Hari ini, Kamis tanggal 17 Maret 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 7 Jumadil Tsani 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Isfand 1394 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Baitul Maqdis Dikuasai Pasukan Muslim

 

1380 tahun yang lalu, tanggal 17 Maret tahun 636, menyusul kekalahan tentara Romawi, akhirnya Baitul Maqdis berhasil dikuasai oleh pasukan muslim.

Perang pertama kaum Muslimin melawan tentara Roma dimulai pada masa Khalifah Umar Bin Khatab. Saat itu, pasukan Roma mengalami kekalahan dan bagian Palestina selatan direbut kaum Muslimin. Kemudian, imperium Romawi mengirimkan sejumlah besar tentara ke Palestina namun kembali mengalami kekalahan. Bahkan, wilayah Damaskus juga berhasil direbut kaum Muslimin. Sejak itu, Palestina dan Damaskus menjadi bagian dari wilayah imperium Islam.

 

Sejak tahun 1097, kaum Kristen memulai perang Salib dan berusaha merebut Baitul Maqdis. Kota ini berkali-kali berpindah tangan dari kaum Muslim dan kaum Kristen, sampai akhirnya tahun 1250, Salahudin Al-Ayyubi merebut Palestina dan sejak itu terus berada di tangan kaum Muslimin. Pada masa PD I, Palestina dijajah Inggris dan sejak tahun 1948, kawasan ini dijajah oleh Rezim Zionis.

Ainul Qudhaat Hamedani Gugur Syahid

912 tahun yang lalu,tanggal 7 Jumadil Tsani tahun 525 Hijriah, Ainul Qudhaat Hamedani, seorang ulama besar asal Hamedan Iran, digantung oleh rezim yang berkuasa saat itu, sehingga gugur syahid.

Ainul Qudhaat Hamedani yang dikenal pula dengan julukan Abul Fudhail, dilahirkan pada tahun 492 Hijriah dan sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah ragu-ragu dalam menyampaikan kebenaran Islam. Akibat sikapnya tersebut pula, Ainul Qudhaat Hamedani ditangkap oleh pemerintah dan dipenjarakan di Bagdad, Irak.

Namun kemudian, beliau dipulangkan ke kota Hamedan dan kemudian dihukum gantung di samping madrasahnya sendiri. Ainul Qudhaat Hamedani meninggalkan beberapa karya penulisan di antaranya berjudul Tamhidaat dan Haqaiqul Quran.

Bahaud Din Meninggal Dunia

794 tahun yang lalu, tanggal 7 Jumadil Tsani 643 Hq, Baha'ud-Din Abul-Abbas, Makruf dipanggil 'Qadhi-e Ashraf', ilmuan Mesir, meninggal dunia di Kairo. Sebagaimana bapaknya, Qadhi-e Fadhil, Ia pun bekerja sebagai seorang qadhi di Mesir. Qadhi-e Sharif dikenal amat cerdas.

Gaya penulisannya cendrung mengikuti gaya tulis bapaknya. Ia juga begitu gemar mendengarkan hadis dari para pakar hadis di zamannya, dan begitu berminat dalam mengumpulkan hadis-hadis terpercaya. Salah satu karyanya yang masih tersisa hingga saat ini adalah sebuah buku tulisan tangan berisi himpunan hadis yang ia kumpulkan sendiri.

Iran Memanfaatkan Telegrap Pertama Kali

158 tahun yang lalu, tanggal 27 Isfand 1236 Hs, surat kabar Vaqae Ettefaqie bernomor 372 memberitakan Iran untuk pertama kalinya telah memanfaatkan telegrap.

Disebutkan bahwa pada hari itu telegrap berhasil dipasang di madrasah Darul Funoun beserta kabelnya. Setelah itu kabel telegrap dipasang dari istana kerajaan hingga taman Lalehzar dan setelah itu sejumlah daerah lain memiliki sambungan telegrap.

Penting untuk diketahui bahwa telegrap yang ada di Iran lebih menguntungkan Inggris, ketimbang rakyat Iran. Karena dengan menyambungkan jalur komunikasi antara India dan Eropa, bukan hanya Inggris dapat dengan mudah memiliki akses ke negara-negara jajahannya, tapi adanya telegrap di Iran dan pengutusan agen-agen Inggris ke negara ini, mereka berusaha memperluas pengaruhnya di Iran.

De Broglie Meninggal

 

29 tahun yang lalu, tanggal 17 Maret tahun 1987, Prince Louis-Victor de Broglie seorang ilmuwan fisika asal Perancis, meninggal dunia dalam usia 95 tahun.

Awalnya, de Broglie menuntut ilmu di bidang sastra dan kemudian mempelajari fisika. Dia kemudian melakukan berbagai penelitian di bidang kuantum dan pada tahun 1924, de Broglie menyampaikan tesisnya berjudul "Penelitian Atas Teori Kuantum" di Fakultas Sains, Universitas Paris, sehingga meraih gelar doktor.

Antara tahun 1930 hingga 1950, Louis de Broglie meneliti berbagai aspek gelombang mekanik. Penelitiannya itu disimpulkannya pada tahun 1951 dengan nama teori "pecahan ganda". Pada tahun 1929, dia dianugerahi Nobel bidang fisika untuk penemuannya atas gelombang alami elektron.

Ayatullah Mohammad Mozaffari Qazvini Wafat

14 tahun yang lalu, tanggal 27 Isfand 1380 Hs, Ayatullah Haj Sheikh Mohammad Mozaffari Qazvini meninggal dunia dalam usia 76 tahun dan dikuburkan di komplek makam Imam Zadeh Hossein, Qazvin.

Ayatullah Mohammad Mozaffari Qazvini lahir pada 1304 Hs di kota Qazvin. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya dan pada usia 26 tahun pergi ke Qom untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Selama di Qom, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Boroujerdi dan Sayid Shehab ad-Din Marashi Najafi.

Setelah itu Ayatullah Mozaffari pergi ke Najaf al-Asyraf, Irak dan bertahun-tahun belajar kepada Sayid Mohsen al-Hakim, Sayid Mahmoud Shahroudi dan Imam Khomeini ra. Selama 20 tahun beliau belajar kepada Ayatullah Sayid Abolqassem Khui.

Setelah mendapatkan sejumlah ijazah dari guru-gurunya, Ayatullah Mozaffari pada 1352 Hs kembali ke kota Qazvin dan aktif mengajar dan berdakwah kepada masyarakat. Beliau menjadi ulama rujukan di kota Qazvin dan banyak mendidik murid. Selain itu, beliau juga meninggalkan banyak karya tulis seperti Idhah al-Hujjah sebagai syarah al-Urwah dalam 8 jilid, Filsafat hukum, Islam, Soal dan Jawab dalam 2 jilid, Thabaqat ar-Rijal dalam 16 jilid dan lain-lain.

Tags

Apr 21, 2016 19:45 Asia/Jakarta
Komentar