Abu Ismail Abdullah bin Mansur Ansari dilahirkan hari Jumat 2 Shaban 396 Hijriah Syamsiah di Kohandoz, sekitar Tus. Salah satu kontribusi besar dari Khawaja Abdullah Ansari terhadap mazhab Irfan Khorasan adalah tahapan dan jalan pesuluk dalam bentuk yang sistematis. Karakteristik dan kategorisasi yang dilakukannya mengenai tingkatan-tingkatan irfan.

Khawaja Abdullah Ansari memandang akhlak dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh terhadap tingkatan Irfan. Oleh karena itu, setiap sufi tidak meninggalkan kehidupannya, dan tetap menjalani kehidupan spiritual, dengan menempuh thariqat bersama syariat.

Salah satu karya terkemuka Khawaja Abdullah Ansari, Munajat Nameh. Selain Bahasa aslinya, Farsi juga diterbitkan dalam bentuk terjemahan bahasa asing, terutama Inggris dengan berbagai versi cetakan.

Munajat Nameh

Kajian terhadap kitab Munajat Nameh  Khawaja Abdullah Ansari secara umum menunjukkan tiga kategori pembahasan yaitu tauhid, Irfan dan masalah sosial. Pokok bahasan utama Munajat Nameh mengenai tauhid, mencakup masalah keimanan kepada Allah swt.

Khawaja Abdullah Ansari menilai segala sesuatu datang dari Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Beliau menilai ketauhidan berada di luar batas imaji dan akal manusia. Oleh karena itu menurutnya manusia tidak bisa memahami tauhid ilahi dengan akalnya. Khawaja Ansari dalam kitab Munajat Nameh menuturkan, "Prinsip tauhid di luar dari akal. Tauhid sejati selamat dari imaji. Kita tahu adanya, tapi tidak tahu mengapa,".

Di bagian dari kitab Munajat Nameh, Khawaja Ansari mengungkapkan penolakannya terhadap sebab dan bagaimana argumentasi tauhid. Beliau menolak cara yang dipergunakan para teolog dalam menjelaskan tentang tauhid. Dalam kitab Munajat Nameh, beliau bertutur, "Ilahi, dahulu aku merasa tahu, tapi kini pengetahuanku itu telah kucampakkan,". Di bagian lain, Khawaja Abdullah Ansari menjelaskan, jika mengenal para aulia Allah, maka akan sampai menuju jalan hakikat. Sebab para aulia Allah swt itulah yang membawa manusia menuju pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Beliau bergumam, "Wahai Darvis, tauhid bukan mengetahui Dia Esa, tapi meyakini Dia Yang Esa".

Pada pembahasan mengenai aspek esoterik agama, Khawaja Abdullah Ansari mengungkapkan keterbatasan pengetahuan manusia mengenai Allah swt. Masalah ini paling dominan dalam pembahasan mengenai ketuhanan di berbagai karya Khawaja Abdullah Ansari.

Meskipun demikian, Khawaja Ansari menjelaskan jalan mengenal Tuhan dengan pengalaman sufistik. Dalam berbagai karyanya, seperti Manazil Al-Sairin, Khawaja Ansari menggunakan ayat al-Quran sebagai pijakan jalan bagi para pesuluk untuk mencapai hakikat. Tapi dalam karya lainnya, beliau jarang mengutip al-Quran maupun hadis, tapi menjelaskan Irfan sesuai pengalamannya.

Dalam pandangan Khawaja Abdullah Ansari, Allah swt mengetahui seluruh perbuatan makhluk-Nya. Beliau menilai orang yang beribadah untuk mengharapkan surga adalah budak, dan ini adalah kedudukan zahid, bukan abid. Meskipun beliau menilai para zahid adalah budak, tapi melepaskan ibadah adalah tindakan yang tidak bersyukur kepada Alalh swt.

Walaupun beliau termasuk arif yang menerapkan syariah Islam secara ketat untuk diri sendiri dan murid-muridnya, tapi Khawaja Ansari berkeyakinan bahwa dosa seorang hamba tidak seberapa dibandingkan rahmat dan Rahim-Nya Tuhan. Hal tersebut dijelaskan di salah satu bagian dari munajatnya.

