah membantu dua teman; Suriah dan Irak dalam melawan ancaman AS dan Arab Saudi, namun bantuan Iran ke negara-negara tersebut tidak berupa uang, tetapi bantuan ini merupakan bentuk pertukaran bantuan dengan negara-negara sahabat."

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menyinggung tindakan Amerika, Zionis, dan Saudi yang bermanuver di balik layar untuk melawan Iran. Mereka, lanjutnya, bekerja untuk menciptakan kerusuhan di Iran tahun 2009 dan pada Januari lalu, mereka sudah bekerja selama beberapa tahun, tetapi bangsa Iran dengan kewaspadaan turun ke medan untuk menggagalkan konspirasi mereka.

"Rakyat Iran adalah pintar dan arif, tentu saja masalah ekonomi dan mata pencaharian telah membuat kondisi banyak orang menjadi pahit. Namun, bangsa ini tidak akan tunduk pada tuntutan AS dan rezim tercela itu. Musuh telah menelan kekalahan dari bangsa Iran di kancah politik dan budaya, dan Insya Allah mereka juga akan gagal dalam perang ekonomi," tegas Rahbar.

Di bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Saya yakin bahwa Insya Allah, pertolongan Tuhan datang untuk bangsa ini, seperti yang dikatakan Imam Khomeini ra kepada saya sendiri, 'Aku menyaksikan sebuah kekuatan berada di atas bangsa dan sistem ini.' Imam Khomeini melihat pertolongan Allah Swt, dan kita juga sedang menyaksikan tangan kekuatan Tuhan, pertolongan Tuhan termanifestasikan dalam kekuatan iman dan rakyat."

Tags

Aug 17, 2018 03:02 Asia/Jakarta
Komentar