Kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 merupakan sebuah peristiwa besar, yang tidak hanya menumbangkan rezim monarki di Iran, tetapi juga memotong banyak tangan negara arogan, terutama Amerika Serikat dari menjarah kekayaan bangsa Iran. Sejak masa itu, AS mulai melancarkan permusuhan dan langkah-langkah untuk menggulingkan Republik Islam Iran.

Permusuhan AS dan sekutunya terhadap Republik Islam tampil dalam berbagai tindakan mulai dari perang, aksi teror, bantuan finansial dan militer kepada para teroris, termasuk kelompok teroris munafikin (MKO), berbagai sanksi ekonomi dan militer, dan lain sebagainya. Mereka memberikan tekanan maksimum pada rakyat Iran dan Republik Islam dengan harapan mematahkan tekad bangsa ini dan menyerah kepada musuh.

Namun, tidak satu pun dari program AS dan sekutunya mampu merusak gerakan revolusioner rakyat Iran. Permusuhan ini justru semakin menguatkan tekad dan semangat rakyat Iran untuk meniti jalan yang cerah ini.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Salah satu topeng yang dipakai oleh para presiden AS untuk mengelabui opini publik dunia adalah klaim mereka tentang dialog dan perundingan rasional. Mereka mengaku dirinya sebagai pecinta dialog dan memecahkan persoalan melalui perundingan. Oleh karena itu, salah satu isu yang disebarkan tentang Iran adalah bahwa Republik Islam menolak berunding dengan AS.

Bangsa Iran memiliki budaya dan peradaban yang kuno dan berakar, dan sejak permulaan sejarah sampai sekarang, Iran menjalin interaksi yang bersahabat dengan semua negara independen. Menyusul tawaran negosiasi dari Washington, pemerintahan Presiden Hassan Rouhani kemudian membentuk sebuah tim negosiator untuk berbicara dengan AS dan lima kekuatan dunia (Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, dan Cina) mengenai isu nuklir Iran.

Setelah Iran melakukan perundingan intensif dengan AS dan lima kekuatan dunia, kedua pihak mencapai sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Iran mematuhi dengan baik semua komitmennya dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) – sebagai pengawas pelaksanaan kesepakatan – dalam 12 laporannya memverifikasi kepatuhan penuh Tehran terhadap seluruh butir kesepakatan nuklir.

Sebagai imbalan atas negosiasi nuklir dan komitmen Iran terhadap JCPOA, Amerika harus membatalkan seluruh sanksi dan mencabut tekanan dari bangsa Iran. Namun, karena AS adalah sebuah rezim arogan dan hegemonik, topeng perundingan mulai tersingkap dari wajah mereka dan Presiden Donald Trump memutuskan keluar dari JCPOA secara sepihak.

AS telah memperlihatkan kepada dunia bahwa slogan perundingan hanya sebuah jargon untuk mengelabui opini publik. AS kembali menunjukkan kepada rakyat Iran dan masyarakat dunia bahwa negara itu sama sekali tidak dapat dipercaya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei berulang kali berbicara tentang pelanggaran AS terhadap komitmennya. Menurut Rahbar, sikap curang seperti ini tidak hanya ditunjukkan kepada Iran, tetapi bahkan terhadap para bonekanya seperti, Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi dan diktator Mesir Hosni Mubarak.

"Dalam perundingan tahun-tahun terakhir dan pasca JCPOA, sepenuhnya jelas bahwa isu-isu seperti nuklir dan rudal adalah bukan persoalan utama, tetapi penentangan dan permusuhan mendalam AS tertuju pada prinsip sistem negara Islam dan bangsa Iran, karena keunggulan sistem ini di wilayah sensitif, tumbuhnya semangat perlawanan dan penentangan terhadap arogansi AS, dan berkibarnya panji Islam. Mereka ingin menghapus sistem Islami dari variabel kekuatannya," jelas Rahbar.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Saat ini, Presiden Trump dengan menarik negaranya dari sebuah kesepakatan internasional semakin memperlihatkan permusuhan AS terhadap Iran. Padahal, Iran – dengan interaksi dan negosiasi – ingin mempertahankan prestasi ilmiahnya di bidang nuklir, tetapi AS tetap menyimpan permusuhan yang besar terhadap Iran.

Ini adalah sebuah pengalaman berharga bagi pemerintah dan bangsa Iran, sehingga generasi milenial negara ini bisa mengetahui tentang permusuhan dan arogansi AS terhadap Iran. Dengan sikap curang AS, Iran sekarang menikmati posisi terhormat di dunia, sementara Amerika kian dibenci dan benar-benar tidak bisa dipercaya.

