Surat Yasin ayat 28-35.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ (28) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ (29) يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (30)

Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. (36: 28)

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (36: 29)

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (36: 30)

Pada pembahasan sebelumnya disinggung tentang masyarakat kota Antakiya, wilayah Sham di masa lalu, yang selalu mengganggu para nabi yang diutus untuk menghidayahi mereka dan menolak risalahnya. Warga kota Antakiya membunuh seorang bernama Habib yang bangkit membela para nabi Ilahi itu.

Allah Swt di ayat ini berfirman, masyarakat yang menolak para nabi dan membunuh pria saleh itu, akan menerima azab, yaitu azab di dunia, oleh karena itu turun perintah dari langit untuk membinasakan mereka.

Jelas bahwa membinasakan kaum-kaum pembangkang dan pendosa adalah pekerjaan yang mudah bagi Tuhan, dan tidak perlu pengerahan pasukan langit. Allah Swt tidak perlu mengirim laskar malaikat untuk membinasakan kaum-kaum pembangkang itu. Atas kehendak-Nya, cukup satu suara teriakan  dahsyat dari dalam perut bumi dan langit, sehingga seketika semua binasa, dan tidak ada lagi gerakan atau suara yang keluar dari mulut mereka.

Kelanjutan ayat ini menjelaskan, penyesalan bagi hamba-hamba Tuhan yang menolak hidayah Ilahi dan dengan perilakunya mengundang kebinasaan bagi diri mereka sendiri. Perilaku itu diawali dengan cacian dan hinaan, dan berujung dengan gangguan serta pembunuhan terhadap wali-wali Allah Swt.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Jika sebuah masyarakat mencela, meremehkan dan mengganggu wali-wali Allah Swt, maka tunggulah turunnya murka Ilahi yang mungkin saja datang tanpa diduga.

2. Kita tidak boleh takut atas kaum arogan dan tiran, dan jangan sampai tangan kita terlepas dari kebenaran. Jika berkehendak Allah Swt dapat membinasakan kaum itu dalam sekejap.

3. Keimanan kita tidak akan goyah hanya karena cacian dan penghinaan orang lain, dan membuat kita lalai melaksanakan kewajiban agama. Seluruh nabi Tuhan pernah mengalami cacian dan hinaan, namun tidak pernah sekalipun melepaskan tangannya dari kebenaran.

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ (31) وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (32)

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (36: 31)

Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami. (36: 32)

Melanjutkan ayat sebelumnya, dalam ayat ini Allah Swt berfirman, mengapa kalian tidak belajar dari sejarah dan nasib kaum-kaum terdahulu ? Apakah kalian tidak melihat sejumlah banyak kaum datang sebelum kalian dan semuanya binasa. Begitu banyak dari mereka yang selama hidupnya dianugerahi kekuatan, berlimpah harta dan berperadaban tinggi, namun sekarang tidak tersisa sedikitpun dari mereka, dan tidak ada jalan kembali ke dunia untuk hidup bersama manusia di masa sekarang.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Salah satu yang dianjurkan oleh al-Quran adalah mempelajari sejarah kaum dan bangsa-bangsa terdahulu, yaitu sejarah yang dapat memberikan pelajaran dan nasihat kepada kita, bukan sekedar untuk wisata dan hiburan.

2. Sunatullah selalu tercatat dalam sejarah, dan nasib setiap kaum masing-masing punya kemiripan. Oleh karena itu, menyaksikan sebuah adegan sejarah dapat memberikan gambaran tentang model-model adegan sejarah yang lain.

3. Setelah kematian, tidak ada satu jalanpun untuk kembali ke dunia. Maka dari itu, keyakinan para pengikut agama Hindu tentang reinkarnasi bahwa manusia setelah mati akan dibangkitkan di dunia dalam bentuk fisik yang lain, tidak diterima al-Quran.

وَآَيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ (33) وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (34) لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ (35)

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (36: 33)

Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. (36: 34)

Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (36: 35)

Ayat sebelumnya menyinggung masalah Maad atau Hari Akhir dan kehadiran hamba di hadapan Tuhan. Di ayat ini Allah Swt berfirman, salah satu tanda Maad di dunia adalah hidupnya kembali bumi yang mati. Bumi mati di musim dingin dan tidak bisa menghasilkan apapun. Akan tetapi di musim semi, bumi hidup dan segar kembali, serta menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan. Peristiwa ini terus berulang setiap tahun. Di musim dingin tidak tampak adanya tanda-tanda kehidupan pada tumbuhan, namun seiring dengan terbitnya matahari di musim semi, bunga-bunga bermekaran dan pohon-pohon menghijau.

Menarik bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini salah satunya bergantung pada kehidupan tumbuhan. Seandainya suatu hari nanti, tumbuhan musnah dan hewan-hewan mati, maka manusia yang sebagian besar makanannya berasal dari tumbuhan dan hewan, tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan tubuh dan bertahan hidup.

Di antara semua makanan, Al Quran memberikan perhatian khusus pada kurma dan anggur, dan menyebutnya sebagai nikmat spesial yang diberikan Tuhan kepada manusia. Mungkin hal ini karena kedua buah tersebut termasuk jenis makanan bernutrisi lengkap dan mengandung beragam vitamin yang diperlukan tubuh.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Alam semesta adalah kitab penciptaan Tuhan yang dapat membimbing manusia untuk mengenal Pencipta jika ia mempelajari setiap lembar kitab ini dengan seksama.

2. Hari Akhir manusia tidak ada contohnya di dunia ini, namun Hari Akhir tumbuhan dapat dilihat dan terjadi di dunia ini.

3. Dengan memanfaatkan berbagai jenis buah dan makanan lainnya, manusia dapat menjadi makhluk yang bersyukur kepada Tuhannya. Tapi sungguh disayangkan, banyak orang yang tidak bersyukur.

Tags

Sep 02, 2018 16:28 Asia/Jakarta
Komentar