Khawaja Abdullah Ansari merupakan sufi besar yang sangan menjunjung tiga syariah. Menurutnya, tidak akan tercapai hakikat tanpa melalui pintu syariah terlebih dahulu. Beliau menuturkan, "Syariah, adalah tempat menuju hakikat. Tanpa Syariah, hakikat menjadi fitnah".

Khawaja Abdullah Ansari

Pembahasan lain yang menjadi perhatian Khawaja Abdullah Ansari dalam berbagai karyanya adalah masalah kiamat. Pemikiran tentang kiamat dan ketakutan terhadap hari akhir sangat kental dalam karyanya. Meskipun rahmat dan Rahim Tuhan sangat melimpah dan tidak berbatas, tapi semua perbuatan manusia akan diperhitungkan di akhirat kelak. Beliau bertutur, "Gelombang ketakutan menyelimutiku, tapi mengingat Rahman dan Rahim Tuhan, tekadku semakin tinggi,".

Para peneliti Irfan menilai perhatian terhadap masalah hauf  atau takut dalam sejarah tasawuf bertumpu pada pemikiran Hassan Basri. Tapi, lama kelamaan di abad kelima terjadi perubahan dari hauf menjadi Raja yang berarti harapan.

Sebuah cerita terkenal, Hassan Basri sedang melihat seseorang yang tersenyum, lalu ia bertanya, "Apakah engkau bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir ? apakah engkau bisa melewati jembatan shirat ? Apakah perbuatanmu telah ditimbang ? dan berbagai pertanyaan lainnya. Tapi orang itu menjawab tidak atas seluruh pertanyaan itu. Kemudian Hassan Basri berkata, mengapa tersenyum padahal tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan itu? Orang itu menjawab Allah maha pemurah dan penyayang.

Pembahasan lain dalam Munajat Nameh Khawaja Abdullah Ansari mengenai masalah Irfan. Zuhud bermakna meninggalkan dunia. Mansur al-Hallaj dengan slogannya yang terkenal "Ana Al-Haq",pemikiran Khayyam, cinta dan syathiyat sufistik termasuk isi Irfan munajat Abdullah Ansari. Khawaja Abdullah Ansari memaknai zuhud adalah meninggalkan dunia dan apa saja yang berkaitan dengan itu. Selain itu termasuk kategori ibadah budak.

Khawaja Abdullah Ansari memiliki cerita sendiri mengenai Mansur Al-Hallaj, arif abad ketiga Hijriah yang dihukum mati atas perintah Khalifah Abbasiah. Berbeda dengan Hallaj, Khawaja Abdullah Ansari meyakini hakikat adalah rahasia yang tersembunyi.  

Khawaja Abdullah Ansari mengatakan, "Apa yang dilontarkan oleh Mansur al-Hallaj, aku juga sampaikan. Tapi bedanya, ia menyampaikan terang-terangan, sedangkan aku tersirat". Khawaja Abdullah Ansari sendiri menyakini apa yang dipahami oleh Al-Hallaj, tapi perbedaannya tidak disampaikan secara vulgar, dan diungkapkan melalui rumus dan isyarat.

Contoh dari pemikiran Khayam yang berpengaruh terhadap Khawaja Abdullah Ansari tampak dalam karyanya Munajat Nameh. Salah satunya adalah penghargaan terhadap waktu sebaik-baiknya.

Kuburan Khawaja Abdullah Ansari

Day pergi dan aku belum beranjak bekerja

Kini aku masih sibuk dengan pasar

Esok pergi tanpa tahu rahasia

Tidak datang tanpa itu semua.

Bagian lain dari pembahasan dalam Munajat Nameh adalah masalah sosial yang polanya mirip dengan Golestan Saadi, penyair abad ketujuh Hijriah.

Sep 06, 2018 13:51 Asia/Jakarta
Komentar