Ayatullah Khamenei menuturkan setiap kali Iran memperlihatkan sikap lunak di hadapan AS, permusuhan mereka bukannya berkurang, tetapi mereka justru semakin kurang ajar. Setelah menyaksikan sikap AS yang kian kurang ajar, Rahbar dalam pertemuan dengan Presiden Rouhani dan kabinetnya pada 29 Agustus 2018, menegaskan bahwa kita tidak akan berunding dengan AS pada level mana pun.

Rahbar mengkritik permusuhan mendalam Trump terhadap Iran sebagai salah satu alasan Tehran tidak akan mempertimbangkan perundingan dengan Washington. Beliau menegaskan, "Beginilah hasil dari negosiasi dengan para pejabat pemerintah AS sebelumnya. Dengan pejabat AS saat ini yang kurang ajar dan menghunuskan pedang terhadap rakyat Iran, negosiasi apa yang bisa kita lakukan? Karena itu tidak akan ada negosiasi dengan AS di tingkat mana pun."

AS selalu menyerukan perundingan dengan Iran, karena Republik Islam memainkan peran utama dan sentral dalam perimbangan di wilayah Timur Tengah. Para pejabat Washington melakukan beragam cara untuk bisa duduk di meja perundingan dengan Tehran. Presiden AS Barack Obama bahkan menulis surat kepada Ayatullah Khamenei dan mendesak sebuah perundingan.

Sebenarnya, AS dengan trik ini ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Tehran membutuhkan negosiasi dengan Washington dan dengan cara ini, ingin menyeret Iran ke meja perundingan. Namun, lewat perundingan yang rasional dan argumentatif, Iran dalam pertemuan Kelompok 5+1 menunjukkan bahwa AS tidak memegang janjinya dan bahkan mengkhianati tanda tangannya sendiri.

Sekarang, AS dengan tekanan dan sanksi ekonomi, ingin mencitrakan bahwa Republik Islam Iran tidak mampu memecahkan persoalan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, Ayatullah Khamenei sudah sering menekankan masalah produksi dalam negeri dan kebijakan ekonomi perlawanan untuk menangkal sanksi ekonomi musuh. Rahbar percaya bahwa dengan mengambil langkah-langkah penting di bidang ekonomi, Iran dapat mencapai kemakmuran ekonomi dengan mengandalkan sumber daya nasional.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa para pejabat yang bertanggung jawab atas sektor ekonomi harus bekerja keras dan mengejar tujuan-tujuan ekonomi perlawanan. Beliau menjelaskan, kebijakan ekonomi perlawanan bertujuan untuk membangun benteng melawan musuh dan memberdayakan bangsa untuk maju. Dengan demikian, ekonomi perlawanan yang fokus pada sektor produksi dalam negeri memiliki fitur defensif dan ofensif.

Menurut Rahbar, musuh memfokuskan diri pada isu ekonomi Iran karena adanya beberapa kelemahan di sektor ini. Untuk itu, para pejabat Iran harus bekerja keras di bidang ekonomi dan mengatasi semua kelemahan. "Semua ini bisa diatasi dan kita tidak mengenal istilah jalan buntu dalam mengelola ekonomi negara," tegasnya.

Ayatullah Khamenei menambahkan, "Kualitas dan kuantitas kerja para pejabat sektor ekonomi harus sedemikian rupa sehingga mereka akan bekerja tanpa kenal lelah siang dan malam. Semua upaya yang dilakukan di sektor ini harus sejalan dengan kebijakan ekonomi perlawanan yang memerlukan pemberdayaan produksi dalam negeri.”

Ekonomi perlawanan adalah ekonomi produktif yang bersumber dari dalam. Jika strategi ekonomi ini sukses diterapkan, maka akan ada banyak hasil yang bisa dinikmati. Di antara keuntungan ekonomi perlawanan adalah penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas produksi dalam negeri, dan bergairahnya sektor ekspor, dan lain-lain. Masalah produksi dalam negeri dan penyelesaian kendalanya adalah salah satu isu penting yang harus diperhatikan oleh para pejabat Iran. Ayatullah Khamenei percaya bahwa kendala produksi memiliki jalan keluar dan para ekonom juga telah memberikan solusinya, jika ini dijalankan, maka kondisi mata pencaharian masyarakat akan membaik.

Amerika dan sekutu jahatnya ingin membuat rakyat Iran berputus asa dari revolusi dan memprovokasi mereka agar meninggalkan revolusi. Tetapi, musuh tidak tahu bahwa rakyat Iran telah mengairi tunas revolusi dengan darah para pemuda, dan mereka tidak akan pernah menghancurkannya dengan tangan mereka sendiri.

Tags

Sep 03, 2018 13:56 Asia/Jakarta
Komentar