Abu Ismail Abdullah bin Mansur Ansari dilahirkan hari Jumat 2 Shaban 396 Hijriah Syamsiah di Kohandoz, sekitar Tus. Di abad keempat dan kelima Hijriah, Khorasan adalah pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan serta tasawuf.

Para ulama dan sufi besar dari berbagai tempat berdatangan ke Nishabur yang berkembang pesat sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu. Mazhab tasawuf Khorasan, terutama Nishabur sebagai jantungnya mengedepankan harmonisasi syariat dan thariqat serta menentang penyelewengan dan khurafat.

Salah satu kontribusi besar dari Khawaja Abdullah Ansari terhadap mazhab Irfan Khorasan adalah tahapan dan jalan pesuluk dalam bentuk yang sistematis. Karakteristik  dan kategorisasi yang dilakukannya mengenai maqam irfan. Susunan tahapan irfani ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas batin, tapi juga oleh akhlak.

Makam Khawaja Abdullah Ansari

Sehingga, setiap orang yang menempuh jalan sufistik tidak meninggalkan kehidupannya, dan tetap menjalani kehidupan spiritual, dengan menempuh thariqat bersama syariat.

Irfan Khawaja Abdullah Ansari seirama dengan syariah. Menurut beliau, untuk mencapai hakikat harus ditempuh melalui syariat. Ia mengajarkan pandangan tersebut kepada murid-muridnya, dan menjalankannya secara ketat. Khawaja Abdullah Ansari dikenal fanatik dengan prinsip akidah dan fiqh.

Sebagian sejarawan menyebut arif besar ini sebagai orang yang senantiasa menyerukan amr maruf dan nahi munkar. Khawaja Abdullah Ansari memandang penerapan syariah Islam adalah syarat utama dan tahapan awal untuk menempuh perjalanan menjadi pesuluk. Ia menentang keras pandangan sufi yang mengabaikan masalah agama.

Dalam karyanya berbentuk prosa yang indah, Khawaja Abdullah Ansari sendiri menuturkan mengenai masalah tersebut. Ia bertutur, “Mengungkapkan marifat adalah kegilaan. Menjual kemuliaan betapa mudah. Bertindak benar adalah keselamatan. Merusak tasawuf adalah kafir.” Ia menghindari penggunaan dalil akal dan burhan untuk membuktikan argumentasi tasawuf. Beliau sangat menentang penggunaan dalil kalam. Menurutnya, hanya al-Quran yang menjadi dalil utama, sekaligus mursyid orang-orang mukmin.

Sebagian peneliti sastra menilai karya prosa Khawaja Abdullah sebagai prosa pertama bahasa Farsi Dari. Para sejarawan sastra menyebut beliau sebagai orang pertama yang memasukan prosa dalam syair menjadi bab baru sastra. Selanjutnya disempurnakan oleh Saadi Shirazi dalam karyanya Bustan dan Golestan.

Terkait hal ini, Hermann Ethe mengungkapkan, “Prosa Khawaja Abdullah Ansari menggabungkan ghazal dengan rubaiyah, yang menjadi awal bagi syair sufistik dan nasehat. Dan sejatinya, beliau melanjutkan kiprah Sinai besar yang telah membuka bab syair sufistik Farsi,”.

Sepintas dari luar, Khawaja Abdullah Ansari mengikuti metode syair Arab. Setidaknya dikatakan oleh penulis Qabus Nameh sekitar tahun 475 Hq, yang menulis, “Dalam Nameh Tazi (prosa Arab) termasuk seni prosa yang kuat dan menawan, tapi dalam karya Farsi tampil dalam bentuk yang kurang bisa diterima,”.

Profesor Mohammad Taqi Bahar menilai prosa Khawaja Abdullah Ansari termasuk syair yang memadukan berbagai format taraneh 8 Khajaie, ghafeih era Sasanid dengan taraneh serta  syair klasik Arab. Sementara itu, Hossein Ahei memandang prosa Khawaja Abdullah Ansari adalah bentuk dari metode majelis sufi dan mimbar dengan rasa sufistik yang kental.

