Surat Yasin ayat 71-76.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ (71) وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ (72) وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ (73)

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? (36: 71)

Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. (36: 72)

Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (36: 73)

Ayat-ayat ini menjelaskan satu dari nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada manusia dan menyebut peran hewan dalam kehidupan manusia. Sekalipun kebanyakan hewan hidup dalam keadaan liar dan tinggal di darat atau laut, tapi sebagian hewan itu jinak dan menurut keinginan manusia. Sebagian dari hewan itu dimiliki oleh manusia dan memanfaatkan sesuai keinginannya. Patut untuk disebutkan bahwa pemanfaatan hewan berkaki empat di masa kini bukan saja berkurang, bahkan semakin banyak.

Sebelumnya, dari sapi dan kambing yang diambil adalah susunya yang kemudian diminum, sementara sekarang manusia mampu membuat puluhan produk olahan dari susu dua hewan ini. Beragam pakaian, tas dan sepatu dibuat dari wol dan kulit hewan. Saat ini, sekalipun manusia mampu memproduksi pakaian dari bahan sintetis, tapi tetap saja pakaian yang diproduksi dari kulit dan wol masih yang terbaik.

Di masa kini, di kebanyakan tempat di dunia, bahkan bagi militer modern, hewan seperti kuda dan onta masih merupakan alat terbaik untuk mengantarkan manusia atau produk melewati jalur yang sulit baik di gunung maupun lembah. Sebagian besar bahan pangan manusia masih bergantung pada hewan berkaki empat. Sistem penciptaan dengan tepat memenuhi kebutuhan manusia lewat perkembangbiakan hewan-hewan ini. Namun manusia masih tidak mau mensyukuri nikat besar ini dan sedikit sekali yang memikirkan bahwa bila suatu hari hewan-hewan ini tidak ada atau tidak jinak maka apa yang akan terjadi?

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Penciptaan hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, onta dan lain-lain diperuntukkan bagi manusia. Ketiadaan mereka bakal menyulitkan kehidupan manusia, tapi tidak sebaliknya, bila manusia tidak ada, hewan tidak akan menemui kesulitan.

2. Keberadaan hewan yang jinak bagi manusia sebagai nikmat ilahi. Karena bila tidak jinak, memanfaatkan daging, susu dan lainnya menjadi sangat sulit.

3. Tidak peduli akan nikmat ilahi membuat manusia melupakan bersyukur kepada pencipta alam semesta.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آَلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ (75) فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (76)

Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. (36: 74)

Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka. (36: 75)

Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. (36: 76)

Satu dari tanda tidak bersyukur manusia dihadapan nikmat-nikmat ilahi adalah mencari sesembahan lain. Ini yang dilakukan para musyrikin secara terang-terangan dan sebagian orang mukmin secara sembunyi-sembunyi.

Syirik lahiriah yaitu ketika manusia berkata saya menyembah pribadi atau sesuatu ini. Sementara syirik ringan yaitu seseorang tidak berbicara mengenai penyembahan. Sebagai contoh, ia tidak mengatakan Tuhan, tapi pribadi ini punya peran kunci dalam kehidupannya. Bila ia tidak ada, sudah pasti saya bakal menderita. Atau berkata bahwa hanya berkat dirinya, saya bisa sampai pada posisi ini.

Padahal jelas bahwa sesuatu atau seseorang tidak punya pengaruh yang berdiri sendiri dari Allah Swt dalam kehidupan manusia. Mereka tidak punya peran sebagai sekutu Allah dakan kehidupan manusia. Segala yang terjadi melalui kehendak Allah dan tidak sekutu bagi-Nya. Tapi Allah menciptakan seseorang dan sesuatu untuk menyampaikan nikmat-nikmatnya kepada manusia.

Sebagai kelanjutan ayat-ayat ini disebutkan, di Hari Kiamat ketika batin manusia ditampakkan, orang-orang Musyrik akan berada di balik sesembahan mereka, sehingga seakan-akan sesembahan ini sebagai pemimpin mereka, sementara orang-orang Musyrik sebagai tentaranya. Karena selama di dunia mereka menyembahnya dengan mata dan telinga tertutup mengikuti segala bentuk khurafat dan bidah.

Akhir dari ayat-ayat ini berbicara kepada utusan Allah dan para mukminin, jangankalian sedih dan putus asa dari ucapan-ucapan orang musyrik yang tidak layak dan sebutan yang dialamatkan kepada para nabi, al-Quran dan akidah agama kalian. Serahkan semuanya kepada Allah. Karena Allah mengetahui segala sesuatu dan akan membalas perilaku mereka sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tidak ada sesuatu atau seseorang di dunia yang setara dengan Allah. Semua hanya sebab baik itu materi atau bukan. Hanya wasilah dari sisi Allah dan tidak punya pengaruh sendiri dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, syirik tidak memiliki dasar dan asas yang kokoh.

2. Meminta pertolongan dari orang lain tanpa memperhatikan kekuasaan Allah adalah sejenis syirik dan kekufuran. Karena pada hakikatnya bantuan seseorang kepada orang lain bergantung pada kehendak Allah.

3. Kita harus waspada jangan sampai ucapan-ucapan tidak layak para penentang agama melemahkan atau membuat kita putus asa dalam melaksanakan kewajiban agama.

Tags

Sep 02, 2018 17:22 Asia/Jakarta
Komentar