Mar 25, 2019 14:49 Asia/Jakarta
  • Presiden RII Hassan Rouhani tiba di Irak.
    Presiden RII Hassan Rouhani tiba di Irak.

Arena Silaturahmi edisi 24 Maret 2019 ini memaparkan pendapat pembaca dan teman-teman yang aktif di media sosial Parstoday Indonesia seperti di Whatsapp, Facebook, Twitter, Youtube, Istagram dan lain-lain mengenai perbedaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Irak pada akhir Desember 2018 dan kunjungan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani ke Irak pada Senin, 11 Maret 2019.

Kita mengetahui bahwa Trump berkunjung ke Irak di malam hari secara mendadak dan sembunyi-sembunyi. Trump, istrinya, dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton naik pesawat Air Force One dan landing di pangkalan udara al-Asad, sebelah barat Baghdad untuk bertemu dengan pasukan AS.

Dia menghabiskan sekitar tiga jam di pangkalan itu dalam kunjungan pertamanya ke Irak. Trump juga tidak bertemu dengan satupun dari pejabat tinggi Irak, bahkan Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi menolak bertemu dengan Trump, sehingga dia hanya bertemu dengan pasukannya di Irak dan meninggalkan negara Arab ini.

Para pakar menilai kunjungan mendadak dan sembunyi-sembunyi Trump ke Irak itu sebagai bentuk kehinaan dirinya menyusul kegagalan Amerika di kawasan dalam mengejar ambisi-ambisi ilegalnya. Padahal, AS telah menghabiskan miliaran dolar demi kepentingannya di kawasan, tetapi dia harus berkunjung ke Timur Tengah dengan cara yang paling hina.

Berbeda dengan Trump, Presiden Iran Hassan Rouhani disambut meriah oleh para pejabat Baghdad dalam kunjungan resminya ke Irak pada hari Senin-Rabu. Dia telah bertemu dengan PM, Presiden dan pejabat tinggi Irak lainnya. Kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama dan volume perdagangan dari 12 miliar dolar pertahun menjadi 20 miliar dolar. Nota Kesepahaman dan kerja sama di bidang perminyakan, perdagangan, kesehatan, transportasi dan visa juga telah ditandatangani.

Para pakar menilai kunjungan Rouhani yang mendapat sambutan meriah dari para pejabat Irak sebagai kemenangan Iran dalam adu kekuatan dengan AS dan sekutunya di kawasan. Iran dan sekutunya muncul sebagai pemenang dalam melawan perang proxy yang dilancarkan Amerika dan Barat di Timur Tengah, terutama di Irak dan Suriah.

Kekalahan AS di kawasan telah membuat Trump tidak memiliki muka lagi untuk mengunjungi Irak secara resmi . Upaya Amerika untuk terus menjadikan pemerintah Baghdad di bawah tekanan dan diktenya juga gagal. Pasalnya, semua yang direncanakan di Irak menemui jalan buntu disebabkan dukungan penuh Iran kepada Irak dalam menghadapi konspirasi AS.

Pidato Presiden AS Donald Trump di hadapan pasukan Amerika di pangkalan al-Asad, Irak.

Iran telah menyelamatkan Irak dari cengkeraman dan gempuran kelompok teroris takfiri (Daesh) yang diciptakan, dipersenjatai dan didukung oleh AS. Padahal di masa itu, sebagian besar wilayah Irak telah diduduki oleh Daesh. Iran menjadi negara pertama yang turun tangan membantu Irak dalam menghadapi pasukan proxy Barat, dan akhirnya rakyat Irak terbebas dari cengkeraman maut teroris Daesh. Rakyat Irak menganggap kemenangan negaranya dalam melawan Daesh juga sebagai kemenangan Iran.

Berikut pandangan yang telah terkumpul:

  1. Maulana Makara

Presiden Amerika Donald Trump tidak memiliki perilaku yang baik dalam berinteraksi dengan negara-negara lain. Bukti nyatanya adalah kunjungannya ke Irak yang dilakukan secara arogan pada akhir tahun 2018 lalu. Kunjungan Trump yang dilakukan secara diam-diam itu telah menghina pemerintah dan rakyat Irak. Perilaku seperti ini tidak dapat diterima. Namun tampaknya, Trump melakukan kunjungan dengan cara seperti itu karena dia merasa tidak diterima dengan baik oleh rakyat Irak jika berkunjung secara resmi. Untuk itu dia melakukan kunjungan dengan cara yang hina.

Kunjungan Presiden Iran Hassan Rouhani ke Irak sangat berbeda dengan lawatan Trump ke negara ini. Rouhani dengan penuh kebanggaan mengunjungi Baghdad, bahkan dia yakin akan bisa meningkatkan volume perdagangan dengan Irak meskipun disanksi oleh Amerika dan sekutunya. Dan faktanya, Rouhani disambut dan diterima dengan baik oleh pemerintah dan rakyat Irak, bahkan beberapa nota kesepahaman telah ditandatangai antara kedua belah pihak. Presiden Iran kembali ke negaranya dengan berbagai keberhasilan, sementara presiden Amerika meninggalkan Irak dengan penuh kehinaan.

  1. Yandini Dewi

Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Irak tanpa koordinasi dengan pemerintah Baghdad menunjukkan kehinaan Trump sebagai seorang presiden dari sebuah negara. Kunjungan dengan cara seperti ini bukan menunjukkan bahwa dia itu orang yang kuat seperti klaim segelintir kalangan, tetapi justru menunjukkan dia sebagai pecundang dan pengecut.

Trump telah melanggar etika, dan bahkan hukum internasional, karena menginjakkan kaki di sebuah negara independen dengan cara-cara yang tidak sewajarnya. Tentunya hal itu dilakukan Trump karena beragam kekalahan Amerika dalam konfrontasi di kawasan. Trump sudah tidak memiliki muka lagi di hadapan rakyat Irak sehingga harus berkunjung secara sembunyi-sembunyi, bahkan perdana menteri Irak menolak untuk bertemu dengan Trump.

Dan sebaliknya, kunjungan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani ke Irak yang menghasilkan berbagai kesepakatan kedua negara adalah kemenangan besar bagi Iran. Mengapa? Sebab, meskipun Amerika menekan banyak negara untuk tidak menjalin hubungan dengan Iran, tetapi Irak tidak mempedulikannya dan dengan terang-terangan meningkatkan hubungan ekonominya dengan Iran. Kunjungan Rouhani ke Irak mendapat sambutan besar dari pemerintah dan rakyat negara ini.

  1. Drivellonie Sim

Kalau Trump adalah kunjungan seorang PENGECUT, karena dilakukan pada malam hari secara diam-diam atau rahasia, sedangkan Rouhani adalah kunjungan seorang PEMBERANI karena dilakukan pada siang hari.

(RA)

Tags

Komentar