Khawaja Abdullah Ansari

Khawaja Abdullah Ansari juga mendendangkan syair, tapi hingga kini buku syairnya yang sistematis tidak sampai ke tangan kita. Salah satu kitab syairnya yang ada saat ini adalah Munajat. Tapi sebagian peneliti mempertanyakan prinsip syair dalam kitab tersebut.

Khawaja Abdullah Ansari sendiri mengakui dirinya memiliki potensi besar dalam syair. Terkait hal ini, Rezaghali Hedayat dalam bukunya “Riyadh Al-Arifin” mengungkapkan, “Beliau (khawaja Abdullah) adalah penyair Arab dan Farsi. Di sebagian tempat disebut Ansari dan sebagian lainnya Pir Herat,”.

Meskipun Khawaja Abdullah Ansari tidak memiliki karya sistematis di bidang syair yang sampai ke tangan kita hingga kini, tapi dengan mengkaji sejumlah syairnya bisa dilacak bagaimana format syair arif besar ini.

Karya syair Khawaja Abdullah berbentuk nasr masaji atau prosa yang digabung dengan syair. Meskipun Khawaja tidak dimasukkan sebagai penyair besar, tapi para peneliti bersepakat bahwa karya beliau memiliki kedalaman dan energi besar, yang bisa menerbangkan ruh orang-orang yang mendendangkan, maupun mendengarkannya.

Nama Khawaja Abdullah Ansari berkibar di bidang seni dan sastra, terutama dalam penulisan berkat bukunya, Munajat yang ditulis dalam bahasa Farsi. Selain itu, beliau juga dikenal dengan karyanya Manazil Al-Sairin. Buku yang ditulis dalam bahasa Arab tahun 475 Hq ini mengenai tahap-tahap perjalanan menjadi seorang pesuluk hingga mencapai hakikat.

Sebelum menulis buku Manazil Al-Sairin, Khawaja Abdullah Ansari telah menulis 100 tahapan pesuluk di tahun 448 Hq. Di kedua buku tersebut, Khawaja Abdullah Ansari menjelaskan tingkatan-tingkatan apa saja yang harus ditempuh dari awal hingga akhir oleh seorang pesuluk.

Hingga kini buku tersebut masih menjadi panduan klasik irfan amali karena karakteristiknya yang sangat sistematis mengenai tahapan-tahapan yang harus ditempuh oleh seorang pesuluk. Khawaja Abdullah Ansari menjelaskan 10 bab dan setiap bab terdiri dari 10 tangga yang harus ditempuh, sehingga seluruhnya ada 100 tahapan.

Buku lain Khawaj Abdullah Ansari adalah Al-Mukhtasar fi Adab al-Sufiah wa al-Salikin al-Thariqul Haq yang terdiri dari 11 bab. Buku ini dicetak ulang dan diterbitkan kembali di tahun 1960 di Kairo. Selain itu, Khawaja Abdullah Ansari juga menulis buku tentang keutamaan Imam Hanbali berjudul “Manaqib al-Imam Ahmad Hanbal” yang ditulis dalam bahasa Arab.

Khawaja Abdullah Ansari

Di bidang tasawuf, Khawaja Abdullah Ansari juga menulis buku berjudul Al Maarif atau Mahabat Nameh yang menjelaskan tentang definisi dan pengajaran tentang suluk. Kitab lainnya berjudul  Waridat adalah buku kecil mengenai tingkatan pesuluk. Di luar itu, ada beberapa buku dan tulisan yang dinisbatkan kepada Khawaja Abdullah Ansari seperti Munajat nameh, Nasayeh, Zad al-Arifin, Kanz al-Salikin, Qalandar Nameh, Mahabat Nameh dan Haft Hasar. Makalah Khawaja termasuk Nasayeh, Mauidhah yang bercampur dengan syair.

Karya besar lain Khawaja Abdullah Ansari adalah terjemah kitab “Thabaqah al-Sufiyah” karya Sulaimi dari bahasa Arab ke bahasa Farsi Heravi. Terjemah tersebut dilakukan secara bertahap di kelasnya, dan salah seorang muridnya menyusun ulang perjelasan beliau.

Aug 23, 2018 16:50 Asia/Jakarta
Komentar